Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Akhlaq dan Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq dan Nasehat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Hak-hak Dalam Berteman

Oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Islam mengajarkan untuk menunaikan hak semua orang yang mempunyai hak. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepada Abu Darda radhiyallahu'anhu, “Berilah setiap orang haknya masing-masing.”

Dituntunkan dalam Islam untuk menunaikan hak-hak teman. Hak seorang teman atas temannya sangatlah banyak. Diantaranya:

Membantu kelapangan temannya (muwasah)

Muwasah adalah tanda persahabatan yang jujur. Seorang teman yang jujur dalam persahabatannya akan memberikan kemudahan (membantu) temannya sebatas kemampuannya. Dia senantiasa merasakan senang dan susahnya teman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ. وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرَعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang melepaskan dari orang mukmin satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia, pasti Allah 'Azza wa jalla akan melepaskan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesukaran pasti Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu pasti Allah 'Azza wa jalla akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, membaca dan mempelajari kitab Allah diantara mereka, kecuali turun kepada mereka sakinah dan mereka diliputi rahmat serta dinaungi malaikat. Allah menyebut mereka di majelis-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْناً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا

“Orang yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Amalan yang paling Allah cintai adalah menimbulkan kegembiraan bagi seorang muslim atau menghilangkan kesulitannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan kelaparan darinya …” (HR. Ath-Thabarani dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 906 dan Shahihul Jami’ no. 176)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
Muwasah kepada kaum mukminin ada beberapa macam:
  • Muwasah dengan harta
  • Muwasah dengan kedudukan
  • Muwasah dengan badan dan bantuan
  • Muwasah dengan nasihat dan bimbingan
  • Muwasah dengan doa dan memintakan ampun untuknya
  • Muwasah dengan menasihati mereka (Lihat Al-Fawaid hal. 168)
Para sahabat radhiyallahu'anhum telah memberikan teladan kepada kita, bagaimana mereka bermuwasah kepada sahabatnya. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ الْأَشْعَرِيِّيْنَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِيْنَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ، فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ

“Sesungguhnya para sahabat dari Asy‘ariyin, jika habis perbekalan mereka dalam jihad atau makanan mereka tinggal sedikit di Madinah, mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki dalam sebuah kain. Kemudian mereka bagi rata di antara mereka. Mereka dari golonganku dan aku termasuk golongan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 2486 dan Muslim no. 2500)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu:
Abdurahman bin Auf datang kepada kami dan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam telah mempersaudarakan beliau dengan Sa’d bin Rabi’ –seorang sahabat Anshar yang banyak harta–. Sa’d berkata, “Orang-orang Anshar telah tahu aku adalah orang yang paling banyak hartanya. Aku akan membagi dua hartaku untuk kita berdua. Aku juga punya dua istri. Lihatlah siapa yang paling kau senangi, aku akan menalaknya. Jika telah halal, engkau bisa menikahinya.”
Abdurahman bin Auf berkata: “Semoga Allah memberikan barakah kepadamu, keluarga dan hartamu. (Cukup) tunjukkanlah pasar kepadaku …” (HR. Al-Bukhari no. 3781)

Menjenguknya ketika sakit

Menjenguk orang sakit termasuk hak persaudaraan dalam Islam. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menyatakan:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ ‏‏فَشَمِّتْهُ،‏ ‏وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ

“Hak muslim atas muslim ada enam.” Beliau ditanya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika berjumpa dengannya engkau mengucapkan salam kepadanya, ketika mengundang engkau penuhi undangannya, jika minta nasihat engkau nasihati dia, jika bersin dan mengucapkan hamdalah (*Alhamdulillah) engkau mendoakannya (dengan berkata: yarhamukallah), jika dia sakit hendaknya menjenguknya, dan jika meninggal engkau iringi jenazahnya.” (HR. Muslim no. 2162)

Menjenguk orang sakit banyak keutamaannya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:

مَنْ عَادَ مَرِيضاً، أَوْ زَارَ أَخاً لَهُ فِي اللهِ نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا

Barangsiapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya, akan ada penyeru yang menyeru dari atas: “Engkau telah berbuat baik dan telah baik perjalananmu. Engkau telah mempersiapkan tempat di surga.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6163)

Menjaga rahasianya

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:
إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Jika seseorang berbicara (denganmu), kemudian dia menoleh (melihat sekeliling) maka ketahuilah itu adalah amanah.” (HR. Abu Dawud no. 4868 dan At-Tirmidzi, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1090 dan Shahihul Jami’ no. 486)

Ibnu Ruslan rahimahullah berkata: “Karena, menolehnya dia ke kanan ke kiri adalah pemberitahuan bagi yang diajak bicara tentang kekhawatirannya bila ada orang lain yang mendengar ucapannya. Sehingga, artinya dia mengkhususkan rahasia ini untuknya. Tindakannya ke menoleh ke kanan dan ke kiri sama dengan ucapan: ‘Rahasiakan ini dariku,’ yakni ambil dan rahasiakan, ini adalah amanah bagimu.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 70-72)

Al-wafa dan ikhlas

Al-wafa adalah terus-menerus mencintainya sampai meninggal, dan ketika telah meninggal ia mencintai anak-anak dan teman-temannya. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam telah memuliakan sahabat dan famili Khadijah radhiyallahu'anha setelah beliau wafat. Sampai-sampai Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu'anha berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seseorang seperti cemburuku kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya.” (HR. Al-Bukhari)

Termasuk al-wafa adalah tidak berubah tawadhunya kepada temannya, walaupun dia semakin tinggi kedudukannya dan semakin luas kekuasaannya.

Termasuk al-wafa adalah tidak mau mendengarkan cercaan-cercaan orang kepada temannya dan tidak membela musuh temannya.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Ketahuilah, bukan termasuk al-wafa bila mencocoki teman dalam perkara yang menyelisihi agama.” (Lihat Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 103)

Menerima udzur / alasannya

Diantara hak temanmu adalah menerima alasan yang disampaikannya. Ketika salah seorang temanmu berbuat jelek kepadamu kemudian datang menyampaikan alasan kepadamu, maka terimalah alasannya. Hal ini termasuk kemuliaan, karena udzur (alasan) diterima oleh orang-orang yang punya kemuliaan. Menerima udzur teman, selain menambah kecintaan teman, juga mendatangkan pahala yang banyak.

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:
مَنْ أَقَالَ مُسْلِماً أَقَالَ اللهُ عَثْرَتَهُ
“Barangsiapa yang menerima udzur seorang muslim maka Allah 'Azza wa jalla akan memaafkan kesalahannya.” (HR. Abu Dawud no. 3460 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud, juga dalam Shahih Jami’ no. 6071)

Terlebih lagi seseorang yang terpandang yang kita tidak mengetahui kejelekannya, kita harus menerima udzurnya. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:

أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثْرَاتِهِمْ
“Terimalah udzur orang-orang yang punya kedudukan atas kesalahan-kesalahan mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4375 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud)

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Seorang mukmin mencari udzur bagi temannya. Adapun seorang munafik, dia mencari-cari kesalahan orang lain.”

Bagaimana jika orang yang minta udzur berdusta dalam udzur yang disampaikannya?
Jika terjadi hal demikian, maka bersikaplah seperti yang diajarkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Barangsiapa yang berbuat jelek kepadamu kemudian datang untuk minta udzur atas kejelekannya kepadamu maka sifat tawadhu’ mengharuskan engkau menerima udzurnya –baik udzur tersebut benar atau batil (dusta) – dan kau serahkan isi hatinya kepada Allah 'Azza wa jalla.”

Menerima udzur orang lain adalah bukti tawadhu’.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tanda kemuliaan dan tawadhu’ adalah ketika engkau melihat cela dalam udzurnya namun tetap engkau terima dan tidak membantahnya, serta berkata: ‘Mungkin saja masalahnya seperti yang kau sebutkan’.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 79-83)

Membelanya ketika tidak ada

Diantara hak teman adalah menjaganya ketika dia tidak ada, membantah ucapan jelek tentangnya.
Dari Abud Darda radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ، رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah 'Azza wa jalla akan memalingkan wajahnya dari neraka di hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, serta dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6262)

Dalam hadits Ka’b bin Malik radhiyallahu'anhu tentang kisah taubatnya, Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam berkata di Tabuk ketika beliau sedang duduk, “Apa yang dilakukan Ka’b?” Seseorang dari Bani Salamah berkata, “Dia tertahan burdahya dan melihat dua sisinya, ya Rasulullah.” Mu’adz bin Jabal radhiyallahu'anhu berkata kepadanya, “Alangkah jeleknya yang kau ucapkan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahuinya kecuali kebaikan.” Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pun diam. (HR. Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769)

Al-Imam An-Nawawi rahimahulah berkata: “Ketahuilah, seseorang yang mendengar ghibah terhadap seorang muslim hendaknya membantahnya dan menghardik pelakunya. Jika tidak bisa dihentikan dengan lisan, maka hentikanlah dengan tangan. Jika tidak mampu dengan lisan ataupun dengan tangan, hendaknya dia keluar untuk memisahkan diri dari majelis tersebut. Jika mendengar ghibah terhadap syaikhnya atau orang yang mempunyai hak atasnya atau orang yang punya keutamaan dan shalih, maka mengingkari pelakunya lebih ditekankan.” (Al-Adzkar)

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:
مَنْ ذَبَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya ketika ada yang mengghibahinya, maka hak atas Allah untuk membebaskannya dari neraka.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami no. 6240)

Mendoakan kebaikan bagi teman

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Hak yang kelima adalah mendoakan kebaikan untuknya ketika masih hidup maupun sesudah meninggalnya, dengan semua doa yang dia peruntukkan untuk dirimu.”

Dalam Shahih Muslim dari hadits Abud Darda radhiyallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ المُوكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ

Doa seorang muslim bagi saudaranya yang sedang tidak bersamanya adalah doa mustajab. Di sisinya ada malaikat yang ditugaskan setiap kali dia berdoa kebaikan bagi saudaranya, malaikat berkata, “Amin, dan engkau mendapatkan yang semisalnya.”
Abud Darda radhiyallahu'anhu mendoakan banyak sahabatnya dalam doanya. Beliau selalu menyebut nama-nama mereka dalam doanya. Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullah berdoa di waktu sahur untuk enam orang. (Lihat Mukhtahar Minhajul Qashidin hal. 103)

Menasihatinya

Nasihat termasuk hak persahabatan. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ…
“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: Jika berjumpa dengannya engkau mengucapkan salam kepadanya, ketika mengundang engkau penuhi undangannya, jika minta nasihat engkau nasihati dia…” (HR. Muslim no. 6162)

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menyatakan:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat…” (HR. Muslim no. 55)

Bagaimana bentuk nasihat seorang muslim kepada saudaranya agar mendatangkan manfaat yang besar?
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Seyogianya, nasihat engkau sampaikan ketika sedang sendirian (tidak di hadapan orang banyak). Beda antara nasihat dengan menjatuhkan (kehormatan) orang lain adalah dalam masalah ini (dilakukan dengan tertutup atau di hadapan orang banyak).” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 102)

Ibnu Hibban rahimahullah berkata: “Tanda seorang pemberi nasihat yang menginginkan kebaikan bagi yang dinasihatinya adalah nasihat tersebut dilakukan tidak di hadapan orang lain. Tanda orang yang ingin menjelekkan (menjatuhkan) yang dinasihati adalah menasihatinya di hadapan banyak orang.”

Mis’ar bin Kidam rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa ta'ala merahmati seseorang yang membeberkan aibku secara sembunyi-sembunyi antara aku dan dia saja. Karena nasihat di hadapan orang banyak adalah celaan.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 86-87)

Seseorang yang dinasihati hendaknya menerima nasihat yang baik
Seseorang belum disebut memiliki sifat tawadhu’ hingga dia menerima al-haq dari orang yang menyampaikannya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak al-haq (kebenaran) dan merendahkan orang lain.”

Al-Imam Waki’ berkata: “Seseorang tidak akan pandai sampai mengambil ilmu dari orang yang di atasnya, atau selevel dengannya, juga dari orang yang lebih rendah darinya.”

Fudhail bin Iyadh rahimahullah ditanya tentang tawadhu. Beliau berkata, “Tunduk kepada al-haq, patuh dan menerimanya dari orang yang membawakannya.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 86-87)

****
Sumber: http://asysyariah.com/hak-hak-dalam-berteman.html

Kamis, 30 Agustus 2012

Kematian adalah Kepastian, Apa Yang Sudah Engkau Siapkan?

Oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Kematian adalah sebuah ketetapan. Jika telah datang waktunya, tak satu pun makhluk yang mampu menangguhkannya. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya?

Tanda-tanda keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala tidak terhitung jumlah dan macamnya. Semuanya bisa dikelompokkan menjadi dua bagian, ayat-ayat syar’iyah yang terdapat dalam kitab-kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya Shallallah'alaihi wa sallam, serta ayat-ayat kauniyah yang ada pada makhluk-Nya.

Tidaklah Allah Subhanahu wa ta'ala menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya dengan ayat-ayat kauniyah dan syar’iyah kecuali bertujuan agar Dia ditauhidkan dalam seluruh peribadatan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Di antara ayat-ayat kauniyah yang Allah Subhanahu wa ta'ala tunjukkan kepada panca indera kita di dunia yang fana ini adalah adanya kehidupan dan kematian yang terjadi di sekeliling kita. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah serta menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 5-7)

Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana. Tidak ada yang kekal di dalamnya.

“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27)

Namun berbagai peringatan dan pelajaran yang terjadi di depan mata, berlalu begitu saja tanpa ada artinya. Kecuali bagi orang yang beriman dan berakal sehat, dialah yang akan mendapatkan manfaat dari semua itu.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)

“Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)

Kematian Adalah Suatu Kepastian

Allah Subhanahu wa ta'ala adalah Dzat Yang Maha Kuasa melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki, sesuai dengan hikmah dan keadilan-Nya. Apapun yang Allah Subhanahu wa ta'ala kehendaki pasti terjadi tanpa ada yang bisa menghalangi. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)

Rasulullah Shallallah'alaihi wa sallam bersabda:
اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ
“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi.” (Muttafaqun ‘alaih dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah)

Termasuk perkara yang Allah Subhanahu wa ta'ala kehendaki adalah kematian seorang hamba, berpisahnya ruh dari jasad tatkala telah tiba ajalnya untuk berpindah dari dunia yang fana ke alam barzakh atau alam kubur, dengan kenikmatan atau azab yang akan dia rasakan.

Umur masing-masing hamba telah Allah tentukan di dalam sebuah kitab yang ada di sisi-Nya, tidak akan berkurang ataupun bertambah dari yang telah ditetapkan, berserta sebab-sebab yang telah Allah takdirkan. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (Fathir: 11)

Tatkala jatah umur yang telah ditentukan tersebut telah habis, maka itulah ajalnya yang tidak mungkin ia lari darinya. Allah Subhanahu wa ta'ala menyatakan:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun: 11)

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka kematian itu akan menemuimu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (Al-Jumu’ah: 8)

Beragam cara dan usaha yang diupayakan oleh keluarga serta sanak kerabatnya tidaklah akan mampu menghalangi ajalnya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Di mana saja kamu berada, kematian akan menemuimu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa’: 78)

Kematian adalah ketetapan bagi setiap makhluk-Nya yang memiliki ruh, sekalipun makhluk yang paling mulia yaitu para nabi dan rasul. Mereka pun menemui ajal yang telah Allah tentukan. Allah Subhanahu wa ta'ala memberitakan kepastian itu dalam firman-Nya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali ‘Imran: 185)

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Ali ‘Imran: 144)

Demikian juga para malaikat, akan menemui ajalnya, sehingga tidak ada yang kekal kecuali Allah Subhanahu wa ta'ala.

“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27)

Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dia akan meninggal, pada umur berapa dia akan menemui ajalnya, dan di mana dia akan mengakhiri hidupnya di dunia, di daratan ataukah di lautan, serta apa sebab kematiannya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman: 34)

Padahal kematian itu bukanlah akhir kehidupan yang hakiki bagi seorang hamba. Dia hanyalah seorang musafir yang akan kembali ke negerinya yang hakiki dan abadi di akhirat nanti. Dia akan kembali untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dan ucapan yang telah dilakukannya di dunia. Kemudian dia akan mendapatkan balasan atas amalannya tersebut. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali ‘Imran: 185)

Maka, orang yang sukses adalah orang yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga Allah Subhanahu wa ta'ala dengan rahmat dan keutamaan dari-Nya.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dialah orang yang berhasil/sukses. Maknanya, dia mendapatkan kesuksesan yang agung, selamat dari azab yang pedih, dan berhasil meraih surga yang penuh dengan kenikmatan, yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”

Adapun orang yang merugi adalah orang yang tertipu dengan dunia dan kenikmatan-kenikmatan semu yang ada di dalamnya, sehingga melupakannya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Padahal harta yang ada pada dirinya tidak akan dibawa ke dalam kuburnya dan tidak akan dapat menyelamatkan dia dari azab Allah Subhanahu wa ta'ala. Dalam hadits dari Anas bin Malik, dari Nabi Shallallah'alaihi wa sallam, beliau berkata:

“Tiga perkara yang akan mengantarkan mayit: keluarga, harta, dan amalannya. Dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap tinggal bersamanya. Yang akan kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tetap tinggal bersamanya adalah amalannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (Al-Ma’idah: 36)

Sedangkan bagi orang yang beriman, dunia dan perhiasan yang ada di dalamnya adalah sarana untuk menyempurnakan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, sehingga dia tidak diperbudak olehnya. Dialah yang menundukkan dan mengatur dunia dengan syariat-Nya yang sempurna, bukan sebaliknya: dirinya yang harus menghinakan diri di hadapan harta (dunia). Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (An-Nazi’at: 40-41)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Yang akan tetap tinggal bagi setiap orang dan akan memberi manfaat serta menyenangkan hatinya, adalah amalan shalih (الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ). Hal ini mencakup seluruh amalan ketaatan yang wajib maupun yang sunnah, baik terkait dengan hak-hak Allah maupun hak-hak hamba, seperti shalat, zakat, sedekah, haji, umrah, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, bacaan Al-Qur’an, menuntut ilmu yang bermanfaat, amar ma’ruf nahi mungkar, silaturrahim, birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua), menunaikan hak-hak istri, budak, hewan piaraan, dan seluruh kebaikan yang ditujukan kepada makhluk. Hal-hal ini lebih baik balasannya di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala dan sebaik-baik harapan. Pahalanya akan kekal dan dilipatgandakan. Hal inilah yang mengharuskan kita berlomba-lomba untuk mendapatkannya dan bersungguh-sungguh mewujudkannya.” (Taisir Al-Karimirrahman)

****
Sumber: http://asysyariah.com/

Rabu, 29 Agustus 2012

Bahagia Dengan Husnul Khatimah Sengsara Dengan Su'ul Khatimah

Oleh Khalid bin 'Abdurrahman asy Syayi'

 Keadaan seseorang saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam hadits yang shahih:

إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ رواه البخاري وغَيْرُهُ.
"Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya". [HR Bukhari dan selainnya]

Oleh sebab itulah, seorang hamba Allah yang shalih sangat merisaukannya. Mereka melakukan amal shalih tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah agar Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah sampai meninggal. Mereka berusaha merealisasikan wasiat Allah Azza wa Jalla:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri)". [Ali Imran : 102]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam Shahih-nya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Ash Radhiyallahu 'anhuma, dia mengatakan :

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: إِِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلُّهَا بَيْنَ أَصْبَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلَ اللهِ : 

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

"Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu".

Itulah pentingnya kondisi tutup usia. Sementara itu, kondisi seseorang pada detik-detik terakhir kehidupannya ini, tergantung amal perbuatan pada masa lampau. Barangsiapa yang berbuat baik di saat waktu dan usianya memungkinan, maka insya Allah akhir hidupnya baik. Dan jika sebaliknya, maka sudah tentu kejelekan yang akan menimpanya. Allah tidak akan pernah menzhaliminya, meskipun sedikit.

Mengingat pentingnya masalah ini dan keharusan memperhatikannya, maka dengan memohon kepada Allah, tulisan ini kami angkat untuk menjadi pengingat kita semua.

HUSNUL KHATIMAH

Husnul khatimah adalah akhirnya yang baik. Yaitu seorang hamba, sebelum meninggal, ia diberi taufiq untuk menjauhi semua yang dapat menyebakan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini.

Dalil yang menunjukan makna ini, yaitu hadits shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قاَلُوُا: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ. رَواه الإمام أحمـد والترمذي وصحح الحاكم في المستدرك.

"Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya”. Para sahabat bertanya,”Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab,”Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal.” [HR Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak.]

Husnul khatimah memiliki beberapa tanda, di antaranya ada yang diketahui oleh hamba yang sedang sakaratul maut, dan ada pula yang diketahui orang lain.

Tanda husnul khatimah, yang hanya diketahui hamba yang mengalaminya, yaitu diterimanya kabar gembira saat sakaratul maut, berupa ridha Allah sebagai anugerahNya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah," kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". [Fushilat : 30].

Kabar gembira ini diberikan saat sakaratul maut, dalam kubur dan ketika dibangkitkan dari kubur. Sebagai dalilnya, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ لِقَائَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَائَهُ، فَقُلْتُ: يَانَبِيَ الله! أَكَرَهِيَةُ المَوْتِ، فَكُلُّنَا: نَكْرَهُ المَوْتَ؟ فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ، وَلَكِنِ المُؤْمِنُ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضِوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، وَإِنَّ كَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسُخْطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ وَكَرِهَ اللهُ لِقَائَهُ.

"Barangsiapa yang suka bertemu Allah, maka Allahpun suka untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak suka bertemu Allah, maka Allah pun benci untuk bertemu dengannya”. ‘Aisyah bertanya,”Wahai Nabi Allah! Apakah (yang dimaksud) adalah benci kematian? Kita semua benci kematian?” Rasulullah menjawab, ”Bukan seperti itu. Akan tetapi, seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira tentang rahmat dan ridha Allah serta SurgaNya, maka ia akan suka bertemu Allah. Dan sesungguhnya, orang kafir, apabila diberi kabar tentang azab Allah dan kemurkaanNya, maka ia akan benci untuk bertemu Allah, dan Allahpun membenci bertemu dengannya”.

Mengenai makna hadits ini, al Imam al Khatthabi mengatakan : “Maksud dari kecintaan hamba untuk bertemu Allah, yaitu ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya, ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya. Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya”.

Imam Nawawi berkata, ”Secara syari’at, kecintaan dan kebencian yang diperhitungkan adalah, saat sakaratul maut, saat taubat tidak diterima (lagi). Ketika itu, semuanya diperlihatkan bagi yang sedang naza’ (proses pengambilan nyawa), dan akan nampak baginya tempat kembalinya.”

TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH 

Tanda-tanda husnul khatimah banyak yang telah disimpulkan oleh para ulama dengan penelitian terhadap nash-nash yang terkait. Di sini kami bawakan sebagian tanda-tanda tersebut, di antaranya :

1. Mengucapkan kalimat syahadat saat akan meninggal.
Dalilnya adalah hadits riwayat al Hakim dan selainnya, bahwasannya Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَ آخِرُ كـلاَمـِهِ : لاَ إِ لَهَ إِ لاَ اللهُ دَخـَلَ الجـَــنَّةَ.
"Barangsiapa yang akhir ucapannya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , maka ia masuk surga".

2. Meninggal dengan kening berkeringat.
Berdasarkan hadits riwayat Buraidah bin al Hashib Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَوْتُ المُؤْمِنِ بِعِرْقِ الجَبِيْنِ. رَواه أحـمد والترمذي
"Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening".

3. Meninggal pada malam Jum`at atau siangnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
"Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum`at atau malam Jum`at, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur". [HR Ahmad dan Tirmidzi]

4. Mati syahid di medan jihad di jalan Allah, atau mati saat menempuh perjalanan untuk peperangan di jalan Allah, mati karena tertimpa sakit tha’un (pes), atau mati karena tenggelam. 
Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ

“Siapakah orang yang syahid menurut kalian?” Para sahabat menjawab,”Orang yang terbunuh di jalan Allah, maka ia syahid”. Rasulullah bersabda,”Kalau begitu, orang yang mati syahid dari umatku sedikit,” mereka bertanya,”Kalau begitu, siapa wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Orang yang terbunuh di jalan Allah, ia syahid. Orang yang mati di jalan Allah, maka ia syahid. Orang yang mati karena sakit tha’un, maka ia syahid. Barangsiapa yang mati karena sakit perut, maka ia syahid. Dan orang yang (mati) tenggelam adalah syahid”.

5. Mati karena tertimpa reruntuhan.
Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الشُّـهَدَاءُ خَمْسَةٌ: المَـطْعُوْنُ، المَـبْطُوْنُ، والغَـرْقُ وَصَاحِبُ الهَـدْمِ والشَّهِـيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.
"Orang yang mati syahid ada lima, (yaitu) : orang yang (mati) terkena penyakit tha’un, sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang terkena reruntuhan dan orang yang syahid di jalan Allah".

6. Tanda husnul khatimah, yang khusus bagi wanita, ialah meninggal saat nifas, ataupun meninggal saat sedang hamil.
Dalilnya, hadits riwayat Imam Ahmad dan selainnya, dengan sanad yang shahih dari ‘Ubadah bin ash Shamit Radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan beberapa syuhada’, di antaranya :

وَالمَـرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءُ شَهَادَةٍ، يَجُرُّهَا وَلَدُهَا بِسَرِرِهِ إِلَى الجَـنَّةِ.
"Dan wanita yang dibunuh anaknya (karena melahirkan) masuk golongan syahid, dan anak itu akan menariknya dengan tali pusarnya ke Surga."

7. Meninggal karena terbakar dan radang selaput dada.
Sebagai dalilnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyebutkan macam-macam orang yang mati syahid, termasuk orang yang mati terbakar. Demikian pula orang yang meninggal lantaran menderita radang selaput dada, yaitu bengkak yang meradang, nampak pada selaput yang ada di bagian dalam tulang-tulang rusuk. Adapun haditsnya diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya.

8. Diantara dalil yang menjelaskan jenis kematian syahid yang lain adalah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan an Nasaa-i dan selain keduanya, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِـيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِِهِ فَهُوَ شَهِـيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِـيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِه فَهُوَ شَهِـيْدٌ.
Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela agamanya, maka ia syahid. Dan barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid.

9. Meninggal karena sedang ribath (menjaga wilayah perbatasan) di jalan Allah Ta`ala.
Berdasar hadits riwayat muslim dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ
"Berjaga-jaga sehari-semalam (di daerah perbatasan) lebih baik daripada puasa beserta shalat malamnya selama satu bulan. Seandainya ia meninggal, maka pahala amalnya yang telah ia perbuat akan terus mengalir, dan akan diberikan rizki baginya, dan ia terjaga dari fitnah".

10. Meninggal dalam keadaan melakukan amal shalih.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah (pahala) Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa bershadaqah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga. (HR Imam Ahmad dan selainnya)".

Demikian beberapa tanda husnul khatimah yang telah disimpulkan dari berbagai nash. Syaikh Muhammad Nashirudin al Albani mengingatkan hal itu di dalam kitab beliau, Ahkamul Janaiz.

Akan tetapi, ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa terlihatnya salah satu di antara tanda-tanda itu pada satu mayit, bukan berarti dia pasti menjadi penduduk Surga. Namun diharapkan, itu sebagai pertanda baik baginya. Sebagaimana jika tanda-tanda itu tidak pada satu mayit, maka janganlah divonis bahwa seseorang ini tidak baik. Semua ini merupakan masalah ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla.

PENYEBAB HUSNUL KHATIMAH 

1. Faktor terpenting, yaitu kontinyu melakukan ketaatan dan bertakwa kepada Allah. Intinya ialah merealisasikan tauhid, menjauhi hal-hal yang diharamkan, dan segera bertaubat dari perbuatan haram yang melumurinya. Tindakan yang paling diharamkan adalah syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". [an Nisaa`: 48].

2. Hendaknya berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diwafatkan dalam keadaan beriman dan bertakwa.

3. Hendaknya mengerahkan segala kemampuan dalam memperbaiki diri, secara lahir dan batinnya, niat dan maksudnya diarahkan untuk memperbaiki diri. Ketentuan Allah di alam ini telah berlaku. Allah memberikan taufik kepada orang yang mencari kebenaran. Allah akan mengokohkannya di atas al haq serta menutup amalnya dengan al haq itu.

SU`UL KHATIMAH

Su’ul khatimah (akhir yang buruk) adalah, meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah Azza wa Jalla, berada di atas murkaNya serta meninggalkan kewajiban dari Allah.

Tidak diragukan lagi, demikian ini akhir kehidupan yang menyedihkan, selalu dikhawatirkan oleh orang-orang yang bertakwa. -Semoga Allah menjauhkan kita darinya-.

Terkadang nampak pada sebagian orang yang sedang sakaratul maut, tanda-tanda yang mengisyaratkan su’ul khatimah, seperti : menolak mengucapkan syahadat, justru mengucapkan kata-kata jelek dan haram, serta menampakkan kecendrungan padanya, dan lain sebagainya.

Kami perlu menyebutkan sebagian contoh nyata kejadian tersebut.

Kisah yang dibawakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, al Jawaabul Kaafi, bahwa ada seseorang saat sakaratul maut, dia diingatkan, “Ucapkanlah : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ “ Lalu orang itu menjawab: “Apa gunanya bagiku. Aku pun tidak pernah mengerjakan shalat karena Allah, meskipun sekali,” akhirnya ia pun tidak mengucapkannya.

Al Hafizh Rajab rahimahullah dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, menukil dari salah satu ulama, ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rawwad, beliau berkata: “Aku menyaksikan seseorang, yang ketika hendak meninggal ditalqin (diajari) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Akan tetapi, ia mengingkarinya pada akhir ucapannya.

Kemudian Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bertanya kepadanya tentang orang ini. Ternyata ia seorang pecandu khamr (minuman keras). Selanjutnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz berkata: “Takutlah kalian terhadap perbuatan-perbuatan dosa, karena perbuatan dosa itu yang telah menjerumuskannya”.

Hal serupa juga diceritakan oleh al Hafizh adz Dzahabi rahimahullah, ada seorang yang bergaul dengan pecandu khamr, maka saat ajal akan tiba, dan ada seseorang yang datang untuk mengajarinya syahadat, ia malah mengatakan : “Minumlah dan beri aku minum,” kemudian ia meninggal.

Al ‘Alamah Ibnul Qayyim rahimahullah bercerita mengenai seseorang yang diketahui gemar musik dan mendendangkannya. Tatkala wafat menjemputnya, dia diingatkan, katakanlah :لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , (tetapi) dia justru mulai mengigau dengan lagu sampai kemudian mati tanpa mengucapkan kalimat tauhid.

Beliau rahimahullah juga berkata: “Sebagian pedagang mengabarkan kepadaku tentang karib-kerabatnya yang hampir meninggal, sementara mereka di sisinya. Mereka mentalkinkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , namun ia mengigau “ini murah, ini barang bagus, ini begini dan begitu,” sampai ia meninggal dan tanpa bisa melafazhkan kalimat tauhid”.

Berikut ini, kami bawakan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Komentar ini dibawakan setelah menyebutkan kisah-kisah di atas. Beliau rahimahullah berkata:

“Subhanallah, betapa banyak orang yang menyaksikan ini mendapatkan pelajaran? Apabila seorang hamba, pada saat sadar, kuat, serta memiliki kemampuan, dia bisa dikuasai setan, ditunggangi perbuatan maksiat yang diinginkannya, mampu membuat hatinya lalai dari mengingat Allah Azza wa Jalla, menahan lisannya dari dzikir, dan (begitu pula) anggota badannya dari mentaatiNya, lalu bagaimana kiranya ketika kekuatannya melemah, hati dan jiwanya kacau karena sakitnya naza’ (tercabutnya nyawa) yang sedang dia alami? Sementara saat itu, setan mengerahkan seluruh kekuatan dan konsentrasinya, dan menghimpun semua kemampuannya untuk mencuri kesempatan. Sesungguhnya ini adalah klimaks. Saat itu, hadir setan yang terkuat, sementara si hamba dalam kondisi paling lemah. Siapakah yang selamat?

Pada saat kondisi ini:
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki". [Ibrahim : 27].

Maka, orang yang dilalaikan hatinya dari mengingat Allah, (selalu) memperturutkan nafsunya dan melampaui batas, bagaimana mungkin diberi petunjuk agar husnul khatimah? Orang yang hatinya jauh dari Allah Azza wa Jalla, lalai dariNya, mengagungkan nafsunya, menyerahkan kepada syahwatnya, lisannya kering dari dzikir, serta anggota badannya terhalang dari ketaatan dan sibuk dengan maksiat, maka mustahil diberi petunjuk agar akhir kehidupannya baik (husnul khatimah).

SU`UL KHATIMAH MEMPUNYAI DUA TINGKATAN

1. Tingkatan terbesar dan terjelek.
Yaitu orang yang hatinya penuh dengan keraguan dan penentangan saat sakaratul maut, kemudian ia mati dalam keadaan seperti ini, Maka, hal ini akan menjadi penghalang antara dia dan Allah.

2. Tingkatan yang lebih rendah.
Yaitu orang yang hatinya cenderung kepada urusan dunia atau keinginan syahwatnya, lalu keinginan ini tergambar di dalam hatinya saat sakaratul maut. Biasanya, seseorang meninggal dalam kondisi yang biasa ia lakoni pada kehidupan nyatanya. Jika jelek, maka akhirnya juga jelek. Semoga Allah melindungi kita dari keduanya.

SEBAB-SEBAB SU`UL KHATIMAH 

Dari uraian ini, maka nampak jelas, bahwa penyebab su’ul khatimah adalah, lawan dari penyebab husnul khatimah yang telah disebutkan.

Penyebab utamanya adalah kerusakan aqidah. Di antara penyebabnya juga adalah, rakus terhadap dunia, mencarinya dengan cara-cara haram, berpaling dari jalan kebaikan, serta terus-menerus melakukan perbuatan maksiat.

PENUTUP 

Semoga Allah melindungi kita dari su’ul khatimah. Seseorang yang amalan lahirnya baik, serta batinnya juga senantiasa bersama Allah, jujur dalam perkataan dan perbuatan, maka dia tidak akan mengalami su’ul khatimah. Sebaliknya, su’ul khatimah akan dialami oleh orang yang aqidahnya rusak, amalan lahirnya pun rusak, berani melakukan dosa-dosa besar, bahkan mungkin dia malakukan itu sampai ajal menjemput tanpa sempat bertaubat.

Karena itu, selayaknya bagi orang yang berakal agar mewaspadai ketergantungan hatinya terhadap perbuatan-perbuatan haram, dan mengharuskan hati, lisan serta anggota badannya untuk mengingat Allah Azza wa Jalla dan tetap taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di manapun berada.

Ya Allah, jadikanlah amal terbaik kami sebagai penutup amal kami. Jadikanlah umur terbaik kami sebagai akhirnya. Dan jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari kami menjumpaiMu.

Ya Allah, berilah taufik kepada kami untuk melaksanakan berbagai kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran.

Diterjemahkan dari kutaib, Husnul Khatimah wa Su-uha, al Ma’na, al ‘Alamat, al Asbab, Khalid bin ‘Abdurrahman asy Syayi’. Dar Balansiah Cet. I Th. 1422 H/2001 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] Sumber: http://almanhaj.or.id/

Selasa, 28 Agustus 2012

Jalan Menuju Surga

Oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc

Surga, itulah puncak tujuan dan harapan yang tertanam dalam sanubari setiap mukmin. Harapan meraih surga itu pula yang menjadi mesin penggerak generasi awal umat Islam dalam menyambut ajakan Allah 'Azza wa jalla dan Rasul-Nya Shallallahu'alaihi wa sallam, membela agama-Nya, dan bersegera meraih keridhaan-Nya. Dengan surga, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam membangkitkan ruh juang pasukannya ketika Perang Badr. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda di tengah-tengah pasukannya, “Majulah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” (HR. Muslim)

Di sini, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam tidaklah menjanjikan kedudukan atau harta. Yang beliau janjikan adalah surga. Dengan penyemangat ini, pasukan Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam seolah-olah telah melihat surga terpampang di depan mata sehingga kehidupan dunia menjadi tidak berarti di mata mereka. Di kala itu, ada seorang anggota pasukan yang melemparkan kurma yang masih tersisa di tangannya dan maju berperang hingga terbunuh. Orang ini menganggap terlalu lama untuk masuk surga jika harus menghabiskan kurma yang ada di tangannya.

Sebuah Renungan
Seorang mukmin yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Dia yakin pula bahwa perjalanan masih panjang karena masih ada dua jenjang kehidupan lagi setelah ini, yaitu kehidupan di alam kubur dan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Setiap mukmin yang membaca ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam yang menerangkan tentang surga dengan beragam kenikmatannya, niscaya akan ada harapan untuk mendapatkannya. Tentu ini merupakan cita-cita mulia dan akan menjadi kenyataan -dengan izin Allah-, jika diiringi dengan amal usaha. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

مَا رَأَيْتُ مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا وَلَا مِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا

“Aku tidaklah melihat seperti api neraka, orang yang lari darinya itu (malah) tidur, dan aku juga tidak melihat seperti surga orang yang mencarinya (malah) tidur.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 953)

Memang, untuk menggapai sesuatu yang mulia dibutuhkan upaya maksimal dan menelusuri jalannya, bukan hanya berangan-angan. Allah 'Azza wa jalla berfirman ketika menyebutkan nikmat yang dianugerahkan kepada penduduk surga:

“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” (ash-Shaffat: 61)

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari sahabat Abu Ayyub radhiyallahu'anhu bahwa ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan berkata, ‘Tunjukilah aku suatu amalan yang akan aku amalkan, dengannya aku akan dekat kepada surga dan jauh dari api neraka!’ Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

تَعْبُدُ اللهَ لَا تُشْرِكُ بِه شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيْ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ

“Engkau menyembah Allah, tidak mempersekutukan apa pun dengan-Nya, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, dan menyambung silaturahmi.” Tatkala orang itu pergi, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika orang itu berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan, niscaya ia masuk surga’.” (Shahih Muslim, “Kitabul Iman” no. 4)

Saudaraku, lihatlah bagaimana surga yang tidaklah diraih melainkan bila mengikhlaskan peribadahan hanya untuk Dzat yang mencipta alam semesta dan mengamalkan perintah agama. Lihat pula bagaimana generasi awal umat ini, perkara yang menyibukkan pikiran mereka adalah upaya meraih surga Allah 'Azza wa jalla dan menjauh dari azab-Nya. Mereka datang meminta bimbingan dan arahan kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam tentang jalan yang mengantarkan kepada cita-cita yang mulia ini.

Masih adakah kiranya orang di zaman sekarang yang meminta bimbingan kepada ulama dan nasihat mereka? Manusia kebanyakan lebih memikirkan bagaimana memakmurkan dunianya, walaupun harus binasa akhiratnya. Allah 'Azza wa jalla berfirman:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (ar-Rum: 7)

Akhlak yang Mengantarkan Seseorang Menuju Surga
Secara garis besar, jalan yang menyampaikan seseorang kepada surga —tentunya setelah rahmat Allah 'Azza wa jalla— adalah taat kepada Allah 'Azza wa jalla dan Rasul-Nya, yaitu dengan memercayai segala berita yang datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, menjalankan perintah-perintah yang ada pada keduanya, serta menjauhi larangannya. Allah 'Azza wa jalla berfirman:

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (an-Nisa’: 13)

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ الله، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Semua umatku masuk ke dalam surga kecuali orang yang menolak.” Mereka (para sahabat) berkata, “Siapa yang menolak, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Barang siapa taat kepadaku, ia masuk ke dalam surga. Barang siapa bermaksiat kepadaku (menentangku), sungguh ia telah menolak (masuk surga).” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu)

Di antara amalan terbesar yang mengantarkan seorang kepada negeri kedamaian adalah menuntut ilmu yang bermanfaat, yaitu mempelajari al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam serta mengamalkan isi kandungannya. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan itu jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Tidak diragukan bahwa akhlak mulia termasuk faktor utama yang menyampaikan seseorang kepada surga. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam ketika ditanya tentang hal yang banyak memasukkan seorang ke dalam surga. Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab:

التَّقْوَى وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Takwa dan akhlak yang mulia.” (Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 3443)

Di antara akhlak mulia tersebut adalah sebagai berikut.

Silaturahmi
Silaturahmi diwujudkan dengan berbuat baik kepada karib kerabat, baik dalam bentuk perbuatan, ucapan, harta, maupun yang lainnya. Tentunya, semakin dekat hubungan kekerabatan, semakin besar pula kewajiban untuk berbuat baik kepadanya.

Menebarkan Salam
Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

أَفْشِ السَّلَامَ، وَأَطْعِم ِالطَّعَامَ، وَصِلِ الْأَرْحَامَ، وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، وَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Tebarkanlah salam, berilah (orang) makanan, sambunglah karib kerabat (silaturahmi), berdirilah (shalat) di malam hari ketika manusia tidur, dan masuklah kamu ke dalam surga dengan selamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Menebarkan salam akan mewujudkan kecintaan di tengah-tengah umat sehingga persatuan akan lebih erat dan gesekan-gesekan akan berkurang.

Jujur dalam Ucapan dan Perbuatan
Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِّرِ وَإِنَّ الْبِّرَ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

“Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan kepada surga.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu'anhu)

Kejujuran termasuk pilar keselamatan dunia dan akhirat. Kejujuran juga sebagai bukti indahnya perjalanan hidup seseorang, bersihnya hati, dan kuatnya akal.

Berbuat Baik kepada Orang Lain dengan Berinfak kepada Mereka di Saat Lapang atau Sempit
Hal ini menunjukkan kecintaan seseorang terhadap saudaranya dan membuktikan kebenaran imannya. Dia tidak takut fakir dengan berinfak, bahkan dia berharap pahala dan berkah pada hartanya.

Memaafkan Kesalahan Orang Lain dan Mengendalikan Diri Ketika Marah
Orang yang memiliki sifat seperti ini, dialah orang kuat yang sesungguhnya. Dia akan mulia di sisi Allah 'Azza wa jalla dan terhormat di mata manusia. Allah 'Azza wa jalla berfirman:

“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran: 133—136)

Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa menahan amarahnya padahal dia mampu melampiaskan kemarahannya, maka Allah 'Azza wa jalla akan memanggil dia di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga Allah memberi pilihan kepadanya bidadari (surga) yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll. Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya sangat besar harapannya untuk masuk ke dalam surga. Lebih-lebih jika orang tua sudah tua, lemah, dan membutuhkan bantuan anaknya. Sebaliknya, orang yang durhaka dan tidak berbakti kepada keduanya, dialah orang yang hina sebagaimana sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, “Terhina, terhina kemudian terhina.”
Beliau ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya dalam keadaan tua renta, lalu dia tidak masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada anjuran untuk berbakti kepada kedua orang tua dan penjelasan tentang besarnya pahala amalan ini. Berbakti adalah berbuat baik kepada keduanya di saat sudah tua dan lemah dengan memberikan pelayanan, nafkah, atau hal lainnya yang menyebabkan seseorang masuk surga. Oleh karena itu, barang siapa menyia-nyiakan (kesempatan) untuk berbuat baik berarti telah luput darinya (sebab) masuk surga sehingga Allah 'Azza wa jalla menghinakannya.” (Syarh Shahih al-Adab 1/38)

Mengasuh dan Menyantuni Anak Yatim
Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda sebagaimana disebutkan oleh sahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu'anhu:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْم فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا-وَقَالَ بِإِصْبِعَيْهِ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى

“Saya dengan pengasuh anak yatim di surga seperti ini.” Nabi -Shallallahu'alaihi wa sallam- mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. al-Bukhari dalam Kitabul Adab)

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya dalam keadaan belum baligh. Dengan mengasuh, menyantuni, dan berbuat baik kepada anak yatim, seseorang telah memberikan kebahagiaan dan kasih sayang kepada anak yang sangat merasakan kehilangan kasih sayang orang tuanya. Dengan demikian, kesedihan hatinya terobati dan jiwanya menjadi besar.

Menyingkirkan Gangguan dari Jalan
Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ، لَا يُؤْذِيْهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Seorang lelaki melewati dahan pohon yang ada di tengah jalan lalu berkata, “Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini dari (jalan) kaum muslimin supaya tidak mengganggu mereka.” Lalu orang tersebut dimasukkan (oleh Allah) ke dalam surga. (HR. Muslim)

Lihatlah wahai saudaraku! Karena kecintaannya terhadap kaum muslimin, dengan tulus ia menyingkirkan dahan yang ada di jalan sehingga tidak mengganggu mereka, padahal itu hanya dahan pohon yang mungkin tidak terlalu mengganggu. Seperti inilah hendaknya kecintaan kita terhadap saudara-saudara kita.

Meninggalkan Berdebat
Berbantah-bantahan bisa menyulut api permusuhan, menyebabkan perpecahan, dan menyeret kepada kedustaan. Akan tetapi, jika kondisi menuntut untuk berdebat, hendaknya seseorang melakukannya dengan kepala dingin dan bertujuan untuk menggapai kebenaran. Tentu saja, hal ini dilakukan cara yang lemah lembut dan baik. Allah 'Azza wa jalla berfirman: “Bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)

Namun, jika sudah keluar dari adab kesopanan, seperti berteriak-teriak di majelis, debat kusir, keras kepala, dan tidak ada itikad mencari kebenaran, hendaknya perdebatan dihentikan dan ditinggalkan.

Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan rumah di bagian bawah surga bagi orang yang meninggalkan berbantah-bantahan meskipun ia berada pada posisi yang benar; dan rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bercanda; dan dengan rumah bagian atas surga bagi yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh an-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhush Shalihin)

Mengekang Hawa Nafsu
Jika hawa nafsu telah menguasai seseorang, akan sulit baginya memandang sesuatu dengan jernih. Jika hati telah gelap dan tidak bisa memandang dengan baik, hati itu akan terhinggapi penyakit yang sangat berbahaya, yaitu mencintai kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Pada tahap berikutnya, kemuliaan akhlak pada dirinya akan pudar. Orang yang seperti ini hendaknya dibimbing agar kembali kepada jalan kebenaran dan disadarkan bahwa perjuangan melawan hawa nafsu, meskipun sulit, tetapi buah yang akan dipetik adalah ketenteraman hidup di dunia dan surga di akhirat. Allah 'Azza wa jalla berfirman:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (an-Nazi’at: 40—41)

Tidak cukup kita menghiasi diri dengan perangai yang mulia. Kita juga harus membersihkan diri dari noda dan hawa nafsu agar amal kita tidak sia-sia.

Memohon Surga kepada Allah 'Azza wa jalla
Di antara usaha yang tak boleh diremehkan agar meraih surga adalah berdoa. Karena surga milik Allah 'Azza wa jalla, maka dari-Nya kita cari dan kepada-Nya kita bermohon. Jika permohonan keluar dari hati yang tulus, niscaya Allah 'Azza wa jalla tidak akan mengecewakan harapannya. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ الْجَنَّةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ. وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ

Barang siapa memohon surga kepada Allah tiga kali, surga akan mengatakan, “Wahai Allah, masukkanlah ia ke dalam surga!” Barang siapa meminta perlindungan (kepada Allah) dari api neraka tiga kali, neraka akan mengatakan, “Wahai Allah, lindungilah ia dari neraka.” (HR. at-Tirmidzi dll, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu'anhu. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6275)

Akhirnya, hanya kepada Allah 'Azza wa jalla kita memohon agar Dia menunjuki kita kepada jalan yang mengantarkan kepada surga-Nya. Wallahu ta’ala a’lam.

****
Sumber: http://asysyariah.com/jalan-menuju-surga.html

Jumat, 24 Agustus 2012

Renungan Kejujuran

Berikut ini beberapa renungan seputar kejujuran, kami memandang penting untuk disampaikan agar ia menjadi jalan hidup orang-orang yang jujur dan perilaku orang-orang beriman. Betapa butuhnya kita untuk merenungkan aib diri kita, serta kekurangan kita dalam hal kejujuran ini. Sisi kejujuran yang begitu penting telah menjadi fenomena kelemahan manusia di masa ini, sehingga telah tersebar di kalangan mereka lawan dari sikap jujur (dusta). Maka saya (penulis) dengan rasa senang hati menyusun tulisan ini -atas izin Allah - agar menjadi bahan renungan untuk kita semua.

Alangkah bagusnya ungkapan yang menggambarkan tentang kejujuran, sebagaimana bait berikut: 
Kejujuran adalah satu keharusan atasmu
Walaupun dirimu terbakar oleh panasnya janji
Carilah olehmu keridhaan al-Maula
Celakalah orang yang membuat murka Allah dan mencari ridho manusia

Definisi Jujur

Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata "rajulun shaduq (sangat jujur)", yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenarkan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan. Di dalam al-Qur'an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa),   

"Dan ibunya adalah seorang”shiddiqah." (Al-Maidah: 75).
Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. (Lisanul Arab 10/193-194)

Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan kejujuran akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan al-Abrar (orang baik), dan dengannya akan mendapatkan keselamatan dari api neraka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

"(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru),"Yusuf, hai orang yang amat dipercaya." (QS.Yusuf:46)

Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka. Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah "ash-shiddiqiyah" Yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus-Nya (Allah subhanahu wata’ala).

Imam Ibnu Katsir berkata, "Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar shahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapa jujur dia akan beruntung". (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

Al-Qur'an dan Kejujuran

Al-Qur'an menyebutkan sifat jujur dalam banyak ayat serta menganjurkan kepada kejujuran, dan bahwa ia merupakan buah dari ikhlas dan takwa. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:

1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,  
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah:119)

Maksudnya ialah; "Jadilah kalian semua bersama dengan orang-orang yang jujur dalam ucapan mereka, dalam perbuatan dan segala keadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang ucapannya jujur, perbuatannya dan keadaannya tiada lain kecuali kejujuran semata, bebas dari kemalasan, kebosanan, selamat dari tujuan-tujuan yang buruk, dan selalu memuat keikhlasan dan niat yang baik. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 355)

2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,  
"Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya." (QS. al-Ahzab:24)

Yakni mereka memperoleh semua itu dengan sebab kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan dan interaksi mereka dengan Allah subhanahu wata’ala, serta kesesuaian mereka antara lahir dengan batinnya. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)

3. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, 
"Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." (QS. al-Maidah:119)

Kejujuran mereka ketika di dunia akan memberikan manfaat kepada mereka di hari Kiamat. Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat serta tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah kecuali kejujuran.

4. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,   
"Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka." (QS.Yunus:2)

Maksudnya yaitu keimanan yang benar (jujur), bahwasannya mereka kelak akan mendapatkan "qadama shidqin" yakni balasan yang tak terhingga, pahala yang amat banyak di sisi Rabb mereka dengan sebab apa yang dulu pernah mereka lakukan berupa amal shalih dan kebenaran (jujur). (Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)

Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu berkata, "Qadama shiqin" maknanya adalah rumah kejujuran (di surga, red)," dan diriwayatkan darinya juga, "Pahala yang baik karena perbuatan mereka dahulu (di dunia) yang baik." (Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 8/306)

5. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,   
"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar:33)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Kejujuran saja belum cukup bagimu, bahkan merupakan keharusan untuk membenarkan (mempercayai) orang-orang yang jujur. Amat banyak manusia yang jujur namun dia menolak untuk membenarkan (mempercayai) orang lain yang jujur, entah karena sombong atau karena hasad atau selain keduanya." (Madarij as-Salikin 1/306)

6. Allah subhanahu wata’ala menyifati Diri-Nya dengan kejujuran dan kebenaran, sebagaimana firman-Nya artinya,   
"Katakanlah, "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". (QS. Ali Imran:95).
"Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah." (QS. An-Nisa':87)

7. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tentang "qadama shidqin", "lisana shidiqin", "maq'ada shidqin" dan juga "mudkhala/mukhraja shidqin". Penjelasannya adalah sebagai berikut,

a. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,   
"Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka". (QS.Yunus:2)

Ibnu Abbas berkata radhiyallahu ‘anhu (sebagai-mana tersebut di atas), "Makna qadama shidqin ialah rumah kejujuran, disebabkan oleh perbuatan mereka yang telah lalu (di dunia)."

b. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,   
"Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi (lisana shidqin)." (QS. Maryam:50)

Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa makna firman Allah "lisana shidqin" adalah pujian-pujian yang baik.

c. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,   
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi (maq'adi shidqin) di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa.” (QS. 54:54-55)

Makna "maq'adi shidqin" yaitu majlis (tempat duduk) yang haq yang tidak ada kesia-siaan dan ucapan kotor di dalamnya yakni surga. (Al-Jami’liahkam Al-Qur’an 17/150)

d. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, 
"Dan katakanlah, "Ya Rabb-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar." (QS. Al-Israa': 80)

Artinya adalah: "Jadikan permulaan (mulai) dan pengakhiran (selesai) dari segala sesuatu adalah dalam rangka ketaatan kepada-Mu, dan dalam keridhaan-Mu." Ini disebabkan karena memuat keikhlasan dan kesesuaian dengan apa yang diperintahkan. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 465)

Imam Ibnul Qayyim berkata: "Kelima macam ini (yang tersebut di atas, red) merupakan hakikat kejujuran, yaitu kebenaran yang berkesinambungan, terhubung dengan Allah subhanahu wata’ala dan sampai kepada-Nya, yaitu segala sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah dan dilakukan karena-Nya berupa ucapan dan perbuatan.” Maka balasan dari semua itu di dunia dan di akhirat adalah (taufik untuk) masuk (mulai) perbuatan dengan benar dan keluar (selesai) darinya dengan benar, yaitu dari awal hingga akhirnya adalah haq, eksist, dan dengan petunjuk Allah serta dalam rangka mencari keridhaan-Nya. (Madarij as-Salikin 2/270). Wallahu a'lam.

Penjelasan As-Sunnah

Banyak sekali hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membicarakan keutamaan jujur, di antaranya adalah:

1. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Wajib atas kalian semua untuk jujur, karena jujur akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta akan membawa kepada keburukan, dan keburukan akan menyeret ke neraka. Seorang hamba senantiasa berdusta, dan dia memilih kedustaan, sehingga ditulis di sisi Allah sebagi pendusta." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Al Munawi rahimahullah tatkala menjelaskan hadits di atas mengatakan: 

(Wajib atas kalian jujur), yaitu ucapan yang benar (haq), dan kadang pula mencakup pada perbuatan anggota badan, misalnya jika seseorang yang jujur dalam berperang, maka tentu dia akan menunaikan hak-haknya. 

(Sesungguhnya kejujuran akan membimbing kepada kabaikan), yaitu kepada amal shalih yang murni, sedang al-birr maknanya adalah sebuah sebutan untuk sesuatu yang mencakup segala macam kebaikan. 

(Kebaikan akan membimbing ke surga), yakni akan mengantarkan masuk ke dalam surga.

Ibnul Arabi rahimahullah berkata,

"Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kejujuran adalah pangkal segala macam kebaikan. Karena seseorang jika telah menjatuhkan pilihan pada kejujuran maka dia tidak akan bermaksiat kepada Allah. Sebab -misalnya- dia ingin meminum khamer, atau berzina, atau menyakiti orang maka dia akan takut dicap sebagai peminum atau pezina. Sebab jika dia ditanya tentang perbuatan itu, maka kalau diam berarti dia dalam keraguan, jika menjawab tidak maka dia berdusta, dan kalau dia jujur menjawab ya, maka jatuhlah kehormatan dan harga dirinya. Dan akhirnya dia pun memilih untuk menjauhi perbuatan itu.

(Seseorang senantiasa jujur), maksudnya jujur dalam ucapannya.

(Memilih kejujuran), yakni berusaha maksimal dalam melaksanakan kejujuran itu.

(Sehingga ditulis disisi Allah sebagai orang jujur), yakni dia dihukumi dengan kejujuran itu dan berhak menyandang predikat sebagai orang yang jujur.

(Jauhilah dusta), yaitu berhati-hatilah darinya.

(Karena dusta akan mengantarkan kepada keburukan), yakni dia akan mengajak untuk condong dari jalan yang lurus serta akan membangkitkan kemaksiatan.

(Dan dusta akan mengantarkan ke neraka), yakni menjadikan pelakunya terjerumus di dalamnya.

(Seseorang selalu berusta dan memilih dusta sehingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta), yakni dia dihukumi sebagai orang pendusta, dan berhak mendapatkan julukan tersebut berikut berbagai konsekuensinya.

Diriwayatkan dari Ubadah Ibnu ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Berilah aku jaminan dengan enam perkara, maka aku akan menjamin untuk kalian dengan surga. (Yaitu) jujurlah kamu jika berbicara, tepatilah jika kamu berjanji, tunaikanlah amanat jika engkau diberi kepercayaan, jagalah kemaluan kalian, tundukkan pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian (jangan mengganggu atau menyakiti)." (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di dalam surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun hanya senda gurau." (HR. al-Baihaqi)

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, "Seorang mukmin dikenali dengan sikap rendah hatinya, kelembutan ucapannya dan kejujuran ucapannya."

Bersama Para Salaf

Terdapat banyak ungkapan tentang kejujuran dan hakikatnya yang disampaikan oleh para salaf, di antaranya sebagai berikut:

1. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kalian wajib untuk jujur, meskipun membawamu kepada kematian."

2. Dan perkataan beliau yang lainnya, "Kejujuran yang membuatku menjadi terhina lebih aku sukai daripada kedustaan yang mengangkat kedudukanku."

3. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Jika engkau ingin menjadi orang-orang yang benar (jujur) maka wajib atasmu sikap zuhud dalam urusan dunia dan menahan diri dari menyakiti ahlul millah (sesama muslim)."

4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, "Seandainya kejujuran diletakkan pada luka, maka tentu luka itu akan sembuh."

5. Abu Sa'id al Qurasyi rahimahullah berkata, "Orang jujur adalah orang yang siap menghadapi kematian dan dia tidak malu terhadap keburukan dirinya seandainya tersingkap, sebagaimana firman Allah, "Katakanlah, "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar." (QS. Al-Baqarah:94)

6. Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata, "Jujur adalah menepati janji terhadap Allah dengan beramal."

7. Bisyar al-Haafi rahimahullah mengatakan, "Barang siapa yang bermuamalah dengan Allah Subhanahu wa ta'ala secara jujur maka dia akan merasa sepi dari manusia. Dan juga dikatakan, "Jujur adalah kesesuaian antara yang tersembunyi dengan yang terucap."

8. Dikatakan juga bahwa jujur adalah kesamaan antara yang disembunyikan dengan yang tampak. Artinya bahwa orang yang berdusta adalah orang yang menampakkan kebaikan tetapi batinnya menyembunyikan keburukan seperti halnya orang munafik yang secara lahir adalah seperti orang yang baik padahal batinnya tidak demikian.

9. Ada sebagian yang mengatatakan, "Kejujuran adalah mengucapkan kebenaran dalam kondisi yang membahayakan."

10. Ada pula yang lain mengatakan, "Jujur adalah berkata benar di hadapan orang yang kau takuti dan kau harapkan."

11. Ada pula seseorang yang berkata, "Barang siapa yang tidak melakukan kewajiban yang kontinyu, maka tidak akan dapat melaksanakan kewajiban yang temporer. Ditanyakan, "Apakah kewajiban yang kontinyu itu? Lalu dijawab, "Jujur."

12. Dikatakan pula, "Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan jujur maka Allah akan memberikan kepadanya cermin yang dengannya dia bisa melihat yang haq dan yang batil".

13. Juga dikatakan, "Wajib atasmu berlaku jujur meskipun engkau khawatir bahwa jujur itu akan memberikan madharat kepadamu, padahal sesungguhnya dia akan memberikan manfaat kepadamu. Dan tinggalkan dusta meskipun engkau melihat bahwa dusta itu memberimu manfaat, sebab ia jutru akan mendatangkan madharat kepadamu".

Macam dan Buah Kejujuran

Kejujuran ada bermacam-macam dan bukan hanya satu macam saja. Oleh karena itu merupakan kekeliruan jika ada orang yang berkeyakinan bahwa jujur itu hanya terbatas pada lisan saja. Yang benar adalah kejujuran itu ada dalam ucapan, perbuatan dan segenap keadaan. Imam Ibnul Qayyim berkata, "Orang yang jujur adalah orang yang segala urusannya adalah kejujuran, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaannya.”

Penjelasan secara global dari tiga macam kejujuran ini yaitu:
  1. Jujur dalam ucapan ialah lurusnya lisan di dalam berbicara sebagaimana sesuainya ranting dengan batang pohon.
  2. Jujur dalam perbuatan yaitu kesesuaian perbuatan dengan perintah dan mutaba'ah (selaras) sebagaimana kesesuaian kepala dengan badan.
  3.  Jujur dalam keadaan yaitu kesesuaian perbuatan hati dan anggota badan dengan keikhlasan, dengan memanfaatkan kesempatan dan mencurahkan kemampuan secara maksimal.
Dengan ini semua maka seorang hamba akan tergolong sebagai hamba yang jujur dengan sebenarnya. Dengan melaksanakan segala macam kejujuran tersebut secara utuh dan terus menegakkannya, maka akan diperoleh predikat "shiddiqiyyah". Oleh karena itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat gelar as-Shiddiq secara mutlak dan beliau telah meraih puncak kejujuran (shiddiqiyyah) yang tertinggi. (Madarij as-Salikin 2/270).

Ke tiga macam kejujuran di atas dapat dijelaskan secara lebih terinci sebagai berikut:

Jujur Dalam Ucapan

Yaitu wajib bagi setiap muslim untuk menjaga lisannya, dan tidak berbicara kecuali dengan jujur dan benar. Karena Allah subhanahu wata’ala akan meminta pertanggung-jawaban atas ucapan lisan, sebagaimana firman-Nya, artinya: 

"Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS.An-Nur:24)

Dan selayaknya seorang muslim menjauhi kata-kata kiasan atau sindiran kecuali dalam kondisi diperlukan dan akan mendatangkan maslahat (manfaat). Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, "Sesungguhnya dalam kalimat kiasan tidak terdapat unsur dusta." (Az-Zuhd, Hinad bin As-Sirri 2/636)

Masuk kategori jujur dalam ucapan adalah jujur dalam menyampaikan berita, dan termasuk juga menepati janji yang diucapkan.

Jujur Dalam Perbuatan

Yaitu kesesuaian antara yang terlihat dan yang tersembunyi, atau lahirnya tidak ada perbedaan dengan batinnya.

Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri berkata, "Hasan al-Bashri apabila beliau memerintahkan manusia dengan sesuatu, maka dia adalah orang yang paling giat dalam melaksanakannya. Dan apabila beliau melarang manusia dari sesuatu, maka dia adalah orang yang paling menjauhinya. Dan aku tidak pernah melihat seseorang yang paling sama antara yang tersembunyi dengan yang tampak melebihi dia."

Dan berkata Mutharrif, "Apabila seorang hamba sesuai antara yang tersembunyi dengan yang tampak, maka Allah subhanahu wata’ala akan berkata, "Ini adalah hamba-Ku yang sebenarnya."

Jujur dalam Segala Keadaan

Ini adalah tingkatan jujur yang tertinggi, seperti jujur dalam niat yang ikhlas dan dalam rasa takut, dalam bertaubat, pengharapan, zuhud, cinta, tawakkal dan selainnya. Oleh karena itu segala amalan hati pada dasarnya bermuara dalam kejujuran, sehingga kapan saja seorang hamba jujur dalam seluruh kondisi tersebut, maka dia akan terangkat dan tinggi kedudukannya di sisi Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya: 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat:15)

Al Imam Ibnul Qayyim berkata, "Abu bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu telah mencapai puncak kejujuran (shiddiqiyyah), dan beliau disebut sebagai ash-Shiddiq secara mutlak, yang maknanya lebih mendalam daripada ash-Shaduq, ash-Shuduq atau ash-Shaadiq. Maka puncak tertinggi sifat jujur adalah ash-shiddiqiyyah yaitu ketundukan yang sempurna terhadap utusan Allah subhanahu wata’ala (rasul) disertai sempurnanya keikhlasan terhadap Pengutusnya. (Madarij as-Salikin 2/270))

Buah Kejujuran

1. Masuk Surga

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang amal yang dapat memasukkan ke dalam surga, maka beliau menjawab, "Kejujuran." (HR. Ahmad).

Dan juga pada hari Kiamat tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menyelamatkan dari adzab selain kejujuran.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadap-nya. Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS. Al-Maidah:119)

2. Mendapatkan Taufik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata kepada Ka'ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang yang tidak ikut berperang dalam Perang Tabuk yang secara jujur mengakui kesalahannya dan tidak membuat alasan dusta, "Adapun dia, maka sungguh telah berlaku jujur." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Sehingga turun ayat pengampunan untuknya.

3. Memperoleh Keselamatan

Kejujuran akan mendatangkan keselamatan, melepaskan dari kesempitan dan bencana, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari tentang sekelompok orang yang terjebak dalam gua yang pintunya tertutup oleh batu besar. Salah satu dari mereka berkata, "Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian selain kejujuran, maka hendaklah masing-masing berdo’a dangan suatu amalan yang diketahui bahwa dia telah jujur dalam amalan tersebut." (HR. Al-Bukhari)

4. Baiknya Batin

Barang siapa yang jujur dalam amalan yang lahir dan tampak maka itu menunjukkan bahwa batinnya adalah baik.

5. Memperoleh Maslahat

Kejujuran akan mendatangkan manfaat dan maslahat di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat al-Maidah 119 di atas.

6. Mendatangkan Ketenangan

Kejujuran akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Kejujuran adalah ketenangan sedangkan dusta adalah kegelisahan dan keraguan." (HR. At-Tirmidzi, dan berkata hadits hasan shahih)

7. Ketegaran

Seorang yang jujur akan selalu tegar dan tidak goyah di dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

8. Jujur Pangkal Kebaikan

Pokok seluruh kebaikan adalah kejujuran dan sebaliknya pangkal seluruh keburukan adalah dusta, sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam awal pembahasan dari bab ini.

9. Terlepas Dari Kemunafikan

Seorang yang selalu jujur, maka akan terbebas dari sifat kemunafikan, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka dia adalah seorang munafik. (Yaitu); Apabila berbicara dusta; Apabila berjanji menyelisihi; Dan apabila dipercaya berkhianat."

10. Turunnya Malaikat

Malaikat turun kepada orang yang jujur sedangkan syetan turun kepada orang yang dusta. Allah subhanahu wata’ala berfirman, "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa." (QS. Asy-Syu'ara': 221-222)

11. Orang yang jujur akan diberikan firasat yang benar.

12. Orang yang jujur dalam mengemukakan pendapat akan menang hujjahnya

Sebab Allah subhanahu wata’ala akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dan kuat di dunia dan di akhirat.

13. Orang yang jujur berhak mendapatkan pujian dari manusia.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala ketika menyebutkan para nabi, artinya, "Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam:55)

14. Jujur dalam mu'amalah dan jual beli akan mendatangkan keberkahan, sedangkan dusta dan menyembunyikan cacat akan menghalangi barakah. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasuluillah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).” (HR Ibnu Majah no. 2139, al-Hakim no. 2142 dan HR at-Tirmidzi no. 1209)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kalau keduanya (pedagang dan pembeli) bersifat jujur dan menjelaskan (keadaan barang dagangan atau uang pembayaran), maka Allah akan memberkahi keduanya dalam jual beli tersebut. Akan tetapi kalau kaduanya berdusta dan menyembunyikan (hal tersebut), maka akan hilang keberkahan jual beli tersebut." (HR. Bukhari no. 1973 dan Muslim no. 1532) 

Kisah Teladan dan Fenomena Hilangnya Kejujuran

Kisah Ke Satu

Bilal radhiyallahu ‘anhu meminangkan seorang wanita bangsa Quraisy untuk saudaranya, maka dia berkata kepada keluarga wanita tersebut, "Kami adalah orang yang telah anda ketahui dan anda kenal, dahulu kami adalah budak, lalu Allah subhanahu wata’ala memerdekakan kami, dahulu kami orang yang sesat, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan petunjuk dan kami dahulu adalah orang yang fakir, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan kami kecukupan. Maka aku meminang kepada anda si Fulanah untuk saudaraku ini, jika kalian mau menikahkan, maka segala puji hanya milik Allah dan jika kalian menolak, maka Allah Maha Besar.

Maka sebagian mereka saling melihat kepada sebagian yang lain, kemudian salah seorang dari mereka berkata, "Bilal adalah orang yang telah kalian ketahui latar belakangnya, kedekatan dan kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka nikahkanlah saudaranya itu. Maka mereka pun akhirnya menerima lamaran itu dan menikahkan saudara Bilal dengan wanita tersebut. Ketika seluruh urusan sudah selesai, berkatalah saudara Bilal kepadanya, "Semoga Allah mengampunimu, adapun engkau maka engkau hanya menyebutkan latar belakangmu dan kebersamaanmu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyebutkan selainnya. Maka Bilal radhiyallahu ‘anhu berkata, "Oh iya, engkau benar, maka sekarang aku nikahkan kamu dengan kejujuran." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ke Dua

Diriwayatkan dari Sahl bin Aqil rahimahullah dia berkata, "Suatu ketika Ismail ’alaihis salam membuat janji untuk datang ke rumah seseorang. Maka datanglah Ismail, tetapi orang tersebut lupa. Maka beliau pun menunggu dan bermalam di tempat itu sehingga datang orang tersebut dari kepergiannya kemarin.” Oleh karena itu di dalam al-Qur'an beliau disebut sebagai "shadiqul wa'di" (orang yang menepati janji), sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala, artinya:

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur'an. Sesungguh-nya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)

Kisah Ke Tiga

As'ad bin Ubaidillah al-Makhzumi rahimahullah berkata, "Abdul Malik bin Marwan rahimahullah memerintahkan aku agar mengajari anak-anaknya kejujuran, sebagaimana aku mengajari mereka al-Qur'an."

Kisah Ke Empat

Ismail bin Ubaidillah rahimahullah berkata, "Ketika ayahku sudah dekat ajalnya, dia mengumpulkan seluruh anak-anaknya lalu berkata kepada mereka," Wahai anak-anakku! Wajib atas kalian semua taqwa kepada Allah, membaca al-Qur'an dan merutinkannya. Dan wajib atas kalian untuk jujur walaupun jika salah seorang dari kalian membunuh seseorang lalu ada salah satu kerabatnya yang bertanya. Demi Allah aku tidak pernah berdusta sama sekali semenjak aku membaca al-Qur'an."

Kisah Ke Lima

Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau lebih dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq rahimahullah karena kejujurannya di dalam berbicara.

Fenomena Hilangnya kejujuran

Orang yang memperhatikan kondisi manusia di masa ini, maka akan mendapati betapa telah terabaikannya sisi kejujuran ini. Di antara sebabnya adalah karena lemahnya keimanan di dalam hati kaum muslimin, tersebarnya kemaksiatan di setiap tempat serta berlebihan di dalam mencintai kehidupan dunia. Maka rasa takut terhadap sesama manusia telah mendominasi sehingga menyebabkan hilangnya kejujuran dalam ucapan, perbuatan dan segala kondisi mereka.

Dalam hadits disebutkan bahwa kejujuran merupakan ketenangan, maka jika kejujuran telah hilang akan hilang pula ketenangan dalam kehidupan dan pergaulan antar sesama. Sehingga yang tersebar adalah rasa gelisah dan saling curiga sebagai ganti dari rasa tenang.

Di antara fenomena yang tersebar di tengah masyarakat yang mengindikasikan lemahnya kejujuran adalah sebagai berikut:

1. Tersebarnya Ucapan Dusta

Bahkan bukan hanya ucapan dusta, tetapi termasuk juga amalan dan segala kondisi, padahal ia merupakan salah satu dosa besar. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
"Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (QS. Ali Imran:61)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tiga hal, barang siapa yang pada dirinya terdapat ketiganya maka dia adalah orang munafik. Yaitu jika berbicara dusta, jika berjanji menyelisihi dan jika dipercaya berkhianat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Fenomena Ingkar Janji

Ingkar janji sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas merupakan salah satu ciri kemunafikan. Kini ingkar janji telah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang, bahkan di antara mereka ada yang dikenal dengan manusia ingkar janji.

Di antara bentuk ingkar janji yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan manusia adalah:
Terlambat atau mengundur kedatangan dengan tanpa ada alasan, seperti seseorang yang berjanji akan datang jam delapan tetapi dia baru datang jam sembilan, dengan tanpa alasan yang dibenarkan. Termasuk juga orang tua yang mengingkari janji terhadap anak-anaknya untuk membelikan sesuatu atau memberinya sesuatu.

Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dusta itu tidak layak baik dalam bergurau atau sungguh-sungguh, dan janganlah seseorang di antara kalian berjanji terhadap anaknya dengan sesuatu lalu tidak melaksanakannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Mengkhianati Amanah

Amat banyak manusia yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, misalnya seorang pegawai tidak melakukan hal-hal atau pekerjaan yang seharusnya dituntut dan menjadi tugasnya. Di antara contohnya adalah terlambat datang di tempat kerja, dan jika datang bukannya melaksanakan pekerjaan dan tugasnya tetapi menelpon ke sana-sini bukan untuk urusan kerja, membaca majalah atau koran dalam jam kerja, atau nonton acara televisi dan lain sebagianya.

Demikian juga mengambil cuti sakit padahal tidak sakit, dan dia lupa bahwa dirinya dengan demikian telah memakan harta orang lain dengan tanpa bekerja. Apa hak dia mengambil upah secara utuh sementara hari kerja yang seharusnya dia masuk bekerja dikurangi dengan tanpa alasan yang dibenarkan?

4. Menipu Dalam Jual Beli

Di antara bentuknya adalah dengan menyembunyikan cacat barang dagangan, padahal si penjual ini mengetahui bahwa dagangannya cacat, tetapi dia tidak memberitahukan kepada si pembeli. Dia beralasan bahwa itu salah pembeli sendiri mengapa tidak meneliti dahulu barang yang akan dia beli. Menyembunyikan aib barang dagangan merupakan sebab hilangnya barakah, sebagaimana diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Penjual dan pembeli melakukan khiyar (pilih barang dan tawar menawar) selagi mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat) maka diberkahi keduanya dan jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta maka dihapus keberkahannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

5. Berpura-pura Fakir

Yaitu mengaku dirinya orang miskin dan butuh bantuan padahal sebenarnya kecukupan, dan dia meminta bantuan hanya sekedar untuk memperbanyak atau menumpuk harta benda. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barang-siapa yang meminta-minta harta benda kepada orang lain untuk memperbanyak kepemilikannya, maka sesungguhnya dia sedang meminta bara api." (Tarikh Dimasyq 14/373, Al-Mustathraf 2/15)

6. Menyembunyikan Aib Pelamar atau Wanita yang Dilamar

Yakni masing-masing dari pelamar atau wanita yang sedang dilamar menutup-nutupi kekurangannya baik dalam masalah fisik atau akhlaknya. Masing-masing hanya menonjolkan kebaikan dan kelebihannya saja, serta berlebih-lebihan di dalam memberi pujian, padahal ini dapat menghilangkan berkah pernikahan.

[Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1426, oleh Syaikh Sulthan Fuad Al-Thubaisyi.].

Sumber: http://www.alsofwah.or.id/