Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2012

Keutamaan Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Takwa


Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.” (Qs. Almaa’idah: 2)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-‘Ashr: 1-3)
Dari Abu Abdirrahman Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu’anhu, ia berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempersiapkan diri untuk berperang dijalan Allah, maka ia akan berperang. Dan barangsiapa yang menggantikannya dalam keluarganya karena perang, maka ia telah perang.” (HR. Bukhari no.2843 dan Muslim no. 1895)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengutus pasukan tentara ke Bani Lihyan dari Kabilah Hudzail, beliau bersabda, “Hendaknya tiap dua orang dalam satu keluarga, yang satu keluar yang satu menjaga keluarganya, niscaya pahalanya dibagi antar keduanya.” (HR. Muslim no. 1896)

Penjelasan:

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam “Barangsiapa yang mempersiapkan diri untuk berperang dijalan Allah, maka ia akan berperang. Dan barangsiapa yang menggantikannya dalam keluarganya karena perang, maka ia telah perang.” Ini adalah bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Ketika seseorang mempersiapkan diri untuk berperang yaitu mempersiapkan kendaraannnya, peralatannya dan senjatanya, maka ia telah berperang, yakni dituliskan baginya pahala berperang, karena ia telah mempersiapkan kebaikan. Demikian juga orang yang menggantikan sesuatu yang baik bagi keluarganya, berarti ia sudah berperang, karena jika seseorang ingin berperang, tetapi dia mendapatkan masalah dalam hal pemenuhan kebutuhan bagi keluarganya, kemudian dia mengutus salah seorang Muslim dan berkata “Saya akan menggantikan anda dalam keluargamu dengan kebaikan.” Maka orang yang menanggung keluarganya ini pahalanya seperti orang yang berperang karena membantunya.

Karenanya, membantu orang yang berperang itu ada dua: Pertama: Membantunya mempersiapkan kendaraan, perlengkapan dan persenjataannya. Kedua: Membantunya untuk menanggung keluarga yang ditinggalkannya, karena ini termasuk pertolongan yang sangat besar. Banyak orang merasa berat apabila ada orang yang memenuhi hajat mereka, jika orang itu sudah bisa menanggung kebutuhan keluarganya, dan dia menjadi penggantinya bagi keluarganya dengan baik, maka berarti ia telah berjuang.

Diantaranya yaitu yang pernah terjadi pada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menggantikannya perang tabuk, Rasulullah memerintahkannya agar ia bersama keluarga, Ali berkata, “Wahai Rasulullah kenapa engkau tinggalkan aku bersama para wanita dan anak-anak?” Lalu Beliau berkata kepadanya, “Apakah kamu tidak ridha menjadi sebagian dari diriku, seperti kedudukan Harun dari Musa dimana tidak ada Nabi lagi setelahku?”[1] Yakni aku tinggalkan engkau bersama keluargaku, sebagaimana Musa meninggalkan Harun pada kaumnya ketika beliau pergi menuju Miqat (tempat perjumpaan) Tuhannya.

Dari Hadits diatas dapat dipahami bahwa setiap orang yang membantu oranglain untuk melakukan ketaatan kepada Allah, maka baginya pahala seperti pahala orang itu. Jika anda membantu seorang penuntut ilmu dengan membelikannya buku, mengontrakkannya rumah atau menafkahinya dan sebagainya, maka bagi anda pahalanya, yakni seperti pahala orang tersebut tanpa dikurangi sedikitpun. Begitu juga jika anda membantu orang yang hendak shalat dengan memudahkan urusannya dalam shalat, baik itu tempat, pakaian, dalam wudhunya, maka sesungguhnya dituliskan bagi anda pahala seperti orang yang shalat.

Kaidah umum, bahwa barangsiapa yang membantu oranglain dalam ketaatannya kepada Allah, maka baginya pahala seperti pahala orang yang dibantu tanpa dkurangi sedikitpun.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bertemu dengan satu kafilah di Ar-Rauha’ lalu Beliau bertanya, “Siapakah Anda? Beliau menjawab, “Rasulullah”. Kemudian seorang perempuan mengangkat bayi kepada Beliau dan berkata, “Apakah baginya haji?” Beliau menjawab, “Ya, dan bagimu pahala.” (HR. Muslim no. 1336)

Penjelasan:

Dari Hadits ini terdapat faedah, bahwa seseorang yang membantu oranglain untuk ketaatan maka baginya pahala, karena perempuan ini akan memelihara anaknya ketika ihram, thawaf, sa’i, wukuf dan lain-lain, Beliau bersabda, “Baginya haji dan bagimu pahalanya.”

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bendahara muslim yang amanat adalah yang melaksanakan apa yang diperintahkan, kemudian memberikan secara sempurna, lapang dan senang hati, baik kepada orang yang diperintahkan untuk diberi, maka dia termasuk salah seorang yang mendapat pahala sedekah tersebut.” (HR. Bukhari no.1438 dan Muslim no.1023) Diriwayat lain, “Yang memberikan apa yang diperintahkan kepadanya.”

Penjelasan:

Bendara sesuai hadits diatas mempunyai empat sifat: Muslim, amanat, melaksanakan apa yang diperintahkan dan senang hatinya.

Sifat yang pertama: Sifat Muslim
Bendahara jika kafir walaupun amanat melaksanakan apa yang diperintahkan, maka baginya tidak ada pahalanya, karena kekafiran tidak akan ada pahalanya bagi mereka diakherat dari amal kebaikan yang mereka lakukan, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Qs. Al-Furqan: 23)

“Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya didunia dan di akherat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” (Qs. Al-Baqarah: 217)

Adapun jika ia berbuat kebaikan kemudian masuk Islam, maka kebaikan yang telah lalu akan terselamatkan dan akan diberi pahalanya. [2]

Sifat Kedua: Amanat
Yakni terpercaya, melaksanakan amanat yang yang diberikan kepadanya, ia menjaga harta dan tidak merusaknya tidak pula mengambilnya dan menyia-nyiakannya.

Sifat Ketiga: Melaksanakan apa yang diperitahkan.
Yakni melakukannya, karena diantara mereka ada yang amanat akan tetapi pemalas. Orang yang memiliki sifat ini adalah terpercaya, melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, maka terkumpullah dua sifat; kuat dan terpercaya.

Sifat Keempat: Baik jiwa dan perilakunya.
Jika ia melaksanakan dan memberikan apa yang diperintahkan kepadanya maka ia melaksanakannya dengan lapang dada yakni tidak mengharapkan sesuatu dari orang yang diberi tersebut, atau ingin menampakan kemuliaannya, tetapi ia memberikannya dengan ikhlas hati, dialah yang termasuk salah seorang yang bersedekah walaupun ia tidak memberikan sepeser pun dari hartanya.

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang keutamaan amanat dan keutamaan melaksanakan apa yang diwakilkan kepadanya tanpa berlebih-lebihan, serta dalil yang menunjukkan bahwa tolong menolong dalam kebaikan dan takwa akan dituliskan pahala bagi yang melakukannya, seperti pahala orang yang melakukannya. Ini adalah keutamaan Allah yang diberikan pada orang yang di kehendaki-Nya.

[Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin. Bab: Tolong Menolong Dalam Kebaikan Dan Takwa. Jilid: II hal. 74-84. Penerbit Darus Sunnah,  dengan sedikit ringkasan]

Artikel: www.faisalchoir.blogspot.com
_____

[1] HR. Bukhari no. 3706, 4416 dan Muslim no. 2404, dari hadits Sa’aad bin Abi Waqqash

Kamis, 16 Agustus 2012

10 Faedah Tentang Ilmu Hadits

10 Faedah Tentang Ilmu Hadits[1]
Oleh: Ustadz Abu Ubaidah al-Atsary 

1. PENTINGNYA SANAD

Ketahuilah saudaraku —semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberi taufiq kepadamu— bahwa terpeliharanya sanad (mata rantai perowi dalam meriwayatkan hadits) merupa­kan kenikmatan yang Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada umat ini, sehingga terjagalah kesucian agama ini dari tangan­-tangan lancang yang ingin mengotorinya. Oleh kare­na itu, tatkala ahli kitab tidak memiliki sanad dalam agama mereka, terjadilah banyak percampuran an­tara kebenaran dan kebatilan dalam agama mereka.[2]

Para ulama sangat memperhatikan masalah sanad ini dengan serius, karena sanad merupakan pondasi utama untuk sampai kepada tujuan ilmu hadits. yaitu memilah antara hadits shohih dan lemah. Imam Ibnu Mubarok Rahimahullah pernah berkata:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Sesungguhnya sanad itu termasuk agama. Seandainya tidak ada sanad, seorang akan sembarangan berbi­cara.[3]

Sufyan ats-Tsauri Rahimahullah berkata:

الإسناد سلاح المؤمن ، فإذا لم يكن معه سلاح فبأي شيء يقاتل

Isnad adalah senjata seorang mu’min, kalau dia tidak memiliki senjata, lantas dengan apa dia berperang?! [4]

Seseorang pernah berkata kepada Imam Zuhri Rahimahullah, “Ceritakanlah kepadaku hadits tanpa sanadnya.” Maka beliau berkata,”Bisakah diriku ini naik ke atap tanpa tangga?!! [5]

Maka hendaknya kita tidak merasa bosan untuk membaca sanad karena itu adalah perangai orang­-orang yang malas, tetapi hendaknya dia merasa senang membacanya sebagaimana akhlak para ulama terkemuka.[6]

2. MENCERITAKAN HADITS LEMAH

Banyak para penulis masa kini dari berbagai madzhab dan fakultas membawakan hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tanpa menjelaskan kelemahannya, baik karena jahil terhadap hadits, atau memang karena malas membuka kitab-kitab hadits. Sebagian mereka menyepelekan secara khusus dalam masalah fadho’il amal. Abu Syamah Rahimahullah berkata[7]:

“Hal ini menurut ahli hadits dan ulama ahli ushul fiqih menu­pakan suatu kesalahan, bahkan hendaknya dijelaskan derajatnya apabila diketahui, kalau dia tidak menjelas­kan maka dia termasuk dalam hadits:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Barangsiapa menceritakan hadits dariku dan hadits tersebut diketahui dusta maka dia adalah salah satu pendusta. (HR. Muslim)

Syaikh al-Albani Rahimahullah berkomentar:”Ini hukum orang yang diam dari hadits-hadits lemah dalam fadho’il! Lantas bagaimana dalam masalah hukum dan seje­nisnya?![8]

Ibnu Hajar al-Haitarni pernah ditanya tentang para khotib yang biasa menyarnpaikan hadits-hadits lemah dan palsu dalam khutbahnya, beliau menjawab:

“Tidak halal berpedoman dalam menyampaikan ha­dits pada suatu kitab atau khutbah yang penulisnya bukan ahli hadits. Barangsiapa yang melakukan hal itu maka dia layak untuk dihukum dengan hukuman yang berat. lnilah keadaan para khotib zaman seka­rang, tatkala melihat ada makalah khutbah yang berisi hadits-hadits, mereka langsung menghafalnya dan berkhutbah dengannya tanpa menyeleksi terlebih dahulu apakah hadits tersebut ada asalnya ataukah tidak. Maka merupakan kewajiban bagi pemimpin negeri tersebut untuk melarang para khotib dari perbuatan tersebut dan menegur dari khotib yang telah melakukan perbuatan tersebut”[9]

3. IBADAH DENGAN HADITS SHOHIH

Hendaknya bagi kita beribadah di atas dalil yang shohih, dan tidak beramal suatu amalan sebelum kita mengetahui keshohihan dalil tersebut. Para ulama salaf kita telah memberikan contoh akan pentingnya hal ini.

Imam al-Harowi Rahimahullah meriwayatkan bahwasanya Abdulloh bin Mubarok Rahimahullah pernah tersesat dalam safar. Sebelumnya, telah sampai kabar kepadanya,”Barang­siapa yang terjepit dalam kesusahan kemudian berseru, Wahai hamba Alloh! Tolonglah aku,’ maka dia akan di­tolong." (Abdulloh bin Mubarok) berkata, ”Maka aku mencari hadits ini untuk aku lihat sanadnya.”

Al-Harowi Rahimahullah mengomentari dengan perkataannya, “Abdulloh bin Mubarok tidak memperbolehkan diri­nya untuk berdo’a dengan suatu do’a yang tidak dia ketahui sanadnya.”[10]

Setelah membawakan ucapan di atas, Syaikh al­-Albani Rahimahullah berkomentar: “Demikianlah hendaknya It­tiba’.”[11]

4. KEBENARAN MAKNA HADITS

Ada beberapa hadits yang lemah tetapi maknanya benar, karena adanya dalil shohih dari al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan kebenaran makna tersebut, atau terbukti dalam fakta. Namun harus diketa­hui bahwa tidak semua hadits yang maknanya benar berarti Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengatakannya, sehingga tidak boleh menisbatkannya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam.

Sebagai suatu contoh, hadits berikut:

إذا أبغض المسلمون علماءهم و أظهروا عمارة أسواقهم و تناكحوا على جمع الدراهم رماهم الله عز و جل بأربع خصال : بالقحط من الزمان و الجور من السلطان و الخيانة من ولاة الأحكام و الصولة من العدو

Apabila kaum muslimin membenci para ulama mereka, menampakkan para penjaga pasar mereka, saling me­nikah untuk mengumpulkan dirham, maka Alloh akan menimpakan kepada mereka empat perkara; keke­ringan yang cukup lama, kedzoliman penguasa, peng­khianatan para pemimpin, dan serangan dari musuh.

Adz-Dzahabi Rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Munkar.” Syaikh al-Albani Rahimahullah berkomentar: “Seba­gian penuntut ilmu yang bodoh telah menulis dengan tinta yang tidak bisa dihapus setelah ucapan adz-Dza­habi di atas pada Nuskhoh Zhohiriyyah:” Saya berkata: Bahkan, haditsnya adalah shohih sekali (!).”

Sepertinya, orang bodoh ini beranggapan bahwa suatu hadits apabila sesuai dengan kenyataan berarti Rosul Shallallahu Alaihi Wasallam pasti mengucapkannya. Sungguh ini adalah ke­jahilan yang amat parah, karena betapa banyak ha­dits-hadits yang dilemahkan oleh para ulama ahli ha­dits padahal maknanya shohih. Terlalu banyak sekali kalau saya harus menampilkan contoh-contohnya, cukuplah apa yang terdapat kitab karyaku ini.

Seandainya penshohihan hadits dibuka karena melihat maknanya yang shohih tanpa melihat kepada sanadnya, niscaya berapa banyak kebathilan akan ma­suk pada syariat! Dan betapa banyak manusia yang akan menyandarkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam suatu ucapan yang tidak beliau katakan dengan alasan tersebut, kemudian mereka mengambil tempat duduknya di neraka.”[12]

5. PERCOBAAN BUKANLAH HUJJAH

Suatu hadits tidak bisa dihukumi shohih ber­dasarkan percobaan, tetapi harus dibangun di atas sanad dan undang-undang hadits yang telah mapan.

Sebagai suatu contoh adalah hadits berikut:

إذا انفلتت دابة أحدكم بأرض فلاة فليناد : يا عباد الله احبسوا علي يا عباد الله احبسوا علي فإن لله في الأرض حاضر سيحبسه عليكم

Apabila hewan kendaraan kalian lepas di tanah luas, maka hendaknya dia memanggil: “Wahai hamba Alloh tahanlah untukku, wahai hamba Alloh tahanlah untuk­ku, maka Alloh memiliki orang yang hadir di bumi untuk menahan hewan kendaraan tersebut untuk kalian.

As-Sakhowi Rahimahullah berkata: “Sanadnya lemah, tetapi an-­Nawawi berkata bahwa dia dan sebagian gurunya pernah mencobanya dan terbukti.”[13]

Syaikh al-Albani mengomentari hal ini: “Ibadah tidaklah dibangun di atas percobaan, lebih-lebih apabila berkaitan dengan masalah ghoib seperti hadits ini, maka tidak boleh untuk condong menshohihkan­nya karena berdasarkan percobaan.”[14]

Alangkah bagusnya ucapan al-Hafidz asy-Syau­kani Rahimahullah: ”Sunnah tidaklah ditetapkan dengan percobaan. Terkabulnya doa tidaklah menunjukkan bahwa fak­tor terkabulnya adalah shohih dari Rosululloh Shallallahu Alaihi Wasallam, kare­na bisa jadi Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa seorang tanpa tawassul kepada-Nya sebab Alloh Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, dan bisa jadi terkabulnya doa dikarenakan Alloh memanjakan seorang sehingga dia terus larut dalam kelalaiannya.”[15]

6. ILHAM DAN ILMU HADITS

Al-Ajluni berkata menyebutkan dari lbnu Arobi as-Sufi bahwa suatu hadits yang lemah karena adanya perowi yang pendusta bisa jadi shohih karena ilham yang diberikan Rosul Shallallahu Alaihi Wasallam kepadanya.[16]

Ucapan ini tidak perlu dibantah karena sangat jelas sekali kebatilannya. Apa faedahnya sanad kalau begitu?! Dan apa faedahnya jerih payah para ulama ahli hadits dalam menjernihkan hadits Nabi kalau begitu?!

Syaikh al-Albani Rahimahullah berkata setelah menjelaskan palsunya suatu hadits: “Adapun ucapan asy-Sya’roni dalam al-Mizan: “Hadits ini sekalipun dibicarakan oleh ahli hadits, tetapi shohih menurut ahli kasyf (sufi).” Maka ini adalah ucapan yang bathil, tidak per­lu dilirik sedikitpun, sebab penshohihan hadits ber­dasarkan ilham merupakan kebid’an shufi yang hina. Berpedoman dengan teori tersebut akan menyebab­kan penshohihan hadits-hadits bathil dan tidak ada asalnya.”[17]

7. POPULER BELUM TENTU SHOHIH

Suatu hadits yang masyhur (populer) dan laris manis di kalangan masyarakat tidaklah menunjuk­kan bahwa hadits tersebut mesti shohih sama sekali. Berapa banyak hadits yang masyhur di masyarakat, tetapi para ulama ahli hadits menghukuminya seb­agai hadits lemah, palsu bahkan tidak ada asalnya.

Al­ Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Hadits masyhur bisa juga diartikan dengan suatu hadits yang banyak beredar di lidah masyarakat umum, maka hal ini mencakup hadits yang memiliki satu sanad atau lebih, bahkan hadits yang tidak memiliki sanad sama sekali.”[18]

Syaikhul Islam Rahimahullah juga berkata: “Seandainya sebagian masyarakat umum yang mendengar hadits dari tu­kang cerita dan aktivis dakwah, atau dia membaca hadits yang baginya adalah populer, maka bukanlah hal itu menjadi patokan sama sekali. Betapa banyak hadits-hadits yang populer di masyarakat umum, bah­kan di kalangan para ahli fiqih, kaum sufi, ahli filsafat dan sebagainya, lalu menurut pandangan ahli hadits ternyata hadits tersebut adalah tidak ada asalnya, dan mereka menegaskan hadits tersebut palsu.”[19]

Perlu diketahui bahwa populernya suatu hadits berbeda-beda sesuai dengan waktu dan tempat. Oleh karena itulah, para ulama ahli hadits memperhatikan masalah ini dan membukukannya secara khusus, se­perti Kasyful Khofa oleh al-Ajluni, ad-Duror al-Munta­syiroh oleh as-Suyuthi, al-Maqoshidul Hasanah oleh as-Sakhawi dan lain sebagainya.

8. HADITS LEMAH DALAM FADHOIL AMAL

Banyak orang yang beranggapan bahwa hadits le­mah bisa dijadikan sandaran dalam masalah fadho’il amal dengan tidak ada perselisihan di kalangan ulama. Sungguh, ini adalah anggapan yang keliru sebab para ulama telah berselisih tentangnya. Namun yang harus diperhatikan di sini bahwa para ulama yang membo­lehkan berhujjah dengan hadits lemah dalam fadho’il amal, mereka mensyaratkan tiga persyaratan penting yang banyak dilalaikan oleh orang-orang yang berala­san dengannya, yaitu:
  1. Hadits tersebut kelemahannya ringan, tidak terlalu parah seperti lemah sekali, maudhu’, apalagi tidak ada asalnya.
  2. Orang yang mengamalkannya mengetahui bahwa itu adalah hadits yang lemah dan tidak berkeyakin­an bahwa itu adalah dari Rosululloh Shallallahu Alaihi Wasallam.
  3. Hadits lemah tersebut didasari oleh dalil shohih yang bersifat global.[20]
Sekalipun pendapat yang kuat menurut kami bahwa tidak boleh berhujjah dengan hadits-hadits le­mah baik dalam fadho’il amal maupun hukum karena semuanya adalah sama-sama syari’at agama. Cuku­plah kita dengan dalil-dalil yang shohih. Dahulu, para ulama kita mengatakan:

في صحيح الحديث شغل عن سقيمه

Dalam hadits yang shohih itu terdapat kesibukan dari hadits yang lemah.[21]

9. TANDA-TANDA HADITS PALSU

Ketahuilah bahwa hadits yang munkar dan palsu membuat hati penuntut ilmu hati merasa geli dan mengingkarinya. Robi’ bin Hutsaim berkata:

إن للحديث ضوءاً كضوء النهار تعرفه وظلمة كظلمة الليل تنكره

Sesungguhnya hadits itu memiliki cahaya seperti ca­haya di siang hari sehingga engkau dapat melihatnya. Dan memiliki kegelapan seperti gelapnya malam se­hingga engkau mengingkarinya.[22]

Perlu diketahui bahwa hadits palsu itu memiliki beberapa tanda secara umum:
  1. Ucapan tersebut tidak menyerupai ucapan para Nabi.
  2. Ucapan tersebut lebih menyerupai ucapan ahli pengobatan atau ahli thoriqot sufi.
  3. Bertentangan dengan kaidah-kaidah umum yang paten dalam agama Islam.
  4. Makna yang terkandung dalam hadits tersebut lucu.[23]
  5. Tidak adanya hadits tersebut dalam kitab-kitab hadits yang penting seperti kitab-kitab sunan dan musnad.[24]

10. KEMBALI KEPADA KEBENARAN

Wahai saudaraku —semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi­mu—, tinggalkanlah segala kesombongan dan jadilah dirimu pecinta kebenaran. Bila memang dirimu per­nah berpedoman pada hadits-hadits lemah dan palsu dan engkau pernah menjadi pembelanya, lalu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan petunjuk keadaanmu, maka janganlah segan-segan dirimu memeluk kebenaran dan mening­galkan keyakinanmu yang dulu sekalipun mungkin telah mengakar dalam hatimu.

Menakjubkanku kisah Ibnul Jauzi Rahimahullah tatkala dia mengamalkan sebagian hadits tentang dzikir setelah sholat, beliau berkata: “Dahulu saya telah mende­ngar hadits ini sejak kecil, saya pun mengamalkannya kurang lebih tiga puluh tahun lamanya karena saya meyangka baik kepada para perowi. Namun tatkala saya mengetahui bahwa haditsnya adalah maudhu’ / palsu maka saya pun meninggalkannya. Ada seorang pernah berkata kepadaku: Bukankah itu mengamal­kan suatu kebaikan?!’ Saya menjawab: `Mengamalkan kebaikan itu harus disyari’atkan, kalau kita tahu bah­wa itu adalah dusta maka berarti keluar dari perkara yang disyari’atkan:”[25]

[Majalah al Furqan edisi 2 tahun ketujuh 1428 (2007) hal. 71-74]
Artikel: https://amaz95.wordpress.com/
 _____________

[1] Dinukil dari muqoddimah buku “Mengkritisi Hadits-hadits Populer”oleh penulis. Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan penerbitannya. (Sekarang buku tersebut telah terbit, Walhamdulillah, -ed.)
[2] Lihat at-Ta’shil li Ushul Takhrij wa Qowaid Jarh waTa’dil, Bakr Abu Zaid 1/5-7
[3] Muslim dalam Muqoddimah Shohihnya 1/12
[4] Al-Majruhin, Ibnu Hibban 1/27
[5] Tadribur Rowi, as-Suyuthi 3/794
[6] Syarh Shohih Muslim, an-Nawawi 1/108
[7] Al-Baits ‘Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal. 54
[8] Tamamul Minnah hal. 33
[9] Al-Fatawa al-Haditsiyyah hal. 63
[10] Dzammu al-Kalam (4/68)
[11] Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah (2/ 109)
[12] Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah 2/36-37
[13] AI-Ibtihaj bi Adzkaril Musafir wal Haj hal. 39
[14] Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah 2/ 108-109
[15] Tuhfah Dzakirin hal. 140
[16] Kasyful Khofa I /9
[17] Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah 1/145
[18] Nuzhoh Nazhor fi Taudhih Nukhbah Fikar hal. 63-64
[19] Majmu’ Fatawa 6/409-410
[20] Lihat Tabyin ‘Ajab, Ibnu Hajar hal. 3-4
[21] AI-Jami’ Ii Akhlak Rowi wa Adabis Sami’ 1524, al-Khothib al-Baghdadi
[22] AI-Kifayah fi Ilmi Riwayah, al-Khothib al-Baghdadi hal. 605, al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi 1/147
[23] Lihat al-Manar al-Munif, Ibnu Qoyyim hal. 50-102
[24] Tahdzir Sajid, al-Albani hal. 75
[25] Al-Maudhu’at 1/245

8 Faedah Tentang Hadits

Oleh : Ustadz Aris Munandar hafizhahullah

1. SETAN MENGINAP DI HIDUNG

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا اسْتَيْقَظَ-أُرَاهُ- أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَانِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian bangun tidur maka hendaknya berwudhu lalu memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya dengan menggunakan napas sebanyak tiga kali karena setan itu menginap di pangkal hidung.” (HR. al-Bukhori no. 3121 dan Muslim no. 238)

Syaikh Muhammad bin Sulaiman bin Abdul Aziz al-Bassam, mantan pengajar di Masjidil Haram, mengatakan, “Adapun menginapnya setan di pangkal hidung maka besar kemungkinan hal ini terjadi jika seorang itu tidak membaca wirid ketika hendak tidur -terutama ayat kursi-. Alasan kemungkinan ini adalah hadits dari Abu Huroiroh radhiyallahu'anhu ‘Dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi tiba.” (HR. Bukhari no. 3273)[1]

2. PAKAI SANDAL SAMBIL BERDIRI

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَنْتَعِلَ الرَّجُلُ وَهُوَ قَائِمٌ

Dari Qotadah, dari Anas radhiyallahu'anhu: sesungguhnya Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam melarang memakai sandal (baca: alas kaki) sambil berdiri.[2]

Al-Munawi rahimahullah mengatakan,  “Perintah (yang merupakan kebalikan dari larangan, Pen.) yang ada dalam hadits di atas adalah mengandung makna irsyad atau bimbingan (baca: anjuran) karena memakai alas kaki sambil duduk itu lebih mudah dan lebih memungkinkan. Oleh karena itu, ath-Thibi dan lainnya berpendapat bahwa larangan dalam hadits di atas hanya berlaku untuk alas kaki yang susah jika dikenakan sambil berdiri semisal sepatu dan tidak berlaku untuk semisal teklek (bakiak, sandal dari kayu).” [3]

3. BERPATOKAN DENGAN PENILAIAN AL-ALBANI

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya:
Pertanyaan, “Apa pendapat Anda mengenai sikap berpatokan dengan penilaian derajat hadits yang diberikan oleh al-Albani?”

Jawaban Ibnu Baz:
“Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani itu termasuk manusia pilihan dan beliau termasuk ulama yang dikenal istiqomah dengan kebenaran, memiliki aqidah yang baik, serta giat mengoreksi hadits dan menjelaskan derajat hadits. Oleh karena itu, beliau bisa dijadikan patokan dalam masalah ini. Akan tetapi, beliau bukanlah pribadi yang maksum. Terkadang beliau melakukan kesalahan ketika menilai shohih atau dho’ifnya suatu hadits.”

4. SHOLAT SUNNAH SETELAH TENGKAR

عن كهيل بن حرملة عن أبي أمامة قال: سَمِعْتُ رسول الله  يَقُولُ: تَكْفِيرُ كُلِّ لـِحَاءٍ رَكْعَتَانِ

Dari Kuhail bin Harmalah dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu'anhu, “Aku mendengar Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, ‘Penghapus dosa setiap pertengkaran adalah mengerjakan sholat sebanyak dua roka’at.” [4]

5. MAKAN SESUDAH LAPAR

Pertanyaan: “Terkait hadits yang kami tidak mengetahui shohih tidaknya, itulah hadits ‘Kami adalah sekelompok orang yang tidak makan hingga kami lapar dan jika kami makan kami tidak sampai kenyang.’”

Jawaban Syaikh Ibnu Baz rahimahullah: “Hadits tersebut diriwayatkan dari sebagian duta yang datang ke kota Madinah namun dalam sanadnya terdapat kelemahan. Diriwayatkan bahwa mereka berkata tentang Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam ‘Kami adalah sekelompok orang yang tidak makan hingga kami lapar dan jika kami makan kami tidak sampai kenyang.’ Artinya, Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam  dan para sahabat radhiyallahu'anhum adalah orang-orang yang hemat. Makna yang terkandung dalam hadits di atas adalah benar namun dalam sanadnya-terdapat kelemahan. Ceklah di Zadul Ma’ad dan al-Bidayah karya Ibnu Katsir.” [5]

6. BERSTATUS SEBAGAIMANA HADITS MARFU’

Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Patokan hadits mauquf yang berstatus sebagai hadits marfu’ sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama adalah hadits mauquf yang isinya adalah sesuatu yang bukan ranah ijtihad alias tidak ada ruang bagi akal di dalamnya dan satu-satunya kemungkinan hal tersebut berasal dari syari’at …. Demikian pula jika seorang sahabat melakukan suatu tata cara ibadah yang tidak terdapat dalam hadits marfu’ tentu akan kita katakan pula bahwa hadits tersebut berstatus sebagai hadits marfu’.

Contoh yang diberikan oleh para ulama adalah perbuatan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu'anhu. Beliau mengerjakan sholat gerhana yang berisi tiga rukuk dalam setiap roka’atnya. Padahal yang terdapat dalam hadits marfu’ adalah dua rukuk dalam setiap roka’at. Para ulama mengatakan bahwa masalah ini bukanlah ruang untuk akal karena tidak mungkin melakukan ijtihad dalam hal ini. Jumlah rukuk adalah satu perkara yang harus mengikuti dalil dari al-Qur’an ataupun hadits. Andai bukan dikarenakan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu'anhu memiliki ilmu yang berasal dari wahyu mengenai hal ini tentu beliau tidak akan mengerjakan tiga rukuk dalam satu roka’at. Perbuatan Ali ini berstatus marfu’ mengingat hal ini bukanlah ranah ijtihad.” (Syarh al-Manzhumah al-Baiquniyyah hlm. 51-52 terbitan Dar Tsaroya, Riyadh, cet. pertama, 1423 H)

Penulis kitab Min Athyabil Minnah fi Ilmi al-Mushtholah mengatakan, “Contoh marfu’ fi’li hukman (berstatus tak ubahnya bagaikan perbuatan Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam) adalah jika seorang sahabat melakukan suatu perbuatan dalam perkara yang bukan merupakan ruang bagi akal semisal Ali bin Abi Tholib radhiyallahu'anhu mengerjakan sholat gerhana yang dalam setiap roka’atnya terdapat rukuk yang lebih dari dua kali.” [6]

7. HADITS ADALAH WAHYU

وَقَالَ حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ: جِبْرِيْلَ عليه السلام يَنْزِلُ عَلَى النبي صلي الله عليه وسلم بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ بِالْقُرآنِ فَيُعَلِّمَهُ إِيَّاهَا كَمَا يُعَلِّمُهُ الْقُرآنَ

Hasan bin Athiyyah mengatakan, “Jibril 'Alaihissalam turun kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dengan membawa sunnah sebagaimana Jibril turun dengan membawa al-Qur’an. Jibril lantas mengajarkan sunnah kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam sebagaimana Jibril 'Alaihissalam mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah: 3/366, cet. standar)

8. TANAH UNTUK BEROBAT

عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى الْإِنْسَانُ الشَّيْءَ مِنْهُ أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْحٌ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا وَوَضَعَ سُفْيَانُ سَبَّابَتَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ رَفَعَهَا بِاسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

Dari Aisyah radhiyallahu'anha, jika ada orang yang sakit atau ada luka di badannya maka Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam melakukan demikian dengan jarinya.” Sufyan —salah seorang perawi— mempraktikkan dengan meletakkan jari telunjuk di tanah. “Kemudian Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam mengangkatnya sambil mengatakan “Dengan nama Allah, tanah bumi kami dengan air liur salah seorang di antara kami untuk menjadi sebab kesembuhan orang yang sakit di antara kami dengan izin Tuhan kami.” [7]

Tentang makna hadits ini Ibnu Utsaimin rahimahulah mengatakan, “Sebagian ulama berpendapat bahwa yang boleh melakukan hal semisal di atas hanyalah Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam dan tanah yang digunakan adalah khusus tanah kota Madinah. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa yang boleh melakukan hal di atas bukan hanya Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam dan tidak hanya berlaku untuk tanah kota Madinah, tetapi bisa dipraktikkan oleh semua orang yang melakukan ruqyah dan tanah yang dipakai adalah tanah di belahan bumi mana pun. Akan tetapi, kandungan hadits di atas bukanlah membenarkan ngalap berkah dengan semata-mata air liur seseorang namun air liur yang mengandung ruqyah plus tanah dalam rangka pengobatan, bukan semata-mata ngalap berkah.” [8]

[Majalah Al-Furqon Gresik, No.115 Edisi 12 Tahun Ke-10_1432 H/ 2011 M]
____________

Catatan Kaki: 

[1].    Nailul Marom bi Tahqiq Taudhih al-Ahkam min Bulughil Marom hlm. 16 terbitan Dar Ibnul Jauzi, Damam, KSA, cet. pertama, 1426 H
[2].    HR. at-Tirmidzi no. 1776. Dalam Silsilah Shohihah no. 719 jilid 2 hlm. 341 al-Albani mengatakan, “Kesimpulannya, hadits tersebut shohih tanpa ragu mengingat jumlah sanadnya yang banyak.”
[3].    Silsilah Shohihah jilid 2 hlm. 342 terbitan Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, cet. 1415 H
[4].    HR. ath-Thobrori dalam al-Mu’jam al-Kabir—tahqiq Hamdi Abdul Majid as-Salafi —no. 7651, dinilai hasan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah no. 1789 jilid 4 hlm.397
[5].    Majmu’ Fatawa Mutanawwi’ah “Kitab Hadits Qism Awal” juz 25 hlm.273 terbitan Dar Ashda al-Mujtama, Buraidah, cet. kedua. 1428 H
[6].    Min Athyabil Minnah fi Ilmi al-Mushtholah kar. Syaikh Abdul Mukhsin al-Abbad dan Syaikh Abdul Karim Murod hlm.47, terbitan Jami’ah Islamiyyah bil Madinah, 1381 H
[7].    HR. al-Bukhori no. 5413 dan Muslim no. 5848
[8].    Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu Utsaimin jilid 1 hlm. 109, terbitan Dar Tsaroya, Riyadh, cet. kedua, 1426 H

Sumber: www.ibnumajjah.wordpress.com
Download ebooknya disini: 8 Faedah Tentang Hadits atau ZIP file

Rabu, 08 Agustus 2012

Akan Muncul Da'i-Da'i Yang Menyeru Ke Neraka Jahannam

Oleh : Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”

Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?”

Beliau berkata : “Ya”
Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?”
Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”

Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”

Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?”
Beliau menjawab : ”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”

Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”
Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”

Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”

Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?”
Beliau menjawab : ”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”


TAKHRIJ HADITS

Hadits ini memiliki banyak jalan, diantaranya :

[1]. Dari jalan Walid bin Muslim (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Ibnu Jabir (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Bisr bin Ubeidillah Al-Hadromy hanya dia pernah mendengar Abu Idris Al-Khaoulani dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu …….[HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]

[2]. Dari jalan Waki’ dari Sufyan dari ‘Atho’ bin Saib dari Abi Al-Bukhari dia berkata : Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata ….. [HR Ahmad dalam musnad 5/399]

[3]. Dari jalan Abi Mughiroh (dia berkata) menceritakan kepada kami Assafar bin Nusair Al-Azdi dan selainnya dari Hudzaifah bin Al-Yaman, beliau berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dahulu dalam keburukan lalu Allah menghilangkannya dan mendatangkan kebaikan melalui anda. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?”. Beliau berkata : “Ya”. Hudzaifah bertanya lagi : “Apa kejelekan tersebut?” Beliau menjawab : “Akan muncul banyak fitnah seperti malam yang gelap gulita, sebagaimana mengikuti yang lainnya dan akan datang kepada kalian hal-hal yang samar-samar seperti wajah-wajah sapi yang kalian tak mengetahuinya” [HR Ahmad 5/391]


SYARH HADITS

A. Mengenal Jalan Orang-Orang Yang Tersesat Merupakan Kewajiban Dalam Syariat.
Ketahuilah -semoga Allah memberkahi anda- sesungguhnya metode Ar-Rabbani (Islam) yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menampilkan generasi pertama yaitu shabat dan para tabi’in (sesungguhnya bertujuan) untuk mejelaskan jalan kebenaran dan agar diikuti.

Allah berfirman.
“Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka kami palingkan dia kemana dia berpaling dan kami akan memasukkannya kedalam neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisa : 116]


Akan tetapi (metode Islam ini) tidak cukup hanya mejelaskan jalan kebenaran saja bahkan menyingkap kebatilan dan mengungkap kepalsuannya agar jelas dan terang jalan orang-orang yang tersesat (lalu dijauhi dan ditinggalkan,-pent).

Allah ta’ala berfirman.
“Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an, supaya jelas jalan orang-orang yang benar dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang tersesat” [Al-An’am : 55]

Seorang penyair berkata.
“Aku mengenal keburukan bukan untuk keburukan akan tetapi untuk menjauhinya”
“Dan barangsiapa yang tidak mengenal kebaikan dari keburukan dia akan terjerumus kedalam keburukan itu”.


B. Islam Terancam Dari Dalam
Sesungguhnya musuh-musuh Allah terus mengintai Islam hingga ketika mereka telah melihat penyakit whan (cinta dunia dan takut mati) telah menjalar dalam tubuh kaum muslimin dan penyakit-penyakit yang lain sudah menyebar mereka langsung menyerang dan menyumbat nafas kaum muslimin.

Sesungguhnya racun-racun berbisa yang membinasakan dan menghancurkan kekuatan kaum muslimin serta melemahkan gerak mereka bukanlah pedang-pedang orang-orang kafir yang berkumpul untuk membuat makar terhadap Islam. Akan tetapi kuman-kuman yang busuk yang menyelinap didalam tubuh kaum muslimin yang lambat tapi pasti (itulah yang menyebabkan kebinasaan). Itulah asap yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Hudzaifah diatas : “suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku dan memberikan petunjuk bukan dari petunjukku …..” Didalam ucapan beliau ini ada hal-hal penting diantaranya.
  1. Sesungguhnya asap itu merupakan penyimpangan yang selalu membuat kabur ajaran Islam (Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang terang benderang malamnya bagaikan siangnya.
  2. Yang nampak pada saat terjadinya hal ini adalah kebaikan akan tetapi dalamnya terdapat hal-hal yang membinasakan. Bukanlah dalam riwayat Muslim Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan muncul manusia-manusia yang berhati setan”.
  3. Asap ini terus tumbuh dan menguasai hingga kejelekan itu merajalela serta merupakan awal munculnya dai-dai penyesat dan kelompok-kelompok sempalan.
  4. Sesungguhnya yang meniup asap tersebut adalah para dai-dai penyesat. Dan ini menunjukkan bahwa rencana busuk untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin telah mengakar kuat dalam sejarah Islam.
  5. Sesungguhnya gembong-gembong kesesatan selain giat dalam menyesatkan. Akan tetapi (sebagian) pemegang kebenaran lalai dan tertidur hingga asap tersebut menguasai dan merajalela serta menutupi kebenaran. Dari sini kita ketahui bahwa asap yang menyelimuti kebenaran dan mengkotori kejernihannya adalah bid’ah-bid’ah yang ditebarkan oleh Mu’tazilah, Sufiyah, Jahmiyah, Khowarij, Asy’ariyah, Murji’ah dan Syi’ah Rofidhoh sejak berabad-abd lamanya.
Oleh karena inilah umat Islam mejadi terbelakang dan menjadi santapan bagi setiap musuh serta menyebarnya kebatilan. Dan dengan sebab inilah setiap munafik berbicara dengan mengatas namakan Islam. Dari sini kita mengetahui bahwa bahaya bid’ah lebih besar daripada musuh-musuh yang lainnya (orang-orang kafir), karena bid’ah merusak hati dan badan tapi musuh-musuh tersebut hanya merusak badan. Para salaf telah bersepakat akan kewajiban memerangi ahli bid’ah dan menghajr (memboikot) mereka. Imam Dzahabi mengatakan : “Para salaf sering mentahdzir ahli bid’ah, mereka mengatakan : Sesungguhnya hati-hati ini lemah sedangkan syubhat (dari ahli bid’ah itu) cepat mencengkram”.


C. Hati-Hati Antek-Antek Yahudi !!!
Sesungguhnya para gembong-gembong kekafiran telah memproduksi antek-anteknya dalam negeri kaum muslimin dua cara.

1. Pengiriman para pelajar ke negeri kafir (seperti di Cihicago Univerity,-pent) yang disanalah para pelajar kaum muslimin di cuci otak-otak mereka lalu jika mereka pulang mereka sebarkan racun-racun itu kepada kaum muslimin.

2. Dengan menyelinapnya para orientalis dibawah simbol-simbol penelitian ilmiah. Sesunggunya para orientalis-orientalis itu merupakan antek-antek/tangan-tangan Yahudi dan Nashrani.

Di dalam hadits Hudzaifah ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ciri mereka, beliau bersabda :

“Akan muncul dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam, barangsiapa yang menerima seruan mereka maka mereka akan menjerumuskannya ke dalam jahannam”. Hudzaifah bertanya : “Wahai Rasululah sebutkan cirri mereka ?” Rasulullah menjawab : “Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita”.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Baari 13/36 : “Yaitu dari kaum kita dan yang berbicara dengan bahasa kita serta dari agama kita. Didalamnya ada isyarat bahwa mereka itu dari Arab”.
  • Ad-Dawudi berkata : “Mereka itu dari keturunan Adam”.
  • Al-Qoobisy berkata : Maknanya, secara dhohir mereka itu dari agama kita tapi secara batin mereka menyelisihi (agama kita)”.
Mereka menampakkan kesungguhan dalam memberi solusi, dan maslahat bagi umat. Tapi mereka menipu umat dengan gaya bahasa mereka, dan hati-hati mereka menginginkan untuk menjalankan misi-misi tuan-tuan mereka dari kalangan Kristen dan Yahudi. Allah berfirman.

“Artinya : Tidak akan ridho orang-orang Yahudi dan Narani hingga kalian mengikuti agama mereka” [Al-Baqarah : 120]

Diantara mereka adalah Thoha Husein (dari Mesir, pent) yang dijuluki oleh tuan-tuannya sebagai pujangga Arab. Orang ini mengatakan bahwa syair orang-orang jahiliyah itu lebih baik kesasteraannya daripada Al-Qur’an. Inilah pemikiran Marjilius seorang orientalis Yahudi yang diadopsi oleh Thoha Husein dan dipropagandakannya. Contoh-contoh seperti ini banyak sekali, mereka turun temurun dari waktu ke waktu di setiap tempat.


D. Siapa Jama’ah Kaum Muslimin ?
Setelah melihat kenyataan yang pahit dan getir ini, mulailah sebagian kaum muslimin bangkit, setiap kelompok dari kaum muslimin melihat realita ini dari kaca mata tersendiri, kelompok yang lain juga demikian. Oleh karena itulah bisa dikatakan bahwa kelompok-kelompok yang ada sekarang ini yang katanya berjuang atau berdakwah, mereka itu saling berselisih dalam metode dan cara berdakwah. Dan perselisihan yang paling parah yang menghalangi persatuan mereka adalah dua hal :
  1. Peselisihan mereka dalam pengambilan sumber ilmu dan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.
  2. Ketidakmengertian mereka tentang diri mereka sendiri, sehingga pada saat ini kita sering menyaksikan bahwa hizbiyyah dan fanatik golongan ini masih menyumbat akal pikiran para dai-dai yang turun di medan dakwah. Mereka membanggakan diri mereka sendiri dan meremehkan yang lainnya. Sebagiannya menganggap bahwa kelompoknya itulah yang dinamakan jama’ah kaum muslimin dan pendirinya adalah imam kaum muslimin yang wajib di bai’at atau disumpah setia. Dan sebagiannya lagi mengkafirkan kaum muslimin. Sebenarnya mereka hanya jama’ah atau kelompok-kelompok kaum muslimin, karena kaum muslimin sekarang tidak memiliki jama’ah ataupun imam/pemimpin.
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa jama’ah kaum muslimin adalah (Negara Islam) yang bersatu atau berkumpul didalamnya seluruh kaum muslimin. Mereka hanya punya satu imam/pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Allah dan wajib untuk di taati serta diba’iat.


E. Tinggalkan Kelompok-Kelompok Sempalan Itu
Hadits Hudzaifah diatas memerintahkan kepada kita untuk meninggalkan semua kelompok-kelompok sesat ketika terjadi fitnah dan kejelekan serta disaat tidak ada jama’ah kaum musilimin dan imam mereka.

Kelompok-kelompok sempalan ini yang menyeru manusia kepada kesesatan, bersatu diatas kemungkaran dan diatas hawa nafsu atau berkumpul diatas pemikiran-pemikiran kufur seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, demokrasi atau bersatu berdasarkan fanatik golongan dan lain sebagainya.

Inilah kelompok-kelompok sesat yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Hudziafah untuk ditinggalkan dan dijauhi karena menjerumuskan manusia ke dalam neraka jahanam dengan sebab ajaran mereka yang bukan dari Islam.

Adapun kelompok yang menyeru kepada Islam (yang benar), memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar maka inilah yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti dan ditolong. Allah ta’ala berfirman.

“Artinya : Hendaklah ada diantara kalian sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali-Imran : 104]


F. Jalan Keluar Dari Problematika Umat
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Hudzaifah untuk meninggalkan semua kelompok sempalan yang menyeru ke neraka jahannam meskipun sampai menggigit akar pohon hingga ajal menjemput. Adapun penjelasannya, maka sebagai berikut :

1. Ini adalah perintah untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Dan barangsiapa yang hidup diantara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak sekali, maka berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama karena itu kesesatan. Dan barangsiapa diantara kalian yang mendapatkan hal ini maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ‘ar-rasyidin, gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian”. [HR Abu Dawud (4607). Tirmidzi (2676) dan Ibnu Majah (440) dan selain mereka]

Didalam hadits Hudzaifah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menggigit akar pohon ketika terjadi perpecahan sambil menjauhi semua kelompok sesat. Dan didalam hadits Al-Irbadh beliau memerintahkan untuk berpegang teguh dengan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih radhiyallahu 'anhum, ketika munculnya kelompok-kelomok sesat dan ketika tidak adanya jama’ah kaum muslimin serta imam mereka.

2. Sesungguhnya perintah untuk menggigit akar pohon dalam hadits Hudzaifah maknanya adalah istiqomah atau tetap dalam sabar dalam memegang kebenaran dan dalam meninggalkan semua kelompok sesat yang menyelisihi kebenaran. Atau maknanya bahwa pohon Islam akan diguncang dengan angin kencang hingga merontokkan semua ranting dan cabangnya, tidak ada yang tersisa melainkan akarnya yang masih tegar. Karena itulah wajib bagi setiap muslim untuk memegang erat akar tersebut dan mengorbankan semua yang berharga dalam dirinya karena akar tersebut akan tumbuh dan tegar kembali.

3. Ketika itu juga wajib bagi setiap muslim untuk menolong dan membantu kelompok (yang berpegang teguh dengan sunnah tersebut, -pent) dari setiap fitnah yang mengancam. Karena kelompok ini yang selalu tampak diatas kebenaran hingga akhirnya mereka membunuh Dajjal.

[Ringkasan darp kitab Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin]

[Disalin dari majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi 13 Th. III Shafar 1426H/ April 2005M, hal. 22-26. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad. Jl. Sultan Iskandar Muda No. 45 Surabaya]

Minggu, 05 Agustus 2012

Hadits Palsu: 30 Keutamaan Shalat Tarawih

Diantara sunnah-sunnah yang dituntunkan oleh syariat kita pada bulan Ramadhan adalah shalat Tarawih. Hadits-hadits Nabi yang mulia telah banyak yang menerangkan tentang keutamaan shalat tesebut.

Berkaitan dengan hal itu, terdapat sebuah hadits yang masyhur, khususnya di Indonesia, yaitu “30 keutamaan shalat tarawih” atau “keutamaan shalat tarawih per malam”. Apakah hadits itu shahih ? Bolehkah kita menyampaikannya di tengah-tengah kaum muslimin? Berikut ini sedikit bahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Teks hadits

عن علي بن ابي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال : ” سئل النبي عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال
يخرج المؤمن ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته أمه
وفى الليلة الثانية يغفر له وللأبوية ان كانا مؤمنين
وفى الليلة الثالثة ينادى ملك من تحت العرش؛ استأنف العمل غفر الله ماتقدم من ذنبك
وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التوراه والانجيل والزابور والفرقان
وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى في المسجد الحرام ومسجد المدينة والمسجد الاقصى
وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر
وفى الليلة السابعة فكأنما أدرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان
وفى الليلة الثامنة أعطاه الله تعالى ما أعطى ابراهيم عليه السلام
وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام
وفى الليلة العاشرة يرزقة الله تعالى خير الدنيا والآخرة
وفى الليلة الحادية عشر يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن أمه
وفى الليلة الثانية عشر جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر
وفى الليلة الثالثة عشر جاء يوم القيامة آمنا من كل سوء
وفى الليلة الرابعة عشر جاءت الملائكة يشهدون له أنه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة
وفى الليلة الخامسة عشر تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى
وفى الليلة السادسة عشر كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول فى الجنة
وفى الليلة السابعة عشر يعطى مثل ثواب الأنبياء
وفى الليلة الثامنة عشر نادى الملك ياعبدالله أن رضى عنك وعن والديك
وفى الليلة التاسعة عشر يرفع الله درجاته فى الفردوس
وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين
وفى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور
وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة آمنا من كل غم وهم
وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة
وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربعه وعشرون دعوة مستجابة
وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر
وفى الليلة السادسة والعشرين يرفع الله له ثوابه أربعين عاما
وفى الليلة السابعة والعشرين جاز يوم القيامة على السراط كالبرق الخاطف
وفى الليلة الثامنة والعشرين يرفع الله له ألف درجة فى الجنة
وفى الليلة التاسعة والعشرين اعطاه الله ثواب الف حجة مقبولة
وفى الليلة الثلاثين يقول الله : ياعبدى كل من ثمار الجنة واغتسل من مياه السلسبيل واشرب من الكوثرأنا ربك وأنت عبدى”

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
  • Di malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  • Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
  • Di malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah Arsy: ‘Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.’
  • Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan.
  • Di malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjid al-Haram, masjid Madinah, dan Masjid al-Aqsha.
  • Di malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang ber-thawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
  • Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa ‘alaihissalam dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.
  • Di malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Di malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
  • Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
  • Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.
  • Di malam ketigabelas, ia datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
  • Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
  • Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi.
  • Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
  • Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
  • Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, ‘Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.’
  • Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajatnya dalam surga Firdaus.
  • Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
  • Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.
  • Di malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
  • Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
  • Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
  • Di malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
  • Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
  • Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
  • Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
  • Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  • Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : ‘Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.’

Hadits ini disebutkan oleh Syaikh al-Khubawi dalam kitab Durrotun Nashihiin, hal. 16 – 17. 

Indikasi-indikasi kepalsuan hadits
Perlu diketahui bahwasanya hadits yang munkar dan palsu membuat hati penuntut ilmu menjadi geli dan mengingkarinya. Rabi’ bin Hutsaim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya hadits itu memiliki cahaya seperti cayaha di siang hari, sehingga engkau dapat melihatnya. Dan memiliki kegelapan seperti gelapnya malam, sehingga engkau mengingkarinya.”[1]

Berikut ini beberapa indikasi atas palsunya hadits tersebut:
  • Pahala yang terlalu besar untuk amalan yang sederhana. Banyak keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam hadits di atas termasuk dalam kejanggalan jenis ini, misalkan pada lafadz “Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  • Bahkan, yang lebih parah adalah seseorang bisa mendapatkan pahala sebanding dengan pahala para Nabi (keutamaan shalat tarawih malam ke-17). Hal tersebut mustahil terjadi, karena sebanyak apapun amalan ibadah manusia biasa, tentu dia tidak akan mampu menyamai pahala Nabi. Nubuwah merupakan pilihan dari Allah semata. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Hajj [22] : 75)[2]
  • Tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. Hadits tentang 30 keutamaan shalat tarawih di atas, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. DR. Lutfi Fathullah mengatakan, “Jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.” Hal tersebut mengindikasikan bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu.[3]

Pendapat para ulama dan penuntut ilmu
Lebih jauh lagi, apabila kita memperhatikan perkataan para ulama tentang hadits itu, tentu akan kita dapati mereka menganggapnya hadits palsu. 

Al-Lajnah ad-Da’imah pernah ditanya tentang hadits tersebut, kemudian mereka menjawab,
كلا الحديثين لا أصل له، بل هما من الأحاديث المكذوبة على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada sumbernya (laa ashla lahu). Bahkan, hadits tersebut merupakan kebohongan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[4]

Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan DR. Lutfi Fathullah, dimana disertasi beliau meneliti kitab Durratun Nashihin. Beliau mengatakan:

Ada sekitar 30 persen hadits palsu dalam kitab Durratun Nashihin. Diantaranya adalah hadits tentang fadhilah atau keutaman shalat tarawih, (yaitu) dari Ali radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallaam ditanya tentang keutamaan shalat tarawih, (lalu beliau bersabda) malam pertama pahalanya sekian, malam kedua sekian, dan sampai malam ketiga puluh.

Hadits tersebut tidak masuk akal. Selain itu, jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.[5] 

Sibukkan diri dengan yang Shahih
Setelah mengetahui lemahnya hadits tersebut, maka hendaklah para penulis dan penceramah meninggalkannya, karena dikhawatirkan akan masuk dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits mutawatir :
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
Barangsiapa yang berdusta atas nama saya dengan sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap mengambil tempat di Neraka

Hendaklah mereka mencukupkan diri dengan hadits-hadits yang tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama kita mengatakan:
في صحيح الحديث شغل عن سقيمه
“Dalam hadits yang shahih terdapat kesibukan dari hadits yang lemah”[6] 

Diantara Keutamaan Shalat Tarawih dari Hadits yang Shahih[7]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39)

Selain itu, beliau beliau juga pernah mengumpulkan keluarga dan para shahabatnya. Lalu beliau bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh” (HR. An-Nasai dan selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 447)

Semoga Allah selalu melimpahkan karunai-Nya kepada kita semua, dan menjaga lisan-lisan kita dari perkataan dusta, apalagi berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam.
Catatan Kaki
[1] al-Maudhuu’aat 605, Ibnul Jauzi rahimahullah
[2] Lihat al-Manaarul Muniif hal. 55 – 105, karya Ibnul Qoyyim rahimahullah.
[3] Lihat Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durrotun Nashihiin, karya DR. Ahmad Luthfi Fathullah; dan http:/majalah.hidayatullah.com/?p=1490
[4] Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta no. 8050, juz 4, hal 476-480. Ditanda tangani oleh Syaikh Abdul Azin bin Baaz sebagai ketua, Syaikh Abdurrazaq Afifi sebagai wakil, Syaikh Abdullah Ghuddayan sebagai anggota dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud sebagai anggota.
[5] Lihat http:/majalah.hidayatullah.com/?p=1490
[6] al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi wa Adaabis Saami’ 1524, al-Khatiib al-Baghdaadi rahimahullah
[7] Lihat http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2669-keutamaan-shalat-tarawih.html
Penulis: Abu Ka’ab Prasetyo
Artikel Muslim.Or.Id 

Tiga Wasiat Mulia

Para pembaca yang budiman, tidak diragukan lagi bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang Alloh utus untuk umat ini. Peri kehidupan beliau adalah teladan bagi kaum muslimin. Alloh menegaskan hal ini dalam firman-Nya :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya pada diri Rosululloh ada teladan yang baik bagimu” (QS Al-Ahzab: 21).

Oleh karena itu selayaknya bagi seorang muslim untuk mencontoh perikehidupan beliau dan berusaha untuk melaksanakan apapun yang diwasiatkan oleh beliau, sehingga bisa menjadi seorang muslim yang kaffah. Diantara yang memuat wasiat beliau adalah sabdanya :

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Alloh dimanapun kamu berada, ikutilah perbuatan-perbuatan buruk itu dengan perbuatan yang baik, niscaya ia dapat menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi). 

Makna Hadits

Wasiat pertama : Takwa

Beliau memerintahkan kita agar bertakwa kepada Alloh dalam segala kondisi, tempat dan waktu baik dalam keadaan sendirian maupun dihadapan orang  banyak, karena Alloh selalu mengawasi kita disemua perbuatan maupun ucapan yang kita lakukan. Begitu pentingnya kalimat ini, sehingga hampir setiap khutbah yang beliau sampaikan kepada para sahabat, beliau memulainya dengan mengingatkan para sahabat untuk bertakwa.

Untuk mendapatkan ketakwaan, seorang muslim harus berusaha untuk melaksanakan perintah-perintah Alloh dan menjauhi segala larangan-Nya. Tidak hanya itu, doa pun harus senantiasa didengungkan, agar mendapatkan ketetapan dalam meraih ketakwaan. Dalam sebuah hadits Rosululloh mengajarkan sebuah doa untuk bisa mencapai ketakwaan.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘afaf (menjauhkan dari hal-hal yang tidak baik ), dan kecukupan”( HR.Muslim ).

Diantara keutamaan orang yang bertakwa adalah :
  • Takwa dapat membuahkan kebahagiaan untuk menggapai surga.
  • Takwa merupakan pembuka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana disebut dalam surat Al-A’rof : 96.
  • Takwa salah satu solusi dari segala kesulitan dan kesempitan, bahkan untuk orang yang bertakwa Alloh akan menggiring kepada rizki yang tidak disangka-sangka dan tidak terlintas dalam hatinya (lihat surat Ath-Tholaq: 2-3)
  • Takwa salah satu sebab untuk mendapatkan kemudahan dalam urusan (Lihat surat Ath-Tholaq : 4), dan masih banyak lagi keutamaannya yang tidak bisa disebutkan disini.

Wasiat kedua : Mengikuti perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik

Para pembaca yang budiman, potongan kedua dari hadits di atas menunjukkan bahwa kadang-kadang seorang hamba melakukan suatu kelalaian. Bilamana hal itu terjadi, maka hendaknya ia segera mengerjakan amal sholih karena amal sholih dapat menghapus kesalahan yang telah ia kerjakan. Alloh berfirman yang artinya : "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114).

Tapi perlu diperhatikan bahwasanya amal sholih dapat menghapuskan dosa-dosa kecil saja, karena dosa besar hanya bisa diampuni dengan taubat. Bahkan sebagian ulama memperketat lagi dan mengatakan bahwa menjauhkan diri dari dosa-dosa besar merupakan syarat dalam penghapusan dosa-dosa kecil. Sebab, jika amal sholih tersebut dapat menghapuskan dosa-dosa besar maupun kecil maka taubat menjadi tidak diperlukan lagi, padahal sebagaimana yang kita ketahui bahwa taubat itu wajib; dan jika dikatakan hal tersebut wajib, maka harus dilaksanakan dengan niat yang bulat.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Sholat yang lima waktu, dari jum’at ke jum’at berikutnya,  dan dari romadon ke romadhon berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa diantaranya jika dia menjauhkan diri dari dosa-dosa besar” (HR. Muslim)

Wasiat ketiga : Akhlak yang baik terhadap manusia

Selain ibadah yang merupakan hubungan manusia dengan Alloh, manusia juga terhubung dengan manusia yang lainnya. Dalam khazanah keislaman, hal ini disebut dengan hablun minannas. Akhlak yang baik adalah perekat hubungan antara manusia. Begitu pentingnya akhlak yang baik, sehingga Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengaitkannya dengan surga. Suatu ketika beliau ditanya oleh para sahabat : “Apakah yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga?” beliau shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab:

تَقْوى اللَّهِ وَحُسنُ الخُلُق

“Bertakwa kepada Alloh dan berakhlak yang baik” (HR At-Tirmidzi)

Untuk lebih mengetahui definisi “husnul khuluq” marilah kita lihat beberapa perkataan  para ulama tentang hal tersebut, antara lain :
  • Imam Ahmad bin Hambal berkata yang artinya : “husnul khuluq adalah hendaknya kamu mampu menahan marah dan janganlah kamu iri dengki”
  • Abdulloh bin Mubarok, salah seorang Tabiut Tabi’in berkata :

حُسْنُ الْخُلُقِ هُوَ طَلاقَةُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوْفِ وكَفُّ الأَذَى

“Husnul khuluq adalah bermuka seri, memberi yang terbaik ( baik ucapan maupun perbuatan ) dan menjauhkan diri dari mengganggu ( kepada orang lain baik ucapan maupun perbuatan )."

Dan untuk mendapatkan akhlak yang mulia seorang muslim hendaknya mempelajari sejarah kehidupan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, mencontoh dan meneladani akhlak beliau karena beliaulah manusia dengan akhlak terbaik, sebagaimana Alloh telah memuji beliau dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS Al-Qolam:4).

Penutup
Para pembaca yang budiman, itulah wasiat agung yang disabdakan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dimana ketika seorang muslim mengamalkannya –insya Alloh- orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang Alloh mudahkan untuk mengamalkannya. Nas-alullah attaufiq wassadad.

Penulis: Abu Huurin
Artikel: www.radioassunnah.com

Selasa, 31 Juli 2012

Pertanyaan Cerdas Sang Arab Badui


Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :

Amr bin Muhammad bin Bukair an-Naqid menuturkan kepadaku. Dia berkata; Hasyim bin al-Qasim Abu an-Nadhr menuturkan kepadaku. Dia berkata; Sulaiman bin al-Mughirah menuturkan kepadaku dari Tsabit dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia mengatakan; Dahulu kami pernah dilarang untuk bertanya tentang apa saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh sebab itu kami merasa senang apabila ada orang Arab Badui yang cukup berakal datang kemudian bertanya kepada beliau lantas kami pun mendengarkan jawabannya.

Maka suatu ketika, datanglah seorang lelaki dari penduduk kampung pedalaman.
Dia mengatakan, “Wahai Muhammad, telah datang kepada kami utusanmu. Dia mengatakan bahwasanya anda telah mengaku bahwa Allah telah mengutus anda?”.
Maka Nabi menjawab, “Dia benar.”
Lalu arab badui itu bertanya, “Lalu siapakah yang menciptakan langit?”.
Beliau menjawab, “Allah.”
Lalu dia bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?”.
Nabi menjawab, “Allah.”
Dia bertanya lagi, “Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan menciptakan di atasnya segala bentuk ciptaan?”.
Nabi menjawab, “Allah.”
Lalu arab badui itu mengatakan, “Demi Dzat yang telah menciptakan langit dan yang menciptakan bumi serta memancangkan gunung-gunung ini, benarkah Allah telah mengutusmu?”.
Maka beliau menjawab, “Iya.”

Lalu dia kembali bertanya, “Utusanmu pun mengatakan kepada kami bahwa kami wajib untuk melakukan shalat lima waktu selama sehari semalam yang kami lalui.”
Nabi mengatakan, “Dia benar.”
Lalu dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah memerintahkanmu dengan perintah ini?”.
Nabi menjawab, “Iya.” Lalu dia mengatakan, “
Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami berkewajiban untuk membayarkan zakat dari harta-harta kami?”.
Nabi mengatakan, “Dia benar.”
Dia berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang telah menyuruhmu untuk ini?”.
Beliau menjawab, “Iya.”
Dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami wajib berpuasa di bulan Ramadhan di setiap tahunnya.”
Nabi mengatakan, “Dia benar.”
Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah menyuruhmu dengan perintah ini?”.
Beliau menjawab, “Iya.”
Dia mengatakan, “Utusanmu pun mengatakan bahwa kami wajib untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukaan perjalanan ke sana.”
Nabi menjawab, “Dia benar.” Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?”.
Nabi menjawab, “Iya.”

Anas mengatakan; Kemudian dia pun berbalik seraya mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahkan selain itu dan aku juga tidak akan menguranginya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau dia benar-benar jujur/konsisten niscaya dia akan masuk surga.” 


(Diriwayatkan juga oleh Bukhari dalam Kitab al-’Ilm, bab maa jaa’a fi qaulihi ta’ala, ‘Wa qul Rabbi zidni ‘ilman’, hadits no 63, lihat Shahih Muslim cet ke-4 Darul Kutub Ilmiyah 1427 H, hal. 29)

Di antara faedah hadits ini, adalah :
  1. Penetapan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
  2. Syariat itu berlaku apabila telah sampai ilmu kepada orang yang bersangkutan
  3. Adanya udzur/toleransi bagi orang yang belum sampai ilmu kepadanya
  4. Di dalam hadits ini juga terkandung pelajaran mengenai rihlah fi thalabil ilmi/menempuh perjalanan dalam rangka menimba ilmu agama
  5. Di dalamnya juga terkandung ajaran untuk kembali kepada para ulama dan sering-sering bergaul dengan mereka
  6. Kebanyakan orang arab badui itu tidak mengerti dan kurang sopan
  7. Orang arab badui saja mengerti bahwa alam semesta ini ada penciptanya, maka ini merupakan bantahan telak bagi para penganut paham anti tuhan atau athheis
  8. Di dalamnya juga terdapat bantahan bagi kaum yang meyakini paham wahdatul wujud
  9. Dzat yang menciptakan alam semesta itulah yang berhak untuk diibadahi
  10. Semestinya seorang murid menyusun pertanyaan dengan baik
  11. Tanya-jawab merupakan salah satu metode transfer ilmu yang paling bermanfaat
  12. Pembelajaran secara bertahap
  13. Ilmu sebelum berkata dan berbuat
  14. Bersumpah harus dengan menyebut nama Allah bukan dengan nama makhluk, dan hal itu pun dipahami oleh orang Arab Badui sekalipun
  15. Bolehnya bersumpah tanpa diminta
  16. Bolehnya mencari sanad yang lebih tinggi
  17. Di dalamnya juga terkandung ajaran untuk mengecek kebenaran suatu berita
  18. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di samping memerintah, beliau juga diperintah
  19. Disyariatkannya mengutus utusan dakwah ke berbagai tempat
  20. Berdakwah harus dengan ilmu
  21. Tidak bolehnya taklid buta
  22. Wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  23. Keharusan untuk taslim/pasrah kepada syari’at beliau
  24. Diterimanya hadits ahad dalam masalah aqidah maupun hukum dan beramal dengannya
  25. Shalat lima waktu itu dikerjakan secara berulang-ulang di setiap sehari semalam
  26. Hadits ini menunjukkan bahwa shalat witir tidaklah wajib
  27. Tidak adanya kewajiban pungutan pajak bagi setiap muslim
  28. Puasa Ramadhan wajib dikerjakan disetiap tahunnya
  29. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kaum muslimin awam dari kalangan para muqallid adalah termasuk kaum mukminin, yaitu apabila mereka telah meyakini aqidah Islam ini dengan mantap dan tidak ragu-ragu
  30. Dengan menunaikan kewajiban syari’at maka seorang bisa masuk ke dalam surga
  31. Amal merupakan sebab masuk ke dalam surga, namun dia bukanlah harga tukar yang seimbang untuk surga
  32. Iman itu meliputi keyakinan, ucapan, dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Ini merupakan bantahan bagi Murji’ah, Jahmiyah, Khawarij dan Mu’tazilah
  33. Ibadah itu ada yang wajib dan ada yang sunnah
  34. Ibadah yang diwajibkan Allah itu beraneka ragam, tidak hanya satu macam
  35. Ibadah yang wajib ada yang bersifat harian, dan ada juga yang tahunan, bahkan ada yang sekali seumur hidup
  36. Hukum di dunia ditegakkan berlandaskan apa yang tampak/menurut zahirnya
  37. Masuk surga atau tidaknya seseorang ditentukan oleh Allah ta’ala yang hanya Allah yang paling mengetahuinya
  38. Surga itu benar adanya
  39. Hendaknya menyesuaikan antara ucapan dengan amal perbuatan
  40. Di dalamnya terdapat peringatan dari bahaya kemunafikan
  41. Yang akan masuk surga hanyalah orang muslim saja, orang kafir tidak berhak
  42. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan ahli hadits
  43. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang langsung belajar Islam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  44. Hadits merupakan sumber ajaran Islam selain Kitabullah
  45. Hadits merupakan penafsir bagi al-Qur’an
  46. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya aqidah
  47. Aqidah merupakan landasan penegakan hukum, untuk individu maupun masyarakat
  48. Dan faedah lain yang belum saya ketahui, wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa shahbihi wa sallam, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id