Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sufi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2012

Salah Satu Ritual Ibadah yang Dibenci Imam Syafi’i


Al-Haafidh Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Haaruun Al-Khallaal rahimahullah pernah berkata:

وَأَخْبَرَنِي زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْحَرُورِيِّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: سَمِعْتُ يُونُسَ بْنَ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، قَالَ: " تَرَكْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا يُسَمُّونَهُ التَّغْبِيرَ، وَضَعَتْهُ الزَّنَادِقَةُ يَشْغِلُونَ بِهِ عَنِ الْقُرْآنِ "

Dan telah mengkhabarkan kepadaku Zakariyyaa bin Yahyaa An-Naaqid : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Al-Haruuriy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ya’quub, ia berkata : Aku mendengar Yuunus bin ‘Abdil-A’laa, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : “Aku meninggalkan ‘Iraaq karena munculnya sesuatu di sana yang mereka namakan dengan At-Taghbiir yang telah dibuat oleh kaum Zanadiqah. Mereka memalingkan manusia dengannya dari Al-Qur’an” [Al-Amru bil-Ma’ruuf wan-Nahyu ‘anil-Munkar, hal. 99, tahqiq : Masyhur Hasan Salmaan & Hisyaam bin Ismaa’iil, Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 1/1410 H].

Diriwayatkan juga oleh Al-Khallaal dari jalan lain dalam Amru bil-Ma’ruuf hal. 99 dan Ibnu Abi Haatim dalam Aaadaabusy-Syaafi’iy hal. 235-236 (tahqiq : ‘Abdul-Ghaaniy bin ‘Abdil-Khaaliq, Daarul-Kutub, Cet. 1/1424 H).

Atsar ini shahih.

Para ulama telah menjelaskan makna At-Taghbiir di sini dengan : ”Bait-bait syair yang mengajak bersikap zuhud terhadap dunia, dilantunkan oleh seorang penyanyi. Sebagian yang hadir kemudian memukulkan potongan ranting di atas hamparan tikar atau bantal, disesuaikan dengan jenis lagunya”.

Ternyata kebencian Al-Imaam Asy-Syaafi’iy rahimahullah (dan juga ulama salaf yang lain) malah dilestarikan orang-orang berikut (silakan saksikan siapakah mereka):








Siapakah mereka ?. Ya, mereka adalah shuufiyyuun serta sebagian habib-habib dan simpatisannya.

وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، حَدَّثَنَا عَطِيَّةُ بْنُ قَيْسٍ الْكِلَابِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ الْأَشْعَرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو عَامِرٍ أَوْ أَبُو مَالِكٍ الْأَشْعَرِيُّ، وَاللَّهِ مَا كَذَبَنِي سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ، وَالْحَرِيرَ، وَالْخَمْرَ، وَالْمَعَازِفَ وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ، فَيَقُولُونَ ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا، فَيُبَيِّتُهُمُ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً، وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ "

Telah berkata Hisyam bin ‘Ammar : Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman  bin Yaziid bin Jaabir : Telah menceritakan kepada kami ‘Athiyyah bin Qais Al-Kilaaby : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ghunm Al-Asy’ary ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Malik Al-Asy’ary – demi Allah ia tidak mendustaiku – bahwa ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif). Dan sungguh beberapa kaum akan mendatangi tempat yang terletak di dekat gunung tinggi lalu mereka didatangi orang yang berjalan kaki untuk suatu keperluan. Lantas mereka berkata : ‘Kembalilah besok’. Pada malam harinya, Allah menimpakan gunung tersebut kepada mereka dan sebagian yang lain dikutuk menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5268. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibbaan no. 6754, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir no. 3417 & dalam Musnad Syaamiyyin no. 588, Al-Baihaqiy 3/272, 10/221, dan yang lainnya. Al-Hafidh Ibnu Hajar membawakan hadits ini dalam Taghliiqut-Ta’liiq 5/18,19 dan yang lainnya].

Mungkinkah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum menyanyi dan menari-nari seperti orang-orang di atas ?. Semoga hati kita belum mengalami malfungsi sehingga bisa menjawab dengan benar.

Salah makan obat, kemudlaratannya hanyalah menimpa dunia Anda. Namun salah dalam beragama, maka kemudlaratannya menimpa dunia dan akhirat Anda sekaligus.
Semoga ada manfaatnya.

[abul-jauzaa’ – 08062012 – ngaglik, sleman, yogyakarta].
Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/06/salah-satu-ritual-ibadah-yang-dibenci.html

Kamis, 19 Juli 2012

Di Antara Bukti Kesesatan Sufi : Tidak Takut Neraka dan Tidak Membutuhkan Surga


Inilah di antara perkataan tokoh-tokoh mereka. As-Sulami, Al-Hajuwiri, Al-Manufi Al-Husaii, meriwayatkan bahwa Abu Yazid Al-Busthami yang disebut sebagai Al-Junaid al-Baghdadi -seperti yang mereka riwayatkan-:

"Abu Yazid Al-Bustami di kalangan kami adalah seperti Malaikat Jibril di kalangan malaikat." (Kasyfu Al-Mahjubi, Al-Hajuwiri, hal. 313) Ia berkata, "Surga itu tidak pernah terlintas di hati orang-orang yang mempunyai cinta, karena mereka terhalang daripadanya karena cinta mereka."

(Thabaqatu Ash-Shufiyyah, As-Sulami, hal. 19. Kasyfu Al-Mahjubi, Al-Hajuwiri, hal. 318. Jamharatu Al-Auliyai, Al-Manufi Al-Husaini, Jilid II, hal. 139. Juga An-Nur fi Kalimati Abi Thaifur, As-Sahlaji, hal. 169)

Ibnu Al-Arif meriwayatkan dari Abu Yazid Al-Busthami bahwa ia melecehkan pahala dan tidak peduli dengan siksa.

Abu Yazid Al-Busthami bermunajat kepada Allah Ta'ala (dengan berkata),

"Aku tidak menginginkan-Mu karena pahala
Namun, aku menginginkan-Mu karena siksa."

(Mahasinu Al-Majalisu, Abu Al-Abbas Ahmad bin Muhammad Ash-Sufi Ash-Shanhaji bin al-Arif. Juga Syarhu Ash-Shufiyyah, Mahmud Al-Ghurab, hal. 180)

Abu Yazid Al-Busthami berkata, "Barangsiapa kenal Allah, maka surga menjadi pahala dan petaka baginya." (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147)

Abu Yazid Al-Busthami berkata, "Aku ingin Hari Kiamat terjadi AGAR AKU BISA MEMASANG KEMAHKU DI PINTU JAHANNAM." Seseorang berkata kepada Abu Yazid Al-Busthami, "Kenapa begitu wahai Abu Yazid?" Abu Yazid Al-Busthami menjawab, "Karena aku tahu bahwa JIKA JAHANNAM MELIHATKU, IA PASTI PADAM." (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147)

Orang-orang sufi meriwayatkan dari Ibrahim bin Adham bahwa ia MELECEHKAN KENIKMATAN SURGA dengan do'anya, " Ya Allah, Engkau tahu bahwa surga itu tidak sebanding dengan sayap nyamuk bagiku." (Jamharatu Al-Auliyai, Abu Al-Faidh Al-Manufi Al-Husaini, Jilid II, hal. 130)

Orang-orang sufi meriwayatkan dari Asy-Syibli yang dikatakan oleh Al-Junaid, "Setiap kaum mempunyai mahkota dan mahkota kaum ini (sufi) adalah Asy-Syibli." (Nafahatu Al-Unsi, Al-Jami, hal. 180)

Di antara PENGHINAAN Asy-Syibli terhadap neraka dan apinya, ia berkata dalam majelis ilmunya, "Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba. Jika mereka MELUDAH di atas Jahannam, maka Jahannam PASTI PADAM." (Al-Luma', Ath-Thusi, hal. 491)

Asy-Syibli berkata, "Jika terlintas di benakku bahwa neraka dan apinya membakar sehelai rambutku, maka aku musyrik." (Ibid, hal. 490)

Di antara bentuk lain PENGHINAAN Asy-Syibli terhadap ancaman bagi penghuni neraka (dan penghinaan terhadap ayat Al-Qur'an), dikisahkan bahwa pada suatu ketika ia mendengar seseorang membaca ayat:

"Allah berfirman, 'Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan Aku." (Al-Mukmininj: 108)

Ia berkata, "Ah, seandainya aku menjadi salah seorang di antara mereka." (Ibid, hal. 490)

An-Nafzi Ar-Randi dan Abu Thalib Al-Makki meriwayatkan dari Abu Hazim Al-Madani yang berkata:

"Aku malu kepada Tuhanku jika aku menyembah-Nya karena takut siksa. Kalau begitu, aku seperti orang jahat yang jika tidak takut, maka ia tidak akan... beramal. Aku juga malu kepada-Nya jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya, karena jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya maka dengan cara seperti itu aku seperti buruh yang jahat yang jika tidak diberi gaji maka ia tidak mau bekerja, namun aku menyembah-Nya karena cinta kepada-Nya." (Ghautsu Al-Mawahibi Al-Aliyyati, AN-Nafzi Ar-Randi, Jilid I, hal. 242. Juga Qutu Al-Qulubi, Abu Thalib Al-Makki, Jilid II, hal. 56).

Muhammad bin Sa'id Az-Zanji pernah ditanya, siapa sebenarnya yang dinamakan ORANG HINA itu? Ia menjawab, Yaitu orang yang menyembah Allah karena takut dan berharap." (Nafahatu Al-Unsi, Al-Jami, hal. 38)

[Semua perkataan di atas dikutip dari kitab Dirasat fi At-Tasawuf, Dr. Ihsan Ilahi Dhahir, Edisi Indonesia Darah Hitam Tasawuf, penerbit Darul Falah, Jakarta]

Maka PERHATIKAN INI, wahai para sufi, siapakah orang yang dikatakan HINA oleh kalian itu...

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Aku adalah orang yang PALING TAHU di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang PALING TAKUT di antara kalian kepada-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara tokoh Sufi, ada yang bernama Ibnu Arabi, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi At-Thai Al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi yang ahli tafsir).

Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M, dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638 H/Oktober 1240 M. Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (satunya wujud, semua wujud di alam ini adalah – cerminan – Allah) yang menghasilkan wihdatul adyan (satunya agama, tauhid maupun syirik).

Di antara ajaran Ibnu Arabi adalah:

- Hamba adalah Tuhan (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93).

- Neraka adalah surga itu sendiri (Fushush Al-Hikam, 93-94).- Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri (Fushush Al-Hikam, 143).

- Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka (Fushush Al-Hikam, 181).

- Wanita adalah Tuhan (Fushush Al-Hikam, 216).

- Fir’aun adalah Tuhan Musa (Fushush Al-Hikam, 209).

- Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar (Fushush Al-Hikam, 48).

- Allah membutuhkan pertolongan makhluk (Fushush Al-Hikam, 58-59).

Oleh karena sebegitu drastisnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Di antara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini :
  • Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H).
  • Ibnu Taimiyah (w 728 H).
  • Ibnu Qayyim Al-Jauziah (w 751 H).
  • Qadhi ‘Iyadh (w 744 H).
  • Al-‘Iraqi (w 826 H).
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H).
  • Al-Jurjani (w 814 H).
  • Izzuddin bin Abdis Salam (w 660 H).
  • An-Nawawi (w 676 H).
  • Adz-Dzahabi (w 748 H).
  • Al-Bulqini (w 805 H).
(Lihat Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, 2001, hlm. 72-73).

Allah Ta'ala yang memerintahkan agar orang-orang yang BERIMAN takut kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

"dan hanya kepada-Ku-lah KAMU HARUS TAKUT." (Al-Baqarah: 40)

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

"Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (Al-Anbiyaa': 28)

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga." (Ar-Rahman: 46)

Allah Ta'ala yang memerintahkan kepada orang-orang yang BERIMAN, agar berdo'a dengan RASA TAKUT dan HARAP. Allah Ta'ala berfirman:

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan berdoalah kepada-Nya DENGAN RASA TAKUT dan HARAPAN." (Al-A'raaf: 56)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang PALING MENGENAL ALLAH dan PALING TAKUT kepada-Nya, lalu mengapa orang-orang sufi mengatakan TIDAK TAKUT kepada Allah? 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Aku adalah orang yang PALING TAHU di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang PALING TAKUT di antara kalian kepada-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan itu dan pikirkan , semoga terbuka hatimu untuk melihat kebenaran....

Semoga bermanfaat...


Notes:

Kita berbaik sangka kepada tokoh-tokoh dimana orang-orang sufi menukil ucapan dan perbuatan dari mereka, serta membersihkan mereka dari apa saja yang dialamatkan kepada mereka, seperti Rabi'ah al-Adawiyah, al-Junaid al-Baghdadi, Abdul Qadir al-Jailani, dan tokoh-tokoh lain.
__________

Sumber: http://www.facebook.com/notes/al-fawaid/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak-takut-kepada-neraka-tidak-membutuhkan-surga/10150269877105175

Minggu, 15 Juli 2012

Shalawat Nariyah Dalam Timbangan

Ustadz Abdullah Zaen. Lc, MA

KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT

Salah satu amalan istimewa dalam ajaran Islam yang dijanjikan pahala berlipat ganda adalah membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Banyak nash (dalil) dari al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi untuk memperbanyak amalan mulia ini. Di antaranya Firman Allah Ta’ala: 

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. al-Ahzab/33: 56).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam Tafsirnya[1], Allah Ta’ala memberitahukan kepada para hamba-Nya kedudukan Rasulullah di sisi-Nya di hadapan para malaikat. Allah Ta’ala memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di hadapan mereka, begitu pula mereka bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu AllahTa’ala memerintahkan para penghuni bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar berpadu pujian para penghuni langit dengan para penghuni bumi semuanya untuk beliau.”

Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bershalawatlah kalian untukku. Sesungguhnya barang siapa bershalawat untukku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali” (HR. Muslim 1/288­289 no. 384)

Dalam Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa maksud dari shalawat Allah Subhanahu wa ta'ala untuk para hamba-Nya adalah Allah merahmati mereka dan melipatgandakan pahalanya.

Dan masih banyak dalil lain yang menunjukkan keutamaan membaca shalawat untuk Nabi Karena itulah, tidak mengherankan jika dari dulu, para ulama Islam berlomba-lomba menulis buku khusus guna memaparkan keutamaan membaca shalawat. Contohnya, Fadhlush Shalat ‘ald an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Imam Isma’il bin Ishaq al-Qadhi rahimahullah (199-282 H), jala’ul Afham fi Fadhlish Shaldt wa as-Salam ‘ald Muhammadin Khairil Anam karya Imam Ibn Qayyim al-jauziyyah rahimahullah (691-751 H) dan lain-lain.[2]

IKHLAS DAN MENELADANI RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM BERSHALAWAT 

Dari keterangan di atas, nampak begitu jelas bahwa membaca shalawat merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Dan sebagaimana telah diketahui bersama, berdasarkan dalil al-Qur’an dan Sunnah serta keterangan para Ulama, bahwa setiap ibadah akan diterima di sisi Allah Ta’ala kalau memenuhi dua syarat. Yakni dijalankan secara ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Fakhruddin ar-Razy rahimahullah (544-606 H) menyimpulkan dua syarat sah ibadah tersebut dari firman Allah Ta’ala :“Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha melakukan amalan yang mengantarkan kepadanya, sementara ia jugs seorang mukmin; maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Qs. Al-Isra / 17:19).

Kata beliau rahimahullah, “Syarat pertama, mengharapkan pahala akhirat dari amalannya. jika niat ini tidak ada maka dia tidak akan memetik manfaat dari amalannya. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya” (HR. Bukhari, 1/9 no. 1- al-Fath)

Juga karena tujuan beramal adalah untuk menerangi hati dengan mengenal Allah serta mencintai-Nya. Ini tidak akan tercapai kecuali jika seseorang meniatkan amalannya guna beribadah kepada Allah dan meraih ketaatan pada-Nya.

Syarat kedua, ada dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya, “berusaha melakukan amalan yang mengantarkan kepadanya” maksudnya adalah hendaknya amalan yang diharapkan bisa mengantarkan pada akhirat itu adalah amalan yang memang bisa mewujudkan tujuan tersebut. Dan suatu amalan tidak akan dianggap demikian, kecuali jika termasuk amal ibadah dan ketaatan. Banyak orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’aladengan melakukan amalan-amalan yang batil”.[3]

Imam Ibn Katsir rahimahullah (700-774 H) mempertegas, “Agar amalan diterima, maka harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah semata dan kedua, benar sesuai syariat. Manakala suatu amalan dikerjakan secara ikhlas, namun tidak benar (sesuai syariat), maka amalan tersebut tidak diterima. Rasulullah bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak” (HR. Muslim 3/1343 no. 1718 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Begitu pula jika suatu amalan sesuai dengan syariat secara lahiriyah, namun pelakunya tidak mengikhlaskan niat untuk Allah; amalannya pun juga akan tertolak.”[4]

Karena membaca shalawat merupakan ibadah dan amal shalih, maka supaya amalan tersebut diterima oleh Allah Ta’alaharus pula terpenuhi dua syarat tersebut di atas, yakni ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ikhlas dalam bershalawat berarti :
  • Hanya mengharapkan ridha Allah Ta’aladan pahala dari-Nya.
  • Teks shalawat yang dibaca tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip ikhlas. Atau dengan kata lain, tidak bermuatan syirik dan kekufuran, semisal istighatsah kepada selain Allah Ta’ala, menisbatkan sesuatu yang merupakan hak khusus Allah kepada selain-Nya dan yang semisal. Aturan kedua ini tentunya diterapkan pada teks-teks shalawat produk manusia, bukan berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sebab, jika teks shalawat itu bersumber dari sosok yang ma’shum ,Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini di luar konteks pembicaraan kita, lantaran tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sesuatu yang berisi kesyirikan dan kekufuran.

Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bershalawat maksudnya :
  • Mencontoh shalawat yang diajarkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang paling utama.
  • Bila menggunakan susunan shalawat dari selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,disyaratkan tidak mengandung unsur kesyirikan maupun ghuluw (sanjungan yang berlebihan) kepada beliau.
  •  Bershalawat untuk beliau pada momen-momen yang beliau syariatkan.[5]
  • Memperbanyak membaca shalawat semampunya, dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala dalam QS. al-Ahzab/33:56 dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas.
Setelah pemaparan mukadimah yang berisi beberapa kaidah penting, saatnya kita memasuki inti pembahasan.

SHALAWAT NARIYYAH DALAM TIMBANGAN

Di kalangan kaum Muslimin Indonesia, amat banyak teks shalawat yang tersebar. Seperti, shalawat Fatih, shalawat Munjiyat, shalawat Thibbul Qulub, shalawat Wahidiyyah, dan tidak lupa sorotan kita ­shalawat Nariyyah. Tidak hanya mencukupkan diri dengan teks shalawat yang dikarang kalangan klasik, mereka juga mengandalkan redaksi-redaksi yang diciptakan kalangan kontemporer.

Contohnya, shalawat Wahidiyyah yang dibuat pada tahun 1963 oleh salah satu penduduk Kedunglo Bandar Lor Kediri, KH. Abdul Majid Ma’ruf.[6]

Selain itu, mereka juga sangat ‘kreatif’ dalam membuat aturan-aturan baca berbagai jenis shalawat tersebut, dari sisi jumlah bacaan, waktu pembacaan, hingga fadhilah (keutamaan) yang akan diraih oleh pembacanya. Seakan-akan itu semua ada landasannya dari syariat.

Shalawat Nariyyah merupakan salah satu shalawat yang paling masyhur di antara shalawat­-shalawat bentukan manusia. Orang-orang berlomba untuk mengamalkannya, baik dengan mengetahui maknanya, maupun tidak memahami kandungannya. Bahkan justru barangkali orang jenis kedua ini yang lebih dominan. Banyak orang serta merta mengamalkannya hanya karena diperintah tokoh panutannya, kerabat dan teman, atau tergiur dengan “fadhilah” tanpa merasa perlu untuk meneliti keabsahan shalawat tersebut, juga kandungan makna yang terkandung di dalamnya.
Sebelum mengupas lebih jauh tentang shalawat ini, yang juga terkadang dinamakan dengan Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, ada baiknya dibawakan dahulu teks lengkapnya : [7]

Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, serta berkat dirinya yang mulia hujan pun turun. Semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau


SIAPAKAH PENCIPTA SHALAWAT NARIYYAH?

Berdasarkan referensi yang ada, kami baru bisa menemukan isyarat yang menunjukkan bahwa pencipta shalawat ini adalah seorang yang bernama as-Sanusy.[8] Namun hingga saat ini kami belum bisa memastikan siapakah nama lengkapnya, sebab yang menggunakan julukan ini amat banyak dan kami belum mendapatkan keterangan yang menunjukkan as-Sanusi manakah yang menciptakan shalawat tersebut. Hanya saja, yang pasti sebutan as-Sanusi ini merupakan bentuk penisbattan kepada tarekat sufi yang banyak tersebar di daerah Maroko, tarekat as-Sanusiyyah.

BENARKAH PENGARANGNYA ADALAH SAHABAT NABI

Di sebuah situs Internet tertulis:
“Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat Nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras Nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga Syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk Nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan Syekh Nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut Sholawat Nariyah.

Suatu malam, Syekh Nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama Nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti Syekh Nariyah. Namun Nabi mengatakan tidak bisa karena Syekh Nariyah sudah minta terlebih dahulu.

Mengapa Sahabat itu ditolak Nabi? Dan justru. Syekh Nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh Syekh Nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan Nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabi-Nya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat”.[9]

Kesimpulan, pengarang Shalawat Nariyah konon seorang bernama Syekh Nariyah, dan dia. termasuk Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin masuk surga oleh beliau.
Sebagai seorang Muslim mestinya tidak begitu saja menerima apa yang disampaikan padanya, tanpa klarifikasi dan penelitian, apalagi jika berkenaan dengan permasalahan agama.
Sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu dicermati dari cerita di atas :
  1. Benarkah ada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Syekh Nariyah ?
  2. Dimanakah sumber kisah tentang Sahabat tersebut ? Dan adakah sanad (mata rantai periwayatan) nya ?
Adapun berkenaan dengan poin pertama, perlu diketahui bahwa biografi para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapatkan perhatian ekstra dari para Ulama Islam. Begitu banyak kitab yang mereka tulis untuk mengupas biografi para sahabat. Ada referensi yang ditulis untuk memaparkan biografi para sahabat beserta para Ulama sesudah mereka hingga zaman penulis, adapula referensi yang ditulis khusus untuk menceritakan biografi para sahabat saja. Diantara contoh model pertama : Hilyatul Auliya’ karya al-Hafizh Abu Nu’aim al-Asfahani (336-430 H) dan Tahdzibul Kamal karya al-Hafizh Abul Hajjaj al-Mizzi (654-742 H). Adapun contoh model kedua, seperti : a1-Isti’ab fi Ma’rifati1 Ash-hab karya al-Hafizh Ibn ‘Abdil Bar (368-463 H) dan al-Ishabatu fi Tamyizish Shahabah karya al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (773-852 H).

Setelah meneliti berbagai kitab di atas dan juga referensi biografi lainnya, yang biasa diistilahkan para Ulama dengan kutubut tarajim wa ath-thabaqat, ternyata tidak dijumpai seorang pun di antara Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Nariyah. Bahkan sepengetahuan kami, tidak ada seorang pun Ulama klasik yang memiliki nama tersebut. Lalu, dari manakah orang tersebut berasal ??

Sebenarnya, orang yang sedikit terbiasa membaca kitab Ulama, hanya dengan melihat nama tersebut beserta ‘gelar’ syaikh di depannya, akan langsung ragu bahwa orang tersebut benar-benar Sahabat Nabi. Karena penyematan ‘gelar’ syaikh di depan nama Sahabat -sepengetahuan kami- bukanlah kebiasaan para Ulama dan juga bukan istilah yang lazim mereka pakai, sehingga terasa begitu janggal di telinga.

Kesimpulannya : berdasarkan penelaahan kami, tidak ada sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Syekh Nariyah. Jadi penisbatan shalawat tersebut terhadap, Sahabat sangat perlu untuk dipertanyakan dan amat diragukan keabsahannya.

Adapun poin kedua, amat disayangkan penulis makalah di internet tersebut tidak menyebutkan sanad (mata rantai periwayatan) kisah yang ia bawakan, atau minimal mengisyaratkan rujukannya dalam menukil kisah tersebut. Andaikan ia mau menyebutkan salah satu dari dua hal di atas niscaya kita akan berusaha melacak keabsahan kisah tersebut, dengan meneliti para perawinya, atau merujuk kepada kitab aslinya. Atau barangkali kisah di atas merupakan dongeng buah pena penulis tersebut ? Jika, ya, maka kisah tersebut tidak ada nilainya; karena kisah fiksi, alias kisah yang tidak pernah terjadi !

Amat disayangkan, dalam hal yang berkaitan dengan agama, tidak sedikit kaum Muslimin sering menelan mentah-mentah suatu kisah yang ia temukan di sembarang buku dan internet, atau kisah yang diceritakan oleh tetangga, teman, guru dan kenalan, tanpa merasa perlu untuk mengcrosscek keabsahannya. Seakan-akan kisah itu mutlak benar terjadi! Padahal kenyataannya seringkali tidak demikian.

Untuk memfilter kisah-kisah palsu dan yang lainnya, Islam memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki agama lain, yaitu : Islam memiliki sanad (mata rantai periwayatan). Demikian keterangan yang disampaikan Ibn Hazm (384-456 H)[10] dalam al-Fishal dan Ibnu Taimiyyah (661-728 H).[11]
Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak (118-181 H) pernah berkata, “Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada isnad, seseorang akan bebas mengatakan apa yang dikehendakinya.”[12]

KANDUNGAN MAKNA SHALAWAT NARIYYAH

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua hajat yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, serta berkat dirinya yang mulia hujanpun turun. Semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para Sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

Bagian dari Shalawat Nariyyah yang kami cetak tebal itulah yang akan dicermati dalam tulisan singkat ini. Kalimat-kalimat tersebut mengandung penisbatan terpecahkannya semua kesulitan, dilenyapkannya segala kesusahan, ditunaikannya segala macam hajat, tercapainya segala keinginan dan husnul khatimah, kepada selain Allah Ta’ala. Dalam hal ini yang mereka maksudkan yang melakukan itu semua adalah Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penisbatan ini merupakan sebuah kekeliruan fatal, sebab bertolak-belakang dengan al-Qur’an dan Sunnah, serta bisa mengantarkan pelakunya kepada kekufuran. Pasalnya, semua perbuatan tersebut, hanya Allah Ta’ala yang berkuasa melakukannya.


Mari kits cermati nash-nash berikut :

Allah Ta’ala berfirman :  
Siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang melenyapkan kesusahan serta yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Adakah tuhan selain Alldh ? Amat sedikit kalian mengingat-Nya” (QS. an-Naml/27:62).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan bahwa hanya Dia-lah yang diseru saat terjadi kesusahan, dan Dia pula yang diharapkan pertolongan-Nya saat musibah melanda. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibnu Katsir rahimahullah [13]

Karena itulah, setelahnya Allah Ta’ala melontarkan pertanyaan dalam konteks pengingkaran, “Adakah tuhan selain Allah?”. Hal ini mengisyaratkan, wallahu a’lam, bahwa orang yang tertimpa kesulitan dan kesusahan lalu memohon pertolongan kepada selain Allah Ta’ala, seakan ia telah menjadikan dzat yang diserunya itu sebagai tuhan ‘saingan’ Allah Ta’ala. Sebab tidak ada yang sanggup mengabulkan permohonan tersebut melainkan hanya Allah Ta’ala.

Senada dengan ayat di atas, firman Allah Ta’ala berikut : 
Katakanlah, “Siapakah yang dapat menyelamatkan kalian dari bencana di darat dan di laut, yang kalian berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan suara yang lembut (dengan mengatakan), ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur’. Katakan, “Allahlah yang menyelamatkan kalian dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan. Lantas mengapa kalian kembali mempersekutukan-Nya?!”. (QS. Al An'aam: 63-64) 

“Apapun nikmat yang ada dalam diri kalian, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kalian ditimpa marabahaya, maka hanya kepada-Nya­lah (seharusnya) kalian meminta pertolongan (QS. an-Nahl/16:53)

Dan masih banyak lagi firman Allah yang semakna dengan ayat-ayat di atas, yang menegaskan bahwa segala bentuk kebaikan di dunia maupun akhirat, hanya Allah Ta’ala sajalah yang mendatangkannya. Sebagaimana pula segala bentuk keburukan di dunia ataupun akhirat, hanyalah Allah Ta’ala yang menghindarkannya dari diri kita.

Karena itulah, kita dapatkan qudwah kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencontohkan untuk selalu kembali kepada Allah  Ta’ala dalam segala urusan. Mari kita cermati sebagian dari doa yang beliau baca :

“Ya Allah, jadikanlah akhir dari seluruh urusan kami baik, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksaan akhirat” (HR. Ibnu Hibban 3/230 no. 949)

“Wahai Yang Maha hidup dan Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu-lah aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku, dan janganlah Engkau jadikanku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata” (HR. al-Hakim 1/739 no. 2051).

“Ya Allah, rahmat-Mu-lah yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau” (HR. Abu Dawud, 5/204 no. 5090 dari Abu Bakrah, dan dinilai sahib oleh Ibn Hibban (III/250 no. 970).

Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menisbatkan seluruh urusan kepada Allah Ta’ala dan memberi kita teladan agar senantiasa mengembalikan segala sesuatu hanya kepada Allah Ta’ala !. Pernahkah beliau -walaupun hanya sekali- mengajarkan kepada umatnya agar bergantung kepada beliau?! Mustahil beliau mengarahkan demikian, sebab beliau sendirilah yang berkata, “Janganlah Engkau (Ya Allah) jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan praktek tawakkal yang begitu tinggi, dimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin bergantung pada diri sendiri, walaupun itu hanya sesaat, sekedipan mata! Mengapa kita tidak meneladaninya dalam hal ini dan yang lainnya?

Cermati pula doa terakhir!. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan kalimat thayyibah LAILAHAILLALLAH yang menunjukkan -wallahua’lam- bahwa seluruh permintaan di atas adalah bentuk ibadah yang hanya boleh dipersembahkan kepada Allah Ta’ala.

Berdasarkan keterangan di atas yang menyebutkan adanya kesalahan akidah dalam shalawat Nariyah, maka tidak sepantasnya shalawat ini diamalkan oleh umat, baik dengan membaca dan menghafalkannya, apalagi sampai meyakini dan mengharapkan keutamaan darinya.

MEMBACA SHALAWAT NARIYAH BERARTI MENGAGUNGKAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Barangkali inilah argumen terakhir mereka untuk melegalkan pembacaan shalawat Nariyah dan shalawat semisal lainnya. Dengan dalih pengagungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempertahankan shalawat yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Bahkan yang lebih parah, ada sebagian mereka yang berusaha mengesankan pada orang awam, bahwa pihak yang mengkritisi shalawat Nariyah tidak mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Ini merupakan tindak pemutarbalikan fakta dan harus diluruskan.

Masalah pokok yang perlu diketahui pertama kali yaitu mengagungkan Rasulullah hukumnya wajib. Dan ini merupakan salah satu cabang keimanan yang besar. Cabang keimanan ini berbeda dengan cabang keimanan cinta kepada beliau[14], bahkan pengagungan lebih tinggi derajatnya dibanding cinta. Sebab tidak setiap, yang mencintai sesuatu ia pasti mengagungkannya. Contohnya, orang tua mencintai anaknya, namun kecintaannya hanya akan mengantarkan untuk memuliakannya dan tidak mengantarkan untuk mengagungkannya. Beda dengan kecintaan anak kepada orang tuanya, yang akan mengantarkan untuk memuliakan dan mengagungkan mereka berdua.[15]

Diantara hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang harus ditunaikan oleh umatnya adalah pemuliaan, pengagungan dan penghormatan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan harus melebihi pemuliaan, pengagungan dan penghormatan seorang anak terhadap orang tuanya atau budak terhadap majikannya. Allah Ta’ala berfirman : “Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an); mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. al-A’raf/7:157)

Tidak ada perbedaan pendapat di antara para Ulama, bahwa yang dimaksud dengan “pemuliaan” dalam ayat di atas adalah pengagungan.[16]

PENGAGUNGAN TERHADAP RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, BERTEMPAT DI HATI, LISAN DAN ANGGOTA TUBUH[17]
 
Pengagungan terhadap beliau dengan hati maksudnya adalah meyakini bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah. Keyakinan ini menyebabkan seseorang mengedepanan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kecintaannya terhadap diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia.

Keyakinan ini juga menumbuhkan rasa betapa agung dan wibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meresapi kemuliaannya, kedudukannya dan derajatnya yang tinggi.

Hati merupakan raja dari tubuh, manakala pengagungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghujam kuat dalam hati, niscaya dampaknya secara lahiriah akan nampak jelas. Lisan akan senantiasa basah dengan pujian kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan kemuliaan-kemuliaannya. Begitu pula anggota tubuh akan tunduk menjalankan segala tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam taat kepada syariat dan ajaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menunaikan segala haknya.

Adapun pengagungan terhadap beliau dengan lisan, maksudnya adalah memuji beliau, dengan pujian yang berhak untuk dimilikinya, yaitu pujian yang Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantunkan untuk beliau, tanpa mengandung unsur berlebihan atau sebaliknya. Dan di antara pujian yang paling agung adalah membaca shalawat untuk beliau.[18]

Kata al-Halimy (338-403 H), shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti pengagungan terhadap beliau di dunia, dengan mengangkat namanya, menampakkan agamanya dan mengabadikan syariatnya. Sedangkan di akhirat, maksudnya adalah permohonan agar limpahan pahala mengalir padanya, syafaat beliau tercurah untuk umatnya dan kemuliaan beliau dengan al-maqam al-mahmud terlihat jelas.[19]

Termasuk bentuk pengagungan dengan lisan yaitu beradab saat menyebut beliau dengan lisan kita. Caranya adalah dengan menggandengkan nama beliau dengan sebutan Nabi atau Rasulullah, lalu diakhiri dengan shalawat kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman : “Janganlah engkau jadikan panggilan Rasulullah di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain” (QS. an-Nur/24:63)

Karena itulah para sahabat selalu memanggil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan panggilan, “Wahai Rasulullah” atau “Wahai Nabiyullah”.

Juga hendaknya penyebutan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditutup dengan shalawat ;  “shallallahu’alaihiwasallam” bukan hanya dengan singkatan SAW atau yang semisal. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang yang pelit adalah orang yang tatkala namaku disebut di hadapannya, ia tidak bershalawat padaku. (HR. Tirmidzi, no. 3546 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu At-Tirmidzi rahimahullah menyatakan hadits ini “Hasan shahih gharib”).

Termasuk bentuk pengagungan dengan lisan pula yaitu menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keistimewaan dan mukjizatnya. Mengenalkan sunnah beliau kepada masyarakat, mengingatkan mereka terhadap kedudukan serta hak beliau mengajarkan pada mereka akhlak dan sifat mulia beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Menceritakan sejarah hidup beliau serta menjadikannya sebagai pujian, baik dengan bait-bait syair maupun bukan, namun dengan syarat tidak melampaui batas ketentuan syariat, semisal pengagungan yang berlebihan dan yang semisal.

Sedangkan pengagungan dengan anggota tubuh, berarti mengamalkan syariat beliau
meneladani sunnahnya, mengikuti perintahnya secara lahir maupun batin dan berpegang kuat dengannya. Ridha dan ikhlas dengan aturan yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa, berusaha menebarkan tuntunannya, membela sunnahnya, melawan mereka yang menentangnya serta membangun kecintaan dan kebencian di atasnya.

Menjauhi segala yang dilarang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyelisihi perintahnya dan bertaubat serta beristighfar manakala terjerumus ke dalam penyimpangan. Taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan konsekwensi keimanan kepada beliau dan keyakinan akan kebenaran yang dibawanya dari Allah. Sebab beliau tidaklah memerintahkan atau melarang dari sesuatu, melainkan dengan seizin dari Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya : “Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah” (QS. an-Nisa’/4:64).

Dan makna ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjalankan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya.[20]

Kesimpulannya adalah pengagungan yang hakiki terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersimpulkan dalam empat kalimat yaitu mempercayai berita yang bersumber dari beliau, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah dengan tata cara yang disyariatkannya.[21]

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MELARANG KITA UNTUK BERLEBIHAN DALAM MENGAGUNGKANNYA

Secara garis besar, Allah Ta’ala telah melarang kita dari sikap berlebihan dalam beragama, baik itu dalam keyakinan, ucapan maupun amalan. Sebagaimana dalam QS. an-Nisa’/4:171.

Dan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang secara khusus dari sikap berlebihan dalam memujinya. Sebagaimana dalam sabdanya, “Janganlah kalian berlebihan dalam, memujiku Sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “(Muhammad adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari (6/478 no. 3445 —al-Fath) dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu).

Dan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingkari para sahabatnya yang berlebihan dalam memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir mereka akan melampaui batas, sehingga terjerumus dalam hal yang terlarang. Juga demi menjaga kemurnian tauhid, agar tidak ternodai dengan kotoran syirik dan bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berhati-hati dalam mengantisipasi hal tersebut, bahkan sampaipun dari hal-hal yang barangkali tidak dikategorikan syirik atau bid’ah.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, (Suatu hari) ada seseorang yang berkata, “Wahai Muhammad, wahai sayyiduna (pemimpin kami), putra sayyidina, wahai orang yang terbaik di antara kami, putra orang terbaik di antara kami!”. Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Wahai para manusia, bertakwalah kalian! Jangan biarkan setan menyesatkan kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdullah; hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak suka kalian mengangkatku melebihi kedudukan yang telah Allah tentukan untukku”. (HR. Ahmad (20/23 no. 12551) dan dinilai shahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy (5/25 no. 1627) dan Ibn Hibb in (14/133 no. 6240).

Dengan keterangan di atas, insya Allah telah terlihat jelas, mana bentuk pengagungan yang terpuji dan mana bentuk pengagungan yang tercela.

Penulis tutup makalah ini dengan nasehat yang disampaikan Ibn Hajar al-Haitamy rahimahullah (909-974 H), manakala beliau menjelaskan bahwa pengagungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dengan sesuatu yang ada dalilnya dan yang diperbolehkan, jangan sampai melampaui batas tersebut.

Beliau berkata, “Wajib bagi setiap orang untuk tidak mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dengan sesuatu yang Allah izinkan bagi umatnya, yaitu sesuatu yang layak untuk jenis manusia. Sesungguhnya melampaui batas tersebut akan menjerumuskan kepada kekafiran, na’udzubillahi min dzalik. Bahkan melampaui batas sesuatu yang telah disyariatkan, pada asalnya akan mengakibatkan penyimpangan. Maka hendaknya kita mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada dalilnya.[22]

Beliau rahimahullah menambahkan, “Ada dua kewajiban yang harus dipenuhi :
Pertama, kewajiban untuk mengagungkan Nabi dan mengangkat derajatnya di atas seluruh makhluk.
Kedua, mentauhidkan Allah dan meyakini bahwa Allah Maha Esa dalam Dzat dan perbuatan-Nya atas seluruh makhluk-Nya. Barang siapa meyakini bahwa sesosok makhluk menyertai Allah dalam hal tersebut; maka ia telah berbuat syirik. Dan barang siapa merendahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah derajat (yang seharus)nya maka ia telah berbuat maksiat atau kafir.
Namun barang siapa yang mengagungkan beliau dengan berbagai jenis pengagungan dan tidak sampai menyamai sesuatu yang merupakan kekhususan Allah, maka ia telah menggapai kebenaran, dan berhasil menjaga dimensi ketuhanan serta kerasulan. Inilah ideologi yang tidak mengandung unsur ekstrim atau sebaliknya.[23]  

Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 06/ Dzulqa’dah 1431 H Oktober 2010 M
Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:

[1] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 6/457
[2] Judul buku-buku lainnya bisa dilihat, antara lain di mukadimah Syaikh Masyhur bin Hasan Salman hafizhahullah dalam tahqiq jula’ul Afham hlm. 8-29.
[3] Tafsir ar-Rdzy (20/180). Setelah menyebutkan dua syarat di atas, ar-Razy rahimahullah menyebutkan syarat ketiga, yaitu iman. Sebab iman merupakan syarat utama agar amalan membuahkan pahala. Selain Mukmin tidak akan diterima amalannya, baik dia ikhlas maupun tidak, entah sesuai syariat maupun tidak. Karena ia belum mau memeluk agama, yang segala amalan tidak akan diterima melainkan dari pemeluk agama tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Barangsiapa mencari agama selain Islam; maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran/3:85). Karena begitu gamblangnya permasalahan ini, banyak di antara para ulama yang tidak menyebutkan syarat iman ini, sebab hal itu sudah sangat jelas dan tidak Samar.
[4] Tafsir Ibn Katsir (1/385).
[5] Dalam kitabnya Jala’ul Afham (hlm. 380-520), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada empat puluh satu momen disyariatkannya membaca shalawat kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[6] Lihat : Atsar ash-shalawat al-Wdhidiyyah fi AkhlaqThullabMa’had at-Tahdib Ngoro Jombang ‘Am: 2004, skripsi Institut Studi Islam Darussalam Gontor, yang disusun oleh Ahmad Luthfi Ridha (hlm. a).
[7] Tuntunan Ziarah Wali Songo karya Abdul Muhaimin (hlm. 144).
[8] Rahasia Keutamaan dan Keistimewaan Sholawat karya Nur Muham­mad Khadafi, dinukil dari Atsdr ash-Shalawat al-Wdhidiyyah hlm. 21
[10] Lihat, al-Fishal fi Al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal (2/221).
[11] Lihat, Majmu’ al-Fatawal (1/9).
[12] Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah Shahihnya (1/15).
[13] Lihat Tafsir ibn Katsir (6/203)
[14] Lihat, al-Minhdjfl Syu’ab al-Iman karya al-Halimy (11/124) dan al-jfimi’li Syu’ab al-Imdn karya al-Baihaqy (111/95).
[15] Lihat, al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman (II/124).
[16] Lihat, Ibid (11/125).
[17] Diringkas dari Huqaqun Nabi shallallahu’alaihiwasallam ‘aid Uin-matihfl Dhau’i al-Kitfib wa as-Sunnah, karya Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimy (11/466-478).
[18] Di awal tulisan ini, kami telah bawakan beberapa dalil dari al-Qur’an dan Sunnah tentang disyariatkannya membaca shalawat.
[19] Lihat, al-Minhdjfl Syu’ab al-Imfin (2/134).
[20] An-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin karya KH. Muhammad Hasyim Asyari (hlm. 5-6).
[21] Lihat: Ar-Radd ‘ald al-Akhnd’iy karya Syaikhul Islam Ibn Taimi­yyah rahimahullah (hlm. 18) clan al-UsHl ats-Tsaldtsah wa Adillatuhd Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (hlm. 23).
[22] A1-Jauhar al-Munazham fi Ziarah Qabr an-Nabi shallallahu’alaihiwasallam wa Karram (hlm. 64) dinukil dari Ara’ Ibn Hajar al-Haitami al-Ftiqadiyyah ‘Ardh wa TaqwFm ft Dhau’I ‘Aqfdah as-Salaf karya Muhammad bin Abdul Aziz asy-Syayi rahimahullah (hlm. 450).
[23] A1-jauhar al-Miinazham (hlm. 13) dinukil dari Ara’ Ibn Hajar al-Haitami al-Ftiqfidiyyah.

Sumber: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/10/12/shalawat-nariyah-dalam-timbangan/

Kesyirikan dalam Burdah Al-Bushiri

Studi Kritis Burdah Al-Bushiri

Pengantar
Bagi sebagian kalangan warga Indonesia, “Burdah Al-Bushiri” bukanlah hal yang asing, lantaran buku itu kerap dibaca dalam acara-acara tertentu secara bersama dan bergilir dari rumah ke rumah pada setiap bulan, minggu, bahkan oleh sebagian orang dibaca setiap hari di rumahnya bersifat individual.
Di kampung Arab Bondowoso diceritakan, bahwa acara pembacaan Burdah bersama tersebut merupakan warisan turun-temurun dari masyarakat kampung Arab, dan telah mengalami regenerasi yang cukup panjang yaitu sebelum tahun 1970-an, artinya sudah berlangsung kurang lebih selama 34 tahun. (Majalah Cahaya Nabawi No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H hal. 56)
Memang, “Burdah Al-Bushiri” ini sangat populer sekali, dibaca dan dikaji di rumah dan masjid seperti halnya Al-Qur’an, kalam ilahi. Lebih dari itu, banyak sekali buku yang mensyarahnya (menjelaskan makna kandungannya), sehingga terhitung lebih dari lima puluh jumlahnya, bahkan sebagiannya ada yang ditulis dengan tinta emas!! 

Siapakah Al-Bushiri?

Dia bernama Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah ash-Shanhaji al-Bushiri, nisbah kepada kotanya Abu Shir di Mesir, tetapi asalnya dari Maghrib. Dia lahir pada tahun 608 H, dia termasuk ahli di bidang syair tetapi sayangnya dia sangat miskin ilmu, buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat  Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah[1]. Dia wafat pada tahun 695 H. (Lihat Fawat Al-Wafayat 3/362 al-Kutbi, Al-A’lam 6/139 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 10/26 Kahhalah, Syadzarat Dzahab 5/432)

Judul Bukunya

Secara harfiyah “Burdah” memang bermakna selendang. Al-Bushiri membubuhkan judul antologinya dengan nama tersebut bukan berarti tanpa alasan. Sebab, alkisah di zaman nabi dulu ada seorang tokoh yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Semula dia adalah seorang penyair non muslim yang tergolong paling radikal menentang dakwah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, kemudian dia masuk Islam, lantas menggubah sajak buat Nabi yang isinya kala itu tergolong estetik. Intro puisi itu:
Kudengar kabar
Rasulullah berjanji padaku
Dan ampunan itu
Sungguh jadi tumpuan harapanku.
Untuk itu konon Nabi memberikan selendang beliau kepadanya.
Berdasar mirip dengan cerita di muka, Al-Bushiri mengaku bahwa dirinya juga bermimpi bahwa Nabi memberinya selendang tatkala dia melantunkan gubahan sajak-sajaknya!! (Dikutip dari buku “Burdah, Madah Rasul Dan Pesan Moral” yang dipuitisikan oleh Muhammad Baharun, Majalah Cahaya Nabawi hal. 55)
  • Pengingkaran Para Ulama
Para ulama telah bangkit menunaikan tugas mereka dalam menyingkap penyimpangan yang ada dalam Burdah Bushiri, termasuk diantara mereka yang menjelaskan penyimpangannya adalah:
  1. Asy-Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadzid hal. 26,
  2. Abdur Rahman bin Hasan dalam Rasail wa Masail Najdiyyah 2/33,
  3. Sulaiman bin Abdillah dalam Taisir Aziz hamid hal. 221-223,
  4. Abdullah Abu Buthain dalam Naqd Burdah dan Ta’sis Taqdis,
  5. Mahmud Syukri al-Alusi dalam Ghoyatul Amani 2/350, al-Ustadz Abdul Badi’ Saqr dalam kitab Naqd Burdah,
  6. dan masih banyak lagi lainnya.
  • Beberapa Contoh Penyimpangan
Sebenarnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam Burdah tersebut, namun sekedar contoh kita nukilkan sebagiannya saja. Hanya kepada Allah saja, kita bertawakkal:

1. Al-Bushiri mengatakan:
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ      لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta
Tidak ragu lagi bahwa bait ini mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) kepada Nabi, dimana al-Bushiri menganggap bahwa dunia ini tidaklah diciptakan kecuali karena Nabi, padahal Allah berfirman: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Mungkin saja ucapan di atas bersandar pada hadits palsu:
لَوْلاَكَ لَمَا خَلَقْتُ الأَفْلاَكَ
Seandainya bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan makhluk.
(Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah al-Albani no. 282)
2. Al-Bushiri berkata:
دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِيْ نَبِيِّهِمْ          وَ احْكُمْ بِمَا شِئْتَ فِيْهِ وَاحْتَكِمْ
Tinggalkanlah ucapan kaum Nashara terhadap nabi mereka
Adapun terhadapnya (Nabi Muhammad), ucaplah sesuka anda
Dalam bait ini, dia menganggap bahwa yang terlarang adalah kalau umat Islam mengatakan seperti ucapan orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa bahwa beliau adalah Tuhan, anak tuhan dan salah satu tuhan dari yang tiga. Adapun selain itu maka hukumnya boleh-boleh saja.

Ucapan ini jelas sekali kebatilannya, sebab ghuluw itu sangat beraneka macam bentuknya dan kesyirikan itu ibarat laut tak bertepi, artinya dia tidak terbatas hanya pada ucapan kaum nashara saja, sebab umat-umat jahiliyyah dahulu yang berbuat syirik, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berucap seperti ucapan Nashara. Jadi ucapan di atas merupakan pintu kesyirikan, sebab menurutnya ghuluw itu hanya terbatas pada ucapan kaum nashara saja.

3 Al-Bushiri berkata:
لاَطِيْبَ يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَهُ           طُوْبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ
Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya
Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya

Dalam bait ini, al-Bushiri menyatakan bahwa tanah yang menimbun tulang-tulang Nabi adalah tempat yang paling utama dan mulia. Tidak hanya itu, tetapi bagi mereka yang menciumnya maka balasannya adalah surga dan kedudukan mulia. Tidak ragu lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.

Syaikhul Islam berkata:
“Para imam telah bersepakat bahwa tidak boleh mengusap-ngusap kuburan nabi ataupun menciumnya, semua ini untuk menjaga kemurnian tauhid”. (Ar-Radd Ala Akhna’I hal. 41)


4. Al-Bushiri berkata:
أَقْسَمْتُ بِالْقَمَرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ            مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُوْرَةَ الْقَسَمِ
Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa
Ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya


Dalam bait inipun terdapat penyimpangan yang amat nyata, sebab bersumpah dengan selain Allah termasuk bentuk kesyirikan.

    عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَِa
Dari Umar bin Khaththab bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kufur atau berbuat syirik”. (HR. Ahmad 4509 dan Tirmidzi 1534)

Ibnu Abdil Barr berkata:
“Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah untuk apapun dan bagaimanapun keadaannya, hal ini merupakan kesepakatan ulama”. Katanya juga: “Para ulama telah bersepakat bahwa bersumpah dengan selain Allah adalah terlarang, tidak boleh bersumpah dengan apapun dan siapapun”. (At-Tamhid 14/366-367)

5. Al-Bushiri berkata:
يَا أَكْرَمَ الرُّسُلِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ         سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ
Aku tidak memiliki pelindung Wahai rasul termulia
Selain dirimu di kala  datangnya petaka
Perhatikanlah wahai saudaraku bagaimana bait ini mengandung unsur kesyirikan:
  • Dia meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
  • Dia berdoa dan memohon permohonan ini dengan penuh rendah diri, padahal hal itu tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah saja. (Taisir Aziz Al-Hamid hal. 219-220)

Al-Allamah asy-Syaukani berkomentar tentang bait ini:
“Perhatikanlah bagaimana dia meniadakan semua pelindung kecuali hamba dan rasul Allah, Muhammad saja, dia lalai terhadap Rabbnya dan Rabb rasulnya. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un”. (Ad-Durr An-Nadhid hal. 26)

6. Al-Bushiri berkata:
فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا            وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena.
Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya
Dalam bait ini, dia menjadikan dunia dan akherat termasuk pemberian dan milik Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, padahal Allah berfirman: Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)

Adapun ucapannya “Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena”. Maka ini adalah ucapan yang sangat batil sekali, karena hal itu berarti bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam mengetahui ilmu ghaib, padahal Allah berfirman: 

Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65) 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.

PENUTUP

Demikianlah sekelumit contoh penyimpangan yang terdapat dalam “Burdah” dan komentar seperlunya. Semoga saja hal itu cukup untuk mewakili penyimpangan-penyimpangan lainnya.
Akhirnya kami menghimbau kepada setiap muslim yang terikat dengan qasidah ini hendaknya dia meninggalkannya dan menyibukkan diri dengan kitab-kitab lainnya yang bermanfaat. Dan hendaknya diketahui bahwa hak Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam adalah dengan membenarkan seluruh ucapannya, mengikuti syari’atnya dan mencintainya tanpa kurang atau berlebih-lebihan. 

Ya Allah! Saksikanlah bahwa kami sangat mencintai NabiMu dan membenci orang-orang yang tidak mencintai beliau!!. Ya Allah! Tetapkanlah hati kami di atas jalanMu yang lurus sehingga bertemu denganMu. 

(Disadur dari Qawaidih Aqdiyyah fi Burdah Bushiri oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad dan Muqaddimah Dr. Ali bin Muhammad al-Ajlan terhadap kitab Ar-Radd Ala Burdah karya Abdullah Abu Buthain).


[1] Syadziliyyah: Salah satu tarikat Sufi sesat yang populer di sebrbagai negara Islam, dan telah terpecah menjadi beberap keping. Disebut Syadziliyyah karena nisbah kepada pencetusnya Abul Hasan Ali bin Abdillah asy-Syadzili al-Maghribi yang lahir tahun 591 H di kota Aghmat (Maghrib), tumbuh di Syadzilah, sebuah kota dekat Tunis, kepadanyalah dia dinisbatkan, kemudian setelah itu dia pindah ke Mesir dan mempunyai beberapa pengikut di sana. Wafat tahun 656 H. (Lihat Al-Asrar Al-Aliyyah fi Saadah Syadziliyyah hal. 100-141 oleh Ahmad Syarif asy-Syadzili, Al-Al’lam 4/305 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 7/137 Kahhalah).

Sabtu, 14 Juli 2012

Imam Mazhab Dalam Cerita Sufi

Orang Sufi Mengatakan:
Imam Abu Hanifah Rahimahulloh : Imam Abu Hanifah adalah seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga seorang Mursyid Thariqah Sufi.

Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata, “Aku mengambil Thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.

Abu Hanifah dikenal sebagai Fuquha ulung, ternyata tetap memadukan antara syariah dan haqiqah. Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah Ta’ala, berkah Tasawuf yang diamalkannya.

Jika ada pertanyaan, kenapa para Mujtahidin itu tidak menulis kitab khusus mengenai Tasawuf, jika mereka mengikuti aliran Sufi? Imam Asy-Sya’rany, Mujathid dan Ulama besar mengatakan, “Para Mujtahidun itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, karena penyakit-penyakit jiwa kaum muslimin di zamannya masih sedikit. Mereka lebih banyak selamat dari riya’ dan kemunafikan. Mereka yang tidak selamat jumlahnya kecil. Hampir-hampir cacat mereka tidak tampak di masa itu. Sehingga mayoritas Mujtahidin di masa itu lebih konsentrasi pada bidang ilmu dan mensistematisir pemahaman pengetahuan yang tersebar di kota dan desa, dengan para Tabi’in dan Tabiit Tabi’in, yang merupakan sumber materi pengetahuan, sehingga dari mereka dikenal timbangan seluruh hukum, dibanding berdebat soal amaliyah qalbiyah sebagian orang yang tidak banyak muncul”.

Imam Malik Rahimahulloh. Beliau mengatakan soal tasawuf ini dengan kata-kata yang sangat popular hingga saat ini: “Siapa yang bersyariat atau berfiqih tanpa bertasawuf, benar-benar menjadi fasiq. Dan siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat (berfiqih) benar-benar zindiq. Siapa yang mengintegrasikan Fiqih dan Tasawuf benar-benar menapaki hakikat kebenaran.”

Imam Syafi’i Rahimahulloh. Beliau berkata: “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua: “Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh dengan kelembutan, dan mengikuti thariqat ahli tasawuf.”

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahulloh. Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

( SUMBER : SUFINEWS.COM )

Persaksian dusta merupakan perbuatan yang mendatangkan dosa yang besar setelah syirik, dan secara keseluruhan merupakan suatu kejelekan yang akan membawa pelakunya pada kemurkaan Alloh. Untuk itu perbuatan dusta harus kita jauhi apalagi yang didustakan adalah para ulama’ dan notabene adalah pewaris para nabi dan Rosul sholawatullohi alaihim ajma’in.

Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda :” Maukah aku tunjukkan pada kalian tentang dosa besar ? yaitu : syirik pada Alloh, membunuh jiwa, durhaka pada orang tua, persaksian dusta.” ( HR. Bukhori bab. Yamin wal ghumus No. 6675 dan bab. Ma qila fi syahadizzur No. 2654 )

Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda :” Alloh memberkahi setiap orang mu’min kecuali khianat dan berdusta.” ( HR. Ahmad 5/252, Ibnu Abi Ashim 1/53 Hadits hasan bi syawahid )

Kami katakan :
Berkata Imam Abu Nu’aim dan Imam Ibnul Jauzi Rohimahumalloh :” Dan sungguh orang sufi tidak tahu malu menyebut Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib dan para pemuka shohabat lain Rodhiallohuanhum Ajma’in sebagai golongan sufi. Mereka juga memasukkan Imam Syuraih al-Qodhi, Imam al-Hasan al-Bashri, Imam Sufyan at-Tsauri, Imam Ahmad bin Hambal, Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Adham Rohimahumulloh termasuk golongan sufi.” (Talbis Iblis 10/233 )

Berkata Imam Sufyan at-Tsauri Rohimahulloh :” Aku mendengar Ashim berkata :” Kami senantiasa melihat orang-orang sufi sebagai kumpulan orang-orang yang bodoh. hanya saja mereka masih bisa berkilah di belakang Hadits.” (Talbis Iblis 10/366 )

Berkata Imam Yahya bin Mu’adz Rohimahulloh :” Janganlah kamu bergaul dengan 3 golongan : Ulama yang lalai, orang-orang faqir yang takabbur, dan orang sufi yang bodoh.” (Talbis Iblis 10/366)

Sekarang kita lihat apakah Imam Madzhab 4 sebagai ulama’ sufi atau menyetujui ajaran sufi yang sesat sebagaimana mereka prasangkakan….?????

1. Imam Abu Hanifah Rohimahulloh
Beliau adalah seorang Imam dan ahli fiqih yang besar pada zamannya bisa dikatakan sebagai imam mursyid thoriqot sufi, sungguh merupakan jelas sebagai penistaan dan pendustaan yang besar terhadap seorang ulama yang berpegang teguh pada sunnah. Berkata Imam Fudhail bin Iyadh Rohimahulloh :” Abu Hanifah adalah seorang ahli fiqih yang terkenal dengan waro’nya dan orang yang banyak harta.” (Tarikh Baghdadi 13/340)

Lihatlah beliau adalah pedagang yang jujur lagi sukses dan dermawan, adapun orang sufi mereka tidak mau mencari harta dan bekerja serta tidak percaya pada sebab, mereka memperaktekkan tawakkal yang salah .

Tokoh Sufi Yusuf bin Husain berkata :” Jika engkau melihat seseorang yang menyibukkan diri pada rukhshoh dan mata pencarihan, maka tidak ada sesuatu yang bisa diandalkan darinya.” (Talbis Iblis 10/304 )

Beliau adalah seorang ahli fiqih yang dalam setiap masalah selalu merujuk pada hadits yang shohih, mengikuti atsar para shohabat dan para tabiin, jika tidak menemukan maka beliau mengqiyas masalah tersebut dan beliau adalah sebaik pengqiyas suatu masalah. Berkata Imam Fudhail bin Iyadh :” Abu Hanifah selalu mengembalikan suatu masalah kepada hadits-hadits yang shohih, mengikuti atsar para shohabat dan para tabiin, jika tidak menemukan maka beliau mengqiyas masalah tersebut dan beliau adalah sebaik pengqiyas suatu masalah.” (Tarikh Baghdadi 13/340)

Imam Imam Abu Hanifah Rohimahulloh :” Jika suatu hadits telah shohih maka itulah madzhabku.” (al-Hasyiyah Ibnu Abidin 1/63)

Imam Imam Abu Hanifah Rohimahulloh : “Tidak halal bagi seseorang yang mengambil pemikiran kami selagi dia tidak tahu dari mana kami mengambil dalil.” (Hasyiyah alal Bahrir Ro’iq 6/293)

Imam Imam Abu Hanifah Rohimahulloh : “Sesungguhnya kami hanyalah manusia biasa kami perpendapat hari ini dan kami mengkoreksi besok.” (Hasyiyah alal Bahrir Ro’iq 6/293)

2. Imam Malik (Guru Imam Asy-Syafii) –Rohimahumalloh-
Al-Qodhi ‘Iyadh Rohimahulloh berkata dalam kitabnya (Tartib Al-Madarik Wa Taqrib Al-Masalik 2/54): At-Tinisi berkata: Kami dulu berada di sisi Malik, dan para muridnya berada di sekelilingnya. Kemudian seorang dari penduduk Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kaum yang disebut dengan sufiyah, dimana mereka makan banyak, kemudian mereka mulai membaca qasidah-qasidah [qashidah, qoshidah], kemudian bangkit dan menari.” Maka Imam Malik berkata: “Apakah mereka anak-anak?” Dia menjawab: “Tidak.” Imam Malik bertanya: “Apakah mereka orang-orang gila?” Dia menjawab: “Bahkan mereka adalah para tokoh agama yang berakal!” Maka Imam Malik berkata: “Aku tidak mendengar bahwa seorang muslim akan melakukan demikian.”

Hal ini nampak sangat jelas dalam teks-teks ucapan beliau tentang firqoh (golongan, sekte) ini. Di antara ucapan beliau:

3. Imam Asy-Syafii
Imam Al-Baihaqi Rohimahulloh meriwayatkan dengan sanadnya dari Yunus bin Abdil A’la, dia berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata: “Kalau seorang menganut ajaran tasawuf (tashawwuf) pada awal siang hari, tidak datang waktu zhuhur kepadanya melainkan engkau mendapatkan dia menjadi dungu.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)

Dungu adalah sedikitnya akal. Dan itu adalah penyakit yang berbahaya. Tidaklah aneh ahli tasawwuf dalam waktu kurang dari sehari akan menjadi orang yang dungu. Tulisan-tulisan mereka sendiri menjadi saksi tentang hal itu.

An-Nabhani -seorang sufi- dalam kitabnya yang penuh dengan khurofat,  kezindiqan, dan kesesatan; yang berjudul Jami’ Karomat Auliya tentang biografi Ahmad bin Idris, dia berkata:

[Di antara karomahnya yang agung yang tidak bakal dicapai kecuali oleh orang-orang tertentu adalah berkumpulnya dia dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan bangun (terjaga), kemudian dia mengambil wirid-wiridnya, hizb-hizbnya dan sholawatnya yang masyhur dari beliau secara langsung ...... Dia (Ahmad bin Idris) diuji dengan hilangnya indera dengan benda-benda yang ada. Kemudian dia mengeluhkan kepada sebagian guru-gurunya. Kemudian sang guru berkata: ‘Kaana (Jadilah dia).’ Ahmad bin Idris menceritakan dirinya: Maka dengan semata ucapan sang guru “kaana”, hilang dariku semua rasa sakit, kemudian aku bangkit waktu itu juga dan jadilah aku seperti orang yang tidak ditimpa sesuatupun. Aku memuji Allah. Dan aku mengetahui bahwa telah pasti apa yang dikatakan para tokoh sufi: Awal jalan adalah junun (kegilaan), pertengahannya funun, dan akhirnya ‘kun fa yakun’.”]

Perkataan ini tidak pernah diucapkan oleh seorang yang berakal sama sekali. Karena tidak ada yang berhak dengan sifat seperti ini -yaitu mengucapkan kepada sesuatu ‘kun fa yakun’ selain Allah. Allah berfirman tentang Diri-Nya: Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia (Kun fa Yakun). (Yasin: 82) Mereka –ahil tasawwuf- telah mengakui bahwa diri mereka adalah gila. Sehingga tidak keliru ketika Imam Asy-Syafii mengatakan: “Tidaklah aku melihat seorang sufi yang berakal sama sekali.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)

Imam Asy-Syafii Rohimahulloh berkata: “Tidaklah ada seorang yang berteman dengan orang-orang sufi selama 40 (empat puluh) hari, kemudian akalnya akan kembali selama-lamanya.”

Dan beliau membacakan syair:
 ودع الذين اذا أتوك تنسكوا … واذا خلوا فهم ذئاب خفاف 
Tinggalkan orang-orang yang bila datang kepadamu menampakkan ibadah Namun jika bersendirian, mereka serigala buas (Talbis Iblis hal. 371)

Imam Asy-Syafii juga berkata: “Dasar landasan tasawwuf adalah kemalasan.” (Al-Hilyah 9/136-137)

Kenyataan sufiyah menjadi saksi apa yang dikatakan Imam Asy-Syafii bahwa dasar landasan mereka adalah malas. Mereka adalah orang yang paling rajin dalam menunaikan bid’ah dan penyelisihan syariat. Dan mereka juga orang yang paling sangat malas dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menghidupkan sunnah-sunnah nabi (tuntunan-tuntunan nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai tambahan… suatu waktu Imam Waki’ (salah satu guru Imam Asy-Syafii) berkata kepada Sufyan bin ‘Ashim: “Kenapa engkau meninggalkan hadits Hisyam?” Sufyan bin Ashim menjawab: “Aku berteman dengan satu kaum dari sufiyyah, dan aku merasa kagum dengan mereka, kemudian mereka berkata: ‘Jika kamu tidak menghapus hadits Hisyam, kami akan berpisah denganmu’.” Maka Imam Waki’ berkata: “Sesungguhnya ada kedunguan pada mereka.” (Talbis Iblis hal 371-372)

4. Imam Ahmad bin Hambal (murid Imam Asy-Syafii) –Rohimahumalloh- 
Beliau memperingatkan dari berteman dan duduk-duduk dengan mereka. Beliau pernah ditanya tentang nasyid-nasyid dan qasidah-qasidah –yang disebut sima’- yang dilakukan Sufiyah. Maka beliau mengatakan: “Itu perkara yang diada-adakan dalam agama (tidak ada landasannya dalam agama Islam).” Kemudian ditanyakan kepada beliau: “Apakah boleh kami duduk-duduk dengan mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.” Dan Imam Ahmad juga berkata tentang Al-Harits Al-Muhasibi –seorang imam tasawuf-. Maka beliau berkata kepada murid-muridnya: “Aku tidak mendengar tentang hakekat-hakekat seperti perkataan orang ini. Dan aku tidak berpandangan engkau boleh duduk-duduk dengannya.” (Tahdzibut Tahdzib 1/327)

Berkata Ishaq bin Hayyah :” Aku menemui Imam Ahmad bin Hambal, yang sa’at itu beliau sedang ditanya tentang bisikan-bisikan hati dan lintasan sanubari, maka beliau menjawab :” Para shohabat dan tabi’in tidak pernah membicarakan masalah itu.” (Talbis Iblis 10/235)

Abu Zur’ah Ar-Rozi -Rohimahulloh- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Rohimahulloh berkata dalam At-Tahdzib: Al-Bardza’i berkata: Abu Zur’ah ditanya tentang Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya, maka dia menjawab: “Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, (yang berisi) bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan. Dan wajib kamu berpegang teguh dengan al-atsar (hadits, sunnah, petunjuk Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam), sesungguhnya engkau akan mendapati dalam atsar yang mencukupimu dari kitab-kitab ini.” Kemudian ada yang bertanya kepadanya: “Di dalam kitab-kitab ini ada pelajaran?” Dia menjawab: “Barangsiapa yang tidak mendapat pelajaran dalam Kitabulloh, maka dia tidak akan mendapat pelajaran dalam buku-buku ini.

Apakah telah ada kabar sampai kepada kalian bahwa Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, atau Al-Auza’i atau para imam lainnya menulis kitab-kitan tentang lintasan-lintasan hati dan was-was (bisikan-bisikannya) serta perkara-perkara ini? Kaum sufiyah ini telah menyelisihi para ulama. Kadang mereka membawa Al-Muhasibi kepada kita, kadang membawa Abdurrohim Ad-Daili, dan kadang membawa Hatim Al-Ashom… Betapa cepatnya manusia berlari menuju para ahli bid’ah ini.” (Talbis Iblis 10/236 )
______

Selasa, 03 Juli 2012

Beberapa Pokok Kesesatan Ajaran Sufi

Ditulis Oleh: Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi  

Sesungguhnya Ahli bid’ah telah meletakkan beberapa pokok ajarannya sejak awal perkembangannya. Oleh karena itu seseorang tidak akan mengerti hakikat tasawuf kecuali setelah melihat beberapa pokok ajarannya, maka, dalam tulisan ini cukuplah menyebutkan beberapa pokok ajarannya. Dan itulah yang terpenting !.

Maksudnya tulisan ini setidaknya bisa mengingatkan kepada umat Islam agar berhati-hati dan tidak terjerat oleh jarinngan bid’ah mereka. Sebab saaat ini para Da’I (pendakwah) Sufi ( tarekat) tengah gencar-gencarnya menyebarkan bid’ahnya. Dan tidak sedikit dari kalangan muslimin yang masih bodoh-belum tahu hakekat kesesatan sufi-yang terpedaya dengan bualan mereka.
Beberapa pokok ajaran tasawuf diantaranya:

1. Thariqoh

Yang dimaksud adalah hubungan murid (seseorang yang berkehendak untuk sampai kepada Alloh dengan jalan dzikir dan memelihara dzikir tersebut) dengan syaikh (guru)nya. Baik Syaikh tersebut masih hidup maupun mati. Caranya, dzikir waktu pagi dan petang hari sesuai dengan izin sang Syaikh-nya tersebut. Ini harus dilakukan secara Iltizam (konsisiten) berdasarkan perjanjiannya. Dalam perjanjiannya, Syaiakh menyelamatkan sang murid dari segala petaka dan mengeluarkan dari segala macam cobaan. Sang Syaikh  mendoakan melalui istghotsah kepadaNya, serta ia akan memberi syafaat pada hari kiamat dengan memasukkannya ke surga. Sedangkan bagi sang murid, hendaknya ia Iltiam selama hidupnya dengan wirid beserta adabnya, seperti halnya ia harus senantiasa iltizam terhadap amalan-amalan tarekat dan tidak boleh beralih kepada tarekat lainnya.

2. Syaikh pemberi izin wirid

Dari beberapa pokok tarekat sufi, yakni mementingkan keberadaan syaikh atau yang mewakilinya) yang memberikan bacaan wirid bagi muridnya. Keberadaan Syaikh merupakan salah satu wahana untuk menjaring muslim awam dan orang-orang bodoh dari kalangan mereka sendiri, Dengan demikian mereka bisa diperdaya guna kepentingan syaikhnya. Selain itu mereka menjadi ‘tersihir’ untuk mencurahkan semua potensi harta dan fisiknya bagi syaikh atau yang mewakilinya.

Sesungguhnya keberadaan syaikh itu, menurut syariat bisa dibenarkan.melalui Syaikh (yang memiliki ilmu dan tahu jalan menuju Alloh) itulah yang bisa diambil ilmunya dan mencontohnya. Hingga terbentuklah kesempurnaan jiwa lantaran bimbingannya dalam Islam, yang demikian ini adalah perkara yang terpuji dan dituntunkan syar’i. Karena tidaklah mungkin seseorang tahu tentang Alloh, tentang apa yang dicintai dan dibenciNya, dan mengetahui bagaimana cara beribadah serta mendekatkan diri kepadaNya, Hal ini akan terlaksana secara baik jika seorang menjadi murid seorang Syaikh yang alim dan berilmu. mau belajar kepadanya dan dididik dibawah pengawasan syaikh tersebut.

Suatu kesalahan, yakni jika belajar kepada syaikh yang memberi syarat dengan wirid dan amalan-amalan tarekat, apalagi syaikhnya tersebut adalah seorang yang bodoh ( dalam ilmu agama-red) bahkan bisa jadi buta huruf !!. Hal ini nyata adanya di masyarakat kita. Sebab, banyak diantara syaikh kalangan sufi tarekat ternyata mereka adalah buta huruf. Kalaupun mereka mengetahui suatu maka hanyalah sebatas rukun Islam seperti shalat !!!. Dalam kalangan tarekat, seorang syaikh berwenang memberikan wirid/amalan hanya sebatas wirid dan amalan yang ia miliki. Dan itu pun diberikan kepada muridnya setelah muridnya berkhidmat kepadanya dalam suatu proses yang panjang. Setelah itu sang murid diberi gelar syaikh dan diberi hak izin untuk memberikan wirid yang telah diterimannya kepada orang lain.

Itulah sisitem pewarisan ilmu mereka. Ironisnya, mereka justru menyatakan batil terhadap orang yang memakai sanad dalam periwayatan hadits yang sampai kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , yakni sebagaimana lazimnya digunakan oleh pada ahli hadits. Bahkan, ada dari kalangan tarekat yang berceloteh, bahwa tidak perlu menggunakan silsilah sanad (dalam hadits-red) karena aib bagi mereka, sebab bagi kalangan tarekat mereka memakai metode langsung dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dalam keadaa terjaga bukan dalam keadaan tidur apalagi bermimpi, sebagaimana perkataan Ahmad At Tijani (pendiri tarekat tijaniyah) dalam Jawahiru Al Ma’ani (hal 97) dia berkata,” adapun sanad dalam tarekat muhammadiyah (maksudnya at-Tijaniyah) bahwasannya Ia mengabariku:.” Sesungguhnya kami telah mengabari dari para syaikh tapi Allah belum menakdirkan dari mereka apa yang kami kehendaki. Namun sunggup sayyid kami, ustadz kami dalam hal ini adalah sayyidul wujud (penghulu segala yang ada) yakni nabi Sholallahu laihi Wassalam, Dan Alloh telah menakdirkan dibukannya kepada kami dan sampainya kami kepada Belaiu Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Serta kami pun tidak akan berpaling kepada selainya kepada masyaikh lainnya. Adapun dalam hal keutamaan pengikutnya (yakni pengikut tarekat Tijaniyah), Sayyidul Wujud (tang dimaksud adalah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam) telah berkata barangsiapa mencintainya (yakni mencintai ahmad bin Muhammad At Tijani), maka ia termasuk Kekasih Nabi, Dan tidaklah ia akan mati, kecuali setelah benar-benar menjadi seorang wali.”

Dan yang lebih mengherankan lagi dalam dunia tarekat, mensyaratkan bagi syaikh yang menjadi murabbi yang memiliki kewenangan khusus harus memiiliki sifat sempurna. Padahal yang demikian tidak mungkin dimiliki sekalipun oleh sebagian para nabi. Berdasarkan persyaratan semacam ini, mereka menetapkan bagi pemimpin-pemimpin tarekat untuk memberi wirid dan mengarahkan. Dan sungguh, tidak ada sama sekali pada mereka sifat-sifat sempurna wlaupun hanya sepersepuluh atau bahkan seperseratusnya. Sehubungan dengan hal itu, perlu dinukil kementar At Tijani, Jawahiru Al Ma’ani Juz II hal 185,” Adapun hakekat Syiakh washil (syaikh yang berperan sebagai penghubung), yaitu telah berhasil menyingkap semua hijab (penghalang) secara sempurna guna melihat keberadaan tuhan dengan mata kepadalnya sendiri, dan benar-benar atas dasar keyakinan. Tingkatan demikian diawali dengan muhadharah (menghadirkan sang syaikh), yakni dengan cara menelaah dari balik tabir tebal tentang hakekat yang ada, Berikutnya mukasyafah yakni menelaah hakekat dari tabir tipis. Kemudian Musyahadah, yaitu melihat hakekat dengan tanpa tabir penghalang, yang ini tentunya dengan kekhususan. Bila telah demikian artinya seseorang telah mencapai kedudukan  yang paling tinggi, yakni kedudukan yang membatalkan dan menghapuskan (syariat), serta telah mencapai proses melebur dan menyatu (fana’ Al fana’). Tidaklah mencapai derajat ini kecuali dengan pertolongan Al Haq didalam AL Haq dan dengan Al Haq. Maka tidaklah tersisa sesuatu kecuali Alloh dan (menyatu) dengan-Nya. Maka tahapan ini tidak ada lagi istilah yang dihubungi atau yang menghubungi.” Sampai ucapannya,” maka, inilah syaikh yang patut dimintai. Bila seorang murid melihat rahasia sifat seperti ini, maka lazim baginya untuk menyerahkan diri kehadapan sang syaikh sepertimayit dihadapan yang memandikannya. Dia tidak memiliki hak memilih, berkemauan, meberi dan berfaedah. Oleh karena itu bila diisyaratkan kepadanya suatu amalan atau suatu perkara maka jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan, kenapa, bagaimana, bukankah, untuk apa. Karena pertanyaan itu membuka pintu kebencian dan pengusiran.”

3. Perjanjian atau Baiat, jabat Tangan, dan Talqin

Termasuk pokok ajaran tasawuf adalah ikrar janji setia (baiat) seorang murid kepada sang syaikh tarekat, atau yang mewakilinya. Baiat itu meliputi ksanggupan untuk iltizam (konsisten) dalam mengamalkan wirid, ketaatan, dan cinta. Selain itu, dibaiat pula untuk iltizam dengan kelompok tarekatnya serta tidak boleh beralih ke kelompok tarekat lainnya sampai mati. Pelaksanaan baiat itu dengan cara meletakkan tangan diatas tangan syaikh sambil mengenggamkan jari jemarinya diatas jari sang syaikh, seraya memejamkan mata. Kemudian sang syaikh menuntunkan kata-kata,” Sya berjanji utuk beriltizam berwirid dengan syarat-syarat…” kemudian sang syaikh memebrikan wirid. Dengan amalan tqlid ini mereka membuat kata-kata perjanjian, baiat, berjabat tangan dan talqin.

Sesungguhnya baiat adalah sesuatu yang disyariatkan, yakni sebagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam pernah membaiat para Shohabat rodliallohu anhum. Adapun baiat yang dilakukan kepada imam adalah bid’ah, seperti kelompok tarekat dan kelompok sempalan lainnya, diadakan guna menjaring kaum muslimin awam dan orang-orang yang bodoh dangkal ilmu agamanya. Dengan baiat ini, dimaksudkan agar bisa memberikan bekas (atsar) pada jiwa mereka (yang akan bergabung dengan kelompoknya). Hingga mereka bisa dikendalikan/diatur  dan mentaati hukum dan aturan sang syaikh, inilah hakekat baiat orang tasawuf taarekat.

Adapun talqin yang dilakukan dengan memejamkan mata seraya mengenggam jari merupakan perbuatan bid’ah. Talqin dilakukan semata penipuan belaka. Dengan talqin seakan-akan adalah hal ritual keagamaan yang khusus. Hingga semakin sempurnalah penanaman atsar (pengaruh) kepada jiwa orng-orang awam agar mereka terjerat dalam jaringan sesat mereka. Dengan cara itu,mereka bisa menguasainya dengan mengatasnamakan syaikh, baiat, dan tarekat. Sepertinya wirid yang disyariatkan sang syaikh, maka baiat, talqin, dan ritual tarekat lainnya dalah bid’ah.

4. Wirid Sufi (antara Haq dan Batil)

Wirid yang dimaksud, seorang Muslim mengamalkan ibdah sunnah dan berjanji utnuk mengamalkannya selama hidupnya.

Wirid bagi pengikut tarekat, baik berupa dzikir atau doa yang diberikan oleh syiakh (atau orang yang diberi wewenang) atau orang yang mewakilinya, diberikan kepada murid agar bersih batinnya dan bisa sampai ke derajat mukasyafah, musyahadah dan fana’ dalam dzat Allah [sehingga tidak ada sebutan ’Penyambung’ dan ‘yang disambung’ atau washil dan maushul. Lantaran hamba dan Allah telah menyatu.

Dalam doa yang diajarkan kaum tarekat tidak lepas dari kata-kata syirik, kufur, bid’ah sepereti tawassul dengan orang yang telah mati, beristighotsah kepada mayit dan berdoa kepada selain Alloh.

Dzikir mereka ada yang haq disyariatkan Islam), seperti kalimah thayyibah la ilaha illallah) mereka namakan sebagai zikir umum, dan ada pula dzikir yang tidak disyariatkan Islam, hanya karangan orang pengikut tarekat seperti lafadz Allah, Allah yang diucapkan berulang kali dengan jumlah tertentu, atau melafalkan kata hayyun, hayyun dan semisalnya. Mereke namakan sebagai dzikir khusus (masing-masing tarekat memiliki dzikir khusus sendiri-sendiri) bahkan ada yang mengucapkan huwa,huwa (Dia, Dia) yang mereka namakan dzikir khusus yang paling khusus (khos Al Khos).

Perhatikanlah !! bagaimana mereka membagikan dzikir menjadi dzikir umum, dizikir khusus dan dzikir paling khusus. Kita berlindung kepada Alloh Azza wa Jalla kadi kesesatan nyata dan kita berlepas diri dari kebohongan yang jelas.

5. Khalwah

Khalwah, bila seorang menyendiri (menjauhi keramaian manusia), menurut istilah tarekat sufi khlawah berarti menyendirinya seorang murid, dengan izin syaikhnya dan dibawah pengawasan dan bimbingannya ditempat-temat tertentu (missal dilubang yang digali dalam tanah atau ditempat masuk antara pintu dan tengah rumah (dilhiz) selama kurangd ari sepuluh malam dan tidak lebih dari empat puluh malam) Mereka berdalil dengan tahanuts-nya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di Goa Hira’ sebelum diutus sebagai Rosul Alloh.

Adapun masa sepuh malam, mereka berdalil berdasar masa iktikaf Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di bulan Ramadhan. Sedang yang menjadi dalil mereka untuk khalwah selama empat puluh malam adalah berdasar masa janji Alloh kepada nabi Musa Alaihi Sallam, ‘ Dan ingatlah, ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sesembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang dzalim.” [QS baqoroh 51].

Diantara kebid’ahan khalwah tarekat sufiyah, diantaranya :

Pelaksanaannya di tempat gelap, berapa banyak murid dan pengikut tarekat setelah berkhalwah menjadi tidak beres ucapan, amalan, pikirannya seperti orang gila

Selama kholwah, senantiasa diam, padahal yang semacam ini telah dilarang oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam berdasar hadits  tentang peristiwa Abu Israil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori, bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam melihat seorang lelaki berdiri dibawah terik matahari, kemudian Beliau menanyakan kepada para Sahabat,” Sedang apa ini ?” Para Sahabat menjawab,” Abu Israil tengah melaksanakan nadzar. Ia (abu Israil) akan berdiri dibawah terik matahari (berjemur) dan tidak mau berteduh, tidak mau berbicara, serta berpuasa.” Maka Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam memerintahkan padanya untuk duduk, berteduh, berbicara  dan tetap (menyempurnakan) puasanya.

Pelaksanaan Khalwah jauh dari indra manusia, dan suara manusias sangat menyakitkan mereka, sehingga menjadikan mereka membuat lubang dengan menggali tanah, dengan suanana yang gelap, dan inilah bid’ah yang munkar.

Seorang murid tidka boleh memikirkan apapun ketika berkhalwah, baik memikirkan makna ayat Al Qur’an atau Sunnah, sebab yang demikian bisa mengganggu wirid haqiqi yang memerlukan dzikir dan khalwah. Ini adalah persyaratan yang rusak dan bathil karena syariat Islam tidak menetapkannya.

Seorang murid tidak dibolehkan masuk atau keluar khalwah, kecuali dengan idzin Syaikh murobbi, Sedangkan apabila berhadapan dengan Syaikhnya hendaklah bersikap seperti mayit saat dimandikan. Tidak berpendapat, berinisiatif, atau membantah. Inliah bentuk pemasungan terhadap nilai kemanusiaan seorang muslim.

Senantiasa ada keterkaitan hati kepada Syaikh dengan disertai I’tiqod.

6. Kasyaf (Kontemplasi)

Hakekat kasyaf ialah terbukanya hati dari cahaya ghaib pada seorang sufi lantaran telah mencapai tingkat ma’rifat. Yang demikian tidak bisa diterima dengan akal, tetapi hanya bisa diterima  hati. Dibalik martabat kasyaf ada martabat lain yakni at-tajalla yaitu nampaknya dzat ilahiah di mata wujud yang dzahir.

Sesungguhnya proses kasyaf dan at-tajalla akan berujung pada hulul dan wihdah al wujud (proses bersatunya hamba dengan Allah), setelah menyatu pada sisi orang yang bersangkutan maka lantas ia mengaku sebagai Tuhan secara mutlak, wal ‘iyadzu billahi.

7. Al fana’

Inti ajaran fana’ senantiasa memperbanyak dzikir hingga mencapai ketentraman hati yang terdalam, mereka berhujjah degan ayat,” katakanlah dengan dzikir kepada Allah hati akan tentram  [QS ar Ra’du 28].

Dzikir yang dilakukannya hingga tertimpa lalai dengan dunia dan kemudian mabuk dengan yang dicintainya. Kemudian, fana’ dari alam, artinya ia tidak melihat sesuatu. Dan berikutnya ia mencapai derajat  fana’ dari al fana’. Dalam batas demikian, ia telah berhasil mencapai tingkat pembatal atau penghapus syariat. Tahap ini menjadikan hancurnya semua gambar dan bayangan,d an hapusnya semua pengaruh. Maka tidaklah tersisa kecuali haq dalam Haq untuk Haq dan dengan Haq. Mereka mendefinisikan fana’ ialah habis dan menjadi rusaklah alam besama wujudnya. Dalam pandangan mereka, bahwasanya ia sirna dari nisbah perbuatan atasnya. Atau, jadilah ia wali dengan sendirinya dan dia ia tidak saksikan kecuali dalam alam ini kecuali hanya Allah saja. Hal ini seperti diibaratkan seseorang tidak bisa melihat bintang di siang hari lantaran telah terbitnya matahari.

Adapun lalai hilang diri, mabuk, fana’, fana’ al fana’, pembatal/penghapus syariat semuanya adalah awal kebohongan, kerusakan, dan kebatilan. Hingga hal tersebut menhasilkan sesuatu yang rusak dan jahat yakni hulul, wihdah al wujud. Dikatakannya, apabila seorang murid telah mencapai derajat ini, maka tidak ada yang ia saksikan kecuali hanyalah Allah. Maka jadilah semua alam ini Allah- menurut prasangka mereka. Semoga Allah menghancurkan mereka dan melaknatnya. Kenap mereka buta dengan firman Alloh Azza wa Jalla ,” Tidaklah ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi maha Melihat.”[QS Asy Syuro 11], dan firman-Nya,” Katakanlah :’Dialah Allah, Yang Maha Esa.” [QS Al Ikhlas 1], dan firmanNya,” Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” [QS Al Ikhlas 4].

8. Zhahir dan Batin, Syari’at dan Hakekat

Diantara kebid’ahan sufi yakni adanya pembagian ilmu menjadi zhahir dan batin, dan pembagian agama menjadi syari’at dan hakekat. Mereka menisbatkan bahwa Islam adalah tarekat (jalan,cara), Sedangkan tarekat hanyalah washilah (sarana), dan buahnya adalah hakekat. Inilah kesesatan Sufi mereka membagi-bagi Islam sesuai hawa nafsu mereka diatas kebodohan. Mereka buta terhadap sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,” Hendaklah kalian berhati-hati dengan sesuatu yang baru. Maka sesungguhnya sesuatu  yang baru (dalam agama) adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat, dan kesesatan pasti di neraka.” (HR Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, Shahih Jami’ Ash-Shagir no 2549). Dan Sabda belia,” Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan kami (yakni Islam), padahal hal itu tidak pernah kami perintahkan, maka hal itu pasti tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih, Shahih Jami’ Ash Shagir 5970).

wallahu ta'ala 'alam
______________
Diterjemahkan dan ringkas dari Ila Tashawwuf Ya ‘Ibadallah, oleh : Syaikh Abubakar jabir Al Jazairi. Sumber: www.al-aisar.com