Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2012

Bid'ah Hasanah? Itulah Bid'ah yang Sesat

(a) berkata,

"Mas bid'ah itu tidak ada yang baik, semuanya adalah sesat. Tentu jika itu baik maka bukanlah bid'ah namanya melainkan itu adalah sunnah (petunjuk)."

(b) berkata,
"Wes jangan begitu, bid'ah hasanah itu ada lho..."

(a) berkata,
"Coba berikan contohnya?"

(b) berkata,
"Kui, hp, motor, mobil pesawat bid'ah hasanah, ayo..."

(a) berkata,
"Mas semoga Allahu Ta'ala membimbing anda dengan petunjuk.
Ketahuilah itu bukanlah bid'ah yang dimaksud, meskipun secara bahasa itu adalah bid'ah akan tetapi itu adalah bid'ah yang tidak terlarang sebab bid'ah secara bahasa dan istilah syar'i maka berbeda makna dan hukum sama seperti shalat, shalat secara bahasa adalah do'a, sedangan shalat secara istilah syar'iyah adalah suatu gerakan ibadah sebagai penghambaan kepada Allah 'Azza wa Jalla yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, tentu kedua definisi di atas sangat jauh berbeda.

Apakah orang yang berdo'a lima kali sehari sudah dikatakan shalat yang lima??!?

Tentu semua orang sepakat menjawab, "Tidak."

Karena itulah sudah menjadi kewajiban kita untuk mengetahui definisi bid'ah yang benar baik dari segi bahasa maupun istilah syar'iyah agar tidak salah dalam memahaminya.

Bid'ah secara bahasa ialah, "Segala sesuatu yang baru yang belum ada contoh sebelumnya."

Maka dalam hal ini, hape, mobil, motor dan yang lainnya termasuk kategori bid'ah namun ini bid'ah yang tidak terlarang sebab bid'ah secara bahasa berbeda dengan istilah syar'iyah seperti yang telah saya terangkan di atas.

Hape, mobil, motor atau yang lainnya itu juga sarana dunia bukan akhirat, artinya Allah Jalla Jalaaluh memberikan manusia akal untuk berfikir dan menciptakan sesuatu maka akal manusia itu selalu berkembang dari zaman ke zaman.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman : "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu." (QS. Al-Baqarah [2] : 29)

Karena itu hape, motor dan mobil merupakan sarana dunia yang Allah berikan untuk manusia berdasarkan ayat al-Qur'an di atas.

Adapun bid'ah secara istilah syar'iyah adalah,
"Sesuatu atau cara baru di dalam agama yang dibuat menyerupai syari'at dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla."

Maka perkara yang baru dalam agama seperti tahlilan, yasinan dan mauludan masuk dalam kategori ini dan perbuatan tersebut terlarang karena setiap perbuatan bid'ah di dalam agama adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Sebab Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan agama bukan untuk menyempurnakan perkara dunia, oleh karena itu Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa bid'ah yang dimaksud ialah bid'ah yang masuk dalam kategori ibadah (ubudiyyah), bukan sarana duniawiyyah, sebab perbuatan bid'ah secara tidak langsung mengingkari firman Allah Rabbul 'alamin akan kesempurnaan Islam, dan ia telah menuduh Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam telah mengkhianati risalah kenabian karena tidak memberitahukan kebaikan di antara kebaikan-kebaikan yang dimaksud ahlul bida' wal ahwa'.

Dan perbuatan bid'ah di dalam agama secara tidak langsung mengingkari firman Allah 'Azza wa Jalla di bawah ini.

Allah Jalla Jalaaluh berfirman : "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."
(QS. Al Ma'idaah [5] : 3)

Sehingga seolah-olah para pelaku bid'ah membuat catatan kaki dari firman Allah Tabaroka wa Ta'ala bahwa agama ini yaitu al-Islam bukan agama yang sempurna sebab begitu banyak "perkara-perkara yang baru di dalam agama" yang dianggap baik oleh pelaku kebid'ahan setelah agama ini sempurna.

Pelaku kebid'ahan secara tidak langsung mengingkari hadits-hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam di bawah ini.

Dari Abu Dzarr radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami."

Berkata Abu Dzarr radhiyallaahu 'anhu, Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,
"Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian." (HR. Ahmad, IV/126 - 127, Abu Dawud, no. 4607, at-Tirmidzi, no. 2676)

Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu beliau berkata, "Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan kami memiliki ilmunya." (HR. An-Nasa-i, III/189)

Perkataan Abu Dzarr radhiyallaahu 'anhu di atas diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya V/153, 162. Kemudian ada syawahidnya dari perkataan Abud Darda' radhiyallaahu 'anhu yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu'jam al-Kabir sebagaimana dikatakan Imam al-Haitsami dalam Majma'uz Zawaa'id, VIII/264.

Dari Abu Darda' radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, "Sungguh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung yang terbang di langit melainkan beliau telah menerangkan kepada kami ilmunya." (Diriwayatkan oleh al-Laalika'i dalam Syarah Ushuul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah, no. 126, Ibnu Baththah al-'Ukbary dalam al-Ibaanah, no. 205 dan Ilmu Ushulil Bida' hal. 92)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari perintah-perintah Allah kepada kalian, melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Begitu pula tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari larangan-larangan Allah kepada kalian melainkan telah aku larang kalian darinya." (HR. asy-Syafi'i dalam kitab ar-Risalah, hal. 87 - 93, no. 289, tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir rahimahullahu, al-Baihaqi, VII/76. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah, no. 1803)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya kedudukanku terhadap kalian seperti kedudukan seorang ayah, aku mengajari kalian semua." (HR. Abu Dawud, no. 8)

Dari 'Irbadh bin Sariyah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh, aku tinggalkan kalian di atas Islam yang putih bersih (lengkap / sempurna / tidak ada yang tertinggal satu pun), malamnya seperti siangnya (begitu jelas dan gamblang). Tidaklah berpaling dari Islam yang putih bersih ini sepeninggalku, melainkan akan binasa." (HR. Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah, no. 48 - 49, dan Ibnu Majah, no. 43)

Perbuatan bid'ah pun secara tidak langsung mengingkari kesempurnaan Islam yang telah diakui sendiri oleh ummat-ummat sebelum kita dari kalangan ahlul kitab dari golongan Yahudi.

Dari 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu berkata,
"Sesungguhnya datang orang Yahudi kepada saya dan berkata, 
'Wahai Amirul Mu'min, ada satu ayat di dalam kitabmu (al-Qur'anul Karim), yang jika ayat itu turun kepada kami yakni kepada bangsa Yahudi, niscaya kami menjadikan hari itu perayaan.'
'Umar bin al-Khaththab bertanya,
'Ayat apa itu?'
Lantas orang Yahudi itu berkata,
'Aku sempurnakan untukmu agamamu.'
(QS. Al-Ma'idaah [5] : 3)
Kemudian 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu berkata,
'Sesungguhnya aku tau hari diturunkan ayat ini, dan tempat turunnya. Ayat ini turun sedangkan Rasulullah berada di 'Arafah pada hari Jum'at."
(HR. Al-Bukhari, no. 45, Muslim, no. 3017)

Bahkan perbuatan bid'ah mengingkari hadits yang mulia ini, yaitu seolah-olah menuduh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mengkhianati risalah kenabian untuk memberitahukan segala kebaikan untuk ummatnya. Jika adab-adab buang air kecil saja beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam ajarkan apalagi perkara ibadah yang dianggap baik oleh para pelaku bid'ah seperti maulid, tahlilan, yasinan, isra mi'raj dan perkara penting lainnya, mustahil beliau "lupa" untuk tidak mengajarkan kepada ummatnya.

Dari Salman radhiyallaahu 'anhu, beliau berkata, "Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami,
'Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!' Maka, Salman radhiyallaahu 'anhu menjawab, 'Ya !.' (HR. Muslim, no. 262 (57), Abu Dawud, no. 7, at-Tirmidzi, no. 16 dan Ibnu Majah, no. 316)

Nabi yang mulia Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam mengajarkan segala sesuatu hingga adab-adab buang air kecil beliau ajarkan namun mungkinkah beliau "lupa" mengajarkan kebaikan pada perayaan-perayaan ibadah bid'ah seperti tahlilan, yasinan, dan maulid?

Padahal Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang diketahuinya kepada ummatnya dan memperingatkan mereka terhadap keburukan yang diketahuinya kepada mereka." (HR. Muslim, no. 1844)

Perhatikan hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam di atas, menjadi bantahan bagi para pelaku kebid'ahan yang mereka anggap perbuatan bid'ah mereka baik namun pada hakikatnya mengingkari firman Allah Jalla wa 'Ala dan hadits-hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Sampai-sampai guru dari Imam asy-Syafi'i, yaitu Imam Malik rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Barangsiapa yang melakukan suatu bid'ah dalam Islam yang dia menganggap baik bid'ah tersebut, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah ini. Sebab Allah ta'ala berfirman : "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridha'i Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Ma'idaah [5] : 3)

"Oleh sebab itu apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu (yaitu pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya), maka ia bukan termasuk agama pula pada hari ini." (Al-I'tisham, I/64)

Dan bahkan Ummul Mukminin, 'Aisyah radhiyallaahu 'anha berkata, "Dan barangsiapa yang menyangka Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari apa-apa yang diturunkan Allah, sungguh ia telah membuat kedustaan yang sangat besar terhadap Allah. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman : "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya." (QS. Al-Ma'idaah [5] : 67) [HR. Al-Bukhari, no. 7380 dan Muslim, no. 177]

Dan yang terakhir, bagaimana mungkin Allah Subhanahu wa Ta'ala mewafatkan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam jika Islam belum sempurna???

Berkata Imam asy-Syaukaniy rahimahullahu ta'ala, "Maka jika Allah telah menyempurnakan agama-Nya sebelum Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam wafat, maka apa artinya pendapat bid'ah yang dibuat-buat oleh kalangan ahli bid'ah tersebut? Kalau memang hal tersebut merupakan agama menurut keyakinan mereka, maka berarti mereka telah beranggapan bahwa agama ini belum sempurna kecuali dengan tambahan pemikiran mereka, dan itu berarti pembangkangan terhadap al-Qur'an." (Al-Qaulul Mufiid Fii Adillatil Ijtihaad Wattaqliid, hal. 38)

Kewajiban kita sebagai seorang muslim tunduk dan patuh dengan apa yang telah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sampaikan, apabila kita telah mengetahui bahwa setiap bid'ah itu sesat mengapa kita "ngeyel" dengan mengatakan ada bid'ah hasanah. Seolah-olah kita yang lebih paham dari Nabi yang mulia Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (al-Qur'an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama dan setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka."
(HR. Al-Bukhari, no. 86, 184, 922, Muslim, no. 867 - 868, Ahmad, I/392 - 393, 432, II/310 - 311, Abu Dawud, no. 1097, 2118, an-Nasa-i, III/104 - 105, At-Tirmidzi, no. 1105, Ibnu Majah, no. 1892, al-Hakim, II/182 - 183, 'Abdurrazzaq, no. 10449, Ath-Thayalisi, no. 336 - 338, Abu Ya'la, no. 5211, ad-Darimi, II/142, al-Baihaqi, III/214, III/215, VII/146)

Diriwayatkan Dari al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallaahu 'anhu bahwa ia berkata,
"Suatu hari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati menjadi takut, maka seseorang berkata,
"Wahai Rasulullah! Nasehat ini seakan-akan ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?"
Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka."
(HR. Ahmad dalam Musnadnya, IV/126 - 127, Abu Dawud, no. 4607, Tirmidzi, no. 2676, Ibnu Majah, no. 42, 43, ad-Darimi, I/44, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, no. 5, at-Taliiqaatul Hisan, no. 102, al-Mawaarid, Hakim, I/95 - 96, Baihaqi, X/114, Imam Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah, no. 54 - 59, Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, I/205, no. 102, Imam al-Laalika'i dalam Syarah Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah, I/83, no. 81. Derajat hadits ini Shahiih lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 937 dan 2735 dan Irwaa-ul Ghaliil VIII/107 - 109, no. 2455)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka." (HR. An-Nasa-i, III/188 - 1899, dan al-Baihaqi dalam al-Asma' was Shifat, I/310)

Hadits-hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam di atas sangat jelas menegaskan bahwa setiap bid'ah itu sesat maka jangan kita "ngeyel" atau sok-sok-an berkata tanpa ilmu ada bid'ah hasanah.
Kewajiban kita hanya tunduk dan patuh dengan apa yang beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam sampaikan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr : 7)

"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat." (QS. Al-Ahzaab : 21)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengada-adakan (membuat-buat bid'ah) suatu perkara amalan dalam agama ini yang tidak ada perintah atau contoh) dari kami maka perbuatan tersebut tertolak." (HR. Bukhari, III/222 no. 2697, Muslim, III/1343 no. 1718)

Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam melanjutkan, "Setiap ummatku akan masuk Surga, kecuali yang enggan." Para Shahabat bertanya, "Siapakah yang enggan, wahai Rasulullah?" Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia masuk Surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dialah yang enggan." (HR. Al-Bukhari, no. 7280)

(b) berkata,
"Tapi Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala berpendapat bid'ah ada dua macam, bagaimana ini?"

(a) berkata,

"Ketahuilah, bahwasanya beliau rahimahullaahu ta'ala adalah seorang manusia yang tidak ma'shum maka kita tidak boleh taklid kepada siapa pun orangnya selain mengikuti dalil, hatta Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala sendiri melarang taklid buta terhadap pendapatnya jika pendapatnya menyelisihi al-Qur'an dan As-Sunnah.

Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Setiap orang pasti terlewat dan luput darinya salah satu Sunnah (baca : hadits) Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Apa pun pendapat yang aku katakan atau prinsip yang aku tetapkan (baca : katakan) kemudian ada hadits dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, yang ternyata bertentangan dengan pendapatku, maka apa yang disabdakan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam itulah yang diambil. Dan itulah yang menjadi pendapatku." (Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/475, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/46 - 47)

Beliau rahimahullaahu ta'ala juga berkata,
"Setiap yang aku ucapkan, namun ada hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang shahih menyelisihi pendapatku, maka hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam itulah yang lebih patut diikuti. Maka janganlah kalian taklid kepadaku." (Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/473, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/45 - 46)

Lihat penyataan beliau, kita diperintahkan untuk ittiba' kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bukan taklid kepada orang lain.

Anggaplah bid'ah hasanah itu memang ada dengan pernyataan Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala maka bid'ah hasanah yang dimaksud disini ialah bermakna sunnah karena mengikuti atau selaras dengan al-Qur'an dan As-Sunnah, sebab perbuatan bid'ah pada hakikatnya ialah menyelisihi al-Qur'an dan As-Sunnah.

Mari kita dudukkan pernyataan beliau rahimahullaahu ta'ala tentang bid'ah.

Beliau rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Perkara yang baru itu ada dua macam : Yaitu perkara baru yang menyelisihi al-Qur'an, Sunnah, Atsar, dan Ijma', maka ini adalah bid'ah yang sesat. Adapun perkara baru yang tidak menyelisihi pakai satu dari hal di atas maka tidak tercela.
Kemudian beliau rahimahullaahu ta'ala menukil perkataan Shahabat yang mulia 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu yang berkata, 'Sebaik-baik bid'ah adalah ini.'" (Hilyatul Auliya' IX/113)

Padahal jika kita teliti baik-baik dengan seksama maka akan kita dapati yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala adalah bid'ah secara bahasa yang maknanya ialah mengikuti al-Qur'an, As-Sunnah, Atsar dan Ijma' Salafush Shalih.

Hal itu dapat diketahui dari perkataan Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala sendiri yang berdalil tentang perkataan Shahabat yang mulia 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu ketika mengumpulkan jama'ah shalat Tarawih dan berkata, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini."

Padahal telah mahsyur bahwasanya shalat Tarawih itu sendiri adalah Sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan bukan perkara bid'ah yang dibuat-buat oleh 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa melakukan shalat malam (tarawih) bersama imam di bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Al-Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759)

Maka istilah bid'ah hasanah dengan dalih shalat tarawih adalah istilah yang keliru lagi bathil.

Justru sebaliknya Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala mengingkari perbuatan bid'ah.
Beliau berkata, "Barangsiapa yang beristihsan (menganggap baik suatu perbuatan tanpa dalil yang sharih lagi shahih) maka ia telah membuat syari'at (agama) baru." (al-Mankhul, hal. 374)

(b) berkata,
"Bukankah pembukuan al-Qur'an adalah bid'ah?"

(a) berkata,
"Bukan, dan tidak mungkin para Shahabat berbuat bid'ah yang telah diancam Neraka oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Pembukuan al-Qur'an itu pada hakikatnya adalah Sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam sebab al-Qur'an di zaman Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah ditulis di atas batu, tulang, pelepah kurma dan yang lainnya.

Namun karena al-Qur'an dan wahyu pada saat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam masih hidup masih turun maka pembukuan al-Qur'an tidak dilakukan, setelah Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam wafat dan wahyu telah terputus karena telah sempurna maka baru pembukuan al-Qur'an dilakukan.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
"Berkatalah orang-orang yang kafir : 'Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (QS. Al-Furqan : 32 - 33)

dan

"Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." (QS. Al-Isra' : 106)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur'an kepadamu (hai Muhammad) secara berangsur-angsur." (QS. Al-Insan : 23)

Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa ayat al-Qur'an turun dengan berangsur-angsur selama 23 tahun, maka selama wahyu itu masih turun dan hukum di dalam al-Qur'an terkadang masih ada yang di naskh dan mansukh, maka al-Qur'an tidak dibukukan namun setelah Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam wafat dan wahyu telah terputus karena telah sempurna maka baru pembukuan al-Qur'an dilakukan.

Pembukuan al-Qur'an ini adalah ijma' (kesepakatan) para Shahabat radhiyallaahu 'anhum jami'an dan ijma' merupakan salah satu dasar dalam Islam.

Dan ijma' serta sunnah Shahabat (Khulafa' ar-Rasyidin) adalah hujjah atau dalil dalam agama ini sebagaimana hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa diantara kalian yang mengalami hidup lama setelah (aku meninggal) maka dia akan melihat banyak perselisihan. Maka, setelah aku meninggal nanti, hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah al-Khufala' ar-rasyidin." (HR. Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42 - 44)

Dan telah kita ketahui bersama bahwa Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan Ali radhiyallaahu 'anhum adalah seorang Khalifah atau Khulafa' ar-Rasyidin disamping itu para sahabat pun telah ijma' tentangnya maka itu adalah setegas-tegas dalil bahwa pembukuan al-Qur'an bukanlah bid'ah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Alif Lam Mim. Kitab tersebut tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 1 - 2)

"Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) untk menjelaskan sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. An-Nahl : 89)

dan

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr : 9)

Apa definisi kitab???
Kitab adalah kumpulan dari beberapa mushaf atau lembaran-lembaran yang dikumpulkan menjadi satu itulah disebut kitab.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berulang-ulang memakai kata "kitab" bukan mushaf atau lembaran-lembaran yang maknanya bahwa mushaf tersebut akan disatukan menjadi satu dan karena itulah Allah Jalla wa 'Ala berfirman :
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr : 9)

Dan sebagai bentuk dari penjagaan al-Qur'anul Karim adalah dengan mengumpulkannya, maka keliru besar anda mengatakan bahwa pengumpulan al-Qur'an adalah perbuatan bid'ah.

(b) berkata,
"Penjelasan yang sempurna, sangat ilmiyyah. Pun saya pribadi tidak meyakini bid'ah hasanah.
Sebab apabila ada istilah bid'ah hasanah, maka saya bingung hasanah menurut siapa...
Hmm... Tentu hasanah sifatnya relatif dan berbeda, hasanah menurut anda belum tentu hasanah menurut saya.

Dan alhamdulillah kini saya lebih paham, semoga Allah Tabaroka wa Ta'ala menjaga anda dan membimbing saya kepada petunjuk."
________

Oleh Pentingnya Menuntut Ilmu Syar'i Diarsipkan: www.faisalchoir.blogspot.com

Senin, 20 Agustus 2012

Kesalahan-Kesalahan Setelah Shalat


Beberapa hal biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu (wajib) yang lima waktu, tapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan para Sahabat ridhwaanullaah 'alaihim ajma'iin.

Di antara kesalahan dan bid'ah tersebut ialah:

1.    Mengusap muka setelah salam.[1]

2.    Berdo'a dan berdzikir secara berjama'ah yang di pimpin oleh imam shalat. [2]

(*Artikel tentang Dzikir Berjama'ah bisa dibaca disini.)

3.    Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash / dalilnya, baik lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar hadits yang dha'if (lemah) atau maudhu' (palsu).

Contoh:

-  Sesudah salam membaca: "Alhamdulillaah."

-  Membaca surat al-Faatihah setelah salam.

(*Artikel tentang Membaca Al-Fatihah Setelah Shalat Fardhu dan Kirim Al-Fatihah, baca disini.)

-  Membaca beberapa ayat terakhir surat al-Hasyr dan lainnya.

(*Dzikir Setelah Salam (Shalat Fardhu) sesuai Sunnah Nabi bisa dibaca Disini.)

4.    Menghitung dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagiannya maudhu' (palsu).[3]  Syaikh al-lbani rahimahullah mengatakan: "Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid'ah." [4]

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan bahwa berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Budha, dan perbuatan ini adalah bid'ah dhalaalah. [5]

Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari-jari tangan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍ رَضِيَ اللهُ قَلَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيْحَ بِيَمِيْنِهِ
"Dari Abdullah bin Amr  رضي الله عنه , ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menghitung bacaan tasbih dengan jari-jari tangan kanannya."

Bahkan, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam memerintahkan para Sahabat wanita menghitung; Subhaanallaah, alhamdulillaah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari Kiamat). [6]

5.    Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (bersamaan/ berjama'ah).

Allah Subhanahu wa ta'ala memerintahkan kita berdzikir dengan suara yang tidak keras (QS. Al-A'raaf ayat 55 dan 205, lihat Tafsiir Ibni Katsir tentang ayat ini).

Nabi shallallahu'alaihi wa sallam melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim dan lain-lain.

Imam asy-Syafi'I rahimahullah menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan bacaan dzikir.[7] & [8]

6.    Membiasakan/merutinkan do'a setelah shalat fardhu (wajib) dan mengangkat tangan pada do'a tersebut, (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.[9]

(*Artikel tentang Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdo'a Dan Hukum Berdoa Sesudah Shalat, baca disini.)

7.    Saling berjabat tangan seusai shalat fardhu (bersalam-salaman). Tidak ada seorang pun dari Sahabat atau Salafush Shalih radhiyallahu'anhum yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih).[10]

Para ulama mengatakan: "Perbuatan tersebut adalah bid'ah." [11]

Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya di setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat Shubuh dan 'Ashar, maka perbuatan ini adalah bid'ah.  Wallaahu a'lam bish Shawaab.[12]

(*Artikel seputar berjabat Tangan Setelah Shalat baca disini.)

___________

[1].     Lihat, Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha'iifah wal Maudhuu'ah no. 660 oleh Imam al-Albani
[2].     Al-I'tishaam, Imam asy-Syathibi hal. 455-456 tahqiq Syaikh Salim al-Hilali, Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah VII/104-105, Fataawa Syaikh bin Baaz XI/188-189, as-Sunan wal Mub-tada'aat hal. 70. Perbuatan ini bid'ah, (al-Qaulul Mubiin fii Akhthaa-il Mushalliin hal. 304-305).
[3].     Lihat, Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha'iifah wal Maudhuu'ah no. 83 dan 1002
[4].     Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha'iifah I/185
[5].     As-Subbah Taariikhuha wa Hukmuha hal. 101 cet. I Daarul 'Ashimah 1419 H - Syaikh Bakr bin 'Abdillah Abu Zaid.
[6].     Hadits shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at-Tirmidzi no. 3486, Shahiih at-Tirmidzi III/146 no. 2714, Shahiih Abi Dawud I/280 no. 1330, al-Hakim I/547, al- Baihaqi II/253
[7].     Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501, dan at-Tirmidzi. Dihasankan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani
[8].     Lihat eBook Kami Pandangan Imam Syafi’I Tentang Dzikir Berjamaah Ibnu Majjah
[9].     Lihat Zaadul Ma'aad 1/357 tahqiq al-Arna'uth. Majmuu' Fataawa Syaikh bin Baaz XI/167-168
[10].   Tamaamul Kalaam fi bid'iyyatil Mushaafahah ba'das Salaam DR. Muhammad Musa Alu Nashr
[11].   Al-Qaulul Mubiin fii Akhtbaa-il Mushalliin hal. 293-294 Syaikh Masyhur Hasan Salman
[12].   Al-Qaulul Mubiin fii Akhthaa-il Mushalliin hal. 294-295 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah I/53.
[*] Tambahan dari Samudera Ilmu)

Sumber: http://ibnumajjah.wordpress.com/

Download Ebook: Dzikir Setelah Shalat Fardhu dan Dzikir Pagi dan Sore
Dzikir Pagi dan Petang atau ZIP file

Baca Juga :

    Senin, 13 Agustus 2012

    Bid'ah-Bid'ah di Kuburan


    Berkata Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah dalam al Majmû’ (V/311) :

    “Berkata Imam Abul Hasan Muhammad ibnu Marzuq az-Za’farani, dan beliau adalah termasuk ahli fiqh yang sangat jenius dalam kitabnya al Janâ-iz : ’Tidak boleh dia menyentuh kubur dengan tangannya dan tidak boleh pula menciumnya. Itulah sunnah yang telah berlaku’.

    Berkata Abul Hasan : ’Mengusap kuburan dan menciumnya seperti yang dilakukan orang-orang awam pada saat ini adalah termasuk perkara-perkara bid’ah yang mungkar dalam pandangan Syariat. Sepantasnya untuk dijauhi perbuatan tersebut dan dilarang pelakunya’.

    Berkata Abu Musa : ’Berkata para fuqaha’ Khurasan : Yang disunnahkan dalam ziarah kubur adalah seseorang membelakangi kiblat dan menghadap ke arah wajah mayit, memberi salam tanpa mengusap-usap kubur, mencium atau menyentuhnya. Karena yang demikian itu adalah kebiasaan orang-orang Nasrani’.”

    Berkata Imam ‘Izzuddin ibnu Jama’ah al-Kinani asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitabnya Hidâyah as-Sâlik hal. 1390-1391 :

    “Sebagian ulama memandang bahwa termasuk bid’ah membungkuk kehadapan kuburan yang diagungkan saat memberi salam. Ia berkata : Orang yang tidak memiliki ilmu menyangka bahwa perbuatan itu termasuk dalam simbol-simbol penghormatan. Yang lebih buruk dari itu adalah mencium tanah kuburan. (Perbuatan yang) tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Segala kebaikan ada dalam mengikuti mereka, semoga Allah merahmati mereka dan memberi manfaat kepada kita dengan ilmu mereka. Siapa yang terlintas dalam pikirannya bahwa mencium tanah kuburan lebih sempurna dalam mencari keberkahan, maka itu termasuk dalam kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan itu hanya ada pada apa yang sesuai dengan Syariat, perkataan dan amalan para Salaf.

    Saya tidak heran dengan orang jahil yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi saya sangat heran dengan orang yang berfatwa tentang baiknya perbuatan tersebut dengan pengetahuan dia akan keburukan perbuatan itu dan menyelisihi amalan para Salaf, lalu ia berdalil dengan syair.

    Kami memohon kepada Allah dengan karunia dan kebaikan-Nya untuk memberikan taufiq kepada kita dalam ucapan dan perbuatan, memelihara kita dari hawa nafsu dan ketergelinciran”


    Berkata Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani dalam risalahnya “Syarh ash-Shudur bi Tahrim Raf’il Qubur” hal. 17 :

    “Ketahuilah bahwa manusia telah sepakat, yang terdahulu maupun yang belakangan, yang awal dan yang akhir, sejak masa Sahabat radhiyallahu ‘anhum sampai saat ini, bahwa meninggikan kuburan dan membuat bangunan diatasnya adalah termasuk bid’ah-bid’ah yang telah pasti larangannya dan sangat keras ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagi pelakunya –sebagaimana yang akan datang penjelasannya-, dan tidak ada yang menyelisihi perkara ini seorang pun dari seluruh kaum muslimin.”

    Berkata Imam al-Hafidz as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah dalam “al-Amru bil Ittiba’” hal. 59-60 :

    “Adapun membangun masjid diatas kuburan, menyalakan lampu, lilin ataupun pelita, maka seluruh ulama-ulama mazhab dengan sangat jelas telah menyebutkan pelarangannya, dan tidak diragukan lagi akan keharamannya.”

    Berkata Imam Ibnu Abidin al-Hanafy dalam “Hasyiyah”nya (I/601) :

    “Adapun mendirikan bangunan diatas kubur, maka saya tidak pernah mendapatkan orang yang memilih (pendapat) tentang kebolehannya.”

    Berkata Imam al-Qurthubi al-Maliki dalam tafsir ayat Surat al-Kahfi : 12 (X/379-380):

    “Berkata ulama-ulama (mazhab) kami : Ini mengharamkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan kuburan para nabi dan para ulama sebagai masjid.”

    (Sumber : Tahdzib Tashil al-Aqidah al-Islamiyyah oleh Dr. Abdullah ibnu Abdul Aziz al-Jibrien)


    Berkata Imam al Hafidz as Suyuthi asy Syafi’i rahimahullah (w. 911 H.) dalam “Al Amr bi al Ittiba’” hal. 61 :

    “Masjid-masjid ini yang dibangun diatas kuburan wajib dihancurkan. Ini adalah perkara yang tidak ada khilaf di kalangan ulama-ulama terkenal. Dan dibenci shalat didalamnya tanpa ada perselisihan”

    Berkata Syaikh Ahmad ar Ruumi al Hanafi rahimahullah (w. 1043 H) dalam kitab “Al Majalis al Arba’ah min Majalis al Abrar” hal. 366 :

    “Masjid-masjid yang dibangun diatas kuburan, maka hukum Islam tentangnya adalah dihancurkan seluruhnya hingga rata dengan tanah. Demikian pula kubah-kubah yang dibangun diatas kubur wajib dihancurkan. Karena itu dibangun diatas pondasi pembangkangan dan penyelisihan terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam”

    Berkata Imam an Nawawi asy Syafi'i rahimahullah dalam “Syarh Shahih Muslim”, VII/ 37-38 :

    “Berkata Imam Asy Syafi’i dalam Kitab Al Umm : Dan aku melihat para penguasa di Mekkah memerintahkan untuk menghancurkan apa-apa yang dibangun diatasnya (yaitu kuburan). Dan penghancuran ini dikuatkan dengan sabdanya –yaitu dalam hadits : Dan tidak juga kubur yang tinggi, melainkan engkau ratakan!...”

    Berkata Imam Ibnu Hajar al Haitami asy Syafi’i dalam “Syarh al Minhaj” sebagaimana dinukil dalam “Ruh al Ma’ani”, VIII/ 226 :

    “Sekelompok ulama telah berfatwa  untuk menghancurkan seluruh bangunan-bangunan (kuburan) yang ada di Qarafa, Mesir, demikian pula dengan kubah Imam Syafi’i yang dibangun oleh sebagian raja. Selayaknya bagi setiap orang untuk menghancurkan yang seperti itu selama tidak dikhawatirkan mafsadat (keburukan)nya. Maka wajib menyampaikan urusan ini kepada penguasa…”

    Catatan : Perbuatan diatas wajib memperhatikan kaedah-kaedah dalam mengingkari kemungkaran dengan memperhatikan maslahat-mafsadat dan mengikut sertakan penguasa.

    Oleh Belajar Manhaj Salafy

    Sabtu, 11 Agustus 2012

    Bid'ah Hari Raya Ketupat (Hari Raya Al Abrar)

    Penulis: Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry

    Di antara perkara yang diada- adakan (bid'ah) pada bulan Syawwal adalah Bid'ah hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya Ketupat.pent.), yaitu hari kedelapan Syawwal. Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka mulai berpuasa enam hari pertama dari bulan Syawwal dan pada hari kedelapan mereka membuat hari raya yang mereka namakan iedul abrar (biasanya dikenal dengan hari raya Ketupat. Pent ) 


    Syaikhul Islam lbnu Taimiyah – rahimahullah- berkata: "adapun membuat musim tertentu selain musim yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi'ul Awwal yang disebut malam maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, tanggal 18 Dzulhijjah, Jum'at pertama bulan Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang orang-orang jahil menamakannya dengan hari raya Al Abrar ( hari raya Ketupat) ; maka itu semua adalah bid'ah yang tidak disunnahkan dan tidak dilakukan oleh para salaf. Wallahu Subhanahu wata'ala a'1am.

    Peringatan hari raya ini biasanya dilakukan di salah satu masjid yang terkenal, para wanitapun berikhtilat (bercampur) dengan laki-laki, mereka bersalam-salaman dan mengucapkan lafadz-lafadz jahiliyyah tatkala berjabatan tangan, kemudian mereka pergi ke tempat dibuatnya sebagian makanan khusus untuk perayaan itu. 


    (Lihat : As Sunan wal mubtadi'at al muta'alliqah bil adzkar wassholawat karya Muhammad bin Abdis Salam As Syaqiriy hal. 166) (Kitab Al Bida' Al Hauliyyah karya : Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry. Cet. I Darul Fadhilah Riyadh, Hal. 350. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa'i)

    Hari kedelapan dari syawwal ini orang umum menamakannya sebagai Iedul Abrar (hari raya orang yang baik) yaitu orang- orang yang telah puasa enam hari syawwal. Namun hal ini adalah bid'ah. Maka hari ke delapan ini bukanlah sebagai hari raya, bukan untuk orang baik (abrar) dan bukan pula bagi orang jahat (Fujjar). Sesungguhnya ucapan mereka (yaitu iedul abrar) mengandung konskwensi bahwa orang yang tidak puasa enam hari dari syawwal maka bukan termasuk orang baik, demikian ini adalah keliru. Karena orang yang telah menunaikan kewajibannya maka dia, tanpa diragukan adalah orang yang baik walaupun tentunya sebagian orang kebaikannya ada yang lebih sempurna dari yang lain. (Syarhul Mumti' Karya As Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 6 bab shaum Tathawwu')



    Sumber: www.darussalaf.or.id/ Diarsipkan: www.faisalchoir.blogspot.com

    11 Puasa Bid'ah Ala Kejawen


    Berikut ini adalah puasa-puasa bid'ah dari ajaran kejawen

    1. Puasa Mutih 
    Puasa Mutih yakni seseorang tidak boleh makan apa - apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putih tidak boleh tambah apa - apa. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelum membaca mantra ini "Niat Ingsun Poso Mutih, Mutihaken Awak Kang Reged, Putih Kaya Bocah Mentas Lahir, Dipun Ijabahi Gusti Allah."

    2. Puasa Ngeruh
    Puasa Ngeruh yakni seseorang hanya boleh memakan sayur - sayuran atau buah - buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dan sebagainya.

    3. Puasa Ngebleng
    Puasa Ngebleng yakni menghentikan segala aktivitas normal sehari - hari. Orang yang menjalankan puasa ini, tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah atau kamar, atau melakukan hubungan badan. Waktu tidurnya pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa ini tidak boleh keluar kamarnya selama sehari semalam, kecuali buang air saja. Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahayapun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun.

    4. Puasa Pati Geni
    Puasa Pati Geni yakni hampir sama dengan puasa ngebleng, hanya saja puasa pati geni ini pelakunya tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yg melakukan nya 3 hari 3 malam, 7 hari 7 malam dan seterusnya. Pelaku biasa nya membaca mantra : "Niat Ingsun Poso Pati Geni, Amateni Hawa Panas Ing Badan Ingsun, Amateni Genine Napsu Angkara Murka Karana Allah Taala."

    5. Puasa Ngelowong
    Puasa Ngelowong yakni seseorang dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja dan diperbolehkan keluar rumah.

    6. Puasa Ngrowot
    Puasa ngrowot yakni puasa yang dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa ini hanya dibolehkan makan buah - buahan saja. hanya saja dibatasi oleh satu jenis buah - buahan saja, seperti pisang maka 3 buah.

    7. Puasa Nganyep
    Puasa Nganyep yakni puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampus sama dengan puasa Mutih, perbedaan nya, makanan nya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak ada rasanya.

    8. Puasa Ngidang
    Puasa Ngidang yakni puasa yang hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. selain daripada itu tidak diperbolehkan.

    9. Puasa Ngepel
    Puasa Ngepel yakni puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi dalam sehari.

    10. Puasa Ngasrep
    Puasa Ngasrep yakni puasa yang hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja dalam sehari.

    11. Puasa Wungon
    Puasa Wungon yakni Puasa pemungkas, tidak boleh makan dan minum juga tidak boleh tidur selama 24 jam.

    Seluruh puasa diatas (11 jenis puasa ala kejawen diatas) adalah puasa jahiliyah, puasa yang tidak pernah ada tuntunan nya dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, baik dari al-Quran maupun as-Sunnah.

    [Diringkas dari buku Mantan Kiai NU Meluruskan Ritual - Ritual Kiai Ahli Bid'ah Yang Dianggap Sunnah hal 439 - 447, karya Ustadz Mahrus Ali. cet Laa Tusyrik Press]

    Oleh Prima Ibnu Firdaus Al-Mirluny Diarsipkan: www.faisalchoir.blogspot.com

    Rabu, 08 Agustus 2012

    Jangan Mengambil Ilmu dari Ahli Bid'ah !

    Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari 
    (Pengajar Ma’had Ibnu Abbas, Sragen)

    Orang yang berniat mencari ilmu yang haq harus memperhatikan dari siapa dia mengambil ilmu. Jangan sampai mengambil ilmu agama dari ahli bid’ah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari. Sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran.

    Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan.
    • Pertama : Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.
    • Kedua : Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu.[1]
    Akan tetapi pantas disayangkan, pada zaman ini kita melihat fenomena pengambilan ilmu dari para ahli bid’ah marak di mana-mana, padahal perbuatan tersebut sangat ditentang oleh para ulama Salaf. Maka benarlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah memberitakan bahwa hal itu merupakan salah satu di antara tanda-tanda dekatnya kiamat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

    “Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)” [2].

    Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu?”

    Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah).[3]

    Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

    Syaikh Bakar Abu Zaid –seorang ulama Saudi, anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia- berkata : “Waspadalah terhadap Abu Jahal (bapak kebodohan), yaitu ahli bid’ah, yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat; dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata “akal”; dia menyimpang dari nash (wahyu), padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan ahlusy syubuhat (orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan ahli bid’ah dengan ash shaghir (anak-anak kecil).[4]

    Dan tanda hari Kiamat, yaitu “mengambil ilmu dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)” pada zaman ini benar-benar sudah terjadi dan terus berjalan. Sungguh telah terbukti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Bahkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu mengambil ilmu agama Islam dari orang-orang kafir, yakni para dosen yang mengajarkan pengetahuan tentang Islam di berbagai perguruan tinggi di negara Barat.

    Maka apakah kira-kira komentar para ulama Salaf, jika mereka mengalami zaman kita ini? Sedangkan mereka adalah orang-orang yang sangat tulus dalam memberikan nasihat, dan tegas menghadapi berbagai penyimpangan?

    Marilah kita renungkan perkataan Imam adz Dzahabi rahimahullah tentang ahli bid’ah pada zaman beliau. Beliau mengatakan:

    “Jika engkau melihat seorang mutakallim (seorang yang zhahirnya muslim tetapi menggeluti ilmu kalam, mantiq, filsafat, Pen), ahli bid’ah, berkata, ’Tinggalkan kami dari al Kitab (al Qur`an) dan hadits-hadits, dan datangkanlah akal,’ maka ketahuilah bahwa dia Abu Jahal. Dan jika engkau melihat seorang salik tauhidi (seorang shufi, Pen) berkata,’Tinggalkan kami dari naql (wahyu) dan akal, dan datangkanlah perasaan dan rasa,’ maka ketahuilah bahwa dia adalah iblis yang telah muncul dengan bentuk manusia, atau iblis telah merasuk padanya. Jika kamu merasa takut padanya, maka larilah. Jika tidak takut, maka bantinglah dia, dan tindihlah dadanya, dan bacakan ayat kursi kepadanya, dan cekiklah dia”.[5]

    PERINGATAN PARA ULAMA

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan sifat ulama yang akan selalu ada sepanjang zaman, sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah, yaitu di dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ

    “Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang lurus pada setiap generasi; mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas; ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh; dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan” [6]

    Hadits ini jelas dan tegas menunjukkan sifat-sifat pengemban ilmu agama, yaitu ‘adalah (lurus, istiqamah), maka sepantasnya ilmu itu hanyalah diambil dari mereka. Oleh karena itu, banyak peringatan ulama tentang memilih guru agama yang tepat di dalam mengambil ilmu. Berikut ini di antara perkataan ulama berkaitan dengan hal tersebut.

    1). Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata :

    اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ

    “Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama” [7]

    Perkataan ini juga diriwayatkan dari sejumlah Salafush Shalih, seperti Muhammad bin Siirin, adh Dhahhak bin Muzahim, dan lain-lain (Lihat muqaddimah Shahih Muslim).

    2). Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata :

    لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ مِنْ أَكَابِرِهِمْ , فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ , وَ تَفَرَّقَتْ أَهْوَاءُهُمْ , هَلَكُوْا

    “Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika ilmu datang dari arah orang-orang kecil (ahli bid’ah) mereka, dan hawa-nafsu mereka bercerai-berai, mereka pasti binasa” [8].

    Dalam riwayat lain disebutkan :

    لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوْا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ , فَإِذَا أَخَذُوْهُ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ وَ شِرَارِهِمْ هَلَكُوْا

    “Manusia selalu berada pada kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil (ahli bid’ah) dan orang-orang buruk (orang fasik) di antara mereka, maka mereka pasti binasa” [9]

    3). Imam Malik rahimahullah berkata :

    لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

    “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa` (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan.[10]

    4). Imam Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan ghibah yang dibolehkan :
    “Di antaranya, jika seseorang melihat pencari ilmu sering mengambil ilmu dari ahli bid’ah atau orang fasik, dan dia khawatir hal itu akan membahayakan pencari ilmu tersebut, maka dia wajib menasihatinya, dengan menjelaskan keadaan (guru)nya, dengan syarat dia berniat menasihati”. [Riyadhush Shalihin, al Adzkar, Syarah Muslim].

    5). Disebutkan di dalam kitab Fatawa Aimmatil Muslimin, hlm. 131, susunan Mahmud Muhammad Khithab as Subki yang berisikan fatwa-fatwa sebagian ulama Mesir, Syam dan Maghrib mutaqaddimin : “Seluruh imam mujtahidin telah sepakat, bahwa tidak boleh mengambil ilmu dari ahli bid’ah”.

    TUJUAN PERINGATAN ULAMA

    Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili –hafizhahullah- berkata,”Sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in sesudah mereka telah memberikan bimbingan untuk mengambil ilmu dari orang yang ‘adil dan istiqamah. Mereka telah melarang mengambil ilmu dari orang yang zhalim dan menyimpang. Dan di antara orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah. Sesungguhnya mereka telah menyimpang dan menyeleweng dari agama dengan sebab bid’ah-bid’ah itu, maka tidah boleh mengambil ilmu dari mereka. Karena ilmu merupakan agama, dipelajari untuk diamalkan. Maka jika ilmu diambil dari ahli bid’ah, sedangkan ahli bid’ah tidak mendasarkan dan menetapkan masalah-masalah kecuali dengan bid’ah-bid’ah yang dia jadikan agama, sehingga ahli bid’ah itu akan mempengaruhi murid-muridnya secara ilmu dan amalan. Sehingga murid-murid itu akan tumbuh di atas bid’ah dan susah meninggalkan kebid’ahan setelah itu. Apalagi jika belajar dari ahli bid’ah itu pada masa kecil, maka pengaruhnya akan tetap dan tidak akan hilang selama hidupnya.”[11]

    Syaikh juga menjelaskan, maksud peringatan para ulama ini ada dua. Pertama. Menjaga orang-orang yang belajar dari kerusakan aqidah, karena terpengaruh oleh perkataan dan perbuatan ahli bid’ah. Kedua. Memboikot (mengisolir) ahli bid’ah yang menyerukan bid’ahnya, dengan niat mencegah dan menghentikan mereka dari bid’ah.[12]

    Larangan ini berlaku saat situasi memungkinkan. Adapun dalam keadaan terpaksa, boleh belajar kepada ahli bid’ah, dengan tetap waspada dari kesesatan mereka.[13]

    Syaikh Bakar Abu Zaid berkata, ”Wahai, penuntut ilmu. Jika engkau berada dalam kelonggaran dan memiliki pilihan, janganlah engkau mengambil (ilmu) dari ahli bid’ah, (yaitu) : seorang Rafidhah (Syi’ah), seorang Khawarij, seorang Murji’ah, seorang qadari (orang yang mengingkari takdir), seorang quburi (orang yang berlebihan mengagungkan kuburan), dan seterusnya, karena engkau tidak akan mencapai derajat orang yang benar aqidah agamanya, kokoh hubungannya dengan Allah, benar pandangannya, mengikuti atsar (jejak Salaf), kecuali dengan meninggalkan ahli bid’ah dan bid’ah mereka”.[14]

    PERINGATAN BELAJAR AGAMA KEPADA ORANG KAFIR!

    Setelah kita mengetahui keterangan di atas, maka selayaknya umat Islam agar senantiasa jeli dan berhati-hati dalam mengambil ilmu. Sehingga pantas untuk diperingatkan, yaitu adanya fenomena pada zaman ini dan sebelumnya, berupa pengambilan ilmu dari orang-orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah, bahkan dari orang-orang kafir! Tidakkah orang-orang yang mengambil ilmu dari orang-orang kafir itu pernah membaca atau mendengar firman Allah Azza wa Jalla tentang usaha orang-orang musyrik untuk memurtadkan umat Islam? Allah Azza wa Jalla berfirman :

    وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرُُ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {217}

    “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” [al Baqarah : 217].

    Tidakkah mereka juga pernah mendengar firman Allah Azza wa Jalla tentang keinginan orang-orang Ahli Kitab yang selalu berkeinginan memurtadkan umat Islam?

    وَدَّكَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ {109}

    “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran” [al Baqarah : 109]

    Apakah mereka mengira, bahwa keinginan dan usaha orang-orang kafir untuk memurtadkan umat Islam itu hanyalah pada zaman turunnya ayat-ayat al Qur`an itu?

    Anggapan seperti itu adalah perkiraan yang salah, karena ayat-ayat itu berasal dari Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Seluruh berita dariNya adalah haq, baik saat turunnya ayat maupun setelahnya. Maka, hendaklah mereka memperhatikan sejarah umat Islam, memperhatikan kejadian-kejadian umat Islam, dahulu dan sekarang. Dengan demikian, mereka akan mengetahui kebenaran firman Allah tersebut.

    Inilah sedikit keterangan seputar jalan mengambil ilmu. Semoga Allah selalu membimbing kita kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa dan Bijaksana. Al hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] 
    ________
    Footnote
    [1]. Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69.
    [2]. Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81.
    [3]. Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246.
    [4]. Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid.
    [5]. Siyar A’lamin Nubala, 4/472, dinukil dari Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39.
    [6]. HR Ibnu ‘Adi di dalam al Kamil, al Baihaqi di dalam Sunan Kubra, Ibnu ‘Asakir di dalam Tarikh Dimsyaq, Ibnu Hibban di dalam ats Tsiqat, Abu Nu’aim di dalam Ma’rifatush Shahabat, Ibnu Abdil Barr di dalam at Tamhid, al Khath-thib di dalam Syaraf Ash-habul Hadits, dan lain-lain. Hadits ini diriwayatkan lebih dari 10 sanad, sehingga saling menguatkan. Dishahihkan oleh Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Salim al Hilali di dalam Hilyatul ‘Alim al Mu’allim, hlm. 77, juga oleh Syaikh Ali bin Hasan di dalam Tashfiyah wat Tarbiyyah.
    [7]. Riwayat al Khaththib al Baghdadi di dalam al Kifayah, hlm. 121. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 686, karya Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili.
    [8]. Riwayat Imam Ibnul Mubarak di dalam az Zuhud, hlm. 281, hadits 815. Dinukil dari kitab Asy-rathus Sa’ah, hlm. 184, karya Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil.
    [9]. Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 248. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 687.
    [10]. Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 348. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 688.
    [11]. Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 686, karya Syaikh Ibrahim ar Ruhaili.
    [12]. Lihat Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 693.
    [13]. Lihat Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 685-695.
    [14]. Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 40.

    Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/2602/slash/0

    Panutan Penyesat Umat

    Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi panutan orang banyak…
    Tulisan ini untuk setiap makhluk yang setiap perkataan dan perbuatannya diikuti orang banyak…
    Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi trend made orang banyak…

    Tulisan ini tertulis untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak menjadikan seorang sebagai panutan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah Ta’ala, panutan yang sebenarnya hanyalah pembawa ke jalan syetan, jalan neraka. Nau’dzubillah.

    Tulisan ini ditulis ketika saking banyaknya panutan, tapi menyesatkan umat dari Jalan Allah Ta’ala, baik dengan melakukan:
    • Kesyirikan dengan istighotsah dan tawassulnya kepada orang-orang yang sudah mati.
    • Kesyirikan dengan mengambil barokah dari dzatnya orang-orang shalih.
    • Sarana penyebab kesyirikan dengan mencari-cari hari baik untuk pernikahan atau hajat,…dan lain-lain.
    • Bid’ah dengan amalan-amalan dan shalawat-shalawat yang tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    • Bid’ah dengan pembacaan dzikir-dzikir yang dikhususkan tempatnya, waktunya, keadaannya, jumlah bilangannya yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    • Maksiat dengan ta’arufnya padahal itu pacaran.
    • Maksiat dengan bersalaman dengan wanita bukan mahram padahal larangan dan keharamannya jelas.
    • Maksiat dengan tidak menjaga pandangan, meluaskan pandangan kepada wanita yang setengah telanjang.
    • Maksiat dengan berkumpul dengan wanita-wanita bukan mahram tanpa ada penutup, bahkan wanitanya memakai pakaian yang tidak pantas dilihat kecuali oleh suaminya.
    • Dan perbuatan dosa lainnya.

    Takutlah kepada Allah Ta’ala jika Anda menjadi panutan orang banyak dalam dosa dan maksiat, karena Anda akan:

    1)   Menjadi orang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihin wa sallam atas umatnya. 

    Intinya, Anda adalah orang sangat berbahaya bagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)
     Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan, dan jika diletakkan pedang pada umatku, maka tidak akan diangkat dari mereka sampai hari kiamat”. (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Silsisilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1582)

    Makna pemimpin:

    1.  Para pemimpin negara yang sesat dan para ulama yang menyesatkan.

    والمراد بقوله: “الأئمة المضلين”: الذين يقودون الناس باسم الشرع، والذين يأخذون الناس بالقهر والسلطان; فيشمل الحكام الفاسدين، والعلماء المضلين، الذين يدعون أن ما هم عليه شرع الله، وهم أشد الناس عداوة له.
    Yang dimaksud “الأئمة المضلين” adalah orang-orang yang menuntun manusia dengan membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan, dan termasuk mereka ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya (syariat Allah) (Lihat kitab Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

    2.  Para pemimpin kekuasaan, para ulama, para ahli ibadah yang menyesatkan.

    “الأئمة”,  aimmah adalah jamak (bentuk plural) dari imam. Imam berarti panutan yang diikuti baik dalam kebaikan atau keburukan.

    Jika panutan dari orang-orang yang sesat maka umat akan tersesat, dan terjadi di tengah-tengah mereka akan muncul keburukan, dan mereka yang dimaksudkan adalah para pemimpin negara yang sesat, para ulama yang sesat, para ahli ibadah yang sesat, dan para ahli dakwah yang sesat. Setiap dari mereka adalah para pemimpin yang sesat, jika umat dituntun oleh mereka maka mereka akan menuntun kepada kebinasaan. Adapun jika yang menuntun umat adalah para penyeru kebenaran maka mereka akan menuntun umat kepada kebaikan dan keselamatan (Lihat kitab I’anat Al Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid, karya Syaikh Shalih Al Fauzan).

    Mari perhatikan beberapa pernyataan yang sangat bermanfaat di bawah ini:

    Bahwa para pemimpin itu ada tiga jenis: umara (pemimpin negara), ulama (para ahli ilmu agama), ‘ubbad (para ahli ibadah).  Mereka inilah yang ditakutkan akan mudah menyesatkan orang lain karena mereka adalah orang-orang yang diikuti. Para umara, mereka memiliki kekuasaan dan pelaksanaan. Para ulama mereka memiliki penyuluhan dan pendidikan. Sedangkan para ahli Ibadah mereka kadang menipu dengan keadaan mereka. Merekalah orang-orang yang ditaati dan jadi panutan, maka pengaruh mereka sungguh amat mengkhawatirkan. Karena jika mereka sesat maka mereka akan menyesatkan kebanyakan manusia. Namun, jika mereka mendapat petunjuk pada kebaikan, maka banyak orang akan ikut mendapat petunjuk (Lihat kitab Al Qaul Al Mufid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

    Seorang yang berilmu yang diikuti dan dipandang dengan mata keshalihan, jika mengerjakannya (shalat-shalat bid’ah), maka jelas akan memberikan kerancuan terhadap orang awam bahwa hal tersebut adalah termasuk sunnah, jadilah dia seorang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perbuatannya, yang terkadang bisa jadi penyebab langsung ia berdusta atas nama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebanyakan manusia melakukan bid’ah dengan sebab ini. Mereka mengira orang yang mereka ikuti termasuk orang berilmu dan bertakwa. Padahal dia bukan orang seperti itu. Lalu mereka memperhatikan perkataan dan perbuatannya. Kemudian mereka mengikutinya dalam hal tersebut dan akhirnya rusaklah keadaan mereka.
    Di dalam hadits riwayat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk yang kukhawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan”. (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits ini adalah hadits yang shahih”)

    Dan di dalam kitab Ash Shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu tiba-tiba, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang berilmu. Akhirnya manusia menjadikan orang-orang bodoh (sebagai ulama), akhirnya mereka (orang-orang bodoh tadi) memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan”.

    Imam Ath Tharthusyi rahimahullah berkata, “Renungkanlah kalian semua hadits ini. Sesungguhnya hadits ini menunjukkan bahwa bid’ah itu tidaklah muncul disebabkan oleh para ulama mereka. Akan tetapi bid’ah muncul ketika wafat ulama-ulama mereka, lalu orang yang tidak berilmu memberi fatwa. Akhirnya muncullah bid’ah dari orang yang tidak berilmu itu.

    Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memindahkan makna ini dengan berkata: “Seorang yang amanah tidak akan pernah berkhianat. Akan tetapi jika diberi amanat, orang yang tidak amanat akan terlihat hidung belangnya (sifat khianatnya)”.  Kita pun dapat mengatakan,“Tidak pernah seorang alim melakukan bid’ah. Akan tetapi orang yang tidak berilmu dimintai fatwa. Lantas dia sesat dan menyesatkan orang lain.”

    Dan demikianlah perbuatan Rabi’ah. Imam Malik berkata: “Suatu hari Rabi’ah menangis dengan sekencang-kencangnya ketika ditanya, “Apakah ada musibah yang menimpamu?” Beliau menjawab, “Tidak. Akan tetapi akan ditanya orang yang tidak berilmu maka akhirnya muncul masalah yang amat besar” (Lihat Kitab Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’, karya Abu Syamah).

    2)   Menanggung dosa seluruh orang yang mengikuti Anda dalam dosa dan maksiat.

    Al Mundzir bin Jarir medapatkan riwayat dari bapaknya, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
    “Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

    3)   Diadukan kepada Allah Ta’ala oleh orang yang mengikuti Anda di dalam dosa dan maksiat agar Anda mendapat siksa berlipat dan terlaknat, akibat kesesatan yang Anda sebarkan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    {إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (65) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68
    “Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong”. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. “Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”. (QS. Al Ahzab: 64-68).

    Pesan Terakhir

    Jadilah manusia yang menjadi kunci kebaikan bukan kunci kesesatan. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
    “Sesungguhnya dari manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup keburukan. Juga ada manusia yang menjadi kunci keburukan dan menjadi penutup kebaikan. Bahagialah orang yang telah Allah anugerahkan ia sebagai kunci kebaikan melalui tangannya dan celakalah bagi siapa yang telah Allah jadikan baginya kunci keburukan melalui tangannya”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1332).

    Ahad, 17 Dzulhijjah 1432H, Dammam KSA.

    Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc (Da’i di Islamic Cultural Center Dammam, KSA)
    Artikel www.muslim.or.id

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat:
    “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” (HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu)

    Berkata Imam Malik bin Anas rahimahullahu : "As Sunnah adalah bahtera Nuh. Siapa yang ikut naik diatasnya dia akan selamat, dan siapa yang berpaling darinya dia akan tenggelam". (Tarikh Baghdad, VII/ 336, Tarikh Dimasyq, XIV/ 9)

    Shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Manusia akan senantiasa berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam." (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 197).

    "Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi"

    Senin, 30 Juli 2012

    Pandangan Islam Tentang Ilmu Tenaga Dalam

    Al Ustadz DR. Muhammad Nur Ihsan 

    Alhamdulillah, segala puji hanya milik Alloh ‘Azza wa jalla yang telah menyempurnakan Islam dan meridhoi­nya sebagai agama yang benar. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rosul yang diutus dengan membawa petunjuk (ilmu yang bermanfaat) dan agama yang haq (amal sholeh). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah dengan sem­purna, menunaikan amanah dan berjihad di jalan Alloh Ta’ala sampai beliau wariskan kepada umatnya jalan yang lurus lagi terang bagaikan matahari di siang hari. Tidaklah keluar dari jalan tersebut kecuali orang yang sesat dan celaka. Amma ba’du.

    Akhir-akhir ini tumbuh subur berbagai kelom­pok yang mengajarkan ilmu tenaga dalam. Ko­non sang guru memiliki teknik membangkitkan atau mengembangkan tenaga ghaib dalam tubuh manusia. Masyarakat berbeda dalam menilai dan menghukuminya sesuai dengan latar belakang pemahaman dan pendidikan mereka. Sebenarnya bagaimana pandangan Islam tentang keilmuan tersebut dan hukum mempelajarinya?

    Sebelum menjawab pertanyaan di atas terlebih dahulu diperjelas maksud ilmu tenaga dalam dan rahasia-rahasia yang terdapat di dalamnya.

    DEFINISI TENAGA DALAM

    Dari berbagai referensi bisa disimpulkan bahwa yang mereka maksud dengan ilmu tenaga dalam adalah ilmu yang mempelajari cara membangkit­kan kekuatan/tenaga dalam (inner power) dengan cara-cara tertentu, antara lain : teknik pernafasan yang disertai dengan jurus-jurus tertentu dan de­ngan cara meditasi (tafakur).[1]

    Dan dari persaksian sebagian mantan praktisi tenaga dalam yang telah meninggalkan keilmuan tersebut dan kembali kepada sunnah menjelaskan bahwa dalam keilmuan tenaga dalam dan ilmu metafisika terdapat bermacam pokok kesesatan dan kesyirikan, antara lain :
    • Dengan belajar tenaga dalam (ilmu metafisika) seorang bisa “menjadi sakti” dengan menyalur­kan energinya ke bagian tubuh tertentu.
    • Dengan kekuatan fungsi jurus bisa mengalahkan musuh dari jarak jauh.
    • Ketika latihan aplikasi jurus tenaga dalam, se­orang murid diharuskan bisa emosi/marah dalam latihan menyerang.
    • Pada keilmuan tenaga dalam, diajarkan menjadi dukun/paranormal. Di antara bentuk perdukunan yang terdapat dalam keilmuan ini adalah teknik membuat seseorang jatuh cinta, ilmu san­tet (membuat orang sakit), teknik penyembuhan, mendeteksi barang hilang, teknik mengetahui masa lalu dan masa depan dan teknik mengeta­hui isi hati orang lain.
    • Pada keilmuan tenaga dalam ada teknik “mengi­si” benda hidup atau benda mati untuk berbagai macam keperluan.
    • Pada keilmuan tenaga dalam ada teknik pem­bentengan benda hidup/mati dari bahaya.
    • Pada keilmuan tenaga dalam ada teknik mengu­sir jin pengganggu.
    Inilah beberapa kesesatan dan penyimpangan yang terdapat dalam keilmuan tenaga dalam dan ilmu metafisika.[2]

    PANDANGAN ISLAM TENTANG TENAGA DALAM

    Sebelum menjelaskan pandangan Islam tentang ilmu ini, ketahuilah bahwa Islam adalah agama yang sempurna dalam seluruh aspek, baik dari sisi keilmuan dan peribadatan.

    Alloh Ta’ala berfirman: “Pada hari ini (hari arofah tahun 9 H) telah Aku sem­purnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku meridhoi Islam sebagai agamamu.” (QS. al-Maidah [5]: 3).

    Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Alloh Ta’ala dengan membawa ilmu yang bermanfaat dan amal sholih, sebagai­mana firman Alloh Ta’ala: 

    “Dia (Alloh) yang mengutus Rosul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar.” (QS. at­-Taubah [9]: 33, al-Fath [48]: 28, dan ash-Shof [61]: 9)

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Petunjuk ada­lah apa yang dibawa oleh beliau berupa berita-berita yang benar, keimanan yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Maksud agama yang benar ialah amal-amal sholih yang benar lagi bermanfaat di du­nia dan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir : 2/425, cet. Dar al-Fikr).

    Jadi dalam Islam telah terdapat penjelasan tentang ilmu yang bermanfaat yang membawa sese­orang kepada keridhoan Alloh Ta’ala dan mewujudkan ketentraman batin dan ketenangan jiwa serta keselamatan dunia dan akhirat. Juga penjelasan tentang ilmu yang tidak bermanfaat yang akan mencelaka­kan manusia dan larangan dari mempelajarinya.

    Adapun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berdasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah serta dipahami sesuai dengan pemahaman salafus sholih generasi terbaik umat ini. Itulah hakekat ilmu yang bermanfaat yang se­harusnya seorang muslim bersungguh-sungguh mempelajari dan memahaminya. Adapun seluruh keilmuan yang bertentangan dengan seluruh prin­sip di atas maka ia adalah ilmu yang tidak berman­faat dan dilarang untuk mempelajarinya. Sebab akan merusak dan menimbulkan dampak negatif bagi penuntutnya dan orang lain, seperti ilmu sihir, ilmu hitam, ilmu kebatinan dll.

    Adapun pandangan Islam tentang ilmu tenaga dalam dan yang semisalnya, bisa disimpulkan se­cara global dan secara terperinci.

    KRITIKAN SECARA GLOBAL TERHADAP ILMU TENAGA DALAM

    Pertama : Ilmu tenaga dalam dan sejenisnya adalah ilmu yang bid’ah dan tidak ada landasan dari al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan kepada para sahabatnya. Padahal saat itu dibutuhkan kekuatan untuk berdakwah. Begitu pula pada masa pemerintahan Khulafaur Rosyidin yang penuh dengan aktivitas jihad.

    Mereka tidak pernah mengajarkan keilmuan tersebut kepada para pasukan perang. Seandainya ilmu tenaga dalam dan sejenisnya adalah ilmu yang bermanfaat untuk pertahanan jiwa dan meroboh­kan musuh dari jarak jauh, tentu telah diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat dan di­wariskan oleh para sahabat kepada generasi sesu­dahnya. Akan tetapi hal itu sama sekali tidak per­nah terjadi, dengan demikian jelaslah kebatilan dan kesesatan ilmu tersebut.

    Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru dalam agama ini yang tidak ada (landasan) darinya maka ia bertolak.” 
    Dalam riwayat lain : “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada landasannya dari perintah kami maka ia bertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Kedua : Ilmu ini berasal dari luar Islam. Tenaga dalam atau krachtologi tersusun dari kata krachtos yang berarti tenaga dan logos yang berarti ilmu. Ia sudah dikenal oleh orang-orang Mesir Kuno pada 4000 SM. Dari Mesir, krachtologi berkembang ke Babylon, Yunani, Romawi dan Persia.

    Di Persia tenaga semacam ini dinamakan Dacht. Dalam Dahtayana disebutkan bahwa pada suku Bukht dan Persia, terkenal ilmu perang dinamakan dahtuz, yaitu merobohkan musuh dari jarak jauh.

    Para bangsawan Persia dilatih sejenis senam yang dilakukan lewat tengah malam agar mereka mempunyai tenaga Daht itu. Kemudian keilmuan tersebut terus dikembangkan sehingga menjadi suatu konsep untuk membangkitkan tenaga dalam dengan teknik pernafasan yang disertai dengan jurus-jurus tertentu.[3]

    Hal ini memperkuat pernyataan di atas, bahwa ilmu ini adalah ilmu yang bid’ah dan tidak ber­manfaat dalam agama Islam. Seandainya keilmuan tersebut dibolehkan tentu Alloh Ta’ala akan menjelaskan kepada Rosul-Nya hakikat dan manfaatnya. Apalagi keilmuan tersebut sudah dikenal orang-orang Mesir kuno ribuan tahun sebelum masehi dan sebelum pengutusan Rosul ‘alaihis salam

    Dengan demikian kita tahu bahwa kebatilan dan kebohongan telah dilakukan sebagian pergu­ruan tenaga dalam di tanah air dengan menamakan perguruan mereka dengan nama-nama yang islami seperti : Bunga Islam, al-Barokah, al-Ikhlas, Hik­matul Iman, PIH Silahul Mukmin, dll. Ini adalah penipuan yang nyata, sebab tidak pernah dalam sejarah bahwa perguruan-perguruan tersebut menjadi bunga bagi Islam, menambah keberkahan dan mewujudkan keikhlasan serta keimanan yang benar bagi penuntutnya. Bahkan fakta membukti­kan bahwa seluruh perguruan tenaga dalam meru­pakan sarana dan fasilitas untuk menebarkan ke­sesatan, kesyirikan, sihir, mistik.

    Ketiga : Dalam ilmu tenaga dalam terdapat po­kok kesesatan dan kesyirikan yang sangat banyak, sebagaimana yang telah disebutkan di atas secara global.

    Keempat : Di antara dampak negatif ilmu tenaga dalam adalah hilangnya rasa tawakal para penuntutnya kepada Alloh Ta’ala. Sebab mereka merasa telah memiliki kekebalan dan kekuatan luar biasa yang bisa merobohkan musuh dari jarak jauh, sehingga ia merasa tidak butuh pertolongan siapa pun.

    Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu hanya terjadi dengan izin Alloh, maka ia bertawakkal kepada Alloh Ta’ala dan meminta pertolongan kepa­da-Nya untuk mendapatkan kebaikan dan keselamatan serta menolak segala bentuk kejahatan dan malapetaka.

    Kelima : Di antara kaidah yang digunakan un­tuk membangkitkan tenaga dalam adalah meditasi yaitu tafakur atau semedi. Ini adalah metode yang bid’ah yang tidak ada landasanya dari al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan meditasi adalah komponen dari banyak agama, dan telah dipraktekkan sejak ja­man dahulu yang dikenal dalam bahasa Sansekerta dengan (dhyana). Meditasi dalam salah satu aliran­ Budha Mahayana dikenal dengan istilah (zen). Ak­tivitas ini merupakan usaha antara yang membawa kesadaran menuju samadi.[4]

    Intinya adalah aktivitas perenungan yang ber­usaha untuk menyatukan jiwa dengan Tuhan yang dikenal dalam dunia Tasawuf dengan istilah (Itti­haad) yakni Alloh Ta’ala bersatu dengan makhluk. Maha suci Alloh dari keyakinan yang kufur ini. Ti­dak diragukan lagi bahwa konsep dan ajaran yang seperti ini bertentangan dengan aqidah islamiyah.

    Itulah sumber pengambilan meditasi yang diajarkan oleh perguruan ilmu tenaga dalam yang berkembang dewasa ini. Hal ini akan menimbulkan dampak negatif bagi penuntutnya yang berujung kepada kebatilan, kesyirikan dan praktek kesesatan yang mistik.

    Adapun meditasi atau tafakur yang disyariatkan adalah tafakur tentang makhluk ciptaan Alloh yang merupakan tanda-tanda kebesaran Alloh Ta’ala dan keagungan-Nya. Hal ini akan memotivasi seorang untuk mengagungkan Alloh Ta’ala dan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh agama.

    Tafakur seperti ini merupakan salah satu faktor utama untuk menambah keimanan kepada Alloh Ta’ala begitu juga tafakur yang memotivasi seseorang untuk selalu introspeksi diri dan kembali kepada Alloh dengan kerendahan diri dan penuh pengagungan kepada yang Maha Kuasa.

    Keenam : Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa orang-orang yang bergabung dalam perguruan tenaga dalam adalah orang-orang yang jauh dari pemahaman yang benar terhadap hakikat Islam dan tauhid. Jika ilmu tenaga dalam itu adalah ilmu yang bermanfaat tentu orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Quran dan loyal kepada Sunnah adalah orang-orang yang akan berada dibarisan terdepan dalam mempelajarinya. Sebab agama memerintahkan kita untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat.

    KRITIKAN SECARA MENDETAIL TERHADAP ILMU TENAGA DALAM

    Pertama : Belajar ilmu tenaga dalam membuat seorang bisa menjadi sakti.

    Teknik menjadi kebal yang diajarkan di perguruan tenaga dalam adalah kesesatan dan bid’ah yang tidak pernah diajarkan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah diamalkan generasi terbaik umat ini.

    Kalau ilmu kekebalan adalah ilmu yang benar dan diperbolehkan tentu Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang terlebih dahulu mempelajari dan menggunakannya dalam peperangan. Namun Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka dalam perang Uhud dan banyak para sahabat yang gugur syahid dalam pertempuran tersebut.

    Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa kekebalan bukanlah suatu kebaikan dan kemuliaan, akan tetapi merupakan suatu kebatilan yang tidak terlepas dari peran setan dalam menyesatkan para walinya.

    Oleh karena itu telah dinukil dalam sebuah riwayat mengenai ilmu kebal yang dimiliki al-­Harits ad-Dimasyqi yang muncul di Syam pada masa pemerintahan ‘Abdul Malik bin Marwan, lalu mengaku dirinya sebagai nabi. Setan-setan telah me­lepaskan rantai-rantai yang melilit di kedua kakinya, membuat tubuhnya menjadi kebal terhadap senjata tajam, menjadikan batu marmer bertasbih saat disentuh tangannya, dan ia melihat sekelompok orang berjalan kaki dan menunggang kuda terbang di udara seraya berkata ia adalah malaikat padahal jin.

    Ketika kaum muslimin telah berhasil menang­kap al-Harits ad-Dimasygi untuk dibunuh, sese­orang menikamkan tombak ke tubuhnya, namun tidak mempan (punya ilmu kebal). Maka ‘Abdul Malik bin Marwan berkata kepada orang yang menikamnya itu : “Itu adalah karena engkau tidak menyebut Nama Alloh Ta’ala ketika menikamnya.” Maka ia pun mencoba lagi menikamnya dengan terlebih dahulu membaca bismillah dan ternyata tewaslah ia seketika. (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, 11/285)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengomen­tari riwayat di atas : “Beginilah perihal orang-orang disertai setan. Setan-setan tersebut akan mening­galkan mereka apabila dibacakan di sisi mereka apa yang mengusirnya seperti ayat kursi.”

    Kedua : Mengalahkan musuh dari jarak jauh.

    Sekiranya teknik yang seperti ini bermanfaat dan dibenarkan tentu akan dilakukan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam menghadapi mu­suh dalam peperangan dan jihad di jalan Alloh Ta’ala

    Ketiga: Latihan aplikasi jurus tenaga dalam, seorang murid diharuskan bisa emosi/marah.

    Seorang muslim juga dituntut meninggalkan segala akhlak keji dan tercela, seperti membenci, dendam, emosi/marah, dll.

    Berbeda halnya dengan ajaran perguruan tena­ga dalam, seseorang diajari bisa emosi dan marah. Hal ini tentu bertentangan dengan petunjuk nabi yang mewasiatkan seorang untuk tetap sabar dan tidak marah. Sebab emosi merupakan kunci dan sumber kejahatan, sebagaimana sabda Rosu­lulloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya seorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Engkau jangan marah.” Beliau mengulangi beberapa kali : “Jangan engkau marah.” (HR. Bukhori, no.6116).

    Imam Ibnu Rojab rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa sesungguhnya emosi/marah adalah sumber segala kejahatan dan menahan diri darinya adalah sumber segala kebaikkan.” (Jaami’ Ulum wal Hikam, 1/362).

    Di dalam hadits lain dijelaskan bahwa marah atau emosi bersumber dari setan, sebagaimana sab­da Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya marah atau emosi adalah (bersumber) dari setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air, maka apabila salah seorang kamu marah maka berwudhulah.”

    Dan dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa : “Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah.” (HR. Bukhori)

    Kemungkinan inilah rahasianya, kenapa per­guruan tenaga dalam mengajarkan bagaimana se­orang bisa emosi atau marah tatkala menyerang lawan, sebab ajaran perguruan tersebut adalah hasil dari bisikan setan. Dan dengan sifat marah setan dengan cepat akan bisa menguasai seseorang, karena ia mengalir dalam tubuh manusia bagaikan aliran darah. Dengan demikian ia akan bisa mem­pengaruhi lawan dan menguasainya berkat bantu­an khodamnya (setan).

    Hal ini diperkuat oleh pernyataan para praktisi tenaga dalam bahwa jurus akan berfungsi penuh dan sempurna jika lawan dalam keadaan emosi. Jadi bukanlah karena energi tenaga dalam musuh yang dalam keadaan emosi dapat ditaklukkan de­ngan fungsi jurus-jurus tertentu, tetapi khodam jurus itulah yang langsung merasuk ke dalam tu­buh lawannya yang dalam keadaan emosi menuju otaknya hingga lawannya bisa kita permainkan de­ngan fungsi jurus tenaga dalam/ilmu metafisika.”[5]

    Keempat : Perguruan ilmu tenaga dalam mengajaran seseorang menjadi dukun / paranormal

    Hal ini dapat dilihat dari praktiknya, di anta­ranya mereka menjadikan seseorang jatuh cinta, membuat orang sakit (santet), penyembuhan dari penyakit dengan jurus-jurus tertentu, meramal barang hilang atau makhluk halus, meramal masa lalu dan masa depan dan meramal isi hati orang.

    Semua praktik di atas dilarang oleh syari’at Islam, karena ilmu tenaga dalam adalah ajaran setan yang berusaha menggiring manusia keluar dari agama sehingga terjerumus ke dalam dosa. Akibat akhir perbuatan tersebut tidak keluar dari dua alternatif : kekufuran atau melakukan dosa besar.

    Membuat seorang jatuh cinta
    Sihir jenis ini dalam bahasa Arab diistilahkan dengan al-’athfu yaitu membuat seseorang cinta kepada orang lain. Dalam istilah lain disebut de­ngan at-tiwalah yaitu sesuatu yang dibuat untuk membuat istri cinta kepada suaminya atau seba­liknya. (Lihat Fathul Majid, hlm. 123)

    Ini adalah perbuatan syirik, sebagaimana sab­da Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya ruqyah (dengan mantera dukun), ji­mat dan tiwalah (sihir mahabbah/pelet) adalah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Daud)

    Tiwalah dihukumi sebagai syirik karena di­gunakan untuk mendatangkan kebaikan dan menolak kejahatan dengan selain Alloh Ta’ala. (Lihat Fathul Majid, hlm. 124)

    Maka apa yang diajarkan dalam ilmu tenaga dalam dengan cara-cara tertentu untuk menjadi­kan seseorang jatuh cinta atau menyukai terma­suk salah satu jenis sihir mahabbah yakni al ‘athf dan tiwalah sebagaimana yang dimaksud dalam hadits di atas.

    Ilmu santet (membuat orang sakit)
    Hal ini ada dalam dunia ilmu tenaga dalam dan ilmu metafisika dengan cara dan bentuk yang bermacam-macam. Cara ini diketahui oleh orang yang bergabung dalam perguruan ilmu tersebut. Terlepas dari cara dan media yang digunakan, tetaplah perbuatan tersebut terlarang karena bertujuan menyakiti orang lain dan tergolong ke dalam sihir yang diharamkan oleh agama.

    Imron bin Hushain berkata : “Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda Benda, burung dan lain-lain), orang yang meramal atau yang meminta diramalkan, orang yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang di katakan, maka sesungguh­nya is telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan ke­pada Muhammad‘ (HR. ath-Thobaroni dalam al­-Ausath, al-Mundziri berkata: Sanad ath-Thobaroni hasan. Diriwayatkan juga oleh al-Bazzaar, dengan sanadjayyid)

    Sihir tidaklah akan terlaksana kecuali dengan bantuan setan dan menghambakan diri kepadanya serta melakukan hal-hal yang diharamkan oleh agama.

    Penyembuhan dari berbagai penyakit fisik, psikis & ghoib
    Pada ilmu tenaga dalam diajarkan teknik pe­nyembuhan dari berbagai penyakit dengan meng­gunakan fungsi jurus-jurus tertentu. Dan tidak diragukan bahwa teknik seperti ini adalah cara yang bid’ah yang bertentangan dengan syari’at, khususnya dalam penyembuhan penyakit psikis dan yang ghoib.
    Agama memerintahkan kita untuk berobat de­ngan pengobatan yang disyari’atkan dan bersih dari unsur-unsur kesyirikan serta segala hal yang diharamkan, sebab Alloh Ta’ala tidak menjadikan ke­sembuhan umat ini dari hal-hal yang haram.

    Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “Wahai hamba Alloh, berobatlah, maka sesungguhnya Alloh tidaklah menurunkan penyakit kecuali menu­runkan bersamanya penyembuahan (obat), kecuali satu penyakit, mereka bertanya: apa itu ? Beliau menjawab : yaitu kepikunan.” (HR. Ahmad).

    Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : “Tidaklah Alloh menurunkan penyakit kecuali menu­runkan bersamanya penyembuhan (obat).”

    Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang berobat dengan yang haram, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu ad-Dardaa’, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berobatlah, dan janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud dengan sanad Hasan, 3874)

    Alloh Ta’ala telah menurunkan obat yang sangat mujarab untuk seluruh penyakit, baik fisik atau psikis, yaitu al-Qur’an. Akan tetapi banyak kaum muslimin tidak bisa menggunakan dan memanfaatkannya secara baik dengan disertai keyakinan yang benar. Alloh Ta’ala berfirman : 

    “Dan Kami telah menurunkan al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rohmat bagi orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang yang dholim selain kerugian.” (QS. al-Isro’[171]:82) 

    “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Robbmu dan penyembuh bagi penyakit-­penyakit (yang berada) dalam dada (hati) dan petunjuk serta rahmat bagi orang orang yang beriman. ” (QS. Yunus [io]: 57)

    Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata : “Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati (psikis), fisik dan penyakit­-penyakit (yang ada) di dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang ahli (bisa) dan diberi taufiq untuk bisa menggunakannya sebagai penyembu­han. Dan apabila orang yang sakit bisa melakukan pengobatan dengan baik dengan al-Qur’an dan meletakkannya pada penyakit dengan (penuh) ke­jujuran dan keimanan, penerimaan yang sempur­na, keyakinan yang putus dan melengkapi syarat­-syaratnya, maka tidak satupun penyakit yang akan bisa melawannya selama-lamanya.

    Dan bagaimana mungkin penyakit akan bisa melawan perkataan Robb (yang menciptakan) bumi dan langit yang seandainya kalau ia ditu­runkan kepada gunung-gunung tentu akan han­cur atau (diturunkan) kepada bumi tentu akan terpotong-potong. Tidak satupun dari penyakit hati (psikis) dan fisik kecuali di dalam al-Qur’an terdapat jalan (cara) untuk menemukan obat dan penyebabnya dan (cara) untuk (melakukan) pre­ventif darinya, (tentu) bagi orang yang diberi  pemahaman oleh Alloh Ta’ala tentang kitab-Nya. Adapun (resep) penyembuhan (penyakit) hati (psikis) maka al-Qur’an telah menyebutkannya secara rinci dan menyebutkan (juga) sebab-sebab penyakit dan (cara) mengobatinya. Alloh Ta’ala berfir­man : 

    “Apakah tidak cukup (bagi) mereka bahwa sesungguh­nya Kami telah menurunkan kepadamu  al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka.” (QS. al-Ankabut [291: 51)

    Maka barangsiapa yang tidak bisa disembuhkan oleh al-Qur'an maka Alloh Ta’ala tidak akan menyembuhkannya dan barangsiapa yang tidak cukup baginya al-Qur'an maka Alloh Ta’ala tidak akan mem­berikan kecukupan baginya.” (Zadul Ma'ad, 4/322)

    Penulis mengajak kita membaca dan mere­nungi perkataan Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah di atas.
    Semoga hal itu memotivasi kita untuk membaca al-Qur'an, merenungi dan memahaminya, agar ia menjadi lampu penerang kehidupan dan obat pe­nyembuh segala penyakit jiwa (psikis) dan fisik.

    Sangat disayangkan, mayoritas kaum mus­limin sekarang ini berpaling dari al-Quran, tidak membaca dan merenunginya. Mereka juga me­ninggalkan Sunnah. Akhirnya setan membisik­kan kepada mereka agar mencari alternatif selain al-Qur'an untuk mengatasi problematika kehidu­pan dan penyembuhan penyakit yang mereka ra­sakan. Caranya adalah dengan melakukan terapi­-terapi perdukunan dan teknik-teknik ilmu tenaga dalam, yang membuat mereka terperangkap ke dalam jaringan setan yang selalu berusaha meng­giring manusia kepada kesesatan dan kesyirikan, baik disadari atau tidak. Na'uzubillah min zalik.

    Meramal barang hilang atau makhluk halus
    Cara ini biasanya dilakukan oleh praktisi ilmu tenaga dalam dengan melatih indranya menjadi peka atau dengan membuat tangannya menjadi sensitif hingga bisa 'meradar' lokasi barang yang hilang atau makluk halus.[6]

    Tidak diragukan bahwa cara mendeteksi ba­rang hilang seperti ini tidak ada beda secara subtansi dengan cara perdukunan (kahanah) dan peramal (‘arrofah). Sebab termasuk mengaku me­ngetahui benda yang hilang. Sekalipun para prak­tis ilmu tenaga dalam mengingkari hal itu.

    Praktek perdukunan dan ramalan telah dilarang oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan larangan yang keras, sebagaimana dalam sabdanya : “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya 40 hari. “ (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

    Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” (HR. Abu Dawud)

    Jika ancaman orang yang mendatangi tukang ramal dan membenarkan perkataanya adalah ti­dak diterima sholatnya empat puluh hari dan kufur dengan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lan­tas bagaimana dengan orang yang mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain? Tentu ancaman dan dosanya lebih besar. 

    Ilmu tenaga dalam mempelajari teknik mengetahui masa lalu dan masa depan.
    Tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghoib yang telah lalu atau yang akan datang ke­cuali Alloh Ta’ala , sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib kecuali Alloh.” ( QS. an-Naml [271:65)

    Banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa mengetahui perkara ghoib merupakan kekhu­susan Alloh Ta’ala Bahkan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Alloh Ta’ala tidak mengetahui perkara ghoib kecuali sesuatu yang diwahyukan kepadanya. Se­andainya ia mengetahui yang ghoib tentu akan mengetahui rahasia takdir yang akan terjadi dan beliau tentu akan mengantisipasinya.

    Alloh Ta'ala berfirman: “Katakanlah : ‘Aku tidak berkuasa menarik keman­faatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kema­dhorotan kecuali yang dikehendaki Alloh. Dan seki­ranya aku mengetahui perkara yang ghoib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa kejahatan dan aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. al-A'rof [71:188)

    Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kunci perkara ghoib itu ada lima, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya melainkan Alloh Ta’ala, Tidak ada yang mengetahui (takdir) apa yang di dalam kan­dungan selain Alloh Ta’ala, tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Alloh Ta’ala tidak ada seorang pun yang mengetahui (dengan pasti) kapan hujan akan turun kecuali Alloh Ta’ala dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Alloh Ta’ala dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari ki­amat kecuali Alloh Ta’ala" (HR. Bukhori)

    Jadi tidak diragukan lagi kebohongan para praktisi dan penuntut ilmu tenaga dalam yang mengatakan bahwa mereka dengan teknik medi­tasi dan memakai ilmu clairvoyance bisa mengeta­hui masa depan dan masa lalu, hal itu tiada lain kecuali bisikan setan dan kesesatannya.

    Pada Ilmu tenaga dalam diajarkan teknik mengetahui isi hati orang lain.
    Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah salah satu bentuk perdukunan dan sihir yang diharam­kan agama, sebab isi hati orang lain merupakan perkara ghoib yang tidak seorang pun mengetahuinya kecuali Alloh Ta’ala, sebagaimana firman-Nya : 

    “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan hati." (QS. Ghofir [401:19) 

    “Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui yang tersem­bunyi di langit dan di bumi, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. Fathir [35]:34)

    Dalam sebuah hadits tentang Ibnu Shayyad seorang paranormal yang diisukan sebagai Dajjal dan bisa mengetahui perkara yang tersembunyi dan isi hati seseorang, sebagaimana yang diri­wayatkan oleh Abdulloh bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata kepadanya:

    “Saya sembunyikan sesuatu untukmu.” Ia men­jawab: “Dukh.” (potongan dari kata dukhan yaitu asap) Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pergilah dengan hina, kamu tidak akan melampaui kemampuanmu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Akan tetapi Ibnu Shayyad tidak bisa menebak apa yang disembunyikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya kata (dukh) sebagaimana kebiasaan paranormal yang mendapatkan bisikan dari setan.

    Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk dan mencelanya. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berusaha mengetahui perkara yang tersembunyi dan isi hati seseorang, tiada lain kecuali para pem­bohong yang mengikuti para Dajjal dan setan.

    Kelima : Tenaga dalam mengajarkan teknik mengisi benda hidup atau benda mati untuk berbagai keperluan

    Ini adalah tradisi jahiliyah yang tidak lepas dari sihir. Ini adalah salah satu bentuk praktek kesyirikan yang mengurangi atau bahkan mem­batalkan tauhid seseorang. Tujuan pengisian tersebut adalah untuk dijadikan jimat, pengasih­an, penjagaan, kewibawaan, dll. Praktek seperti ini dihukumi oleh Islam sebagai perbuatan syirik sebagaimana sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa menggantungkan jimat ia telah berbuat syirik.” (HR. Imam Ahmad, al-Hakim dan Abu Ya’la)

    Jika benda mati atau makhluk hidup yang telah diisi dijadikan sebagai jimat dengan keyakinan bahwa ia adalah penyebab mendatangkan kebaik­an dan menolak madhorot, maka ini adalah syirik kecil yang merupakan dosa besar. Namun, bila pelakunya menyakini bahwa benda tersebut de­ngan sendirinya mampu mendatangkan kebaikan dan menolak madhorot, maka ini adalah syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

    Sebagian guru tenaga dalam ‘mengisi’ murid­nya dengan ‘energi’nya dan ilmu-ilmu yang lain, maka ia telah membuat muridnya sebagai “jimat hidup”. Hal ini akan berdampak buruk bagi murid sebab ia akan selalu bergantung kepada diri­nya dan lupa kepada pertolongan Alloh Ta’ala atau menipis rasa tawakkalnya kepada Yang Maha Kuasa. Hal ini karena ia telah merasa memiliki jimat yang akan menyelamatkannya dari segala bahaya dan kejahatan. Ini adalah keyakinan yang syirik. Alloh Ta’ala tidak akan menyempurnakan hidup orang yang seperti ini, hidupnya tidak akan tentram dan aman sebagaimana sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam: 

    “Barangsiapa menggantungkan (memakai) jimat maka Alloh tidak akan menyempurnakannya (yakni tidak akan menjauhkannya dari musibah) dan barangsiapa menggantungkan tumbal (sejenis jimat untuk menen­teramkan perasaan) Allah tidak akan membiarkannya hidup tenteram.” (HR. Imam Ahmad) Maksudnya hanya akan mendapatkan apa yang bertentangan dengan keinginan dan tujuannya.

    Keenam : Pada ilmu tenaga dalam terdapat teknik pembentengan benda hidup atau mati dari segala bahaya, dan teknik untuk mengusir jin

    Tidak diragukan lagi, teknik ini bertentangan dengan cara yang disyari’atkan untuk menjaga diri segala kejahatan dan mengusir jin. Teknik yang diajarkan di ilmu tenaga dalam adalah salah satu bentuk praktek perdukunan dan sihir yang diharamkan agama.

    Seorang mukmin meyakini bahwa tidak se­orang pun yang bisa memadhorotkannya kecuali apa yang telah ditakdirkan Alloh Ta’ala akan menim­panya. Sehingga ia selalu meminta perlindungan dari Alloh Ta’ala dan bertawakal kepada-Nya. Sebab Dia-lah Dzat yang bisa menyelamatkannya dari bermacam bahaya. Inilah konsekuensi dari tauhid dan keimanan yang tertanam di hatinya.

    Oleh karena itu ia cukup membaca dzikir­-dzikir yang disyari’atkan untuk menghadapi bahaya untuk mengusir jin. Seperti do’a yang ajar­kan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini: 

    “Barangsiapa singgah di suatu tempat dan dia mengu­capkan : A’uudzu bi kalimaatillahi attaammaati min syarri maa khalaq’ (aku berlindung dengan kalimat­-kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya), maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia  pergi dari tempat itu” (HR. Muslim)

    Sedangkan untuk mengusir jin cukup baginya dengan membaca dzikir pagi sore terutama ayat Kursi, sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shohih yang diriwayatkan oleh Abu Hu­roiroh radhiyallahu ‘anhu bahwa setan mengajarkan do ‘a berikut : 

    “Apabila kamu hendak tidur bacalah ayat kursi, Alloh senantiasa akan menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ia telah jujur (berkata) kepadamu, sedang ia adalah pem­bohong (besar) itu adalah setan.” (HR. Bukhori)

    Demikianlah cara syar’i dalam membentengi diri dari segala bahaya dan untuk mengusir jin. Adapun teknik yang diajarkan dalam perguruan ilmu tenaga dalam adalah cara bid’ah yang diharamkan oleh agama. Landasan ilmu tenaga dalam tiada lain adalah dibisikkan setan kepada para walinya.

    Demikianlah sebagian kesesatan dan kesyirik­an yang terdapat dalam ilmu tenaga dalam dan sejenisnya. Dari pemaparan di atas kita bisa me­mahami betapa besar peranan setan dalam menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Juga dapat disimpulkan bahwa mempelajari ilmu tenaga dalam adalah haram karena tidak ber­manfaat di dunia dan di akhirat, bahkan ia merupakan cara setan dalam menjerumuskan manusia kepada pelbagai kesesatan dan kesyirikan yang bisa membuat seseorang keluar dari agama Islam.

    Mudah-mudahan kajian yang sederhana ini bermanfaat bagi penulis dan para pembaca. Penu­lis berdo’a semoga Alloh Ta’ala senantiasa menun­juki kita kepada kebenaran dan memberi kita kekuatan untuk mengikuti dan mengamalkan­nya. Semoga Alloh ‘Azza wa jalla memperlihatkan kepada kita kebatilan sebagai batil dan diberi kekuatan untuk meninggalkannya. Amiin.


    [Disalin dari Majalah Al FURQON, Edisi 10. No: 102  dan Edisi 11. No: 103, tahun ke-9 1431-H/2010-M, untuk dipublikasikankembali di ibnuabbaskendari.wordpress.com]

    Catatan Kaki:


    [1] Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_dalam
    [2] Lihat http://metafisis.wordpress.com/2009/11/22/penyimpangan-dan-kesesatan-keilmuan-tenaga-dalam
    [3] Lihat : http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_tenaga_dalam
    [4] Lihat : http://id.wikipedia.org/wiki/meditasi dan (http://id.wikipedia.org/wiki/Zen
    [5] Lihat : http://metafisika.wordpress.com/2009/11/22/penyimpangan-dan-kesesatan-keimuan-tenaga-dalam/
    [6] Lihat : http://metafisis.wordpress.com/2009/11/22/penyimpangan-dan-kesesatan-keilmuan-tenaga-dalam/)