Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Shalawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalawat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

Shalawat Nariyah Dalam Timbangan

Ustadz Abdullah Zaen. Lc, MA

KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT

Salah satu amalan istimewa dalam ajaran Islam yang dijanjikan pahala berlipat ganda adalah membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Banyak nash (dalil) dari al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi untuk memperbanyak amalan mulia ini. Di antaranya Firman Allah Ta’ala: 

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. al-Ahzab/33: 56).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam Tafsirnya[1], Allah Ta’ala memberitahukan kepada para hamba-Nya kedudukan Rasulullah di sisi-Nya di hadapan para malaikat. Allah Ta’ala memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di hadapan mereka, begitu pula mereka bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu AllahTa’ala memerintahkan para penghuni bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar berpadu pujian para penghuni langit dengan para penghuni bumi semuanya untuk beliau.”

Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bershalawatlah kalian untukku. Sesungguhnya barang siapa bershalawat untukku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali” (HR. Muslim 1/288­289 no. 384)

Dalam Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa maksud dari shalawat Allah Subhanahu wa ta'ala untuk para hamba-Nya adalah Allah merahmati mereka dan melipatgandakan pahalanya.

Dan masih banyak dalil lain yang menunjukkan keutamaan membaca shalawat untuk Nabi Karena itulah, tidak mengherankan jika dari dulu, para ulama Islam berlomba-lomba menulis buku khusus guna memaparkan keutamaan membaca shalawat. Contohnya, Fadhlush Shalat ‘ald an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Imam Isma’il bin Ishaq al-Qadhi rahimahullah (199-282 H), jala’ul Afham fi Fadhlish Shaldt wa as-Salam ‘ald Muhammadin Khairil Anam karya Imam Ibn Qayyim al-jauziyyah rahimahullah (691-751 H) dan lain-lain.[2]

IKHLAS DAN MENELADANI RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM BERSHALAWAT 

Dari keterangan di atas, nampak begitu jelas bahwa membaca shalawat merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Dan sebagaimana telah diketahui bersama, berdasarkan dalil al-Qur’an dan Sunnah serta keterangan para Ulama, bahwa setiap ibadah akan diterima di sisi Allah Ta’ala kalau memenuhi dua syarat. Yakni dijalankan secara ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Fakhruddin ar-Razy rahimahullah (544-606 H) menyimpulkan dua syarat sah ibadah tersebut dari firman Allah Ta’ala :“Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha melakukan amalan yang mengantarkan kepadanya, sementara ia jugs seorang mukmin; maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Qs. Al-Isra / 17:19).

Kata beliau rahimahullah, “Syarat pertama, mengharapkan pahala akhirat dari amalannya. jika niat ini tidak ada maka dia tidak akan memetik manfaat dari amalannya. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya” (HR. Bukhari, 1/9 no. 1- al-Fath)

Juga karena tujuan beramal adalah untuk menerangi hati dengan mengenal Allah serta mencintai-Nya. Ini tidak akan tercapai kecuali jika seseorang meniatkan amalannya guna beribadah kepada Allah dan meraih ketaatan pada-Nya.

Syarat kedua, ada dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya, “berusaha melakukan amalan yang mengantarkan kepadanya” maksudnya adalah hendaknya amalan yang diharapkan bisa mengantarkan pada akhirat itu adalah amalan yang memang bisa mewujudkan tujuan tersebut. Dan suatu amalan tidak akan dianggap demikian, kecuali jika termasuk amal ibadah dan ketaatan. Banyak orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’aladengan melakukan amalan-amalan yang batil”.[3]

Imam Ibn Katsir rahimahullah (700-774 H) mempertegas, “Agar amalan diterima, maka harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah semata dan kedua, benar sesuai syariat. Manakala suatu amalan dikerjakan secara ikhlas, namun tidak benar (sesuai syariat), maka amalan tersebut tidak diterima. Rasulullah bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak” (HR. Muslim 3/1343 no. 1718 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Begitu pula jika suatu amalan sesuai dengan syariat secara lahiriyah, namun pelakunya tidak mengikhlaskan niat untuk Allah; amalannya pun juga akan tertolak.”[4]

Karena membaca shalawat merupakan ibadah dan amal shalih, maka supaya amalan tersebut diterima oleh Allah Ta’alaharus pula terpenuhi dua syarat tersebut di atas, yakni ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ikhlas dalam bershalawat berarti :
  • Hanya mengharapkan ridha Allah Ta’aladan pahala dari-Nya.
  • Teks shalawat yang dibaca tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip ikhlas. Atau dengan kata lain, tidak bermuatan syirik dan kekufuran, semisal istighatsah kepada selain Allah Ta’ala, menisbatkan sesuatu yang merupakan hak khusus Allah kepada selain-Nya dan yang semisal. Aturan kedua ini tentunya diterapkan pada teks-teks shalawat produk manusia, bukan berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sebab, jika teks shalawat itu bersumber dari sosok yang ma’shum ,Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini di luar konteks pembicaraan kita, lantaran tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sesuatu yang berisi kesyirikan dan kekufuran.

Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bershalawat maksudnya :
  • Mencontoh shalawat yang diajarkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang paling utama.
  • Bila menggunakan susunan shalawat dari selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,disyaratkan tidak mengandung unsur kesyirikan maupun ghuluw (sanjungan yang berlebihan) kepada beliau.
  •  Bershalawat untuk beliau pada momen-momen yang beliau syariatkan.[5]
  • Memperbanyak membaca shalawat semampunya, dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala dalam QS. al-Ahzab/33:56 dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas.
Setelah pemaparan mukadimah yang berisi beberapa kaidah penting, saatnya kita memasuki inti pembahasan.

SHALAWAT NARIYYAH DALAM TIMBANGAN

Di kalangan kaum Muslimin Indonesia, amat banyak teks shalawat yang tersebar. Seperti, shalawat Fatih, shalawat Munjiyat, shalawat Thibbul Qulub, shalawat Wahidiyyah, dan tidak lupa sorotan kita ­shalawat Nariyyah. Tidak hanya mencukupkan diri dengan teks shalawat yang dikarang kalangan klasik, mereka juga mengandalkan redaksi-redaksi yang diciptakan kalangan kontemporer.

Contohnya, shalawat Wahidiyyah yang dibuat pada tahun 1963 oleh salah satu penduduk Kedunglo Bandar Lor Kediri, KH. Abdul Majid Ma’ruf.[6]

Selain itu, mereka juga sangat ‘kreatif’ dalam membuat aturan-aturan baca berbagai jenis shalawat tersebut, dari sisi jumlah bacaan, waktu pembacaan, hingga fadhilah (keutamaan) yang akan diraih oleh pembacanya. Seakan-akan itu semua ada landasannya dari syariat.

Shalawat Nariyyah merupakan salah satu shalawat yang paling masyhur di antara shalawat­-shalawat bentukan manusia. Orang-orang berlomba untuk mengamalkannya, baik dengan mengetahui maknanya, maupun tidak memahami kandungannya. Bahkan justru barangkali orang jenis kedua ini yang lebih dominan. Banyak orang serta merta mengamalkannya hanya karena diperintah tokoh panutannya, kerabat dan teman, atau tergiur dengan “fadhilah” tanpa merasa perlu untuk meneliti keabsahan shalawat tersebut, juga kandungan makna yang terkandung di dalamnya.
Sebelum mengupas lebih jauh tentang shalawat ini, yang juga terkadang dinamakan dengan Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, ada baiknya dibawakan dahulu teks lengkapnya : [7]

Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, serta berkat dirinya yang mulia hujan pun turun. Semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau


SIAPAKAH PENCIPTA SHALAWAT NARIYYAH?

Berdasarkan referensi yang ada, kami baru bisa menemukan isyarat yang menunjukkan bahwa pencipta shalawat ini adalah seorang yang bernama as-Sanusy.[8] Namun hingga saat ini kami belum bisa memastikan siapakah nama lengkapnya, sebab yang menggunakan julukan ini amat banyak dan kami belum mendapatkan keterangan yang menunjukkan as-Sanusi manakah yang menciptakan shalawat tersebut. Hanya saja, yang pasti sebutan as-Sanusi ini merupakan bentuk penisbattan kepada tarekat sufi yang banyak tersebar di daerah Maroko, tarekat as-Sanusiyyah.

BENARKAH PENGARANGNYA ADALAH SAHABAT NABI

Di sebuah situs Internet tertulis:
“Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat Nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras Nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga Syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk Nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan Syekh Nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut Sholawat Nariyah.

Suatu malam, Syekh Nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama Nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti Syekh Nariyah. Namun Nabi mengatakan tidak bisa karena Syekh Nariyah sudah minta terlebih dahulu.

Mengapa Sahabat itu ditolak Nabi? Dan justru. Syekh Nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh Syekh Nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan Nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabi-Nya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat”.[9]

Kesimpulan, pengarang Shalawat Nariyah konon seorang bernama Syekh Nariyah, dan dia. termasuk Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin masuk surga oleh beliau.
Sebagai seorang Muslim mestinya tidak begitu saja menerima apa yang disampaikan padanya, tanpa klarifikasi dan penelitian, apalagi jika berkenaan dengan permasalahan agama.
Sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu dicermati dari cerita di atas :
  1. Benarkah ada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Syekh Nariyah ?
  2. Dimanakah sumber kisah tentang Sahabat tersebut ? Dan adakah sanad (mata rantai periwayatan) nya ?
Adapun berkenaan dengan poin pertama, perlu diketahui bahwa biografi para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapatkan perhatian ekstra dari para Ulama Islam. Begitu banyak kitab yang mereka tulis untuk mengupas biografi para sahabat. Ada referensi yang ditulis untuk memaparkan biografi para sahabat beserta para Ulama sesudah mereka hingga zaman penulis, adapula referensi yang ditulis khusus untuk menceritakan biografi para sahabat saja. Diantara contoh model pertama : Hilyatul Auliya’ karya al-Hafizh Abu Nu’aim al-Asfahani (336-430 H) dan Tahdzibul Kamal karya al-Hafizh Abul Hajjaj al-Mizzi (654-742 H). Adapun contoh model kedua, seperti : a1-Isti’ab fi Ma’rifati1 Ash-hab karya al-Hafizh Ibn ‘Abdil Bar (368-463 H) dan al-Ishabatu fi Tamyizish Shahabah karya al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (773-852 H).

Setelah meneliti berbagai kitab di atas dan juga referensi biografi lainnya, yang biasa diistilahkan para Ulama dengan kutubut tarajim wa ath-thabaqat, ternyata tidak dijumpai seorang pun di antara Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Nariyah. Bahkan sepengetahuan kami, tidak ada seorang pun Ulama klasik yang memiliki nama tersebut. Lalu, dari manakah orang tersebut berasal ??

Sebenarnya, orang yang sedikit terbiasa membaca kitab Ulama, hanya dengan melihat nama tersebut beserta ‘gelar’ syaikh di depannya, akan langsung ragu bahwa orang tersebut benar-benar Sahabat Nabi. Karena penyematan ‘gelar’ syaikh di depan nama Sahabat -sepengetahuan kami- bukanlah kebiasaan para Ulama dan juga bukan istilah yang lazim mereka pakai, sehingga terasa begitu janggal di telinga.

Kesimpulannya : berdasarkan penelaahan kami, tidak ada sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Syekh Nariyah. Jadi penisbatan shalawat tersebut terhadap, Sahabat sangat perlu untuk dipertanyakan dan amat diragukan keabsahannya.

Adapun poin kedua, amat disayangkan penulis makalah di internet tersebut tidak menyebutkan sanad (mata rantai periwayatan) kisah yang ia bawakan, atau minimal mengisyaratkan rujukannya dalam menukil kisah tersebut. Andaikan ia mau menyebutkan salah satu dari dua hal di atas niscaya kita akan berusaha melacak keabsahan kisah tersebut, dengan meneliti para perawinya, atau merujuk kepada kitab aslinya. Atau barangkali kisah di atas merupakan dongeng buah pena penulis tersebut ? Jika, ya, maka kisah tersebut tidak ada nilainya; karena kisah fiksi, alias kisah yang tidak pernah terjadi !

Amat disayangkan, dalam hal yang berkaitan dengan agama, tidak sedikit kaum Muslimin sering menelan mentah-mentah suatu kisah yang ia temukan di sembarang buku dan internet, atau kisah yang diceritakan oleh tetangga, teman, guru dan kenalan, tanpa merasa perlu untuk mengcrosscek keabsahannya. Seakan-akan kisah itu mutlak benar terjadi! Padahal kenyataannya seringkali tidak demikian.

Untuk memfilter kisah-kisah palsu dan yang lainnya, Islam memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki agama lain, yaitu : Islam memiliki sanad (mata rantai periwayatan). Demikian keterangan yang disampaikan Ibn Hazm (384-456 H)[10] dalam al-Fishal dan Ibnu Taimiyyah (661-728 H).[11]
Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak (118-181 H) pernah berkata, “Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada isnad, seseorang akan bebas mengatakan apa yang dikehendakinya.”[12]

KANDUNGAN MAKNA SHALAWAT NARIYYAH

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua hajat yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, serta berkat dirinya yang mulia hujanpun turun. Semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para Sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

Bagian dari Shalawat Nariyyah yang kami cetak tebal itulah yang akan dicermati dalam tulisan singkat ini. Kalimat-kalimat tersebut mengandung penisbatan terpecahkannya semua kesulitan, dilenyapkannya segala kesusahan, ditunaikannya segala macam hajat, tercapainya segala keinginan dan husnul khatimah, kepada selain Allah Ta’ala. Dalam hal ini yang mereka maksudkan yang melakukan itu semua adalah Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penisbatan ini merupakan sebuah kekeliruan fatal, sebab bertolak-belakang dengan al-Qur’an dan Sunnah, serta bisa mengantarkan pelakunya kepada kekufuran. Pasalnya, semua perbuatan tersebut, hanya Allah Ta’ala yang berkuasa melakukannya.


Mari kits cermati nash-nash berikut :

Allah Ta’ala berfirman :  
Siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang melenyapkan kesusahan serta yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Adakah tuhan selain Alldh ? Amat sedikit kalian mengingat-Nya” (QS. an-Naml/27:62).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan bahwa hanya Dia-lah yang diseru saat terjadi kesusahan, dan Dia pula yang diharapkan pertolongan-Nya saat musibah melanda. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibnu Katsir rahimahullah [13]

Karena itulah, setelahnya Allah Ta’ala melontarkan pertanyaan dalam konteks pengingkaran, “Adakah tuhan selain Allah?”. Hal ini mengisyaratkan, wallahu a’lam, bahwa orang yang tertimpa kesulitan dan kesusahan lalu memohon pertolongan kepada selain Allah Ta’ala, seakan ia telah menjadikan dzat yang diserunya itu sebagai tuhan ‘saingan’ Allah Ta’ala. Sebab tidak ada yang sanggup mengabulkan permohonan tersebut melainkan hanya Allah Ta’ala.

Senada dengan ayat di atas, firman Allah Ta’ala berikut : 
Katakanlah, “Siapakah yang dapat menyelamatkan kalian dari bencana di darat dan di laut, yang kalian berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan suara yang lembut (dengan mengatakan), ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur’. Katakan, “Allahlah yang menyelamatkan kalian dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan. Lantas mengapa kalian kembali mempersekutukan-Nya?!”. (QS. Al An'aam: 63-64) 

“Apapun nikmat yang ada dalam diri kalian, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kalian ditimpa marabahaya, maka hanya kepada-Nya­lah (seharusnya) kalian meminta pertolongan (QS. an-Nahl/16:53)

Dan masih banyak lagi firman Allah yang semakna dengan ayat-ayat di atas, yang menegaskan bahwa segala bentuk kebaikan di dunia maupun akhirat, hanya Allah Ta’ala sajalah yang mendatangkannya. Sebagaimana pula segala bentuk keburukan di dunia ataupun akhirat, hanyalah Allah Ta’ala yang menghindarkannya dari diri kita.

Karena itulah, kita dapatkan qudwah kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencontohkan untuk selalu kembali kepada Allah  Ta’ala dalam segala urusan. Mari kita cermati sebagian dari doa yang beliau baca :

“Ya Allah, jadikanlah akhir dari seluruh urusan kami baik, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksaan akhirat” (HR. Ibnu Hibban 3/230 no. 949)

“Wahai Yang Maha hidup dan Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu-lah aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku, dan janganlah Engkau jadikanku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata” (HR. al-Hakim 1/739 no. 2051).

“Ya Allah, rahmat-Mu-lah yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau” (HR. Abu Dawud, 5/204 no. 5090 dari Abu Bakrah, dan dinilai sahib oleh Ibn Hibban (III/250 no. 970).

Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menisbatkan seluruh urusan kepada Allah Ta’ala dan memberi kita teladan agar senantiasa mengembalikan segala sesuatu hanya kepada Allah Ta’ala !. Pernahkah beliau -walaupun hanya sekali- mengajarkan kepada umatnya agar bergantung kepada beliau?! Mustahil beliau mengarahkan demikian, sebab beliau sendirilah yang berkata, “Janganlah Engkau (Ya Allah) jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan praktek tawakkal yang begitu tinggi, dimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin bergantung pada diri sendiri, walaupun itu hanya sesaat, sekedipan mata! Mengapa kita tidak meneladaninya dalam hal ini dan yang lainnya?

Cermati pula doa terakhir!. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan kalimat thayyibah LAILAHAILLALLAH yang menunjukkan -wallahua’lam- bahwa seluruh permintaan di atas adalah bentuk ibadah yang hanya boleh dipersembahkan kepada Allah Ta’ala.

Berdasarkan keterangan di atas yang menyebutkan adanya kesalahan akidah dalam shalawat Nariyah, maka tidak sepantasnya shalawat ini diamalkan oleh umat, baik dengan membaca dan menghafalkannya, apalagi sampai meyakini dan mengharapkan keutamaan darinya.

MEMBACA SHALAWAT NARIYAH BERARTI MENGAGUNGKAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Barangkali inilah argumen terakhir mereka untuk melegalkan pembacaan shalawat Nariyah dan shalawat semisal lainnya. Dengan dalih pengagungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempertahankan shalawat yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Bahkan yang lebih parah, ada sebagian mereka yang berusaha mengesankan pada orang awam, bahwa pihak yang mengkritisi shalawat Nariyah tidak mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Ini merupakan tindak pemutarbalikan fakta dan harus diluruskan.

Masalah pokok yang perlu diketahui pertama kali yaitu mengagungkan Rasulullah hukumnya wajib. Dan ini merupakan salah satu cabang keimanan yang besar. Cabang keimanan ini berbeda dengan cabang keimanan cinta kepada beliau[14], bahkan pengagungan lebih tinggi derajatnya dibanding cinta. Sebab tidak setiap, yang mencintai sesuatu ia pasti mengagungkannya. Contohnya, orang tua mencintai anaknya, namun kecintaannya hanya akan mengantarkan untuk memuliakannya dan tidak mengantarkan untuk mengagungkannya. Beda dengan kecintaan anak kepada orang tuanya, yang akan mengantarkan untuk memuliakan dan mengagungkan mereka berdua.[15]

Diantara hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang harus ditunaikan oleh umatnya adalah pemuliaan, pengagungan dan penghormatan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan harus melebihi pemuliaan, pengagungan dan penghormatan seorang anak terhadap orang tuanya atau budak terhadap majikannya. Allah Ta’ala berfirman : “Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an); mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. al-A’raf/7:157)

Tidak ada perbedaan pendapat di antara para Ulama, bahwa yang dimaksud dengan “pemuliaan” dalam ayat di atas adalah pengagungan.[16]

PENGAGUNGAN TERHADAP RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, BERTEMPAT DI HATI, LISAN DAN ANGGOTA TUBUH[17]
 
Pengagungan terhadap beliau dengan hati maksudnya adalah meyakini bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah. Keyakinan ini menyebabkan seseorang mengedepanan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kecintaannya terhadap diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia.

Keyakinan ini juga menumbuhkan rasa betapa agung dan wibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meresapi kemuliaannya, kedudukannya dan derajatnya yang tinggi.

Hati merupakan raja dari tubuh, manakala pengagungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghujam kuat dalam hati, niscaya dampaknya secara lahiriah akan nampak jelas. Lisan akan senantiasa basah dengan pujian kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan kemuliaan-kemuliaannya. Begitu pula anggota tubuh akan tunduk menjalankan segala tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam taat kepada syariat dan ajaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menunaikan segala haknya.

Adapun pengagungan terhadap beliau dengan lisan, maksudnya adalah memuji beliau, dengan pujian yang berhak untuk dimilikinya, yaitu pujian yang Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantunkan untuk beliau, tanpa mengandung unsur berlebihan atau sebaliknya. Dan di antara pujian yang paling agung adalah membaca shalawat untuk beliau.[18]

Kata al-Halimy (338-403 H), shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti pengagungan terhadap beliau di dunia, dengan mengangkat namanya, menampakkan agamanya dan mengabadikan syariatnya. Sedangkan di akhirat, maksudnya adalah permohonan agar limpahan pahala mengalir padanya, syafaat beliau tercurah untuk umatnya dan kemuliaan beliau dengan al-maqam al-mahmud terlihat jelas.[19]

Termasuk bentuk pengagungan dengan lisan yaitu beradab saat menyebut beliau dengan lisan kita. Caranya adalah dengan menggandengkan nama beliau dengan sebutan Nabi atau Rasulullah, lalu diakhiri dengan shalawat kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman : “Janganlah engkau jadikan panggilan Rasulullah di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain” (QS. an-Nur/24:63)

Karena itulah para sahabat selalu memanggil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan panggilan, “Wahai Rasulullah” atau “Wahai Nabiyullah”.

Juga hendaknya penyebutan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditutup dengan shalawat ;  “shallallahu’alaihiwasallam” bukan hanya dengan singkatan SAW atau yang semisal. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang yang pelit adalah orang yang tatkala namaku disebut di hadapannya, ia tidak bershalawat padaku. (HR. Tirmidzi, no. 3546 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu At-Tirmidzi rahimahullah menyatakan hadits ini “Hasan shahih gharib”).

Termasuk bentuk pengagungan dengan lisan pula yaitu menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keistimewaan dan mukjizatnya. Mengenalkan sunnah beliau kepada masyarakat, mengingatkan mereka terhadap kedudukan serta hak beliau mengajarkan pada mereka akhlak dan sifat mulia beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Menceritakan sejarah hidup beliau serta menjadikannya sebagai pujian, baik dengan bait-bait syair maupun bukan, namun dengan syarat tidak melampaui batas ketentuan syariat, semisal pengagungan yang berlebihan dan yang semisal.

Sedangkan pengagungan dengan anggota tubuh, berarti mengamalkan syariat beliau
meneladani sunnahnya, mengikuti perintahnya secara lahir maupun batin dan berpegang kuat dengannya. Ridha dan ikhlas dengan aturan yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa, berusaha menebarkan tuntunannya, membela sunnahnya, melawan mereka yang menentangnya serta membangun kecintaan dan kebencian di atasnya.

Menjauhi segala yang dilarang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyelisihi perintahnya dan bertaubat serta beristighfar manakala terjerumus ke dalam penyimpangan. Taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan konsekwensi keimanan kepada beliau dan keyakinan akan kebenaran yang dibawanya dari Allah. Sebab beliau tidaklah memerintahkan atau melarang dari sesuatu, melainkan dengan seizin dari Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya : “Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah” (QS. an-Nisa’/4:64).

Dan makna ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjalankan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya.[20]

Kesimpulannya adalah pengagungan yang hakiki terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersimpulkan dalam empat kalimat yaitu mempercayai berita yang bersumber dari beliau, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah dengan tata cara yang disyariatkannya.[21]

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MELARANG KITA UNTUK BERLEBIHAN DALAM MENGAGUNGKANNYA

Secara garis besar, Allah Ta’ala telah melarang kita dari sikap berlebihan dalam beragama, baik itu dalam keyakinan, ucapan maupun amalan. Sebagaimana dalam QS. an-Nisa’/4:171.

Dan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang secara khusus dari sikap berlebihan dalam memujinya. Sebagaimana dalam sabdanya, “Janganlah kalian berlebihan dalam, memujiku Sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “(Muhammad adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari (6/478 no. 3445 —al-Fath) dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu).

Dan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingkari para sahabatnya yang berlebihan dalam memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir mereka akan melampaui batas, sehingga terjerumus dalam hal yang terlarang. Juga demi menjaga kemurnian tauhid, agar tidak ternodai dengan kotoran syirik dan bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berhati-hati dalam mengantisipasi hal tersebut, bahkan sampaipun dari hal-hal yang barangkali tidak dikategorikan syirik atau bid’ah.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, (Suatu hari) ada seseorang yang berkata, “Wahai Muhammad, wahai sayyiduna (pemimpin kami), putra sayyidina, wahai orang yang terbaik di antara kami, putra orang terbaik di antara kami!”. Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Wahai para manusia, bertakwalah kalian! Jangan biarkan setan menyesatkan kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdullah; hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak suka kalian mengangkatku melebihi kedudukan yang telah Allah tentukan untukku”. (HR. Ahmad (20/23 no. 12551) dan dinilai shahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy (5/25 no. 1627) dan Ibn Hibb in (14/133 no. 6240).

Dengan keterangan di atas, insya Allah telah terlihat jelas, mana bentuk pengagungan yang terpuji dan mana bentuk pengagungan yang tercela.

Penulis tutup makalah ini dengan nasehat yang disampaikan Ibn Hajar al-Haitamy rahimahullah (909-974 H), manakala beliau menjelaskan bahwa pengagungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dengan sesuatu yang ada dalilnya dan yang diperbolehkan, jangan sampai melampaui batas tersebut.

Beliau berkata, “Wajib bagi setiap orang untuk tidak mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dengan sesuatu yang Allah izinkan bagi umatnya, yaitu sesuatu yang layak untuk jenis manusia. Sesungguhnya melampaui batas tersebut akan menjerumuskan kepada kekafiran, na’udzubillahi min dzalik. Bahkan melampaui batas sesuatu yang telah disyariatkan, pada asalnya akan mengakibatkan penyimpangan. Maka hendaknya kita mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada dalilnya.[22]

Beliau rahimahullah menambahkan, “Ada dua kewajiban yang harus dipenuhi :
Pertama, kewajiban untuk mengagungkan Nabi dan mengangkat derajatnya di atas seluruh makhluk.
Kedua, mentauhidkan Allah dan meyakini bahwa Allah Maha Esa dalam Dzat dan perbuatan-Nya atas seluruh makhluk-Nya. Barang siapa meyakini bahwa sesosok makhluk menyertai Allah dalam hal tersebut; maka ia telah berbuat syirik. Dan barang siapa merendahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah derajat (yang seharus)nya maka ia telah berbuat maksiat atau kafir.
Namun barang siapa yang mengagungkan beliau dengan berbagai jenis pengagungan dan tidak sampai menyamai sesuatu yang merupakan kekhususan Allah, maka ia telah menggapai kebenaran, dan berhasil menjaga dimensi ketuhanan serta kerasulan. Inilah ideologi yang tidak mengandung unsur ekstrim atau sebaliknya.[23]  

Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 06/ Dzulqa’dah 1431 H Oktober 2010 M
Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:

[1] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 6/457
[2] Judul buku-buku lainnya bisa dilihat, antara lain di mukadimah Syaikh Masyhur bin Hasan Salman hafizhahullah dalam tahqiq jula’ul Afham hlm. 8-29.
[3] Tafsir ar-Rdzy (20/180). Setelah menyebutkan dua syarat di atas, ar-Razy rahimahullah menyebutkan syarat ketiga, yaitu iman. Sebab iman merupakan syarat utama agar amalan membuahkan pahala. Selain Mukmin tidak akan diterima amalannya, baik dia ikhlas maupun tidak, entah sesuai syariat maupun tidak. Karena ia belum mau memeluk agama, yang segala amalan tidak akan diterima melainkan dari pemeluk agama tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Barangsiapa mencari agama selain Islam; maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran/3:85). Karena begitu gamblangnya permasalahan ini, banyak di antara para ulama yang tidak menyebutkan syarat iman ini, sebab hal itu sudah sangat jelas dan tidak Samar.
[4] Tafsir Ibn Katsir (1/385).
[5] Dalam kitabnya Jala’ul Afham (hlm. 380-520), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada empat puluh satu momen disyariatkannya membaca shalawat kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[6] Lihat : Atsar ash-shalawat al-Wdhidiyyah fi AkhlaqThullabMa’had at-Tahdib Ngoro Jombang ‘Am: 2004, skripsi Institut Studi Islam Darussalam Gontor, yang disusun oleh Ahmad Luthfi Ridha (hlm. a).
[7] Tuntunan Ziarah Wali Songo karya Abdul Muhaimin (hlm. 144).
[8] Rahasia Keutamaan dan Keistimewaan Sholawat karya Nur Muham­mad Khadafi, dinukil dari Atsdr ash-Shalawat al-Wdhidiyyah hlm. 21
[10] Lihat, al-Fishal fi Al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal (2/221).
[11] Lihat, Majmu’ al-Fatawal (1/9).
[12] Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah Shahihnya (1/15).
[13] Lihat Tafsir ibn Katsir (6/203)
[14] Lihat, al-Minhdjfl Syu’ab al-Iman karya al-Halimy (11/124) dan al-jfimi’li Syu’ab al-Imdn karya al-Baihaqy (111/95).
[15] Lihat, al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman (II/124).
[16] Lihat, Ibid (11/125).
[17] Diringkas dari Huqaqun Nabi shallallahu’alaihiwasallam ‘aid Uin-matihfl Dhau’i al-Kitfib wa as-Sunnah, karya Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimy (11/466-478).
[18] Di awal tulisan ini, kami telah bawakan beberapa dalil dari al-Qur’an dan Sunnah tentang disyariatkannya membaca shalawat.
[19] Lihat, al-Minhdjfl Syu’ab al-Imfin (2/134).
[20] An-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin karya KH. Muhammad Hasyim Asyari (hlm. 5-6).
[21] Lihat: Ar-Radd ‘ald al-Akhnd’iy karya Syaikhul Islam Ibn Taimi­yyah rahimahullah (hlm. 18) clan al-UsHl ats-Tsaldtsah wa Adillatuhd Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (hlm. 23).
[22] A1-Jauhar al-Munazham fi Ziarah Qabr an-Nabi shallallahu’alaihiwasallam wa Karram (hlm. 64) dinukil dari Ara’ Ibn Hajar al-Haitami al-Ftiqadiyyah ‘Ardh wa TaqwFm ft Dhau’I ‘Aqfdah as-Salaf karya Muhammad bin Abdul Aziz asy-Syayi rahimahullah (hlm. 450).
[23] A1-jauhar al-Miinazham (hlm. 13) dinukil dari Ara’ Ibn Hajar al-Haitami al-Ftiqfidiyyah.

Sumber: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/10/12/shalawat-nariyah-dalam-timbangan/

Jumat, 15 Juni 2012

40 Waktu Mustajab Untuk Bershalawat

Dari Abdurrahman bin Samurah bin Jubaib berkata:

Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam pernah keluar ke tengah kami, sementara kami sedang berkumpul di serambi masjid di Madinah, lalu beliau sambil berdiri bersabda: Tadi malam, aku bermimpi melihat suatu yang menakjubkan. Aku melihat seseorang dari umatku didatangi malaikat maut untuk dicabut nyawanya, maka datanglah amalannya birrul walidain, akhirnya malaikat maut menundanya. Aku melihat seseorang dari umatku telah siap untuk disiksa di alam kuburnya, maka datanglah wudhunya akhirnya wudhunya menyelamatkannya dari adzab kubur. Aku melihat seseorang dari umatku telah dikepung oleh setan-setan maka datanglah dzikirnya, maka dzikirnyapun mengusir setan-setan itu darinya. Aku melihat seseorang dari umatku telah dihadang oleh malaikat adzab, maka datanglah shalatnya, akhirnya shalatnyapun menyelamatkannya dari mereka. Aku melihat seseorang dari umatku sangat kehausan ketika mendekati telaga, tetapi ia dihalangi dan diusir, maka datanglah puasanya pada bulan ramadhan, akhirnya diberi minum hingga puas.

Aku melihat seseorang dari umatku, dan aku melihat para nabi sedang duduk melingkar, ketika orang tersebut hendak mendekati halaqoh itu diusirnya, ketika amaliyah mandi junudnya datang, maka tangannya ditarik dan didudukkan disampingku. Aku melihat seseorang dari umatku dari arah depannya gelap, dari arah belakangnya gelap, dari arah kanannya gelap, dari arah atasnya gelap, dari arah kirinya gelap, dan dari arah bawahnya gelap, ketika itu ia dalam keadaan bingung di tempat tersebut, maka datanglah haji dan umrahnya, akhirnya ia dikeluarkan dari kegelapan itu, kemudian dimasukkan ke dalam suatu cahaya.

Aku melihat seseorang dari umatku menangkis dengan tangannya semburan dan jilatan api neraka, maka datanglah shadakohnya, akhirnya shadakohnya menjadi penangkis antara dia dengan api tersebut, dan menaungi kepalanya. Aku melihat seseorang dari umatku berbicara dengan orang-orang beriman, tetapi mereka tidak mau mengajaknya bicara, maka datanglah amalan silaturrahimnya berkata: Wahai kaum muslimin, sungguh dia senang menyambung silaturrahmi, maka ajaklah dia bicara, akhirnya kaum mukminin mau mengajaknya bicara dan mengajaknya berjabat tangan, serta iapun berjabat tangan dengan mereka.

Aku melihat seseorang dari umatku, telah disatroni malaikat zabaniyah, maka datanglah amalannya amar ma’ruf dan nahi munkar akhirnya ia selamat dari mereka lalu dimasukkan bersama malaikat rahmah. Aku melihat seseorang dari umatku tertunduk diatas lututnya, sedangkan diantara dia dengan Allah ada hijab penghalang, maka datanglah akhaknya yang mulia, akhirnya ditarik tangannya lalu dimasukkan ke hadapan Allah Azza wa Jalla. Aku melihat seseorang dari umatku telah menerima catatan amal dengan tangan kirinya, lalu datang rasa takutnya kepada Allah Azza wa Jalla, akhirnya catatan amalnya ditarik kembali, kemudian diletakkan ditangan kanannya.

Aku melihat seseorang dari umatku, timbangan amal baiknya sangat ringan, maka datanglah anak-anaknya yang mati pada saat bayi, akhirnya timbangan amal kebaikan menjadi berat. Aku melihat seseorang dari umatku berdiri di tepi jurang neraka Jahannam, maka datanglah harapannya kepada Allah, akhirnya amalan itu menyelamatkannya. Aku melihat seseorang dari umatku telah terpelanting ke dalam api neraka, maka datanglah tetesan air matanya yang menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, akhirnya amalan itu menyelamatkannya darinya.

Aku melihat seseorang dari umatku berdiri diatas titian yang sedang goncang seperti goncangnya pelepah korma ketika diterpa angin kencang, maka datanglah baik sangkanya dia kepada Allah Azza wa Jalla, akhirnya amalan itu menenangkan goncangannya lalu ia selamat. Aku melihat seseorang dari umatku gemetar diatas titian, terkadang merangkak dan terkadang gelantungan, maka datanglah shalawatnya kepadaku, akhirnya aku tegakkan hingga berdiri tegak diatas kakinya hingga selamat. Aku melihat seseorang dari umatku sampai di depan pintu surga, ia mendapati semua pintu telah tertutup, maka datanglah syahadah La Ilaha Illallah, akhirnya dibukakan untuknya semua pintu lalu ia masuk ke dalam surga.

(Dikeluarkan Abu Musa al-Madini dalam kitab at-Targhib Fil Khishal al-Munziyah wat Tarhib min Khulalil Murdiyah dan beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan sekali, Imam al-Haitsami dalam Majma Zawaid, dan diturunkan Imam as-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Kabir yang disandarkan kepada Hukain at-Tirmidzi serta Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jamul al-Kabir, 25/ 281-282. no: 39. dan Imam al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid, 7/ 371-372. no: 11745).

Ibnu Qayyim dalam kitab al-Wabil as-Shayib berkata: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sangat mengagungkan hadits ini dan beliau mengatakan bahwa syawahidnya hadits ini sangat jelas.
Ibnu Qayyim berkata: Sebaiknya setiap muslim menghafal hadits ini.

Empat Puluh Waktu Mustajab Untuk Bershalawat
  1. Pada saat akhir tasyahhud akhir. Kaum muslimin sepakat bahwa membaca shalawat pada tasyahhud akhir sangat dianjurkan, berdasarkan hadits sangat banyak sekali.
  2. Pada saat akhir tasyahhud awal, demikian itu pendapat imam asy-Syafi’i berdasarkan hadits Ibnu Umar. Sementara Abu Hanifah, Malik dan Ahmad membawa hadits itu pada tasyahhud akhir.
  3. Pada saat akhir qunut witir, berdasarkan hadits dari Hasan berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam mengajariku doa qunut dalam shalat witir, Allahumma Ihdina…. Maka pada akhir doa terdapat “Washallallahu Alannabi seperti yang telah dikeluarkan Imam Nasa’i.
  4. Pada saat shalat jenazah, dari seorang shahabat Nabi berkata bahwa termasuk sunnah dalam shalat jenazah…… pada akhir hadits berbunyi “kemudian bershalawat kepada Nabi, seperti yang keluarkan Imam asy-Syafi’i.
  5. Pada saat khutbah jum’at dan ceramah umum, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib, Ibnu Mas’ud, dan Amr bin Ash, mereka selalu membaca shalawat setelah membaca hamdalah pada saat berkhutbah, seperti yang telah dikeluarkan ad-Daruquthni dan Abdullah bin Ahmad.
  6. Setelah Adzan dan Iqamah, dari Abdullah bin Amr bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Jika kamu mendengar muadzin sedang adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin kemudian bershalawatlah atasku, seperti yang telah dikeluarkan Imam Muslim dalam shahihnya.
  7. Pada saat berdoa, berdasarkan hadits dari Umar berkata: Doa tertahan hingga kamu membaca shalawat atas Nabi, seperti yang telah dikeluarkan Imam at-Tirmidzi dalam sunannya.
  8. Pada saat masuk masjid, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Jika kamu masuk ke masjid, maka ucapkan salam dan shalawat atas Nabi.
  9. Pada saat berada di bukit Shafa dan Marwa, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar bahwa beliau ketika berada di Shafa bertakbir kemudian membaca “La Ilaha Illallah Wahdahu La Syarikalah… kemudian bersholawat kepada Nabi, seperti yang dikeluarkan Ismail. Begitu juga hadits yang diriwayatkan dari Umar sepadan dengan itu yang telah dikeluarkan Abu Dzar al-Harawi.
  10. Dari Aisyah hiasilah majlismu dengan membaca shalawat kepada Nabi, sebagaimana yang telah dikeluarkan Abdullah bin Idris al-Audi dan dari Abu Umamah dan yang lainnya “Tidaklah seseorang duduk di majlis kemudian tidak membaca shalawat…” seperti yang dikeluarkan Ibnu Hibban dan al-Hakim.
  11. Pada saat nama Nabi disebut, maka dianjurkan bershalawat, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa bersabda: Celakalah orang yang namaku disebut disisinya tidak membaca shalawat kepadaku, seperti yang dikeluarkan Imam al-Hakim dan beliau menshahihkan. Dan Imam at-Tirmidzi beliau juga menghasankan.
  12. Setelah selesai membaca talbiah, berdasarkan hadits dari Qasim bin Muhammad berkata: Dianjurkan bagi seseorang setelah membaca talbiyah agar membaca shalawat Nabi. Dikeluarkan ad-Daruquthni.
  13. Pada saat mencium hajar aswad, seperti atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Umar beliau ketika mencium hajar aswad membaca shalawat.
  14. Pada saat hendak pergi ke pasar, berdasarkan atsar dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau ketika hendak keluar ke pasar membaca shalawat lalu berdoa dengan beberapa doa, seperti yang telah dikeluarkan Ibnu Abu Hazim.
  15. Ketika sedang berada pada jamuan makanan, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ub bahwa beliau melakukan hal itu, seperti yang dikeluarkan Ibnu Abu Hazim.
  16. Pada saat bangun dari tidur malam, berdasarkan atsar dari Ibnu Mas’ud bahwa Allah tertawa kepada seorang hamba yang bangun malam membaca shalawat, seperti yang dikeluarkan Imam an-Nasa’i dalam al-Kubra.
  17. Pada saat khataman al-Qur’an. Imam Mujahid berkata bahwa pada saat khataman al-Qur’an turun rahmah. Dan Ibnu Mas’ud berkata: Barangsiapa yang menghatamkan, maka pada saat itu doa mastajab. Ibnu Qayyim berkata: Jika pada saat khataman al-Qur’an waktu paling mustajab untuk berdoa, maka pada saat itu juga waktu yang paling tepat untuk membaca shalawat kepada Nabi.
  18. Pada hari jum’at berdasarkan hadits Abu Umamah al-Bahili yang telah dikeluarkan Imam al-Baihaqi.
  19. Ketika bangkit dari majlis, berdasarkan hadits dari Sufyan bin Said bahwa beliau ketika hendak bangkit dari majlis membaca shalawat kepada Nabi dan kepada para nabi serta para malaikat, seperti yang telah dikeluarkan Ibnu Abu Hatim.
  20. Ketika melewati sebuah masjid, berdasarkan hadits dari Ali bahwa beliau berkata: Jika di antara kalian melewati sebuah masjid maka hendaklah membaca shalawat kepada Nabi, seperti yang dikeluarkan al-Qadhi Ismail.
  21. Pada saat tertimpa kegelisahan dan kekalutan, berdasarkan hadits dari Ubai bin Ka’ab yang telah dikeluarkan Ibnu Abu Syaibah.
  22. Pada saat menulis nama beliau yang berkah, berdasarkan atsar dari Abu Hurairah secara marfu’ yang telah dikeluarkan Abu Syaikh. Dan juga dari Abu Bakar, Aisyah, dan Ibnu Abbas.
  23. Pada saat menyampaikan ilmu, nasehat dan pelajaran, berdasarkan surat Umar bin Abdul Aziz kepada sebagian gubenurnya yang telah dikeluarkan Ismail al-Qadhi.
  24. Pada awal siang dan akhirnya, berdasarkan hadits dari Abu Darda’ yang telah dikeluarkan Imam at-Thabrani.
  25. Pada saat habis melakukan dosa dan ingin bertaubat, berdasarkan hadits dari Anas bin Malik dengan status marfu’.
  26. Pada saat sedang dalam keadaan miskin dan terjepit, berdasarkan hadits dari Samurah yang dikeluarkan Abu Nuaim.
  27. Pada saat hendak khutbah nikah, berdasarkan atsar dari Ibnu Abbas secara mauquf yang telah dikeluarkan Ibnu Abu Ziyad.
  28. Pada saat setelah berwudhu, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan Abu Syaikh dari Ibnu Mas’ud secara marfu’.
  29. Pada saat masuk ke rumah, berdasarkan hadits Sahl bin Saad berkata bahwa seseorang datang kepada Nabi……. Telah dikeluarkan Abu Musa al-Madini.
  30. Di tempat-tempat berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam  bahwa Allah memiliki malaikat berkelana …… seperti yang telah dikeluarkan Abu Said al-Qashi dan aslinya ada dalam shahih Muslim.
  31. Pada saat terlupa akan sesuatu, berdasarkan hadits dari Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam  bersabda: Jika kamu terlupa dari sesuatu maka bacalah shalawat kepada Nabi. Sebagaimana yang telah dikeluarkan Abu Musa al-Madini.
  32. Pada saat sedang tertindih hajat kebutuhan mendesak, berdasarkan hadits dari Jabir secara marfu’ yang telah dikeluarkan Ahmad bin Musa.
  33. Pada saat telinga sedang mendengung, berdasarkan hadits Abu Rafi’ secara marfu’ dengan sanad yang lemah, seperti yang telah dikeluarkan Ibnu Khuzaimah.
  34. Pada saat habis membaca shalawat, berdasarkan hadits dari Abu Bakar bin Mujahid bahwa beliau melihat Nabi dalam mimpi, mencium di antara kedua matanya. Maka aku katakan: Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini kepadaku? Karena engkau membaca shalawat setelahnya. Allah berfirman: Telah datang kepadamu seorang utusan…. Setelah itu ia membaca shalawat kepadaku. Dikeluarkan Abu Musa al-Madini.
  35. Pada saat selesai menyembelih hewan, Imam Syafi’i menganjurkan, sedangkan Abu Hanifah menyatakan makruh. Imam Syafi’i berhujjah dengan atsar yang diriwayatkan Imam al-Khallal dari Muadz bin Jabal secara marfu bahwa dianjurkan membaca shalawat ketika bersin dan menyembelih hewan, namun dalam sanadnya terdapat maqal seperti yang telah dikeluarkan Ibnu Asakir.
  36. Pada saat mendengar Nabi disebut dalam shalat, berdasarkan atsar dari Hasan bahwa ketika menemui ayat yang menyebut Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, bila pada saat shalat Nafilah maka hendaklah berhenti sejenak untuk membaca shalawat kepada Nabi, seperti yang dikeluarkan Ismail.
  37. Membaca shalawat bisa menjadi ganti shodaqoh bagi orang yang tidak memiliki harta, berdasarkan atsar yang diriwayatkan Ibnu Wahb dan Abu Said secara marfu’ yang dikeluarkan Abu Syaikh dengan sanad yang lemah.
  38. Pada saat berbicara tentang kebaikan, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah secara marfu’, terutama ketika berbicara tentang hadits, seperti yang dikeluarkan Abu Musa al-Madini
  39. Pada saat hendak tidur, berdasarkan atsar dari Abu Qarshafah secara marfu yang dikeluarkan Abu Syaikh, ad-Dailami, dan ad-Diya’ dengan sanad yang lemah.
  40. Pada saat takbir idul fitri dan idul adha, berdasarkan atsar dari Alqamah bahwa Ibnu Mas’ud, Abu Musa, dan Khudzaifah Radiallahu Anhum, pernah Walid bin Uqbah keluar sebelum Id sehari berkata kepada mereka: Sesungguhnya hari raya idul fitri sudah dekat, bagaimana cara bertakbir pada hari Id. Abdullah bin Mas’ud berkata: Hendaknya engkau memulai bertakbir dengan membaca takbir dan shalawat serta memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi. Hudzaifah dan Abu Musa al-Asy’ari berkata: Benar pada yang dikatakan Abu Abdurrahman. Dikeluarkan Ismail.
_______________

Sumber: Artikel Buka Hati Menuntut Ilmu

Hukum Menggunakan Lafadz "Sayyidina " Muhammad

Pertanyaan Ketiga dari Fatawa no. 4276 

Soal : Bolehkan kita mengatakan dalam sanjungan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sayyidina Muhammad’ dalam shalawat yang ma’tsur sebagaimana shalawat Ibrahimiyyah atau selainnya?

ج3: الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في التشهد لم يرد فيها - فيما نعلم - كلمة سيدنا أي: (اللهم صل على سيدنا محمد ..إلخ) وهكذا صفة الأذان والإقامة فلا يقال فيها سيدنا، لعدم ورود ذلك في الأحاديث الصحيحة التي علم فيها النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه كيفية الصلاة عليه وكيفية الأذان والإقامة، ولأن العبادات توقيفية فلا يزاد فيها ما لم يشرعه الله سبحانه وتعالى، أما الإتيان بها في غير ذلك فلا بأس، لقوله صلى الله عليه وسلم: أخرجه أحمد 1 / 5، 281، 295، 3 / 2، 144، ومسلم 4 / 1782 برقم (2278)، وأبو داود 5 / 54 برقم (4673) والترمذي 4 / 622، 5 / 587 برقم (2434، 3615 ) وابن ماجه 2 / 1440 برقم (4308) . أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر

Jawab :
Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, sepengetahuan kami tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad ...’. Begitu juga pada do’a sesudah adzan dan iqomah tidak terdapat pula kalimat sayyidina. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima, pen) yang menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau atau pun adzan dan iqomah. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan, pen). Tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun menggunakan lafadz sayyidina selain tempat-tempat tadi (selain tasyahud dan doa sesudah adzan) maka tidaklah mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر
“Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عضو ... عضو ... الرئيس عبد الله بن قعود ... عبد الله بن غديان ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Muhammad Abduh Tuasikal

40 Manfaat dan Keajaiban Shalawat

Manfaat dan Keajaiban Membawa Shalawat
  1. Membaca shalawat sebagai bentuk realisasi ketaatan kepada perintah Allah Ta’ala.
  2. Mencontoh Allah dalam membaca shalawat.
  3. mencontoh para malaikat-Nya.
  4. Mendapat balasan sepuluh rahmah dari Allah setiap membaca sekali shalawat.
  5. Diangkat sepuluh derajat karena membaca sekali shalawat.
  6. Ditulis sepuluh kebaikan bagi yang membaca sekali shalawat.
  7. Dihapus sepuluh keburukan bagi yang membaca sekali shalawat.
  8. Menjadi sebab utama dikabulkan doa.
  9. Menjadi sebab meraih syafaat Nabi.
  10. Mendapat pengampunan dari Allah.
  11. Allah akan mencukupi hidupnya dari berbagai macam keluh kesah.
  12. Sebagai sebab dekatnya seorang hamba dengan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam nanti pada hari kiamat.
  13. Shalawat bisa mengganti dan menduduki ibadah shadaqoh.
  14. Menjadi sebab terpenuhi berbagai macam hajat kebutuhan.
  15. Meraih shalawatnya Allah dan shalawatnya para malaikat atasnya.
  16. Menjadi sebab seseorang meraih kesucian dan kemuliaan.
  17. Orang yang gemar membaca shalawat akan mendapat kabar gembira sebelum matinya.
  18. Akan meraih keamanan dan keselamatan dari rintangan hari kiamat.
  19. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam akan menjawab shalawat dan salam kepada orang-orang yang membaca shalawat dan salam kepadanya.
  20. Bisa membantu seorang hamba mengingatkan sesuatu yang terlupa.
  21. Menjadi sebab berkahnya suatu majlis agar tidak kembali pulang dalam keadaan merugi dan cacat.
  22. Membaca shalawat mampu mengusir dan melenyapkan kemiskinan.
  23. Membaca shalawat mampu menghilangkan penyakit bakhil dari seorang hamba.
  24. Menjadi selamatnya seorang hamba dari doanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam yang buruk, karena beliau mendoakan celaka bagi yang mendengar nama disebut tidak membaca shalawat.
  25. Membaca shalawat menjadi jalan menuju sorga.
  26. Selamat dari busuknya majlis karena membaca shalawat.
  27. Membaca shalawat menjadi penyempurna bagi pembicaraan pada saat berkhutbah.
  28. Menjadi sebab sempurnanya cahaya seorang hamba pada saat meniti titian.
  29. Membaca shalawat akan mengeluarkan seseorang dari sifat kasar dan keras kepala.
  30. Menjadi sebab langgengnya pujian Allah atasnya.
  31. Mendatangkan keberkahan kepada orang yang membaca shalawat.
  32. Orang yang membaca shalawat akan meraih rahmat dari Allah.
  33. Sebagai bukti cinta Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam secara abadi.
  34. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam akan selalu mencintai orang yang membaca shalawat.
  35. Menjadi sebab seorang hamba meraih hidayah.
  36. Nama orang yang membaca shalawat akan disampaikan kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam
  37. Menjadi sebab teguhnya kaki pada saat meniti titian.
  38. Dengan membaca shalawat berarti seseorang telah menunaikan haknya Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam atasnya.
  39. Mengandung dzikir dan syukur kepada Allah.
  40. Shalawat adalah doa karena dengan membaca shalawat berarti telah memuji khalilullah dan kekasih-Nya. Dengan itu berarti telah mendoakan baik untuknya.
______________

(Di salin dari kitab yang ditulis Abu Muhammad Abdul Haq al-Hasyimi)
Sumber: Artikel Buka Hati Menuntut Ilmu


Hadits Tentang Keajaiban Membaca Shalawat

Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Imam para utusan, penutup para nabi, diutus pembawa rahmat bagi alam semesta, panglima bagi orang-orang yang memiliki muka bercahaya, pemberi syafaat bagi orang-orang yang berdosa, dan pemilik bendara pujian pada hari pembalasan. Semoga shalawat juga tercurah atas keluarganya yang bersih dan para shahabatnya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {56}

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. 33:56)

Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku sekali maka Allah akan membalasnya sepuluh kali.

Pelayan kedua wahyu, penggemar dua tanah suci, dan pecinta utusan Allah bagi bangsa jin dan manusia berkata, “risalah ini saya himpun untuk menjelaskan tentang keajaiban membawa shalawat kepada penghulu anak Adam. Saya himpun sebagai hadiah bagi para pembawa shalawat Nabi. Saya menurunkan delapan puluh hadits tentang shalawat yang saya sertakan rujukan dan faedahnya, yang saya ringkas dari kitab “Jalaul Afham” karya Ibnu Qayyim, dan saya menambahi isinya kemudian saya beri judul “al-Arbainin Fis Shalah ala Ibnu Dzabihain”. Saya memohon kepada agar menjadikan tulisan ini sebagai perantara untuk meraih syafaat dan penjamin selamat.

Ditulis oleh: Abu Muhammad Abdul Haq al-Hasyimi 1363 H

1. Dari Abu Bakar as-Shiddiq berkata bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda:

من صلي علي كنت شفيعه يوم القيامة

Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka aku akan memberinya syafaat pada hari kiamat. (Hadits riwayat Ibnu Syahiin dalam at-Targhib dan Ibnu Basykawal).

2. Dari Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda:

من صلى عليك واحدة صلى الله عليه وسلم عشرا ورفع له عشر درجات  

Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali shalawat, maka Allah akan membalas sepuluh kali shalawat dan mengangkatnya sepuluh derajat. (Dikeluarkan Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Abu Syaibah, al-Bazzar, Ibnu Syahiin dan al-Ismaili dengan sanad ma’lul).[1]

3. Dari Ali bin Abu Thalib berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda:

"البخيل الذي من ذكرت عنده فلم يصل علي".

Manusia bakhil adalah orang yang disebut namaku di sisinya, tetapi tidak membaca shalawat kepadaku. (Dikeluarkan Imam at-Tirmidzi dan beliau berkata bahwa hadits hasan shahih. Dan juga dikeluarkan Imam Nasa’i, Ibnu Hibban dal al-Hakim).

4. Dari Ali bin Abu Thalib[2] berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda:

"من سره أن يكتالَ بالمكيالِ الأوفى إذا صلَّى علينا أهل البيت فليقل: اللهم صلِّ على محمدٍ النبيِّ الأمي وأزواجه أمهات المؤمنين وذريته وأهل بيته، كما صليت على آل إبراهيم؛ إنك حميدٌ مجيدٌ".

Barangsiapa yang ingin mendapat balasan dengan takaran yang penuh ketika membaca shalawat kepada kami, ahli bait, maka hendaknya membaca: Allahumma Shalli Ala Muhammad an-Nabi al-Ummi, Wa Azwajihi Ummahatil Mukminin Wa Dzurriatihi Wa Ahli Baitihi, Kama Shallaita Ala Ali Ibrahim, Innaka Hamidun Majid (Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, seorang nabi yang ummi, kepada isteri-isterinya sebagai ibunda kaum mukminin, anak cucunya dan keluarganya sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. (Dikeluarkan Imam an-Nasa’i)[3]

5. Hadits Dari Abu Mas’ud.

عن أبي مسعود الأنصاري أنه قال: أتانا رسول اللّه صلى الله عليه وسلم في مجلس سعد بن عبادة فقال له بشير بن سعد: أمرنا اللّه أن نصلي عليك يارسول اللّه، فكيف نصلي عليك؟ فسكت رسول اللّه صلى الله عليه وسلم حتى تمنينا أنه لم يسأله، ثم قال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم "قولوا: اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمدٍ، كما صليت على آل إبراهيم؛ ٌ و بارك على محمدٍ وعلى آل محمدٍ، كما باركت على آل إبراهيم؛ في العالمين إنك حميدٌ مجيدٌ". والسلام كما قد علمتم

Dari Abu Mas’ud berkata: Pernah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda hadir ditengah kami sementara kami sedang berada di majlisnya Sa’ad bin Ubadah. Maka Basyir bin Sa’ad bertanya kepada beliau: Allah telah memerintahkan kepada kami bershalawat kepadamu, bagaimanakah cara bershalawat kepadamu. Abu Mas’ud berkata: Maka Rasulullah diam, sehingga kami ingin kalau sekiranya ia (Basyir bin Saad) tidak bertanya kepada beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda: Ucapkanlah Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa ‘Ala Ali Muhammad, Kama Shallaita Ala Ali Ibrahim, Wa Bararik Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad Kama Barakta Ala Ali Ibrahim Fil Aalamina Innaka Hamidun Majid. (Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim atas sekalian semesta alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia). Adapun salam sebagaimana yang kalian ketahui. ( Dikeluarkan Ahmad, Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim).

6. Dari Ibnu Abu Laila berkata bahwa Ka’ab bin Ujrah berkata: Maukah kami aku beri suatu hadiah? Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda telah hadir di tengah kami, maka kami bertanya: Kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana membaca shalawat kepadamu. Beliau bersabda: Ucapkanlah

"اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمدٍ، كما صليت على آل إبراهيم؛ إنك حميدٌ مجيدٌ، اللهمَّ بارك على محمدٍ وعلى آل محمدٍ، كما باركت على آل إبراهيم؛ إنك حميدٌ مجيدٌ".

 Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa ‘Ala Ali Muhammad, Kama Shallaita Ala Ali Ibrahim Innaka Hamidun Majid, Allahumma Bararik Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad Kama Barakta Ala Ali Ibrahim Innaka Hamidun Majid.(Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maka Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.  (Dikeluarkan Bukhari dan Muslim serta Abu Daud)

7. Dari Ibnu Abu Laila berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda: Hadirlah kalian. Maka kamipun hadir. Ketika naik mimbar pada tangga pertama beliau mengucapkan ‘Amin’, kemudian naik mimbar pada tangga kedua beliau mengucapkan ‘Amin’. Kemudian naik mimbar pada tangga ketiga beliau juga mengucapkan ‘Amin’. Setelah usai khutbah, beliau turun dari mimbar, maka kami bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah kami mendengar darimu sesuatu yang belum pernah kami dengar darimu sebelumnya. Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda: Sesungguhnya Jibril datang kepadaku lalu berkata: Semoga semakin jauh dari Allah, orang yang menemui Ramadhan namun tidak diampuni dosanya. Maka aku katakan Amin. Ketika aku naik mimbar pada tangga kedua, Jibril berkata: Semoga semakin jauh dari Allah, orang yang namamu disebut namun dia tidak membaca shalawat kepadamu, maka aku katakan Amin. Ketika aku naik mimbar pada tangga ketiga, Jibril berkata: Semoga semakin jauh dari Allah, orang yang menemui kedua orang tuanya dalam keadaan tua renta, atau salah satunya, namun dia tidak masuk surga. Maka aku katakan Amin. ( Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim dan beliau berkata: Sanadnya shahih).

8.  Dari Abu Humaid as-Sa’idi bahwa mereka berkata: Wahai Rasulullah bagaimana kami membaca shalawat kepadamu, maka Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda: Ucapkanlah:

"اللهم صلِّ على محمدٍ وأزواجه وذريته، كما صليت على آل إبراهيم، وبارك على محمدٍ وأزواجه وذريته، كما باركت على آل إبراهيم؛ إنك حميدٌ مجيدٌ".

 Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa Azwaajihi Wa Dzurriyatihi, Kama Shallaita Ala Ali Ibrahim, Wa Barik Ala Muhammad Wa Azwaajihi Wa Dzurriyatihi, Kama Barakta Ala Ali Ibrahim Innaka Hamidun Majid. (Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, isteri-isterinya dan anak-anak cucunya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad, isteri-isterinya dan anak-anak cucunya, sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.  (Dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim).
        
9. Abu Usaid berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda: Jika diantara kamu masuk masjid maka ucapkanlah shalawat dan salam kepada nabi dan bacalah:

اللهم صلي علي محمد اللَّهمَّ افتح لي أبواب رحمتك، فإِذا خرج فليقل: اللَّهمَّ إنِّي أسألك من فضلك".

“Allahumma Shalli Ala Muhammad, Allahumma Iftah Li Abwaaba Rahmatik, ( Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, ya Allah bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu) dan jika keluar dari Masjid, hendaklah ia ucapkan “Allahumma Inni As’aluka Min Fadzlik. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu) (Dikeluarkan Imam Muslim dan Abu Daud secara ringkas)
        
10. Hadits Abu Said al-Khudri

عن أبي سعيد الخدري؛ قال:- قلنا يا رسول الله! هذا السلام عليك قد عرفناه. فكيف الصلاة؟ قال ((قولوا: اللهم صل على محمد عبدك ورسولك كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم)).

Dari Abu Said al-Khudri berkata bahwa kami bertanya: Wahai Rasulullah, Salam kepadamu kami telah mengetahui, maka bagaimanakah kami bershalawat kepadamu? Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Ucapkanlah: Allahumma Shalli Ala Muhammad Abdika Warasulika Kama Shallaita Ala Ali Ibrahim. Wabarik Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad Kama Barakta Ala Ibrahim. (Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad, hamba-Mu dan utusan-Mu, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim).  (Dikelurkan Bukhari)
_________________

[1] . Namun dinyatakan hasan oleh syaikh al-Bani dalam shahih Adabul Mufrad (499) dan Silsilah Hadits Shahihah (829).

[2] . Dalam Sunan Abu Daud dan Misykatul Mashabih dari Abu Hurairah.

[3] . Dalam buku aslinya, penulis menyatakan bahwa hadits ini dari Ali bin Abu Thalib yang dikeluarkan Imam Nasa’i, namun setelah kami teliti ternyata kami temukan dalam sunan Abu Daud, sunan al-Baihaqi (2686) dan Miskatul Mashabih dari Abu Hurairah.

Sumber: Artikel Buka Hati Menuntut Ilmu

Kamis, 09 Februari 2012

Perintah Untuk Membaca Shalawat Kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzaab: 56)

Imam Bukhari berkata, "Abul 'Aliyah mengatakan: Yang dimaksud dengan Allah bershalawat kepada Nabi-Nya adalah pujian yang Allah berikan kepada Nabi yang diungkapkan dihadapan para malaikat." Sedangkan shalawat Malaikat berarti do'a mereka atas Nabi." Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma berkata, "Artii dari lafazh يُصَلُّونَ adalah, "Allah dan para Malaikat-Nya memberkati Nabi -shallallahu'alaihi wa sallam-." (Fat-hul Baari [VIII/392])

Abu 'Isa at-Tirmidzi berkata, "Terdapat sebuah riwayat dari Sufyan ats-Tsauri dan para ulama ahli tafsir lainnya bahwa mereka berkata, "Shalawat yang berasal dari Allah konotasinya adalah melimpahkan rahmat. Sedang shalawat yang berasal dari Malaikat berarti istighfar (memohonkan ampunan)." (Tuhfatul Ahwadzi [II/610])

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Diantara hari yang paling utama untuk kalian adalah hari jum'at. Pada hari itu diciptakan Nabi Adam. Pada hari jum'at Nabi Adam diambil nyawanya.Pada hari jum'at ditiup sangkakala. Pada hari jum'at semua makhluk dimatikan. Oleh karena itu, banyak-banyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat yang kalian baca itu akan dibawa kehadapanku." Para shabat bertanya, "Bagaimana bisa shalawat dibawa kehadapanmu sementara engkau sendiri telah binasa?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi." (HR. Ahmad IV/8, Abu Daud I/635 (no. 1047), an-Nasa'i III/91, Ibnu Majah I/524 (no.1636) dan selainnya. Shahiihul Jaami' (no. 2212))

Dari Abu Thalhah, bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam datang dengan wajah terlihat ceria. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, sungguh kami melihat kegembiraan menghias wajahmu." Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku didatangi seorang malaikat, ia berkata, 'Wahai Muhammad tidakkah engkau ridha bahwa Rabb-mu berfirman: 'Sesungguhnya tidak ada seorangpun dari umatmu yang membaca shalawat kepadamu, kecuali Aku (yakni Allah) akan bershalawat (berupa pujian diantara para malaikat-Nya) kepadanya sebanyak sepuluh kali. Dan tidak ada seorangpun dari umatmu yang membaca salam kepadamu, kecuali Aku akan memberi salam kepadanya sebanyak sepuluh kali.' Aku (Nabi) menjawab, "Tentu saja aku ridha." (HR. Ahmad (IV/30), an-Nasa'i (III/44). Dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah no.829)

Dari jalur lain Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Thalhah al-Anshari. Ia berkata, "Pada suatu hari disaat pagi menjelang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tampak berseri-seri, diwajahnya tampak raut kegembiraan. Para sahabat bertanya-tanya, “Wahai Rasulullah pagi ini engkau begitu berseri-seri. Terlihat raut kegembiraan?, Beliau menjawab, “Tentu saja, telah datang kepadaku seorang malaikat utusan Rabb-ku. Ia berkata, ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu dari kalangan umatmu sebanyak satu kali saja, niscaya Allah akan menuliskan untuknya sebanyak sepuluh nilai kebajikan, menghapus darinya sebanyak sepuluh nilai kejelekan, mengangkat untuknya sepuluh derajat. Dan (Allah) menjawabnya dengan hal yang sama.” (HR. Ahmad (IV/29). Hasan Lihghairihi, lihat Shahiihul Targhiib wa Tarhiib no.1661)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu kali saja, niscaya niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali.” (HR. Muslim (I/306) no.408. Abu Daud (II/184) no.1530. at-Tirmidzi no.485 dan an-Nasa’i (III/50))

Dari al-Husain bin Ali radhiyallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam bersabda, “Orang yang kikir adalah orang yang bila namaku disebut dihadapannya, kemudian ia tidak mau bershalawat kepadaku.” Abu sa’id berkata: “(dengan lafazh): Lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Ahmad (I/201) dan at-Tirmidzi no.3546. Shahih, Shahiihul Jaami’ no.2878)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah seseorang yang ketika namaku disebut dihadapannya, ia tidak membaca shalawat kepadaku. Celakalah seseorang yang telah memasuki bulan Ramadhan lalu bulan Ramadhan itu berlalu sementara dosa-dosanya belum sempat diampuni. Dan celakalah bagi seorang yang kedua orang tuanya masih ada dalam keadaan tua renta, lalu tidak ia jadikan (ajang berbakti) kepada keduanya sebagai sarana masuk surga.” (HR. Tirmidzi no.3545. Shahih, lihat Shahiihul Jaami’ no.3510)
____________________

Sumber: (Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz 22. Hal. 353-362. Pustaka Ibnu Katsir)

Artikel terkait:

Kamis, 19 Januari 2012

Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.
1. Memperbanyak Sholawat Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”(Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)
2. Mandi Jumat
Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Menggunakan Minyak Wangi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid
Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.”(Lihat Fathul Bari II/388)
5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah
“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat
Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)
8. Membaca Surat Al Kahfi
Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)
Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.
(Disarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II oleh Abu Abdirrohman Bambang Wahono)
***
Penulis: Abu Abdirrohman Bambang Wahono
Artikel www.muslim.or.id