Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

10 Faedah Semangat Ulama Dalam Menuntut Ilmu

Oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi hafizhahullah

1. BERDESAKAN HINGGA MENGAKIBATKAN KEMATIAN

Ishaq bin Abi Israil mengatakan: "Para penuntut ilmu hadits berdesakan pada Husyaim sehingga membuatnya terjatuh dari keledainya, dan itulah faktor penyebab kematiannya." (Manaqib Imam Syafi'i hlm. 167-168 oleh al-Aburri dan al-'Uzlah hlm. 89 oleh al-Khothobi)

Mirip dengan ini adalah kisah tentang sebab kematian seorang ahli nahwu tersohor yaitu Tsa'lab. Dikisahkan bahwa dia pernah keluar dari masjid usai sholat Ashar pada hari Jum'at. Beliau memang sedikit tuli. Di tengah-tengah asyik membaca kitab sambil berjalan, tiba-tiba ada kuda yang menabraknya sehingga dia tersungkur di sebuah lubang. Akhirnya dia ditolong dan dikeluarkan dalam keadaan berlumpur kemudian diantarkan ke rumah. Setelah itu dia merasakan sakit di bagian kepalanya dan keesokan harinya meninggal dunia. (Wafayatul A'yan 1/104 oleh Ibnu Khollikan)

2. TETAP BELAJAR SEKALIPUN DI DEPAN SINGA

Abul Hasan Bunan bin Muhammad bin Hamdan adalah salah seorang ulama yang dikenal banyak memiliki karomah.

Suatu saat karena dia berani mengingkari Ibnu Thulun, maka dia dihukum dan dicampakkan di depan singa. Sang singa pun menciuminya tetapi anehnya dia tidak menerkam Abul Hasan. Akhirnya, dia pun dibebaskan. Orang-orang merasa heran dengan kejadian tersebut. Seorang pernah bertanya kepada beliau: "Bagaimana perasaan Anda tatkala berada di depan singa?" Beliau menjawab: "Saya tidak cemas sama sekali, bahkan saat itu saya sedang memikirkan tentang air liur binatang buas serta perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fiqih, apakah suci ataukah najis!!!" (al-Bidayah wa Nihayah 12/158 oleh Ibnu Katsir).

3. RELA DIPUKUL ASALKAN MENDAPAT HADITS

Dalam biografi Hisyam bin Ammar disebutkan bahwa dia pernah masuk kepada Imam Malik tanpa izin seraya mengatakan: "Ceritakanlah kepaku hadits." Imam Malik mengatakan: "Bacalah." Hisyam berkata: "Tidak, yang saya inginkan adalah engkau menceritakan kepadaku hadits." Tatkala Hisvam sering mengulang-ngulang hal itu, maka Imam Malik mengatakan: "Wahai pelayan, pukullah dia sebanyak lima belas kali." Pelayan pun memukul Hisyam lima belas kali lalu membawanya kepada Imam Malik. Hisyam berkata kepada Imam Malik: "Kenapa engkau menzholimiku? Engkau telah memukulku tanpa dosa yang kuperbuat. Aku tidak menghalalkanmu." Imam Malik berkata: "Terus, apa tebusannya?" Hisyam menjawab: "Tebusannya adalah engkau menceritakan kepadaku lima belas hadits." Maka beliau pun menceritakan lima belas hadits kepada Hisyam. Hisyam berkata lagi kepada Imam Malik: "Tolong tambahi lagi pukulannya sehingga Anda menambahi lagi hadits untukku." Mendengar itu, Imam Malik tertawa seraya mengatakan: "Pergilah kamu." (Siyar Alam Nubala 3/4093 oleh adz-Dzahabi, cetakan Baitul Afkar)

Mirip dengan hal ini adalah kisah rihlah (perjalanan jauh untuk menuntut ilmu) yang dilakukan oleh Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal. Dikisahkan, ketika mereka hendak pulang, mereka singgah di Imam Abu Nu'aim Fadhl bin Dukain karena Yahya bin Ma'in ingin mengetes hafalannya. Setelah Imam Abu Nu'aim tahu bahwa dirinya sedang dites, maka dia menendang Yahya bin Ma'in. Akhirnya, Imam Ahmad berkata kepada Yahya: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu jangan mengetesnya karena dia adalah seorang yang kuat hafalannya." Yahya berkata: "Demi Alloh, sungguh tendangannya lebih aku sukai daripada semua perjalananku ini." (ar-Rihlah fi Tholabil Hadits hlm. 207 oleh al-Khothib al-Baghdadi)

4. PULUHAN RIBU ORANG HADIR DI MAJELIS MEREKA

Sejarah ulama dahulu sangat harum dengan semangat menuntut ilmu. Banyak di antara mereka berdesak-desakan membanjiri majelis ilmu. Berikut ini beberapa buktinya:
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Ashim bin Ali sebanyak seratus enam puluh ribu orang. (Tarikh Baghdad 12/248)
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Sulaiman bin Harb sebanyak empat puluh ribu orang. (al-Jarh wa Ta'dil 4/108)
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Imam Bukhori sebanyak dua puluh ribu orang lebih. (al-Jami' li Akhlaq Rowi 2/53)
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Abu Muslim al-Kajji sebanyak empat puluh ribu orang lebih. (Tarikh Baghdad 6/1211)
Dan masih banyak lagi data lainnya. (Dinukil dari Qoshoshun wa Nawadir li Aimmatil Hadits hlm. 70-72 oleh Dr. Ali bin Abdillah ash-Shoyyah)

Subhanalloh, pemandangan yang menakjubkan. Adapun pada zaman sekarang, kebanyakan manusia malah membanjiri tempat-tempat maksiat. Hanya kepada Alloh kita mengadukan semua ini!!!

5. SEMANGAT MENULIS YANG MENAKJUBKAN

As-Sam'ani menceritakan bahwa Imam al-Baihaqi pernah tertimpa penyakit di tangannya, sehingga jari-jemarinya dipotong semua, hanya tinggal pergelangan tangan saja. Sekalipun demikian, beliau tidak berhenti dari menulis, beliau mengambil pena dengan pergelangan tangannya dan meletakkan kertas di tanah seraya memeganginya dengan kakinya, lalu menulis dengan tulisan yang indah dan jelas. Demikianlah hari-harinya, sehingga setiap hari dia dapat menulis dengan tangannya kurang lebih sepuluh lembar. "Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menakjubkan yang pernah saya lihat darinya," kata as-Sam'ani. (at-Tahbir fil Mu'jam Kabir 1/223)

Termasuk semangat yang menakjubkan pula adalah semangat Imam Ibnu Aqil yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun. Tahukah Anda berapa jilid kitab tersebut? Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: "Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut." (Tarikh Islam 4/29)

Sekalipun demikian besarnya kitab ini, tetapi sayangnya kitab ini termasuk perbendaharan umat Islam yang hilang, belum diketahui sampai sekarang kecuali hanya satu jilid saja yang ditemukan di perpustakaan Paris dan dicetak dalam dua jilid pada tahun 1970-1971. (Muqoddimah Kamil Muhammad Khorroth terhadap Zahrul Ghushun min Kitabil Funun hlm. 6)

6. BERKALI-KALI KHATAM KITAB, TIDAK BOSAN

Al-Muzani berkata: "Saya membaca kitab Risalah karya asy-Syafi'i sejak lima tahun yang lalu, setiap kali aku membacanya saya mendapatkan faedah baru yang belum aku dapatkan sebelumnva." (Manaqib Syafi'i hlm. 114 oleh al-Aburri)

Ibnu Basykuwal menceritakan bahwa Abu Bakr bin Athiyyah mengulang-ngulang membaca kitab Shohih Bukhori sebanyak 700 Kali (ash-Shilah 2/433)

Disebutkan dalam biografi Abbas bin Walid al-Farisi bahwa ditemukan dalam sebagian akhir kitabnya suatu tulisan. "Saya telah membacanya sebanyak 1.000 kali. !!! (Thobaqot Ulama Afrika wa Tunis hlm. 224)

Abdulloh bin Muhammad, ahli fiqih dari Irak, beliau pernah membaca kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah (sekarang tercetak dengan 15 jilid) sebanyak 23 kali!! (Dzail Thobaqot Hanabilah 2/411)

7. MENGUSIR KANTUK DENGAN MEMBACA

Ibnul Jahm berkata: "Apabila kantuk menyerangku pada selain waktu tidur, maka saya segera mengambil kitab hikmah, lalu saya mendapati hatiku berbunga-bunga kegirangan ketika mendapatkan ilmu." (al-Hayawan 1/53 oleh al-Jahidz)

Subhanalloh, bandingkan hal ini dengan perbuatan sebagian kita yang membaca justru dengan niat sebagai pengantar tidur!!!

8. TRIK AGAR TETAP BELAJAR

Imam Ibnu Tabban adalah seorang ulama yang bersemangat sangat tinggi dalam menuntut ilmu, sehingga dia pernah mempelajari kitab al-Mudawwanah sebanyak 1000 kali!!!

Dia pernah berkata tentang dirinya: "Dahulu ketika saya awal-awal menuntut ilmu, saya gunakan seluruh malam untuk belajar, sehingga ibuku pernah melarangku dari membaca di malam hari. Akhirnya saya bersiasat untuk membuat lampu dan menaruhnya di bawah tempat tidur lalu saya berpura-pura tidur. Ketika saya rasa bahwa ibuku benar-benar telah tidur, maka saya keluarkan lampu dan melanjutkan belajar." (Tartibul Madarik 1/78 al-Qodhi Iyadh).

Saudaraku, renungkanlah kisah di atas baik-baik. Dia meninggalkan keinginan dirinya dan berjuang melawan hawa nafsunya demi menuntut ilmu dan menjaga semangat tersebut agar tidak luntur. (Ma'alim fi Thoriq Tholabil Ilmi hlm. 69 oleh Abdul Aziz as-Sadhan).

9. WAKTU LIBUR TETAPI TETAP HADIR

Jika Alloh telah memberimu nikmat semangat untuk menuntut ilmu maka jagalah nikmat tersebut. Jangan sampai ia menghilang darimu karena ia adalah pertanda bahwa Alloh menghendaki kebaikan bagimu.

Al-Askari menyebutkan bahwa Abui Hasan al-Karkhi berkata: "Saya selalu menghadiri majelis ilmu Abu Hazim pada hari Jum'at padahal hari itu tidak ada pelajaran. Aku lakukan hal itu agar kebiasaanku menghadiri majelis ilmu tidak hilang." (al-Hatstsu 'ala Tholabil Ilmi hlm. 78).

Saudaraku, renungkanlah kisah di atas baik-baik. Dia meninggalkan keinginan dirinya dan Bandingkanlah hal ini dengan sikap sebagian kita yang malas menghadiri majelis ilmu dengan alasan-alasan lagu lama "maaf saya lagi sibuk", "maaf saya lagi banyak urusan", dan sebagainya.

Alangkah indahnya ucapan penyair:

رَأَيْتُ النَّاسَ يَشْكُونُ الزَّمَانَا

وَمَالِزَمَانِنَا عَيْبٌ سِوَانَا

نَعِيْبُ زَمَانَنَا وَالْعَيْبُ فِيْنَا

وَلَوْ نَطَقَ الزَّمَانُ بِهِ رَمَانَا

Saya melihat banyak manusia mengeluh tentang waktu
Padahal tidak ada kesalahan pada waktu selain kita sendiri
Kita mencela waktu padahal yang salah adalah diri kita sendiri
Seandainya saja waktu bisa bicara tentu akan marah kepada kita. 
(Manaqib Imam Syafi'i hlm. 65 oleh al-Aburri).

10. KITAB, SAINGAN TERBERAT

Kebiasaan Imam Zuhri, kalau masuk rumah maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari segala urusan dunia lainnya. Suatu saat istrinya pernah berkata padanya: "Demi Alloh, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga istri sainganku!!!" (Wafayatul A'yan 4/177-178 oleh Ibnu Khollikan).

[Majalah Al-Furqon, Edisi 01 Th. ke-10, 1431/2010]

Sumber: www.ibnumajjah.wordpress.com
Download Ebooknya: Klik Disini

10 Faedah Tentang Kitab

Oleh:Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi hafidzahullah

I. MENULIS KITAB, AMALAN UTAMA

Al-Hafizh Ibnu Jama’ah al-Kinani asy-Syafi’i mengatakan: “Termasuk adab seorang alim adalah menyibukkan diri dengan menulis bila telah memiliki keahlian, karena menulis dapat memperluas wacana ilmiyahnya tentang berbagai bidang ilmu dan menelaah kitab-kitab ulama.

Dan hendaknya bagi seorang yang ingin mengarang karya tulis untuk memilih suatu pembahasan yang manfaatnya besar dan sangat di butuhkan oleh manusia, lebih baik lagi bila pembahasan tersebut belum pernah dibahas sebelumnya, dengan memilih kata-kata yang jelas, tidak terlalu panjang sehingga membosankan dan tidak juga terlalu ringkas sehingga”.[1]

Alangkah bagusnya ucapan seorang penyair:

كَتَبْتُ وَقَدْ أَيْقَنْتُ يَوْمَ كِتَابَتِيْ بِأَنَّ يَدِيْ تَفْنَى وَيَبْقَى كِتَابُهُ
وَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ لاَبُدَّ سَائِلِيْ فَيَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَا يَكُوْنُ جَوَابُهُ

Ketika saya menulis saya yakin
Bahwa tanganku akan binasa dan tulisanku kekal
Dan saya tahu bahwa Allah pasti menanyakanku
Aduhai, apa nanti jawabannya?[2]

II. SEMANGAT MEMBACA DAN MENULIS KITAB

Al-Imam Al-Muzani membaca kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi’i sebanyak lima puluh kali. [3]
Abdullah bin Muhammad membaca kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah sebanyak dua puluh tiga kali.[4]

Ibnul Jahm apabila dia mengantuk pada selain waktu tidur, maka dia mengusir ngantuknya dengan membaca kitab-kitab hikmah sehingga ngantuknya hilang.[5]

Ibnu Tabban membaca kitab sepanjang malam. Ibunya pernah melarang dan menyuruhnya tidur, maka dia menyembunyikan sebuah lampu, apabila ibunya tidur dia menyalakan lampu dan meneruskan untuk membaca.[6]

Muhammad bin Ahmad bin Qudamah menulis dengan tangannya beberapa kitab yang banyak sekali, di antaranya Tafsir Al-Baghowi, Al-Mughni, Hilyah Abu Nu’aim, Al-Ibanah Ibnu Baththoh, dan Al-Khiroqi serta mushaf dengan jumlah yang banyak.[7]

Imam Ismail al-Jurjani menulis setiap malam sembilan puluh lembar kertas dengan tulisan yang bagus dan hati-hati.[8]

III. TAFSIR JALALAIN

Sebagian ulama Yaman berkata: “Saya menghitung huruf-huruf Al-Qur’an dan Tafsir al-Jalalain, ternyata saya mendapatinya sama hingga sampai surat Al-Muzammil. Dan mulai surat al-Mudatsir tafsir lebih banyak daripada Al-Qur’an. Dari sini, maka boleh membawa Tafsir Al-Jalalain tanpa wudhu”. [9]

IV. KITAB BUKAN BANTAL

Nuaim bin Naim pernah berkata: Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: “Apakah seorang boleh meletakkan kitab di bawah kepalanya?” Beliau bertanya: “Kitap apa?” Penanya menjawab: “Kitab hadits.” Imam Ahmad berkata: “Kalau memang dia khawatir untuk dicuri maka boleh, adapun menjadikannya sebagai bantal maka tidak boleh”.[10]

V. MEWASPADAI KITAB-KITAB BID’AH

Imam Abu Zur’ah pernah ditanya tentang Harits al-Muhasibi dan kitab-kitabnya, maka beliau berkata kepada penanya: “Waspadalah dirimu dari kitab-kitab ini! Ini adalah kitab-kitab bid’ah dan sesat, peganglah hadits”. Dikatakan padanya: “Dalam kitab-kitab ini terdapat pelajaran”. Dia menjawab: “Barangsiapa yang baginya Al-Qur’an tidak ada pelajaran, maka tidak ada pelajaran baginya juga dalam kitab-kitab ini“. Kemudian dia berkata: “Alangkah cepatnya manusia menuju kepada bid’ah”.[11]

Aduhai, alangkah miripnya hari ini dengan kemarin! Lantas, bagaimanakah kiranya, bila Imam Abu Zur’ah mendapati kitab-kitab pada zaman sekarang yang berisi penyimpangan dan kesesatan seperti kitab-kitab Sayyid Quthub, An-Nabhani, Al-Ghozali, Al-Qorodhawi, al-Kautsari, As-Saqqof, al-Buthi, Muhammad Surur dan kitab-kitab pergerakan lainnya.[12]

VI. WALIMAH KITAB FATHUL BARI

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani mengarang kitab Fathul Bari Syarh Shohih Bukhori selama seperempat abad lebih, beliau memulai pada awal tahun 817 H dan selesai pada awal Rojab tahun 842 H, belum lagi tambahan-tambahan yang beliau cantumkan setelah itu sehingga selesai sebelum wafatnya pada tahun 852 H.

Beliau menempuh metode menakjubkan dalam mengarang kitabnya. Awalnya melalui imla’ selama lima tahun, kemudian beberapa muridnya yang cerdas berkumpul dan mengusulkan agar dibukukan syarahnya tersebut. Akhirnya, beliapun menulis dengan tangannya sendiri sedikit demi sedikit, sehingga kitabnya telah dikoreksi dan diteliti secara jeli.

Tatkala selesai karya syarah Bukhori tersebut, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengadakan sebuah walimah besar-besaran pada hari Sabtu 8 Sya’ban tahun 842 H. Dalam acara tersebut, dibacakan majlis akhir dari Fathul Bari dan walimah itu dihadiri oleh pembesar ulama, tokoh, penuntut ilmu dan kaum muslimin.

Al-Biqo’i menyebutkan bahwa orang-orang pasar baik kaum laki-laki maupun wanita keluar untuk rekreasi. Lanjutnya: “Sampai-sampai saya mengira bahwa tidak ada seorang tokoh pun di Mesir kecuali hadir dalam walimah tersebut. Hari itu adalah hari yang istimewa, belum ada sepertinya di zaman itu. Pada kesempatan tersebut, dilantunkan syair-syair indah berisi pujian kepada penulis dan kitabnya, Fathul Bari dijual dengan harga tiga ratus dinar.[13]

VII. MAHAR KITAB

Abu Bakar Al-Kasyani adalah seorang tokoh ulama yang beruntung, dia berguru kepada Imam Abu Bakar As-Samaragandi sekaligus menikah dengan putrinya yang terkenal pintar dan ahli ibadah. Tahukah anda sebab pernikahannya?! Al-kisah, Fathimah adalah seorang wanita yang cantik jelita dan pandai sekali, dia hafal kitab karya ayahandanya At-Tuhfah fi Al-Fiqih, banyak para raja yang hendak meminangnya, tetapi sang ayah tidak merestuinya.

Tatkala Al-Kasyani datang belajar kepadanya dan nampak kepandaiannya dalam bidang fiqih sehingga dia mengarang kitab Al-Bada’i sebagai penjelasan dari kitab At-Tuhfah fil Fiqih. Tatkala dia menyodorkan kepada sang guru, karuan aja sang guru sangat bergembira lalu menikahkannya dengan putrinya serta menjadikan maharnya adalah kitab tersebut. Oleh karena itu, para fuqoha’ pada masanya mengatakan: “Dia mensyarah (menulis penjelasan) kitab Tuhfah-nya dan mendapatkan putrinya”.[14]

Dikisahkan juga bahwa apabila Al-Kasyani salah, maka istrinya yang menegur dan meluruskannya. Fatwa yang keluar ditanda tangani olehnya dan ayahnya. Tatkala sudah menikah dengan Al-Kasyani, maka ditanda tangani olehnya, ayahnya dan suaminya.[15]

VIII. BAGAIMANA MENELAAH KITAB?

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Menelaah kitab terbagi menjadi dua macam:
  • Pertama: Menalaah dengan tadabbur (memahami dan menghayati). Hal ini perlu hati-hati dan tidak tergesa-gesa.
  • Kedua: Hanya sekedar menelaah saja dengan membaca isi kitab dan pembahasan yang terdapat di dalamnya. Hal ini cukup dengan tela’ah sekilas. Dan cara yang paling utama dalam membaca kitab adalah memahami dan menghayati makna-makna yang terkandung serta meminta bantuan kepada yang mengerti agar dapat memahaminya”.[16]

IX. PERPUSTAKAAN KITAB BUKAN DEKOR

Hendaknya bagi kita untuk memiliki sebuah perpustakaan yang berisi kitab-kitab penting yang sangat kita butuhkan. Namun, jangan jadikan perpustakaan kita hanya sekedar sebagai pajangan belaka, tetapi jadikan tujuan kita untuk mengambil faedah dari kitab-kitab tersebut dengan membaca dan menelaahnya.

Sungguh, betapa banyak orang yang memiliki sebuah perpustakaan yang berisi ratusan dan ribuan kitab tetapi dia tidak mengerti tentang isi kitabnya sendiri!!! Ada seorang ulama pernah mengunjungi perpustakan model seperti ini, tetapi setelah dia mengetes pemiliknya ternyata dia tidak pernah membaca dan menelaah kitab-kitabnya sendiri, maka sang alim-pun menyindirnya: “Kitab-kitabmu banyak sekali tetapi airmu sedikit sekali”!!!

Al-Hafizh As-Sakhowi menceritakan bahwa ada seseorang pernah datang kepada Al-Hafizh Al-’Iraqi, memprotesnya tatkala beliau menghukumi suatu hadits dengan palsu padahal hadits tersebut tercantumkan dalam kitab-kitab hadits!! Al-Hafizh Al-’Iraqi akhirnya meminta kepadanya untuk menghadirkan kitab tersebut untuk dikoreksi. Lelaki itupun pergi untuk mengambil kitabnya, ternyata kitab yang dibawanya adalah kitab yang khusus mencantumkan hadits-hadits palsu yaitu Al-Mau’dhu’at oleh Ibnul Jauzi.[17]

X. BEROBAT DENGAN MEMBAKAR KITAB

Dalam biografi Imam Ash-Shon’ani diceritakan bahwa suatu saat beliau pernah terkena mencret, keluarganya telah berusaha mencarikan obat untuknya tetapi belum membuahkan hasil. Tiba-tiba beliau diberi dua kitab yaitu Al-Insan Al-Kamil oleh Abdul Qodir al-Jili dan Al-Madhmun Bihi Ala Ahlihi karya Al-Ghozali.

Ash-Shon’ani berkata: “Saya yakin kitab ini bukan karyanya tetapi dusta”. Lanjutnya: “Kemudian saya menelaah dua kitab tersebut, ternyata saya mendapati kekufuran yang amat nyata, maka saya perintahkan agar dua kitab tersebut dibakar lalu apinya digunakan untuk membuat roti untukku. Beliaupun kemudian memakan roti tersebut dengan niat kesembuhan. Setelah itu, beliau tidak pernah sakit sedikitpun.[18]

Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
www.abiubaidah.com

Catatan Kaki:
[1] Tadzkirotus Sami’ wal Mutakallim hlm. 54.
[2] Al-Ghurar ‘Ala Thurar 2/246, Muhammad Khair Ramadhan Yusuf.
[3] Lihat Muqoddimah Ar-Risalah hlm. 4.
[4] Dzail Thobaqot Hanabilah 2/411.
[5] Al-Hayawan al-Jahizh 1/53.
[6] Tartibul Madarik Al-Qodhi Iyadh 1/78.
[7] Dzail Thobaqot Hanabilah 2/53.
[8] Siyar A’lam Nubala’ 13/54.
[9] Kasyfu Zhunun ‘an Asamil Kutub wal Funun 1/308.
[10] Thobaqotul Hanabilah 1/391.
[11] Tarikh Baghdad 8/218.
[12] Bayanu Manhaj Salaf fii Mua’malati Ahlil Bida’ wal Ahwa’ hlm. 144 karya Salim bin Ied al-Hilali.
[13] Manhaj Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani fil Aqidah hlm. 102-103 oleh Muhammad Ishaq Kandu.
[14] Thobaqotul Fuqoha’ hlm. 102,
[15] Al-Fawaid Al-Bahiyyah hlm. 158, dinukil dari Huququl Mar’ah hlm. 280 oleh DR. Nawwal binti Abdul Aziz.
[16] Kitabul Ilmi hlm. 89.
[17] Fathul Mughits 1/294. Lihat pula Min Buthunil Kutub 1/17 oleh Yusuf al-’Atiq dan Ma’alim fi Thoriq Tholabil Ilmi hlm. 179 oleh Abdul Aziz As-Sadhan.
[18] Kutub Hadzaro Minha Ulama 1/45 oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman.

Rabu, 15 Agustus 2012

10 Faedah Tentang Ilmu

FAIDAH I: KEUTAMAAN ILMU   

Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh  anjing yang berilmu. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Allah berfirman, yang artinya:

Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.[1]

"Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan pintar sama hukumnya”.[2]

FAIDAH II: ILMU YANG BERMANFAAT   

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali berkata [3]
“Ilmu bermanfaat adalah mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya.

Pertama: Dia berusaha terlebih dahulu memilah antara hadits shahih dan lemah.
Kedua: Dia berusaha memahami makna kandungannya. Sungguh, pada semua itu terdapat kecukupan bagi orang yang berakal dan kesibukan bagi orang yang ingin mendapatkan ilmu bermanfaat.

Barangsiapa mengikhlaskan hatinya untuk mengharap wajah Allah dan memohon pertolongan kepadaNya, niscaya Dia akan menolongnya, menunjukinya, memudahkannya, dan memahamkannya. Pada saat itulah, ilmu ini akan membuahkan buahnya yang terpenting yaitu Khsyatullah (takut kepada Allah), sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya, hanyalah ulama.[4]

FAIDAH III: BUAH ILMU  

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْئُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ

Dari Jundub bin Abdillah berkata: Rasulullah bersabda: “Perumpamaan seorang berilmu yang mengajarkan kebaikan kepada manusia tetapi melupakan dirinya seperti lampu yang menyinari manusia tetapi membakar dirinya sendiri”.[5]

FAIDAH IV: KUTU BUKU  

Kebiasaan Imam Zuhri kalau masuk rumah, maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari segala urusan dunia lainnya. Suatu saat isterinya pernah berkata padanya: “Demi Allah, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga isteri sainganku!!!”.[6]

Ibnu Qayyim berkata: “Guru kami (Ibnu Taimiyyah) pernah bercerita padaku: “Ketika sakit menimpaku, seorang dokter berkata padaku: Sesungguhnya bacaanmu dan pembicaraanmu tentang ilmu akan menambah sakitmu”.

Aku menjawab: Saya tidak bisa sabar menahan hal itu. Sekarang jawablah pertanyaanku berdasarkan ilmu pengetahuanmu: Bukankah hati apabila senang dan kuat maka akan mampu mengusir penyakit?
Jawab sang dokter: Ya, benar.

Aku berkata lagi: Demikian pula hatiku, dia sangat senang dengan ilmu dan aku merasakan kegembiraan dengannya.

Dokter menjawab: “Ini keluar dari cara pengobatan kami…”. [7]

FAIDAH V: KESABARAN 
 
Kesabaran saat menuntut ilmu sangat diperlukan. Coba perhatikan ucapan Imam Ahmad: “Aku terus mempelajari  permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.[8]

Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata: “Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. [9]

Sungguh benar ucapan seorang penyair:

النَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى                   حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمُ

Jiwa itu seperti anak bayi, kalau kau biarkan
Maka dia akan suka menyusu
Dan bila engkau menyapihnya diapun akan berhenti.

FAIDAH VI: CINTA POPULARITAS   

Ibnu Jama’ah al-Jinani berkata:
“Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak hanya mencukupkan diri untuk belajar kepada guru-guru yang populer saja, karena hal itu dinilai oleh al-Ghozali termasuk kesombongan dan kebodohan. Ketahuilah bahwa kebenaran adalah seperti barang hilang yang dicari oleh seorang mukmin, dia akan mengambilnya dimanapun dia mendapatkannya dan berterima kasih kepada orang yang memberikan kepadanya. Demikian pula seorang penuntut ilmu, dia akan lari dari kebodohan sebagaimana dia lari dari singa. Dan orang yang lari dari singa, dia tidak akan peduli siapapun orangnya yang menunjukkan jalan keluar kepadanya”.[10]

FAIDAH VI: SEMANGAT PARA WANITA  

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ: قَالَتِ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ : غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ, فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ, فَكَانَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ : مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةٌ مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ : وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ : وَاثْنَيْنِ.

Dari Abu Sa’id al-Khudri menceritakan bahwa sejumlah para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam: “Kaum lelaki lebih banyak bergaul denganmu daripada kami, maka jadikanlah suatu hari untuk kami”. Nabi menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka guna menasehati dan memerintah mereka. Diantara sabda beliau saat itu: “Tidak ada seorang wanitapun yang ditinggal mati oleh tiga anaknya kecuali akan menjadi penghalang baginya dari neraka”. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau Cuma dua?”. Nabi menjawab Shallallahu'alaihi wa sallam: “Sekalipun Cuma dua”[11]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
“Hadits ini menunjukkan semangat para wanita sahabat dalam mempelajari masalah-masalah agama”.[12]

FAIDAH VIII: MURID DURHAKA  

Ma’an bin Aus memiliki sebuah syair indah yang bisa dijadikan pelajaran berharga bagi setiap penuntut ilmu. Syairnya sebagai berikut:.

فَيَا عَجَبًا لِمَنْ رَبَّيْتُ طِفْلاً                    أُلَقِّمُهُ بِأَطْرَافِ الْبَنَانِ

أُعَلِّمُهُ الرِّمَايَةَ كُلَّ يَوْمٍ                        فَلَمَّا اسْتَدَّ سَاعِدُهُ رَمَانِي

أُعَلِّمُهُ الْفُتُوَّةَ كُلَّ وَقْتٍ                       فَلَمَّا طَرَّ شَارِبُهُ جَفَانِي

وَكَمْ عَلَّمْتُهُ نَظْمَ الْقَوَافِيْ                     فَلَمَّا قَالَ قَافِيَةً هَجَانِي

Sungguh mengherankan, orang yang kudidik semenjak kecil
Aku menyuapinya dengan jari tanganku
Aku mengajarinya memanah setiap hari
Setelah pandai, dia malah memanahku
Aku mengajarkannya bermurah hati setiap waktu
Setelah tumbuh kumisnya, dia malah berbuat kasar padaku
Betapa seringnya aku mengajarinya syair
Setelah bisa membuat satu syair, dia malah mencaciku[13].

FAIDAH IX: JANGAN BERFATWA TANPA ILMU  

Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu untuk mengatakan tentang suatu permasalahan yang tidak diketahuinya: “Saya tidak tahu”. Sungguh, hal itu sama sekali tidak mengurangi derajat mereka, bahkan meninggikan mereka. Ditambah lagi, bahwa hal itu memiliki beberapa faedah berikut:
  1. Dia menunaikan kewajibannya.
  2. Dia akan segera mencari jawabannya baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, sebab seorang murid tatkala mendapati gurunya belum mengetahui jawabannya, dia akan bersungguh-sungguh untuk mencari jawabannya lalu menghadiahkan jawabannya tersebut kepada gurunya.
  3. Hal itu menunjukkan kehati-hatiannya dalam menjawab permasalahan.
  4. Sebagai pelajaran dan contoh bagi para muridnya. [14]

FAIDAH X: KIAT UNTUK SEMANGAT  

Soal: Terkadang kita perhatikan pada sebagian penuntut ilmu kurangnya semangat dalam menimba ilmu. Apakah kiat-kiat yang dapat menyembulkan semangat menuntut ilmu?

Jawab: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab:
“Kurangnya semangat dalam menuntut ilmu syar’I merupakan salah satu musibah besar. Ada beberapa kiat yang dapat mengobatinya, diantaranya:
  • Pertama: Ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu. Seorang apabila memurnikan niatnya hanya untuk Allah dalam menuntut ilmu dan menyadari bahwa dirinya mendapat pahala dalam amalan tersebut niscaya dia akan bersemangat.
  • Kedua: Berteman dengan teman-teman yang memberinya motivasi dalam menuntut ilmu dan membantunya dalam dialog serta membahas permasalahan.
  • Ketiga: Melatih dirinya untuk sabar dan membiasakan diri dalam menuntut ilmu. Adapun jika dia melepas dirinya tanpa kendali maka dirinya akan mengajaknya kepada perbuatan jelek dan Syetan akan mengajaknya untuk malas dalam menuntut ilmu”. [15]

Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
www.abiubaidah.com
_____________________

[1] QS. Al-Maidah: 4.
[2] Miftah Dar Sa’adah Ibnu Qayyim 1/236
[3] Fadhlu Ilmi Salaf ‘ala Ilmi Khalaf (hal. 26).
[4] QS. Fathir: 28.
[5] HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam Kabir 1/84/2, al-Khathib al-Baghdadi dalam Iqtidha’ Ilmu Amal 70 dan dishahihkan al-Albani dalam Tahqiqnya.
[6] Wafayatul A’yan Ibnu Khallikan 4/177-178.
[7] Raudhatul Muhibbin hal. 70.
[8] Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268.
[9] Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14.
[10] Tadzkirah Sami’ fi Adabil Alim wal Muta’allim hal. 87.
[11] HR. Bukhari 101.
[12] Fathul Bari 1/259.
[13] Majma’ al-Amtsal al-Maidani 2/200. Bait kedua terdapat dalam al-Iqdu al-Farid Ibnu Abdi Rabbihi 3/56 dan Adab Dunya wa ad-Diin al-Mawardi hal. 77. (Dari al-Masu’ah asy-Syi’riyyah DR. Badr bin Abdullah an-Nashir 124-125).
[14] Lihat al-Fatawa as-Sa’diyyah Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di hal. 628-629.
[15] Kitab Ilmu hal. 105.

Selasa, 14 Agustus 2012

Keutamaan Menyebarkan Ilmu Agama


Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat / mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang yang mempelajari ilmu agama[2] yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya kepada umat manusia[3].

Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,“Aku tidak mengetahui setelah (tingkatan) kenabian, kedudukan yang lebih utama dari menyebarkan ilmu (agama)”[4].

Dalam hadist lain yang semakna dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Sesungguhnya orang yang memahami ilmu (agama dan mengajarkannya kepada manusia) akan selalu dimohonkan (kepada Allah Ta’ala) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan”[5].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
  •  Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemuliaan dan keberkahan dari-Nya[6]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya),  sebagaimana dalam firman-Nya: “Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43)[7].
  •  Orang yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia berarti telah menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala yang merupakan sebab utama terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan alam semesta beserta semua isinya, oleh karena itu semua makhluk di alam semesta berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan baginya, sebagai balasan kebaikan yang sesuai dengan perbuatannya[8].
  •  Sebagian dari para ulama ada yang menjelaskan makna hadits ini bahwa Allah Ta’ala akan menetapkan bagi orang yang mengajarkan ilmu agama pengabulan bagi semua permohonan ampun yang disampaikan oleh seluruh makhluk untuknya[9].
  • Tentu saja yang keutamaan dalam hadits ini khusus bagi orang yang mengajarkan ilmu agama dengan niat ikhlas mengharapkan wajah AllahTa’ala, bukan untuk tujuan mencari popularitas atau imbalan duniawi[10].
  • Para ulama yang menyebarkan ilmu agama adalah pewaris para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam[11], karena merekalah yang menggantikan tugas para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam, yaitu menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala dan menyeru manusia ke jalan yang diridhai-Nya, serta bersabar dalam menjalankan semua itu, maka merekalah orang-orang yang paling mulia kedudukannya di sisi AllahTa’ala setelah para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam[12].
  • Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menyampaikan/menyebarkan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia lebih utama daripada menyampaikan (melemparkan) panah ke leher musuh (berperang melawan orang kafir di medan jihad), karena menyampaikan panah ke leher musuh banyak orang yang (mampu) melakukannya, sedangkan menyampaikan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia hanya (mampu) dilakukan oleh (para ulama) pewaris para Nabi ‘alaihis salam dan pengemban tugas mereka di umat mereka, semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahan-Nya”[13].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 13 Ramadhan 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
___________

[1] HR at-Tirmidzi (no. 2685) dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 7912), dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang semakna. Hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albanirahimahullah dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (4/467).
[2] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/525).
[3] Lihat keterangan  imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/63).
[4] Dinukil oleh imam al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab “Tarikh Bagdad” (10/160).
[5] HR Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Hibban (no. 88), dishahihkan oleh imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albanirahimahkumullah, serta dinyatakan hasan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/63).
[6] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).
[7] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).
[8] Lihat keterangan  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/64) dan al-Muanawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (4/268).
[9] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/268).
[10] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/525).
[11] Sebagaimana dalam HR Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Hibban (no. 88), dishahihkan oleh imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albanirahimahkumullah.
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/64).
[13] Kitab “Jala-ul afhaam” (hal. 415).

Rabu, 08 Agustus 2012

Jangan Mengambil Ilmu dari Ahli Bid'ah !

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari 
(Pengajar Ma’had Ibnu Abbas, Sragen)

Orang yang berniat mencari ilmu yang haq harus memperhatikan dari siapa dia mengambil ilmu. Jangan sampai mengambil ilmu agama dari ahli bid’ah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari. Sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan.
  • Pertama : Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.
  • Kedua : Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu.[1]
Akan tetapi pantas disayangkan, pada zaman ini kita melihat fenomena pengambilan ilmu dari para ahli bid’ah marak di mana-mana, padahal perbuatan tersebut sangat ditentang oleh para ulama Salaf. Maka benarlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah memberitakan bahwa hal itu merupakan salah satu di antara tanda-tanda dekatnya kiamat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)” [2].

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu?”

Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah).[3]

Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

Syaikh Bakar Abu Zaid –seorang ulama Saudi, anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia- berkata : “Waspadalah terhadap Abu Jahal (bapak kebodohan), yaitu ahli bid’ah, yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat; dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata “akal”; dia menyimpang dari nash (wahyu), padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan ahlusy syubuhat (orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan ahli bid’ah dengan ash shaghir (anak-anak kecil).[4]

Dan tanda hari Kiamat, yaitu “mengambil ilmu dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)” pada zaman ini benar-benar sudah terjadi dan terus berjalan. Sungguh telah terbukti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Bahkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu mengambil ilmu agama Islam dari orang-orang kafir, yakni para dosen yang mengajarkan pengetahuan tentang Islam di berbagai perguruan tinggi di negara Barat.

Maka apakah kira-kira komentar para ulama Salaf, jika mereka mengalami zaman kita ini? Sedangkan mereka adalah orang-orang yang sangat tulus dalam memberikan nasihat, dan tegas menghadapi berbagai penyimpangan?

Marilah kita renungkan perkataan Imam adz Dzahabi rahimahullah tentang ahli bid’ah pada zaman beliau. Beliau mengatakan:

“Jika engkau melihat seorang mutakallim (seorang yang zhahirnya muslim tetapi menggeluti ilmu kalam, mantiq, filsafat, Pen), ahli bid’ah, berkata, ’Tinggalkan kami dari al Kitab (al Qur`an) dan hadits-hadits, dan datangkanlah akal,’ maka ketahuilah bahwa dia Abu Jahal. Dan jika engkau melihat seorang salik tauhidi (seorang shufi, Pen) berkata,’Tinggalkan kami dari naql (wahyu) dan akal, dan datangkanlah perasaan dan rasa,’ maka ketahuilah bahwa dia adalah iblis yang telah muncul dengan bentuk manusia, atau iblis telah merasuk padanya. Jika kamu merasa takut padanya, maka larilah. Jika tidak takut, maka bantinglah dia, dan tindihlah dadanya, dan bacakan ayat kursi kepadanya, dan cekiklah dia”.[5]

PERINGATAN PARA ULAMA

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan sifat ulama yang akan selalu ada sepanjang zaman, sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah, yaitu di dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ

“Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang lurus pada setiap generasi; mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas; ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh; dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan” [6]

Hadits ini jelas dan tegas menunjukkan sifat-sifat pengemban ilmu agama, yaitu ‘adalah (lurus, istiqamah), maka sepantasnya ilmu itu hanyalah diambil dari mereka. Oleh karena itu, banyak peringatan ulama tentang memilih guru agama yang tepat di dalam mengambil ilmu. Berikut ini di antara perkataan ulama berkaitan dengan hal tersebut.

1). Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata :

اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ

“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama” [7]

Perkataan ini juga diriwayatkan dari sejumlah Salafush Shalih, seperti Muhammad bin Siirin, adh Dhahhak bin Muzahim, dan lain-lain (Lihat muqaddimah Shahih Muslim).

2). Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ مِنْ أَكَابِرِهِمْ , فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ , وَ تَفَرَّقَتْ أَهْوَاءُهُمْ , هَلَكُوْا

“Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika ilmu datang dari arah orang-orang kecil (ahli bid’ah) mereka, dan hawa-nafsu mereka bercerai-berai, mereka pasti binasa” [8].

Dalam riwayat lain disebutkan :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوْا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ , فَإِذَا أَخَذُوْهُ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ وَ شِرَارِهِمْ هَلَكُوْا

“Manusia selalu berada pada kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil (ahli bid’ah) dan orang-orang buruk (orang fasik) di antara mereka, maka mereka pasti binasa” [9]

3). Imam Malik rahimahullah berkata :

لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa` (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan.[10]

4). Imam Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan ghibah yang dibolehkan :
“Di antaranya, jika seseorang melihat pencari ilmu sering mengambil ilmu dari ahli bid’ah atau orang fasik, dan dia khawatir hal itu akan membahayakan pencari ilmu tersebut, maka dia wajib menasihatinya, dengan menjelaskan keadaan (guru)nya, dengan syarat dia berniat menasihati”. [Riyadhush Shalihin, al Adzkar, Syarah Muslim].

5). Disebutkan di dalam kitab Fatawa Aimmatil Muslimin, hlm. 131, susunan Mahmud Muhammad Khithab as Subki yang berisikan fatwa-fatwa sebagian ulama Mesir, Syam dan Maghrib mutaqaddimin : “Seluruh imam mujtahidin telah sepakat, bahwa tidak boleh mengambil ilmu dari ahli bid’ah”.

TUJUAN PERINGATAN ULAMA

Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili –hafizhahullah- berkata,”Sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in sesudah mereka telah memberikan bimbingan untuk mengambil ilmu dari orang yang ‘adil dan istiqamah. Mereka telah melarang mengambil ilmu dari orang yang zhalim dan menyimpang. Dan di antara orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah. Sesungguhnya mereka telah menyimpang dan menyeleweng dari agama dengan sebab bid’ah-bid’ah itu, maka tidah boleh mengambil ilmu dari mereka. Karena ilmu merupakan agama, dipelajari untuk diamalkan. Maka jika ilmu diambil dari ahli bid’ah, sedangkan ahli bid’ah tidak mendasarkan dan menetapkan masalah-masalah kecuali dengan bid’ah-bid’ah yang dia jadikan agama, sehingga ahli bid’ah itu akan mempengaruhi murid-muridnya secara ilmu dan amalan. Sehingga murid-murid itu akan tumbuh di atas bid’ah dan susah meninggalkan kebid’ahan setelah itu. Apalagi jika belajar dari ahli bid’ah itu pada masa kecil, maka pengaruhnya akan tetap dan tidak akan hilang selama hidupnya.”[11]

Syaikh juga menjelaskan, maksud peringatan para ulama ini ada dua. Pertama. Menjaga orang-orang yang belajar dari kerusakan aqidah, karena terpengaruh oleh perkataan dan perbuatan ahli bid’ah. Kedua. Memboikot (mengisolir) ahli bid’ah yang menyerukan bid’ahnya, dengan niat mencegah dan menghentikan mereka dari bid’ah.[12]

Larangan ini berlaku saat situasi memungkinkan. Adapun dalam keadaan terpaksa, boleh belajar kepada ahli bid’ah, dengan tetap waspada dari kesesatan mereka.[13]

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata, ”Wahai, penuntut ilmu. Jika engkau berada dalam kelonggaran dan memiliki pilihan, janganlah engkau mengambil (ilmu) dari ahli bid’ah, (yaitu) : seorang Rafidhah (Syi’ah), seorang Khawarij, seorang Murji’ah, seorang qadari (orang yang mengingkari takdir), seorang quburi (orang yang berlebihan mengagungkan kuburan), dan seterusnya, karena engkau tidak akan mencapai derajat orang yang benar aqidah agamanya, kokoh hubungannya dengan Allah, benar pandangannya, mengikuti atsar (jejak Salaf), kecuali dengan meninggalkan ahli bid’ah dan bid’ah mereka”.[14]

PERINGATAN BELAJAR AGAMA KEPADA ORANG KAFIR!

Setelah kita mengetahui keterangan di atas, maka selayaknya umat Islam agar senantiasa jeli dan berhati-hati dalam mengambil ilmu. Sehingga pantas untuk diperingatkan, yaitu adanya fenomena pada zaman ini dan sebelumnya, berupa pengambilan ilmu dari orang-orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah, bahkan dari orang-orang kafir! Tidakkah orang-orang yang mengambil ilmu dari orang-orang kafir itu pernah membaca atau mendengar firman Allah Azza wa Jalla tentang usaha orang-orang musyrik untuk memurtadkan umat Islam? Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرُُ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {217}

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” [al Baqarah : 217].

Tidakkah mereka juga pernah mendengar firman Allah Azza wa Jalla tentang keinginan orang-orang Ahli Kitab yang selalu berkeinginan memurtadkan umat Islam?

وَدَّكَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ {109}

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran” [al Baqarah : 109]

Apakah mereka mengira, bahwa keinginan dan usaha orang-orang kafir untuk memurtadkan umat Islam itu hanyalah pada zaman turunnya ayat-ayat al Qur`an itu?

Anggapan seperti itu adalah perkiraan yang salah, karena ayat-ayat itu berasal dari Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Seluruh berita dariNya adalah haq, baik saat turunnya ayat maupun setelahnya. Maka, hendaklah mereka memperhatikan sejarah umat Islam, memperhatikan kejadian-kejadian umat Islam, dahulu dan sekarang. Dengan demikian, mereka akan mengetahui kebenaran firman Allah tersebut.

Inilah sedikit keterangan seputar jalan mengambil ilmu. Semoga Allah selalu membimbing kita kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa dan Bijaksana. Al hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] 
________
Footnote
[1]. Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69.
[2]. Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81.
[3]. Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246.
[4]. Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid.
[5]. Siyar A’lamin Nubala, 4/472, dinukil dari Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39.
[6]. HR Ibnu ‘Adi di dalam al Kamil, al Baihaqi di dalam Sunan Kubra, Ibnu ‘Asakir di dalam Tarikh Dimsyaq, Ibnu Hibban di dalam ats Tsiqat, Abu Nu’aim di dalam Ma’rifatush Shahabat, Ibnu Abdil Barr di dalam at Tamhid, al Khath-thib di dalam Syaraf Ash-habul Hadits, dan lain-lain. Hadits ini diriwayatkan lebih dari 10 sanad, sehingga saling menguatkan. Dishahihkan oleh Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Salim al Hilali di dalam Hilyatul ‘Alim al Mu’allim, hlm. 77, juga oleh Syaikh Ali bin Hasan di dalam Tashfiyah wat Tarbiyyah.
[7]. Riwayat al Khaththib al Baghdadi di dalam al Kifayah, hlm. 121. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 686, karya Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili.
[8]. Riwayat Imam Ibnul Mubarak di dalam az Zuhud, hlm. 281, hadits 815. Dinukil dari kitab Asy-rathus Sa’ah, hlm. 184, karya Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil.
[9]. Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 248. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 687.
[10]. Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 348. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 688.
[11]. Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 686, karya Syaikh Ibrahim ar Ruhaili.
[12]. Lihat Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 693.
[13]. Lihat Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 685-695.
[14]. Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 40.

Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/2602/slash/0

Senin, 23 Juli 2012

41 Faedah Dari Kisah Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu

Bismillah. Alhamdulillah. Semoga Shalawat dan Salam tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai akhir zaman.

Amma ba’du :
Membaca kisah-kisah para ulama didalam mencari ilmu termasuk salah satu kiat akan kita termotivasi untuk menuntut ilmu dan mencari ilmu. Karena didalamnya disebutkan perjuangan mereka dalam mendapatkan ilmu, mulai dari pengorbanan, perjuangan dan seterusnya. Berikut ini diantara kisah tersebut :

KISAH 1 : SYU’BAH BIN HAJJAJ

Syu’bah bin Hajjaj Rahimahullah datang menemui Khalid al-Hadza’ Rahimahullah. Lalu Syu’bah bin Hajjaj berkata : “Wahai Abu Munazil (Khalid al-Hadza’), engkau memiliki hadits tentang ini dan ini, tolong ajari aku.” Khalid ketika itu sedang sakit dan dia berkata : “Saya sedang sakit.” Syu’bah bin Hajjaj berkata : “Hanya satu hadits saja, tolong ajarkan aku.” Kemudian Khalid memberitahukan hadits tersebut. Setelah selesai, Syu’bah berkata kepadanya : “Sekarang anda boleh mati, kalau mau.” [Syarafu Ashhabil Hadits (hal 116), Khatib al-Baghdadi]

Syu’bah juga bercerita : “Saya menjual bejana warisan ibu saya seharga tujuh dinar untuk biaya belajar.” [Tadzkiratul Huffazh (1/195), Adz-Dzahabi]

Imam Ahmad Rahimahullah bercerita : “Syu’bah tinggal di tempat Hakam bin Utbah, selama 18 bulan. Beliau menjual penyangga dan tiang rumahnya untuk biaya belajar.” [Al’Ilal bi Ma’rifatir Rijal, Imam Ahmad]


KISAH 2 : JA’FAR BIN DURUSTUWAIH

Ja’far bin Durustuwaish Rahimahullah bercerita : “Kami mengambil tempat duduk karena terlalu padat disebuah majelis kajian Ali bin Al-Madini Rahimahullah pada waktu Ashar untuk kajian esoknya. Kami menempatinya sepanjang malam, karena khawatir esoknya tidak mendapatkan tempat untuk mendengarkan kajian nya, karena penuh sesaknya manusia. Saya melihat seorang yang sudah tua di majelis tersebut, kencing di jubahnya, karena khawatir tempat duduknya diambil apabila ia berdiri untuk kencing.” [Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ (2/199), Khatib al-Baghdadi]


KISAH 3 : IBNU JANDAL AL-QURTHUBY

Ibnu Jandal al-Qurthuby Rahimahullah bercerita : “Saya pernah belajar kepada Ibnu Mujahid. Suatu hari saya mendatanginya sebelum fajar agar saya bisa duduk lebih dekat dengan nya. Ketika saya sampai di gerbang pintu yang menghubungkan ke majelisnya, saya dapati pintu itu tertutup dan saya kesulitan membukanya. Saya berkata : “Subhanallah, saya datang sepagi ini, tetapi saya tetap saja tidak bisa duduk didekatnya.” Kemudian saya melihat sebuah terowongan disamping rumahnya. Saya membuka dan masuk kedalamnya. Ketika sampai di pertengahan terowongan yang semakin menyempit, saya tidak bisa keluar ataupun kembali. Saya membuka terowongan selebar – lebarnya agar bisa keluar. Pakaian saya terkoyak, dinding terowongan membekas ditubuh saya, dan sebagian daging badan saya terkelupas. Allah Subhanahu wa ta’ala menolong saya untuk bisa keluar darinya, mendapatkan majelis Syaikh dan menghadirinya, sementara saya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti itu.” [Inaabatur Ruwat ala Anbain Nuhaat (3/363), al-Qifthy dengan saduran]


KISAH 4 : MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah bercerita : “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya karena mengajari saya. Saya mendengar darinya (guru) hadits atau pelajaran, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis diatasnya. Apabila sudah penuh tulisanya, saya menaruhnya didalam guci/botol besar yang sudah tua.” [Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/98), Ibnu Abdil Baar]


KISAH 5 : HAMID AL-ISFIRAYAINI

Salim Ar-Razy Rahimahullah menceritakan bahwa Syaikh Hamid al-Isfirayaini Rahimahullah pada awalnya adalah seorang satpam disebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu ditempat jaganya karena terlalu fakir dan tidak mampu membeli minyak untuk lampunya. Beliau makan dari gaji nya. [Thabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (4/61), As-Subki]


KISAH 6 : AHMAD AL-ASHBAHANI

Ahli Hadits Ahmad bin Muhammad Al-Ashbahani Rahimahullah berangkat dengan tergesa-gesa ke Baghdad ketika masih berusia enam belas tahun untuk bertamu dengan ulama hadits Abu Nashir az-Zainabi Rahimahullah dan mengambil dirinya hadits-hadits Ali bin Al-Ja’d Rahimahullah yang diriwayatkan dari Syu’bah Rahimahullah. Ketika sampai di Baghdad beliau mendapatkan kabar bahwa Abu Nashr Az-Zainabi telah wafat. Al-Ashbahani menangis dan berteriak : “Darimana saya bisa mendapatkan hadits Ali bin Al-Ja’d riwayat Syu’bah lagi?” [Tadzkiratul Huffazh (4/1284), Adz-Dzahabi]


KISAH 7 : ABU HATIM AR-RAZI

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah berkata : “Saya tinggal di Bashrah selama delapan bulan pada tahun 241 H. Didalam hati saya ingin tinggal selama setahun (agar bisa berlajar ilmu lagi), tetapi saya kehabisan nafkah. Maka saya menjual pakaian-pakaian saya sedikit demi sedikit, sampai saya betul-betul tidak memiliki nafkah lagi.” [Al-Jarh wa Ta’dil (hal 363), Ibnu Abi Hatim]

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah juga bercerita : “Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan tidak pernah merasakan kuah makanan (karena sibuk untuk belajar sehingga tidak ada waktu untuk memasak makanan yang berkuah). Siang hari kami berkeliling ke para Masyaikh (guru) dan malam hari kami gunakan untuk menulis dan mengoreksi catatan kami.

          Suatu hari, saya bersama seorang teman mendatangi salah seorang Syaikh. Dikabarkan kepada kami bahwa beliau sedang sakit. Kami pulang melewati sebuah pasar dan tertarik pada ikan yang sedang dijual. Kami membelinya. Setelah sampai dirumah, ternyata waktu kajian untuk Syaikh yang lain sudah tiba. Maka kamipun segera pergi ke sana (dan meninggalkan ikan tersebut dengan harapan bisa dimasak dilain waktu).

          Lebih dari tiga hari ikan tersebut belum sempat dimasak karena kesibukan menuntut ilmu, hingga hampir busuk. Kami memakan nya mentah-mentah karena tidak punya waktu untuk menggorengnya. “Ilmu itu tidak akan bisa diraih dengan badan yang santai.” [Al-Jarh wa Ta’dil (1/5), Ibnu Abi Hatim]


KISAH 8 : IBNU JARIR ATH-THABARY

Abu Muhammad  Al-Firghani Rahimahullah berkata : “Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah melakukan perjalan (rihlah untuk menuntut ilmu) ketika usianya baru dua belas tahun. Ayahnya mengizinkan nya untuk pergi selama hidupnya, dia (ayahnya) mengirimkan sesuatu sebagai bekal untuk belajar. Ibnu Jarir bercerita : “(Pernah) terjadi keterlambatan (kiriman) nafkah dari orangtua saya, sehingga saya terpaksa merobek kedua kantong jubah saya dan menjualnya  (untuk biaya belajar).” [Tadzkiratul Huffazh (3/711), Adz-Dzahabi]

Dari Al-Mu’afa bin Zakaria Rahimahullah dari sebagian orang yang terpercaya bahwa beliau berada disamping Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah sesaat sebelum beliau wafat. Ibnu Jarir diingatkan dengan sebuah doa dari Ja’far bin Muhammad Rahimahullah. Beliau meminta pena dan kertas kemudian menulis doa tersebut. Beliau ditanya : “Wahai Imam, apakah anda masih menulis ilmu dalam keadaan seperti ini –yakni dalam keadaan sakaratul maut-?” Beliau –Ibnu Jarir- menjawab : “Seharusnya seseorang tidak meninggalkan mencari ilmu sampai ia mati.” [Kunuzul Ajdad, Muhammad Kurdi Ali]


KISAH 9 : ABDULLAH BIN FARRUK AL-QAIRUWANI

Abdullah bin Farruk al-Qairuwani Rahimahullah pergi menemui Imam Abu Hanifah An-Nu’man Rahimahullah untuk belajar darinya. Ketika Abdullah duduk dirumah Abu Hanifah, tiba-tiba batu jatuh dari atas rumah Abu Hanifah tepat mengenai kepala Abdullah hingga ia terluka dan darahnya mengucur. (Kata Abdullah Al-Qairuwani) Abu Hanifah berkata kepada ku : “Apakah engkau memilih harga denda atau memilih tiga ratus hadits?” Maka saya menjawab : “Saya memilih tiga ratus hadits.” Kemudian beliau mengajarinya 300 hadits tersebut.


KISAH 10 : HISYAM BIN AMMAR

Hisyam bin Ammar Rahimahullah bercerita : “Ayah ku yakni Ammar menjual rumah seharga dua puluh dinar. Beliau menyiapkan nya untuk perjalanan ibadah hajiku. Setelah sampai di Madinah, saya mendatangi majelis Imam Malik bin Anas Rahimahullah. Saya memiliki beberapa permasalahan yang ingin saya tanyakan kepadanya. Saya mendatangi beliau yang sedang duduk disebuah majelis layaknya raja (karena penghormatan orang kepadanya). Orang-orang bertanya dan beliau menjawabnya. Saya masuk dan menemui Imam Malik, dan tibalah giliran ku untuk berbicara. Saya berkata kepada beliau : “Bacakanlah hadits kepadaku” Beliau (Imam Malik) berkata : “Tidak, anda yang membacakan nya.” Saya berkata : “Tidak, tetapi bacakanlah hadits kepada ku.” Beliau berkata lagi : “Tidak anda yang membacakan nya.” Ketika saya menolaknya dan membantahnya, beliau marah kepada saya dan berkata kepada orang lain : “Wahai pemuda, ke marilah, bawa orang ini (maksudnya saya) dan pukullah lima belas kali cambukkan.” Pemuda (orang itu) membaca saya dan memukuli saya lima belas kali. Kemudian pemuda itu mengembalikan saya ke Imam Malik dan berkata : “Saya telah memukulinya.”

          Saat itu saya berkata : “Anda (wahai Imam Malik) telah menzhalimi saya. Orang tua saya menjual rumahnya dan mengirim saya untuk belajar kepadamu. Saya bangga bisa belajar dari anda. Anda telah memukul saya lima belas kali cambukkan tanpa ada kesalahan yang saya lakukan. Saya tidak menghalalkan anda.” Imam Malik berkata : “Apa tebusan dari kezaliman itu?” Saya berkata : “Tebusan nya engkau harus mengajarkan saya lima belas hadits.” Imam Malik lalu membacakan kepada saya lima belas hadits. Setelah selesai, saya berkata kepadanya : “Wahai Imam, pukullah saya lagi dan tambahlah hadits kepada ku..!” Imam Malik tersenyum dan beliau berkata : “Pergilah dan pulanglah.” [Ma’rifatul Qurra’ (1/196), Adz-Dzahabi]


KISAH 11 : ABDURRAHMAN AL-QASHIM AL-MISHRI

Abdurrahman Al-Qashim Rahimahullah bercerita : “Saya mendatangi Imam Malik bin Anas Rahimahullah di akhir malam sebelum fajar untuk bertanya dua, tiga atau empat masalah. Disaat-saat itu, saya mendapati beliau dalam keadaan tenang hatinya, sedikit murid (yang disekitarnya), dan saya selalu mendatanginya diwaktu tersebut.

          Suatu ketika saya datang, seperti biasa. Saya bersandar dipalang pintunya untuk menunggu beliau keluar shalat, kemudian saya bertanya tentang semua yang ingin saya tanyakan. Saya sangat mengantuk dan (akhirnya) tertidur. Imam Malik keluar ke masjid dan saya tidak menyadarinya. Seorang budak perempuan kulit hitam membangunkan saya dengan kakinya dan berkata : “Tuan mu sudah keluar ke masjid. Dia tidak lalai sebagaimana kelalaian mu.” [Tartibul Madarik (3/250), Qadhi Iyadh]


KISAH 12 : ASAD BIN FURRATH

Asad bin Furrath Rahimahullah pergi ke Irak untuk belajar kepada Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani Rahimahullah. Ketika sampai kepadanya, Asab berkata kepada beliau : “Saya seorang asing yang miskin, kajian mu sedikit, sementara muridmu banyak, bagaimana caranya agar saya bisa mendapatkan ilmu sebanyak mungkin dari anda? Sekalipun murid anda banyak dan saya terpaksa segera meninggalkan anda sebentar lagi?”

Imam Asy-Syaibani berkata : “Belajarlah bersama murid-muridku yang lain diwaktu siang dan aku akan menjadikan malamku untuk mu sendirian. Anda bermalam bersamaku dan aku akan mengajarimu ilmu.”

Asad berkata : “Saya bermalam bersamanya dirumahnya. Beliau menemui saya dan menaruh sebuah kendi air disamping nya. Beliau mulai membaca. Apabila malam sudah larut dan saya mengantuk, maka beliau penuhi tangan nya dengan air dan dipercikkan nya ke wajahku, hingga saya terjaga kembali. Ini terus berlangsung sampai saya menyelesaikan ilmu yang ingin saya dapatkan darinya.” [Bulughul Amaani fi Sirah Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, Al-Kautsari]


KISAH 13 : ABU ALI AL-HASAN AL-BALKHI

Abu Ali Al-Hasan bin Ali Al-Balkhi Rahimahullah bercerita : “Saya penah tinggal di Asqalan untuk belajar dari Ibnu Mushahhih dan lain nya. Nafkah saya semakin menipis sehingga beberapa hari saya tidak bisa makan. Saya ingin menulis pelajaran, tetapi tidak bisa karena sangat lapar. Saya pergi ke toko roti dan duduk didekat roti tersebut untuk mencium aroma nya agar saya punya tenang. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala membantu saya.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1173), Adz-Dzahabi]


KISAH 14 : MUHAMMAD BIN THAHIR AL-MAQDISI

Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi Rahimahullah bercerita : “Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al-Haddad Rahimahullah. Bekal saya semakin menipis hingga yang tersisa hanya satu dirham saja. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis. Saya bingung, kalau saya belikan roti, maka saya tidak ada (uang untuk) beli kertas untuk menulis. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut sampai tiga hari dan selama itu pula saya tidak merasakan makan sama sekali.

          Pada pagi hari keempat, dalalam hati, saya berkata : “Kalau saya punya kertas, saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar.” Saya letakan dirham itu dimulut dan mengeluarkan untuk membeli roti. Tanpa terasa saya telah menelan dirham tersebut, saya tertawa. Abu Thahir mendatangi saya dan bertanya : “Apa yang membuat anda tertawa?” Saya menjawab : “Sesuatu yang baik.” Beliau meminta saya untuk menceritakan nya, tetapi saya menolak. Ia terus menerus memaksa sehingga saya ceritakan permasalahan nya. Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1246 dengan saduran), Adz-Dzahabi]

Beliau juga bercerita : “Saya pernah kencing darah dua kali saat belajar hadits, sekali di Baghdad dan sekali lagi di Mekkah. Karena saya berjalan tanpa alas kaki di Baghdad dan di Mekkah dibawah terik sinar matahari yang menyengat, sehingga saya mengalami hal tersebut. Saya tidak pernah naik kendaraan sama sekali ketika belajar hadits kecuali sekali saja dan saya membawa kitab di pundak saya.” [Tadzkiratul Huffazh (4/124), Adz-Dzahabi]


KISAH 15 : AL-BUKHARI

Imam Al-Bukhari Rahimahullah bercerita : “Saya menemui Adam bin Abi Iyyas Rahimahullah di Asqalan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan. Saya tidak menceritakan nya kepada seorangpun. Dihari ketiga saya didatangi seseorang yang saya tidak kenal dan memberiku bungkusan yang didalamnya berisi dinar. Ia berkata : “Nafkahlanlah untuk dirimu sendiri.” [Tabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (2/227), As-Subki]

Umar bin Hafs Al-Asyqar Rahimahullah berkata : “Suatu hari kami kehilangan Imam al-Bukhari Rahimahullah ketika menulis hadits di Bashrah. Kami mencari beliau dan mendapati nya sedang berada dirumahnya, beliau tidak berpakaian. Semua yang beliau memiliki telah habis sehingga beliau tidak memiliki harta lagi. Kami berkumpul dan sepakat untuk mengumpulkan beberapa dirham dan membelikan beliau pakaian dan memberikan nya. Kemudian beliau dan mengajari kami hadits.” [Tarikh Baghdad (2/13), Khatib al-Baghdadi]


KISAH 16 : MUSLIM

Ahmad bin Salamah Rahimahullah salah seorang teman Imam Muslim Rahimahullah –penulis Shahih Muslim- bercerita : “Imam Muslim dibuatkan sebuah acara untuk mendiskusikan hadits, dibacakan kepada beliau sebuah hadits yang tidak beliau ketahui. Beliau kembali ke rumahnya kemudian menyalakan lampu dan berkata kepada orang-orang yang ada dirumahnya : “Tidak boleh seorangpun masuk ke dalam kamar ini.”

          Seseorang berkata : “Kita diberi hadiah satu keranjang kurma.” Imam Muslim berkata : “Berikan kepadaku.” Merekapun memberikannya kepada Imam Muslim. Beliau mencari hadits yang tidak diketahui sebelumnya dalam kitab-kitabnya sambil mengambil kurma dan mengunyahnya sampai tiba waktu Subuh. (Karena seriusnya beliau meneliti, tanpa sadar) kurma telah habis dan hadits baru didapatkan.

          Al-Hakim berkata : “Saya diceritakan oleh orang yang bisa dipercaya, bahwa Imam Muslim sakit setelah memakan kurma tersebut, dan setelah itu beliau meninggal dunia.” [Shiyanatus Shahih Muslim min Ikhlal wa Ghalath, Ibnu Shalih]


KISAH 17 : MALIK

Ibnu Qashim Rahimahullah berkata : “Karena fakirnya, Imam Malik Rahimahullah berupaya menuntut ilmu hingga menghabiskan atap rumahnya, kayunya dijual. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala membukakan dunia dan memberi nya rezki. Imam Malik berkata : “Ilmu tidak akan bisa diraih, hingga merasakan nikmatnya kefakiran karena nya.” [Tartibul Madarik (1/130), Qadhi Iyadh]


KISAH 18 : ABU MUHAMMAD ABDULLAH AL-KHASYSYAB

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menceritakan, Abu Muhammad Abdullah Al-Khasysyab Rahimahullah pernah suatu hari beliau membeli kitab seharga 500 dinar. Karena tidak memiliki sesuatu untuk membayarnya, beliau meminta ditangguhkan pembayaran nya sampai tiga hari. Beliau segera pulang dan menawarkan rumahnya untuk dijual, sedangkan tawaran harganya mencapai 500 dinar. Ia lalu menuju ke penjual kitab itu. Ia telah menjual rumahnya seharga 500 dinar, persis seharga kitabnya, sehingga lunaslah hutang-hutang nya.” [Dzailut Tabaqatil Hanabilah (1/319), Ibnu Rajab dengan saduran]


KISAH 19 : MUHAMMAD BIN SAHNUN

Al-Maliki Rahimahullah bercerita : “Muhamad bin Sahnun memiliki seorang budak yang bernama Ummu Madam. Suatu hari ia bersamanya, dan dia sangat sibuk menulis sebuah kitab hingga malam hari. Budak tersebut membawakan kepadanya makanan dan meminta beliau untuk makan. Beliau berkata kepada budaknya : “Saat ini saya masih sibuk” Setelah lama menunggu, budak tersebut menyuapkan nya sambil ia terus menulis hingga adzan shalat subuh tiba. Beliau berkata kepada budaknya : “Saya sudah merepotkan dirimu malam ini wahai Ummu Madam. Bawa kemari makanan yang telah anda siapkan tadi.” Budaknya berkata : “Demi Allah, wahai tuan ku. Saya telah menyuapkan anda semalam.” Ia berkata kepadanya : “Saya sama sekali tidak merasakan hal itu.” [Tartibul Madarik (3/114), Qadhi Iyadh]


KISAH 20 : IBNU TAIMIYAH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah bercerita : “Terkadang untuk mempelajari tafsir satu ayat, saya membaca seratus kitab tafsir, namun belum juga dapat memahaminya. Saya meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala kepahaman dengan berdoa : “Wahai gurunya Nabi Adam dan Nabi Ibrahim (yakni Allah Subhanahu wa ta’ala), ajarilah aku.” Saya mendatangi masjid yang kosong dan menyungkurkan wajah saya ke tanah dan bersujud kepada Allah sambil berdoa : “Wahai gurunya Nabi Adam dan Nabi Ibrahim, ajarilah aku.” [Tafsir Surat Al-Ikhlas karya Ibnu Taimiyah]


KISAH 21 : ABDULLAH BIN ABBAS

Sahabat Nabi yang Mulia, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu’anhu bercerita : “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam wafat saya masih muda. Saya berkata kepada para pemuda-pemuda Anshar : “Mari kita bertanya kepada sahabat Rasulullah dan belajar dari mereka, karena hari ini mereka masih banyak.”

Mereka berkata kepadaku : “Kamu sangat mengherankan, apakah orang-orang akan membutuhkan mu, karena ditengah- tengah mereka masih ada sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam?”
Mereka malas belajar, tetapi saya segera belajar dan mendatangi para sahabat Rasulullah. Saya terkadang mendatangi seseorang yang saya dengar memiliki hadits dari Rasulullah, tetapi dia sedang tidur siang. Maka saya tidur didepan rumahnya dengan berbantalkan surban saya. Wajah saya penuh dengan debu yang ditiupkan oleh angin sampai dia keluar (rumah). Ketika ia keluar dan melihatku, dia berkata : “Apa yang membuat anda ke sini?” Kenapa anda tidak mengutus seseorang kepada saya dan saya akan datang kepadamu?”

Saya menjawab : “Tidak, saya lebih berhak untuk datang kepada anda. Saya mendengar bahwa anda pernah mendengar hadits dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan saya ingin mendengar langsung dari anda.”

(Setelah beberapa lama, para sahabat Rasulullah mulai wafat satu persatu). Pemuda Anshar yang dulu menolak ketika saya ajak belajar ketika melihat saya bersama orang-orang berkumpul disekeliling saya dan bertanya kepada saya, ia berkata : “Pemuda ini lebih pintar dari saya.” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/85), Ibnu Abdil Baar]


KISAH 22 : URWAH BIN ZUBAIR

Urwah bin Zubair Rahimahullah bercerita : “Saya diberitahu ada seorang dari Muhajirin yang mempunyai hadits. Saya mendatanginya dan mendapatkan nya sedang tidur siang. Saya duduk didepan pintunya untuk bertanya kepadanya ketika ia keluar dari rumahnya.” [Tarikh Islam (4/32), Adz-Dzahabi]


KISAH 23 : ABDULLAH BIN FARUKH AL-QAIRUWANI

Abdullah bin Farukh Al-Qairuwani Rahimahullah bercerita : “Saya pergi ke Kufah dan banyak mendengar hadits dari Sulaiman bin Mahran Al-A’masy Rahimahullah. Saya pun bertanya tentang beliau. Seseorang berkata : “Beliau yakni Al-A’masy marah kepada pelajar hadits dan bersumpah untuk tidak mengajarkan mereka hadits beberapa waktu.”

Saya pergi ke rumahnya dan duduk didepan pintunya dengan harapan saya bisa bertemu dengan A’masy, namun saya tidak bisa bertemu dengan nya. Suatu hari ketika saya duduk didepan pintunya, sambil merenungkan tentang keterasingan saya dan tidak bisa mendengarkan hadits. Tiba-tiba seorang budak perempuan membuka pintu dan keluar. Ketika ia melihat saya, ia berkata : “Apa yang membuat anda duduk didepan pintu kami?” Saya menceritakan semuanya. Ia bertanya negeri asal saya dan saya pun memberitahukan nya. Ternyata dia dahulunya seorang budak kecil kami yang kemudian kami jual ke Kufah. Ia segera masuk dan menemui tuan nya yakni Al-A’masy dan menceritakan tentang saya dan dia membantu saya untuk bisa bertemu dengan beliau. Akhirnya Al-A’masy menyuruh saya tinggal dirumah depan rumahnya dan mengajarkan hadits yang beliau miliki, sementara orang-orang tidak bisa melakukan nya.” [Tartibul Madarik (3/110), Qadhi Iyadh]


KISAH 24 : MUHAMMAD BIN SYIHAB AZ-ZUHRI

Ibnu Khalqan Rahimahullah bercerita : Imam Muhammad Ibnu Syihab Az-Zuhri, seorang toko ulama besar dalam ilmu hadits, apabila beliau duduk dirumahnya ia menaruh kitab-kitabnya disampingnya. Beliau membacanya, sehingga ia tidak lagi memperhatikan semua urusan dunia nya. Suatu hari isterinya berkata : “Demi Allah, Kitab-kitab nya ini lebih berat bagi saya dari tiga orang isterinya yang lain.” [Wafiyatul A’yan (3/317), Ibnu Khalqan]


KISAH 25 : ABDULLAH BIN QASIM AL-ATQI 

Abdullah bin Qasim Al-Atqi Rahimahullah menikah dengan putri paman nya. Disaat isterinya hamil, ia ingin pergi ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik bin Anas Rahimahullah. Dia berniat tinggal bersama Imam Malik dalam waktu yang lama agar bisa belajar darinya. Ia memberitahukan hal tersebut kepada isterinya. Agar tidak menzalimi isterinya, ia menyuruh isterinya memilih antara dicerai agar bisa menikah dengan laki-laki lain yang dia inginkan atau ia menunggu kepulangan nya dalam waktu yang hanya Allah yang mengetahuinya. Isterinya memilih untuk tetap menjadi isterinya. Ia meninggalkan harta sekedarnya untuk isterinya. Kemudian pergi menuju Madinah meninggalkan isterinya yang sedang hamil. Beliau tinggal bersama Imam Malik selama tujuh belas tahun dan tidak lagi mengetahui berita tentang isteri dan anaknya.

          Abdullah bin Qasim bercerita : “Saya tinggal bersama Imam Malik selama tujuh belas tahun. Saya tidak pernah menjual dan membeli sesuatu. Suatu hari, rombongan haji datang dari Mesir. Diantara mereka ada seorang pemuda yang bersorban dan masuk menemui kami di Masjid. Dia mengucapkan salam kepada Imam Malik dan bertanya : “Apakah diantara anda ada Abdullah bin Qashim?” Orang-orang menunjuk ke arah saya. Dia segera mencium antara dua mata saya dan saya mendapatkan aroma yang sangat harum yaitu aroma seorang anak. Ternyata dialah putera saya yang dulu saya tinggalkan dalam kadungan ibunya. Ia telah dewasa dan sudah menjadi seorang pemuda.” [Tartibul Madarik (3/250), Qadhi Iyadh]


KISAH 26 : IBRAHIM AL-HARBI

Imam Ibrahim Al-Harbi Rahimahullah bercerita : “Suatu hari saya mengalami krisis keuangan hingga tidak ada lagi makanan untuk keluarga saya. Isteri saya berkata : “Saya dan anda bisa bersabar untuk lapar. Tetapi dua anak ini tidak akan bisa bersabar seperti kita. Berikan saya sebagian kitabmu, untuk saya jual atau saya gadaikan dan kita bisa membeli makanan.” Saya menolaknya dan tidak ingin kitab saya dijual. Saya berkata kepadanya : “Berhutanglah untuk mereka berdua makanan, dan tangguhkanlah pembayaran nya beberapa hari atau malam. Semoga Allah memberikan kemudahan dari-Nya.”

          Suatu malam, ketika saya berada didalam kamar untuk membaca dan menulis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Saya berkata : “Siapa itu?” Ia menjawab : “Salah seorang tetanggamu.” Saya menyuruhnya untuk masuk. Ia berkata : “Matikan lampu agar saya masuk.” Saya matikan lampu kemudin dia masuk dan menaruh satu karung besar dan berkata kepada saya : “Saya sudah membuat makanan untuk anak-anak saya, dan saya ingin kamu dan anak mu juga mendapatkan bagian darinya. Dan yang lain saya letakkan disamping karung besar, pergunakanlah untuk mencukupi kebutuhan mu.” Ia pergi dan saya tidak pernah mengetahui siapa orang itu.

          Saya memanggil isteri saya dan menyuruhnya untuk menyalakan lampu. Dia menyalakan nya dan kami mendapatkan karung besar yang didalamnya ada limapuluh bungkus berisi berbagai macam makanan. Disamping kantung besar terdapat kantung berisi 1000 dinar. Saya berkata kepada isteri saya : “Bagunkan anak- anak agar makanan dan bayarlah hutang dengan dinar-dinar tersebut.” [Tarikh Baghdad (6/31), Khatib Al-Baghdadi]


KISAH 27 : IBNU MUKWI

Qadhi Iyadh Rahimahullah bercerita tentang Abu Umar Ahmad bin Abdul Malik Al-Asybili Rahimahullah yang dikenal dengan nama Ibnu Mukwi, beliau bercerita : “Beliau yakni Ibnu Mukwi adalah orang yang gemar belajar sepanjang hayatnya, tidak pernah berhenti siang dan malam. Dia merasakan kenikmatan dalam belajarnya. Disebutkan bahwa ada seorang teman nya yang mengunjunginya ketika hari raya. Dia mendapatkan rumahnya terbuka dan menunggunya. Setelah lama tidak keluar, dia menyuruh seseorang untuk memberitahukan kedatangan nya kepada Ibnu Mukwi. Dia (Ibnu Mukwi pun) keluar dari rumahnya sambil membaca kitab dan tidak terasa hingga ia menabrak teman nya. Saat itu beliau sadar dan langsung mengucapkan salam kepadanya. Ia meminta maaf atas keterlambatan nya keluar karena beliau sedang disibukkan dengan sebuah masalah penting yang tidak mungkin dia tinggalkan sampai Allah Subhanahu wa ta’ala membukakan nya dan memberinya pemahaman. Teman nya berkata : “Pada hari Raya, disaat orang-orang dianjurkan untuk beristirahat, tapi anda tetap belajar?” Ibnu Mukwi menjawab : “Apabila saya merasa sakit, saya segera membaca dan belajar. Saya tidak merasakan kenikmatan kecuali disaat belajar dan membaca.” [Tartibul Madarik (4/636), Qadhi Iyadh]


KISAH 28 : ABI YUSUF AL-QADHI

Ibrahim bin Jarrah Rahimahullah bercerita : “Imam Abi Yusuf Al-Qadhi Rahimahullah menderita sakit menjelang kematian nya. Saya datang untuk menjenguknya dan saya mendapati beliau dalam keadaan pingsan. Ketika sadar beliau berkata : “Apa pendapatmu tentang masalah ini dan ini?” Saya berkata : “Wahai Imam, dalam keadaan seperti ini –yakni dalam sakaratul maut engkau masih mendiskusikan ilmu-?” Beliau menjawab : “Tidak mengapa kita belajar, semoga hal itu bisa menyelamatkan seseorang.” Kemudian beliau bertanya : “Wahai Ibrahim, mana yang lebih utama ketika melontar jumrah waktu haji, dilakukan dengan berjalan kaki atau naik kendaraan?” Saya menjawabnya dan setelah itu saya meninggalkan beliau. Belum sampai dipintu rumahnya, saya sudah mendengar orang menangisi beliau, dan ternyata beliau sudah meninggal. Semoga Allah merahmatinya.” [Manaqib Abu Hanifah (1/481), Muwaffiq Al-Makky]


KISAH 29 : ISHAQ BIN MANSHUR AL-MARWAZI

Imam Ishaq bin Manshur Al-Marwazi Rahimahullah adalah salah satu murid Imam Ahmad. Beliau telah banyak menulis dari Imam Ahmad Rahimahullah berbagai permasalahan fiqhiyah. Beliau kembali ke daerahnya di Naisabur. Suatu hari beliau mendengar bahwa Imam Ahmad meralat beberapa fatawanya dalam permasalahan fiqhiyah tersebut dan memfatwakan yang berbeda dengan nya. Imam Ishaq segera mengemaskan kitab yang berisi masalah-masalah yang dia tulis sebelumnya dan menaruhnya dalam tas, kemudian membawanya pergi dengan jalan kaki dari Naisabur ke Baghdad. Beliau menjumpai Imam Ahmad dan menanyakan permasalahan tersebut sambil membacanya kembali dihadapan beliau. Imam Ahmad tetap mengaku fatwanya yang pertama –yakni tidak berubah-. Dan takjub dengan kesungguhan nya (ishaq).” [Thabaqatut Turatsil Arabi (1/238), Muhammad Fuad]


KISAH 30 : AHMAD BIN HANBAL

Imam Yahya bin Ma’in Rahimahullah bercerita : “Ketika saya keluar bersama Imam Ahmad –untuk pergi- ke Yaman untuk menuntut ilmu (dari Imam Abdurrazzaq Ash-Shan’ani), kami sempatkan diri untuk melaksanakan Ibadah haji. Ketika thawaf di Ka’bah, tiba-tiba saya bertemu dengan Imam Abdurrazzaq yang juga sedang thawaf. Saya mengucapkan salam kepada beliau dan memberitahukan beliau : “Ini saudaramu Ahmad bin Hambal.” Beliau (Imam Abdurrazzaq) berkata : “Semoga Allah menjaga dan mengokohkan nya dalam (kebenaran).” Yahya berkata : “Saya menjumpai Ahmad dan berkata kepadanya : “Allah telah mendekatkan langkah kita dan memudahkan nafkah kita serta membebaskan kita dari perjalanan satu bulan (dari Mekkah ke Yaman).” Imam Ahmad menjawab : “Ketika di Baghdad saya sudah berniat untuk belajar pada Abdurrazzaq di Shan’a (Yaman). Demi Allah saya tidak akan merubah niat saya –yakni saya tetap ke yaman.” [Al-Manjahul Ahmad (11/386) Ibnu Hajar]

Imam Ishaq bin Rahawaih Rahimahullah bercerita : “Ketika Imam Ahmad pergi menemui Abdurrazzaq Ash-Shan’ani untuk belajar darinya di Shan’a, semua perbekalannya habis, hingga beliau menawarkan dirinya sebagai pekerja agar bisa sampai di Shan’a. Beberapa orang teman nya menawarkan bantuan, namun beliau tidak menerimanya sedikitpun.” Imam Ahmad bin Sinan Al-Wasithi Rahimahullah berkata : “Saya mengetahui Imam Ahmad menggadaikan sandalnya pada tukang roti dengan makanan ketika beliau keluar dari Yaman.” [Manaqib Imam Ahmad, Ibnu Jauzi. dengan saduran]


KISAH 31 : ABU WAQT AS-SAJZI

Imam Abu Waqt As-Sajzi Rahimahullah berkata : “Saya pergi bersama ayah saya untuk mendengar Shahih al-Bukhari dengan berjalan kaki dari Hirrah (sebuah kota di Masyriq) ke Ad-Dawudi di Bosang (juga sebuah kota di Masyriq), ketika itu usia saya baru sepuluh tahun.

          Ditengah-tengah perjalanan ayah saya menaruh dua batu di tangan saya dan berkata : “Bawalah keduanya” Karena saking takutnya, saya menjaga kedua batu tersebut sambil berjalan dan ayah saya memperhatikan saya. Apabila ayah saya melihat saya kelelahan, dia menyuruh saya untuk membuang salah satu batu tersebut. Saya membuangnya dan itu meringankan saya.

          Saya berjalan hingga kelihatan lelah dan dia berkata kepada saya : “Apakah kamu lelah?” Saya takut kepada nya dan menjawab “Tidak” Dia berkata : “Kenapa jalanmu lambat?” Saya segera mempercepat langkah didepan nya selama satu jam, kemudian kami kelelahan. Dia mengambil batu yang lain dan melemparkan nya. Saya berjalan hingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ketika itulah beliau menggendong saya.

          Kami bertemu dengan sekelompok petani dan lain nya. Mereka berkata : “Wahai Syaikh Isa (isa nama ayahku), biarkan kami membawa anak ini dan anda dengan kendaraan ke Bosang.” Ayah saya berkata kepada mereka : “Saya berlindung kepada Allah. Untuk naik kendaraan dalam belajar hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Tetapi kami akan bejalan (karena berjalan pahalanya lebih besar). Apabila anak saya lelah saya suruh dia naik diatas kepala saya sebagai penghormatan terhadap hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan mengarapkan pahalanya.”

          Abu Waqt melanjutkan ceritanya : “Buah dari yang demikian itu dan karena niat yang tulus, saya bisa belajar kitab ini –yakni Shahih Bukhari- dan lain nya. Tidak ada teman seorangpun yang tersisa sehingga rombongan dari berbagai negera, berdatangan untuk belajar kepada saya.” [Siyar A’lam Nubala (20/303), Adz-Dzahabi]


KISAH 32 : ABUL GHANAIM MUHAMMAD BIN ALI AL-BAGHDADI

Hibatullah bin Al-Mubarak as-Saqthi Rahimahullah berkata : “Ulama besar Baghdad, Abul Ghanaim Muhammad bin Ali Al-Baghdadi As-Saqthi memiliki kedudukan dan kekayaan. Lama-kelamaan beliau menjadi fakir dan hartanya berkurang. Kami bersama rombongan orang-orang kaya mendatangi beliau untuk mendengarkan hadits dari beliau yang sedang sakit. Kami masuk menemui beliau yang berada diatas tikar dan mengenakan jubah yang sebagian besar pernah terbakar. Beliau tidak memiliki harta walaupun satu dirham. Beliau menahan sakitnya dan mengajarkan kami hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Setelah selesai, kami berdiri dan meninggalkan beliau. Sesampai di luar, saya berkata kepada rombongan : “Apakah kalian memiliki harta untuk kita berikan kepada Syaikh?” Kami mengumpulkan harta sampai mencapai lima mitsqal emas. Saya memanggil salah satu puterinya dan memberinya harta tersebut untuk diserahkan kepada ayahnya. Saya menunggu apa yang akan beliau lakukan. Ketika puterinya menemui beliau dan memberinya uang tersebut, beliau memukul wajahnya sendiri dan berkata : “Ah, alangkah hina nya, saya mengambil balasan dari hadits Rasulullah? Tidak, Demi Allah.” Beliau bangkit dari tempat tidurnya dengan tanpa alas kaki, dan memanggil saya dan sayapun mendatanginya. Beliau menangis dan berkata kepada saya : “Engkau menghina kami dihadapan para ahli hadits? Kematian lebih ringan bagiku dari yang demikian (mengambil harta dari balasan mengajar hadits).” Saya mengambil kembali emas tersebut dan menggembalikan nya kepada rombongan, tetapi mereka tidak mau menerimanya. Lalu kami sedekahkan kepada orang-orang fakir.” [Fathul Mughits Syarah Alfiyatil Hadits (11/247), As-Sakhawi]


KISAH 33 : IBNU JAUZI

Imam Ibnu Jauzi Rahimahullah bercerita : “Ketahuilah wahai puteraku, sesungguhnya ayahku dahulunya kaya dan meninggalkan ribuan dirham. Ketika saya dewasa, ia memberi saya dua puluh dinar dan dua rumah seraya berkata kepada saya : “Inilah warisan semuanya” saya mengambil dinar tersebut untuk membeli kitab-kitab para ulama. Saya menjual kedua rumah tersebut dan saya gunakan untuk biaya belajar, sehingga tidak ada lagi harta yang tersisa buat saya.” [Lathaiful Kabid fi Nasihatil Walad, Ibnu Jauzi]

Beliau juga bercerita : “Saya telah menulis dengan dua jari saya ini 2.000 jilid kitab. Dan orang-orang bertaubat lewat tangan saya ini 100.000 orang.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1242), Adz-Dzahabi]


KISAH 34 : YAHYA BIN MA’IN

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menyebutkan : “Ayah Yahya bin Ma’in Rahimahullah adalah seorang seketaris Abdullah bin Malik. Ketika wafat beliau meninggalkan (harta warisan) untuk Yahya Rahimahullah 1.500.000 dirham. Yahya membelanjakan seluruh nya untuk belajar hadits, tidak ada yang tersisa sampai sandal yang bisa dipakai (untuk berjalan).” [Tahdzibut Tahdzib (11/282), Ibnu Hajar]


KISAH 35 : ASY-SYA’BI

Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah berkata : “Saya tidak pernah menulis diatas kertas hingga hari ini. Dan tidak ada seorangpun yang membacakan kepada saya sebuah hadits kecuali saya menghafalnya. Dan saya tidak ingin dia mengulanginya untuk saya.”

Beliau juga bercerita : “Saya tidak pernah menghafal sesuatu yang lebih sedikit dari sya’ir. Tetapi seandainya saya mau, saya akan bacakan syair itu satu bulan dan tanpa saya ulang.” [Siyar A’lam Nubala (4/301), Adz-Dzahabi]


KISAH 36 : HAJJAJ BIN ASY-SYA’IR

Hajaj bin Asy-Sya’ir Rahimahullah berkata : “Ibu ku pernah menyiapkan untuk ku seratus roti kering dan aku meletakkan nya didalam tas. Beliau mengutusku ke Syubbanih –yakni salah seorang ahli hadits- di Madain. Aku tinggal disana selama seratus hari, dan setiap hari aku membawa satu roti dan mencelupkan nya ke sungai Dajlah kemudian memakan nya. Setelah roti habis, aku kembali ke Ibu ku.” [Tadzkiratul Huffazh (2/550), Adz-Dzahabi]


KISAH 37 : ABDULLAH BIN ABU DAUD

Abdullah bin Abu Daud Rahimahullah bercerita : “Saya masuk ke Kufah –untuk mencari ilmu- dan saya hanya memiliki satu dirham. Saya membelikan 30 mud ful –yakni sejenis kacang-. Saya memakan nya sambil menulis kitab “Al-Asyaj Abdullah bin Said al-Kindi”. Setelah habis memakan nya, saya telah menulis 30.000 hadits yang terputus atau bergantung sanadnya.” [Tadzkiratul Huffazh (2/768), Adz-Dzahabi]


KISAH 38 : MUHAMMAD BIN AHMAD Al-BARQANI

Muhammad bin Ahmad Al-Barqani Rahimahullah berkata : “Saya masuk kekota Al-Asfarayin –untuk mencari ilmu- dengan membawa tiga dinar dan satu dirham. Tetapi dinar saya hilang dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Saya memberikan nya kepada sebuah toko dan setiap hari saya mengambil dua roti kering darinya. Saya belajar dari Bisyr bin Ahmad beberapa bagian dari kitab hadits. Saya masuk ke masjid Jami’ dan menulis hadits darinya. Beliau pulang untuk makan malam dan saya telah selesai menulis. Saya berhasil menulis 30 juz dari hadits dalam satu bulan. Setelah habis satu dirham yang ada ditoko, saya pun kembali ke negeri saya.”


KISAH 39 : ABU BAKAR BIN AL-ANBARI

Imam Abu Bakar bin Al-Anbari Rahimahullah melihat seorang budak wanita yang cantik lagi jelita di pasar sedang dijual. Dia tertarik kepadanya dan membelinya. Kemudian budak itu dibawa kerumahnya.

Ibnu Al-Anbari bercerita : “Saya disibukkan dengan mengkaji sebuah masalah dari beberapa masalah-masalah ilmiah. Hati saya menjadi terganggu dengan budak tadi dari mengkaji masalah-masalah tersebut. Saya menguruh pembantu saya untuk membawa budak tersebut ke pasar dan menjualnya. Dia tidak boleh mengganggu saya dari belajar ilmu. Pembantu saya membawanya ke pasar untuk menjualnya. Budak itu berkata : “Biarkan saya berbicara dengan Ibnu Anbari walau sekedar dua patah kata.” Dia membawa kesaya dan berkata : “Kenapa anda menjual saya, apakah saya memiliki catat / aib?”

Saya –Ibnu Anbari- menjawab : “Anda tidak memiliki aib, tapi anda mengganggu belajar saya. (yakni pikiran saya selalu teringat kepada mu)” Ketika kabar itu sampai ke Khalifah Al-Radli Billah, beliaupun berkata : “Tidak mungkin ada yang lebih manis dihati orang tersebut melebihi manisnya ilmu.” [Shafahaat min Shabril Ulama’, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah]


KISAH 40 : ABU NASHR AS-SAJZI

Abu Ishaq Al-Habbal Rahimahullah bercerita : “Suatu hari saya bertemu Abu Nashr As-Sajzi Rahimahullah. Seseorang mengetuk pintu dan saya membukakan nya. Tiba-tiba seorang wanita masuk dan mengeluarkan uang seribu dinar dari dalam tasnya, kemudian wanita itu menaruhnya didepan Syaikh Abu Nashr dan berkata : “Pergunakanlah ia sekehendakmu.”

Abu Nashr berkata : “Apa maksudmu?” Dia menjawab : “Anda menikah dengan saya. Saya sebenarnya tidak ada keinginan untuk menikah kecuali untuk berkhidmat kepadamu.” [Wanita itu menawarkan dirinya untuk dinikahi agar bisa berkhidmat dan membantu beliau sebagai penghormatan terhadap ilmu syari yang ada pada beliau]

Beliau memerintahkan wanita tersebut untuk mengambil uang nya dan berpaling darinya. Ketika ia telah keluar, Abu Nashr berkata : “Saya keluar dari Sajistan dengan niat untuk belajar dan bila saya menikah akan hilang nama ini. Saya tidak akan mendahulukan sesuatu apapun dari pahala menuntut ilmu.” [Tadzkiratul Huffazh (3/1119), Adz-Dzahabi]


KISAH 41 : ABDULLAH BIN HAMUD AZ-ZUBAIDI

Syaikh Abdullah bin Hamud Az-Zubaidi Rahimahullah belajar kepada Syaikh Abu Ali Al-Qaaly. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangan nya disana. Suatu ketika, Abdullah bin Hamud az-Zubaidi tidur dikandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid Abu Ali yang lain nya untuk menjumpai sang Guru –yakni Abu Ali- sebelum mereka datang. Agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan. Allah mentakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya diwaktu pagi sebelum terbit fajar. Az-Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri dan mengikutinya dikegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakakan dirinya, Abu Ali berteriak dan berkata : “Celaka, siapa anda?” Az-Zubaidi menjawab : “Saya muridmu, Az-Zubaidi.” Abu Ali berkata : “Sejak kapan anda membuntuti saya.? Demi Allah tidak ada dimuka bumi ini orang yang lebih tahu tentang Nahwu daripada anda, pergilah dan tinggalkan saya.” [Inaabatur Ruwat ala Anbain Nuhaat (2/119), Al-Qifthy]


Demikianlah, 41 Kisah Para Ulama –semoga Allah merahmati mereka- yang kami pilihkan dari kitab Kaifa Tatahammas fi Thalabil Ilmisy Syar’i karya Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Abdillah. Yang sudah diterjemahkan dengan judul 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara. Cet Elba. Semoga bermanfaat.

Sumber:  Prima Ibnu Firdaus ar-Roni al-Mirluny