Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2012

7 Keajaiban Dunia Yang Lebih Ajaib

Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman

Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,

"Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami".

Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, "Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

"Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

2. Pohon Kurma yang Menangis

Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,

"Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: "Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut". [HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata:
"Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

3. Untaian Salam Batu Aneh

Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang". [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

4. Pengaduan Seekor Onta

Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.

Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata:
“Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. 

[HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

5. Kesaksian Kambing Panggang

Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata:

"Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun". Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), "Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?" Wanita itu menjawab, "Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu". Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,"Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus". 

[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

6. Batu yang Berbicara

Setelah kita mengetahui adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
"Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, "Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, "Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat".[Lihat Fathul Bari (6/610)]

7. Semut Memberi Komando

Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,

"Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS.An-Naml: 16-19).

Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan "Tujuh Keajaiban Dunia" yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin

****
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 46 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Dari: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1040

Sabtu, 18 Agustus 2012

Siapapun Anda, Bekerjalah Untuk Agama Allah

Syaikh Muhammad Al 'Arifi bercerita :

Seorang pemuda pelajar di perguruan tinggi pernah menahanku. Ia berkata : "aku mempunyai pertanyaan!"

Aku menjawab : "Apa pertanyaanmu?"
Ia berkata : "Jika aku ingin menunaikan shalat sunnah seperti Witir atau Dhuha; apakah aku wajib berwudhu? Ataukah aku shalat tanpa bersuci?!"

Aku heran dengan pertanyaannya dan aku mengira diriku tidak memahami pertanyaan. Aku memintanya untuk mengulangi pertanyaannya, dan ia pun mengulangi pertanyaan yang sama!!
Akhirnya aku menjawab : "Tentu saja. Engkau wajib berwudhu… Engkau punya masalah tentang ini?"

Ia berkata : "(Aku berpikir), shalat ini adalah kebaikan yang datang dariku, kenapa aku harus berwudhu untuknya?" (??!!)

******

Berkata seorang Syaikh :

Saya pernah menyampaikan ceramah di sebuah masjid tentang hukum-hukum thaharah besar dan kecil. Ketika keluar, seorang pemuda seumuran mahasiswa kampus memegangku. Ia berkata :

"Syaikh,, engkau telah menyebutkan tadi bahwa siapa yang bangun dari tidurnya dalam keadaan junub dikarenakan mimpi basah, maka dia wajib mandi…"

Saya menjawab : "Iya, benar.."

Ia bertanya kembali : "Apakah yang wajib baginya itu wudhu saja seperti wudhu untuk shalat ataukah mandi yang sempurna?!"

Saya menjawab : "Bahkan wajib baginya mandi yang sempurna. Dia mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya. Jika dia tidak melakukannya, hadats itu tidak hilang darinya, dan akibatnya, shalatnya tidak sah.."

Anak muda itu berkata : "Demi Allah,,, semenjak bertahun-tahun jika aku junub dalam tidur, aku hanya mencukupkannya dengan wudhu seperti wudhuku untuk shalat… Sama sekali aku tidak tahu tentang kewajiban mandi dalam keadaan demikian kecuali saat ini!!" (??!!)

******

Sahabat,,,

Bukanlah perkara aneh jika datang pertanyaan seperti ini di zaman ketika orang-orang berilmu semakin sedikit dan kebodohan semakin tersebar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa diantara tanda-tanda Kiamat adalah semakin sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.

Ya,, siapa yang mau memperhatikan keadaan manusia, maka dia akan dapatkan berpalingnya mereka dari ilmu, majelis-majelis ilmu, membaca buku, dan tenggelam dalam lautan kejahilan dan kebodohan..

Anehnya juga, sebagian orang begitu sibuk dengan persoalan-persoalan "besar" yang tidak terjangkau oleh dirinya dan tidak dibutuhkan orang awam, dan luput darinya perkara-perkara "kecil" yang wajib untuk segera diamalkan…

Sahabat,,,

Siapapun diri Anda, marilah memperbaiki keadaan… Tuntutlah ilmu dan ajarkan ilmu tersebut kepada orang-orang bodoh dari umat ini… Tidak perlu berbicara besar tentang penegakan Syariat Islam, sementara  mayoritas masyarakat kita jahil dengan persoalan-persoalan "kecil" seperti dalam kisah diatas…

Pahamilah prioritas dakwah dan komitmenlah diatas jalan dakwah ini… Semoga Allah memberkahi perjuangan kita… Aamiin!!

******

@ Kisah dikutip dari Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al ‘Arifi dalam "Hal Tabhats ‘an al-Wadzhifah?"

MULAILAH UNTUK BERDAKWAH...

Syaikh Muhammad al ‘Arifi berkata :

Seorang da’i pernah menceritakan kepadaku bahwa pintu rumahnya diketuk orang pada akhir malam. Berkata Syaikh itu : Aku pun keluar dan aku dikagetkan dengan seorang pemuda yang nampak padanya bekas-bekas maksiat… Aku bertanya padanya : "Apa yang engkau inginkan?"

Ia berkata : "Bersamaku di mobil ada dua orang pekerja India yang ber-Islam melalui tanganku. Aku datangkan mereka kepadamu agar engkau ajarkan kepada mereka syahadat dan berkenan menjawab pertanyaan mereka berdua…"

Berkata Syaikh : Aku pun heran dan bertanya : "Bagaimana engkau bisa mendakwahi keduanya?"

Ia berkata : "Aku selalu mengikuti mereka dengan memberikan buku-buku dan kaset hingga akhirnya mereka ber-Islam…"

Sahabat,
Berapa banyak orang yang melihat kawan-kawannya melakukan perbuatan haram, bertukar gambar-gambar yang diharamkan, berpacaran, dan sebagainya, namun, walaupun demikian, jika kita minta dia untuk bernasehat, ia akan mengatakan : "Saya pribadi masih butuh kepada nasehat,, saya masih melakukan perbuatan dosa,, jika saya sudah komitmen dengan agama ini, saya akan bernasehat kepada orang lain",,,,

Aneh… Alangkah bahagianya setan mendengarkan kata-kata ini…

Bagaimanakah Islam masuk ke India dan China?! Sampai-sampai di India saat ini terdapat 100 juta muslim,, dan di China juga dengan jumlah yang hampir sama,, siapa yang mendakwahi mereka?

Mereka hanyalah orang-orang biasa,, bukan penuntut ilmu,, bukan imam-imam masjid,, dan bukan juga alumni fakultas Syari’ah,,

Orang-orang yang datang untuk berdagang, yang kemudian -dengan sedikit bekal pemahaman agama-, mengajak manusia kepada agama Allah hingga manusia pun masuk ke dalam Islam,, Dari orang-orang yang masuk Islam itulah kemudian muncul ulama-ulama dan da’i-da’i,, dan pahala hidayah mereka itu akan dicatat dalam catatan kebaikan para pedagang tersebut…

Sahabat,
Jangan pernah menyerah dengan dosa dan maksiat yang telah dan sedang Anda lakukan… Berusahalah untuk meninggalkan dosa dan maksiat tersebut, dan teruslah berdakwah dan berbuat kebaikan… Semoga Allah mengampuni kita semua… Amin.

ولو لم يعظ فى الناس من هو مذنب # فمن يعظ العاصين بعد محمد؟

Kalau bukan yang menasehati manusia adalah orang yang berbuat dosa
Maka siapakah yang akan menasehati para pelaku maksiat setelah Muhammad?! (shallallahu ‘alaihi wasalam)

@ Faedah yang diambil dari Syaikh Muhammad al ‘Arifi, dalam bukunya “Hal Tabhats ‘an al Wadzhifah?”

Sumber: Belajar Manhaj Salafy

Kamis, 16 Agustus 2012

10 Faedah Semangat Ulama Dalam Menuntut Ilmu

Oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi hafizhahullah

1. BERDESAKAN HINGGA MENGAKIBATKAN KEMATIAN

Ishaq bin Abi Israil mengatakan: "Para penuntut ilmu hadits berdesakan pada Husyaim sehingga membuatnya terjatuh dari keledainya, dan itulah faktor penyebab kematiannya." (Manaqib Imam Syafi'i hlm. 167-168 oleh al-Aburri dan al-'Uzlah hlm. 89 oleh al-Khothobi)

Mirip dengan ini adalah kisah tentang sebab kematian seorang ahli nahwu tersohor yaitu Tsa'lab. Dikisahkan bahwa dia pernah keluar dari masjid usai sholat Ashar pada hari Jum'at. Beliau memang sedikit tuli. Di tengah-tengah asyik membaca kitab sambil berjalan, tiba-tiba ada kuda yang menabraknya sehingga dia tersungkur di sebuah lubang. Akhirnya dia ditolong dan dikeluarkan dalam keadaan berlumpur kemudian diantarkan ke rumah. Setelah itu dia merasakan sakit di bagian kepalanya dan keesokan harinya meninggal dunia. (Wafayatul A'yan 1/104 oleh Ibnu Khollikan)

2. TETAP BELAJAR SEKALIPUN DI DEPAN SINGA

Abul Hasan Bunan bin Muhammad bin Hamdan adalah salah seorang ulama yang dikenal banyak memiliki karomah.

Suatu saat karena dia berani mengingkari Ibnu Thulun, maka dia dihukum dan dicampakkan di depan singa. Sang singa pun menciuminya tetapi anehnya dia tidak menerkam Abul Hasan. Akhirnya, dia pun dibebaskan. Orang-orang merasa heran dengan kejadian tersebut. Seorang pernah bertanya kepada beliau: "Bagaimana perasaan Anda tatkala berada di depan singa?" Beliau menjawab: "Saya tidak cemas sama sekali, bahkan saat itu saya sedang memikirkan tentang air liur binatang buas serta perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fiqih, apakah suci ataukah najis!!!" (al-Bidayah wa Nihayah 12/158 oleh Ibnu Katsir).

3. RELA DIPUKUL ASALKAN MENDAPAT HADITS

Dalam biografi Hisyam bin Ammar disebutkan bahwa dia pernah masuk kepada Imam Malik tanpa izin seraya mengatakan: "Ceritakanlah kepaku hadits." Imam Malik mengatakan: "Bacalah." Hisyam berkata: "Tidak, yang saya inginkan adalah engkau menceritakan kepadaku hadits." Tatkala Hisvam sering mengulang-ngulang hal itu, maka Imam Malik mengatakan: "Wahai pelayan, pukullah dia sebanyak lima belas kali." Pelayan pun memukul Hisyam lima belas kali lalu membawanya kepada Imam Malik. Hisyam berkata kepada Imam Malik: "Kenapa engkau menzholimiku? Engkau telah memukulku tanpa dosa yang kuperbuat. Aku tidak menghalalkanmu." Imam Malik berkata: "Terus, apa tebusannya?" Hisyam menjawab: "Tebusannya adalah engkau menceritakan kepadaku lima belas hadits." Maka beliau pun menceritakan lima belas hadits kepada Hisyam. Hisyam berkata lagi kepada Imam Malik: "Tolong tambahi lagi pukulannya sehingga Anda menambahi lagi hadits untukku." Mendengar itu, Imam Malik tertawa seraya mengatakan: "Pergilah kamu." (Siyar Alam Nubala 3/4093 oleh adz-Dzahabi, cetakan Baitul Afkar)

Mirip dengan hal ini adalah kisah rihlah (perjalanan jauh untuk menuntut ilmu) yang dilakukan oleh Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal. Dikisahkan, ketika mereka hendak pulang, mereka singgah di Imam Abu Nu'aim Fadhl bin Dukain karena Yahya bin Ma'in ingin mengetes hafalannya. Setelah Imam Abu Nu'aim tahu bahwa dirinya sedang dites, maka dia menendang Yahya bin Ma'in. Akhirnya, Imam Ahmad berkata kepada Yahya: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu jangan mengetesnya karena dia adalah seorang yang kuat hafalannya." Yahya berkata: "Demi Alloh, sungguh tendangannya lebih aku sukai daripada semua perjalananku ini." (ar-Rihlah fi Tholabil Hadits hlm. 207 oleh al-Khothib al-Baghdadi)

4. PULUHAN RIBU ORANG HADIR DI MAJELIS MEREKA

Sejarah ulama dahulu sangat harum dengan semangat menuntut ilmu. Banyak di antara mereka berdesak-desakan membanjiri majelis ilmu. Berikut ini beberapa buktinya:
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Ashim bin Ali sebanyak seratus enam puluh ribu orang. (Tarikh Baghdad 12/248)
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Sulaiman bin Harb sebanyak empat puluh ribu orang. (al-Jarh wa Ta'dil 4/108)
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Imam Bukhori sebanyak dua puluh ribu orang lebih. (al-Jami' li Akhlaq Rowi 2/53)
  • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Abu Muslim al-Kajji sebanyak empat puluh ribu orang lebih. (Tarikh Baghdad 6/1211)
Dan masih banyak lagi data lainnya. (Dinukil dari Qoshoshun wa Nawadir li Aimmatil Hadits hlm. 70-72 oleh Dr. Ali bin Abdillah ash-Shoyyah)

Subhanalloh, pemandangan yang menakjubkan. Adapun pada zaman sekarang, kebanyakan manusia malah membanjiri tempat-tempat maksiat. Hanya kepada Alloh kita mengadukan semua ini!!!

5. SEMANGAT MENULIS YANG MENAKJUBKAN

As-Sam'ani menceritakan bahwa Imam al-Baihaqi pernah tertimpa penyakit di tangannya, sehingga jari-jemarinya dipotong semua, hanya tinggal pergelangan tangan saja. Sekalipun demikian, beliau tidak berhenti dari menulis, beliau mengambil pena dengan pergelangan tangannya dan meletakkan kertas di tanah seraya memeganginya dengan kakinya, lalu menulis dengan tulisan yang indah dan jelas. Demikianlah hari-harinya, sehingga setiap hari dia dapat menulis dengan tangannya kurang lebih sepuluh lembar. "Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menakjubkan yang pernah saya lihat darinya," kata as-Sam'ani. (at-Tahbir fil Mu'jam Kabir 1/223)

Termasuk semangat yang menakjubkan pula adalah semangat Imam Ibnu Aqil yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun. Tahukah Anda berapa jilid kitab tersebut? Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: "Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut." (Tarikh Islam 4/29)

Sekalipun demikian besarnya kitab ini, tetapi sayangnya kitab ini termasuk perbendaharan umat Islam yang hilang, belum diketahui sampai sekarang kecuali hanya satu jilid saja yang ditemukan di perpustakaan Paris dan dicetak dalam dua jilid pada tahun 1970-1971. (Muqoddimah Kamil Muhammad Khorroth terhadap Zahrul Ghushun min Kitabil Funun hlm. 6)

6. BERKALI-KALI KHATAM KITAB, TIDAK BOSAN

Al-Muzani berkata: "Saya membaca kitab Risalah karya asy-Syafi'i sejak lima tahun yang lalu, setiap kali aku membacanya saya mendapatkan faedah baru yang belum aku dapatkan sebelumnva." (Manaqib Syafi'i hlm. 114 oleh al-Aburri)

Ibnu Basykuwal menceritakan bahwa Abu Bakr bin Athiyyah mengulang-ngulang membaca kitab Shohih Bukhori sebanyak 700 Kali (ash-Shilah 2/433)

Disebutkan dalam biografi Abbas bin Walid al-Farisi bahwa ditemukan dalam sebagian akhir kitabnya suatu tulisan. "Saya telah membacanya sebanyak 1.000 kali. !!! (Thobaqot Ulama Afrika wa Tunis hlm. 224)

Abdulloh bin Muhammad, ahli fiqih dari Irak, beliau pernah membaca kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah (sekarang tercetak dengan 15 jilid) sebanyak 23 kali!! (Dzail Thobaqot Hanabilah 2/411)

7. MENGUSIR KANTUK DENGAN MEMBACA

Ibnul Jahm berkata: "Apabila kantuk menyerangku pada selain waktu tidur, maka saya segera mengambil kitab hikmah, lalu saya mendapati hatiku berbunga-bunga kegirangan ketika mendapatkan ilmu." (al-Hayawan 1/53 oleh al-Jahidz)

Subhanalloh, bandingkan hal ini dengan perbuatan sebagian kita yang membaca justru dengan niat sebagai pengantar tidur!!!

8. TRIK AGAR TETAP BELAJAR

Imam Ibnu Tabban adalah seorang ulama yang bersemangat sangat tinggi dalam menuntut ilmu, sehingga dia pernah mempelajari kitab al-Mudawwanah sebanyak 1000 kali!!!

Dia pernah berkata tentang dirinya: "Dahulu ketika saya awal-awal menuntut ilmu, saya gunakan seluruh malam untuk belajar, sehingga ibuku pernah melarangku dari membaca di malam hari. Akhirnya saya bersiasat untuk membuat lampu dan menaruhnya di bawah tempat tidur lalu saya berpura-pura tidur. Ketika saya rasa bahwa ibuku benar-benar telah tidur, maka saya keluarkan lampu dan melanjutkan belajar." (Tartibul Madarik 1/78 al-Qodhi Iyadh).

Saudaraku, renungkanlah kisah di atas baik-baik. Dia meninggalkan keinginan dirinya dan berjuang melawan hawa nafsunya demi menuntut ilmu dan menjaga semangat tersebut agar tidak luntur. (Ma'alim fi Thoriq Tholabil Ilmi hlm. 69 oleh Abdul Aziz as-Sadhan).

9. WAKTU LIBUR TETAPI TETAP HADIR

Jika Alloh telah memberimu nikmat semangat untuk menuntut ilmu maka jagalah nikmat tersebut. Jangan sampai ia menghilang darimu karena ia adalah pertanda bahwa Alloh menghendaki kebaikan bagimu.

Al-Askari menyebutkan bahwa Abui Hasan al-Karkhi berkata: "Saya selalu menghadiri majelis ilmu Abu Hazim pada hari Jum'at padahal hari itu tidak ada pelajaran. Aku lakukan hal itu agar kebiasaanku menghadiri majelis ilmu tidak hilang." (al-Hatstsu 'ala Tholabil Ilmi hlm. 78).

Saudaraku, renungkanlah kisah di atas baik-baik. Dia meninggalkan keinginan dirinya dan Bandingkanlah hal ini dengan sikap sebagian kita yang malas menghadiri majelis ilmu dengan alasan-alasan lagu lama "maaf saya lagi sibuk", "maaf saya lagi banyak urusan", dan sebagainya.

Alangkah indahnya ucapan penyair:

رَأَيْتُ النَّاسَ يَشْكُونُ الزَّمَانَا

وَمَالِزَمَانِنَا عَيْبٌ سِوَانَا

نَعِيْبُ زَمَانَنَا وَالْعَيْبُ فِيْنَا

وَلَوْ نَطَقَ الزَّمَانُ بِهِ رَمَانَا

Saya melihat banyak manusia mengeluh tentang waktu
Padahal tidak ada kesalahan pada waktu selain kita sendiri
Kita mencela waktu padahal yang salah adalah diri kita sendiri
Seandainya saja waktu bisa bicara tentu akan marah kepada kita. 
(Manaqib Imam Syafi'i hlm. 65 oleh al-Aburri).

10. KITAB, SAINGAN TERBERAT

Kebiasaan Imam Zuhri, kalau masuk rumah maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari segala urusan dunia lainnya. Suatu saat istrinya pernah berkata padanya: "Demi Alloh, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga istri sainganku!!!" (Wafayatul A'yan 4/177-178 oleh Ibnu Khollikan).

[Majalah Al-Furqon, Edisi 01 Th. ke-10, 1431/2010]

Sumber: www.ibnumajjah.wordpress.com
Download Ebooknya: Klik Disini

Senin, 13 Agustus 2012

Si Gubernur Miskin

Hari itu kota Hims, salah satu kota besar di bilangan Syam, dikejutkan oleh inspeksi mendadak sang khalifah Umar bin Khoththob. Sebenarnya inspeksi semacam ini bukan hal yang aneh bagi kaum muslimin pada zaman itu. Pasalnya, khalifah yang satu ini memang terkenal suka melakukan peninjauan langsung terhadap kinerja seluruh staf-staf kenegaraannya. Apabila ada hal yang tidak beres dia tidak segan-segan memecat dan mengganti pegawainya.

Begitu tiba di kota Hims, Umar meminta kepada beberapa staf setempat untuk mensurvey nama-nama fakir miskin di wilayah tersebut. Beberapa saat kemudian, para pegawai kembali dengan sebuah laporan tertulis berisi daftar nama-nama fakir miskin. Disaat membuka buku laporan itu lembar demi lembar, tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah nama, “Sa’id bin ‘Amir” . Sejenak, dia berkelana didalam memori kepalanya, membongkar tumpukan nama-nama orang yang pernah ia kenal, sembari mencocokan nama orang ini: “Sa’id bin ‘Amir”, sepertinya nama ini tidak asing baginya.

“siapa yang kalian maksud dengan Sa’id bin ‘Amir disini?” Tanya Umar keheranan.

“ wahai amirul mukminin, dia itu gubernur kami” jawab mereka.

“apa..!? gubernur kalian…!? “

Mendengar jawaban itu ubun-ubun Umar bagai disambar petir. Ternyata dugaannya benar, orang ini memang sangat tidak asing baginya.

“Bagaimana namanya bisa dia masuk kedalam daftar fakir miskin? Kemana gajinya selama ini?”

“wahai amirul mukminin, dia tidak menyimpan gajinya sedikit pun” jawab mereka.

Mendengar pernyataan tersebut hatinya menjadi luluh, tanpa terasa butir demi butir air mata mulai membanjiri pipinya, membayangkan betapa sengsaranya sahabat sekaligus orang kepercayannya yang satu ini menanggung beban.

Gubernur yang satu ini begitu zuhud. Tiap bulannya, dia hanya mengambil beberapa keping uang gaji yang dia rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangganya, sisanya dia sedekahkan kepada fakir miskin. Sebagai seorang gubernur, sosoknya begitu berbeda dibandingkan para pejabat negara lainnya, begitu kontras dengan jabatan yang ia sandang. Tidak punya istana, penampilan ala kadarnya, tidak ada satupun petugas keamanan berjaga di pintu rumahnya, dan tidak ada seorang pun pelayan atau budak belian di rumahnya.

Sa’id bin ‘Amir bin Hadzyam, memeluk agama islam beberapa waktu sebelum terjadinya perang Khaibar. Reputasinya sebagai salah satu orang-orang sholih yang dapat diamanahi, mendorong Umar untuk memanggilnya beberapa waktu lalu seraya berkata,

”Sa’id, aku memanggilmu kemari untuk mengangkatmu sebagai gubernur di wilayah Syam”.

Kalau saja manusia zaman sekarang disodorkan tawaran semacam ini, tentu dia akan kegirangan bukan kepalang. Begitulah orang-orang yang memandang kekuasaan sebagai ladang subur untuk meningkatkan taraf perekonomian hidup (baca: memperkaya diri).

Namun lain halnya dengan orang-orang yang pernah mengenyam bangku madrasah Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- semacam Sa’ad bin ‘Amir. Jawaban yang keluar dari mulutnya bukanlah “jazakallahu khoiron” atau ucapan manis semacamnya, melainkan kata-kata,

”wahai Umar, kumohon, jangan kau lempar diriku ke dalam kubangan fitnah”.

Begitulah, sahabat yang mulia ini menolak mentah-mentah tawaran mengiurkan itu. Aneh memang, kalau di lihat melalui kacamata materialis tentu perbuatannya ini merupakan hal dungu. “Alangkah bodohnya orang ini, diberi kesempatan hidup enak kok malah disia-siakan”, kira-kira begitulah tanggapan orang-orang yang hatinya sudah terbakar nafsu dunia.

Adapun Sa’id bin ‘Amir, melalui pelajaran-pelajaran nubuwah yang ia cerna selama di madrasah Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-, dia memahami bahwa berkuasa sama artinya dengan menanggung beban amanat sangat-sangat berat untuk di pertanggungjawabkan di padang mahsyar nanti. Setiap rasa lapar yang diderita rakyatnya, sekecil apapun kedzaliman yang terjadi, itu semua akan menjadi bahan pertanyaan pada hari kiamat kelak.

Namun, Umar lantas menanggapi penolakan Sa’id tadi dengan tegas, “demi Allah, aku harus memaksamu, seenaknya saja kalian membebankan amanat ini ke atas pundakku lantas kalian mau pergi bagitu saja tanpa membantuku”.

Jawaban Umar barusan membuatnya terpaksa menerima tawaran tadi, bukan atas dasar hawa nafsu untuk menjadi penguasa, melainkan atas dasar menjalankan perintah Allah ta’ala untuk saling membantu dalam melaksanakan ketakwaan. Memang tidak adil rasanya, apabila Sa’id membiarkan Umar bin Khoththob sendirian menanggung beban amanah kekhalifahan yang berat, sementara dia memiliki kemampuan untuk membantunya. Yang membebani Umar dengan amanat berat kekhalifahan itu adalah para sahabat, jadi sudah sepantasnyalah bagi para sahabat seperti Sa’id untuk membantunya

Begitulah para sahabat Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-, memandang amanah kekuasaan bukan sebagai sesuatu yang layak untuk diperebutkan, melainkan sebagai suatu beban berat yang akan memperlambat laju mereka dalam menempuh perjalanan akhirat. Oleh karenanya, kita akan menyaksikan hal-hal aneh dalam keseharian mereka yang menggambarkan secara jelas bahwa mereka mengemban amanah pemerintahan bukan untuk berfoya-foya. Contohnya kisah berikut:

Pada kesempatan lainnya, Umar mengumpulkan penduduk kota Hims di suatu tempat guna mendengar secara langsung kesaksian mereka tentang kinerja para staf pemerintahan disana. Umar melontarkan pertanyaan kepada mereka,

“wahai penduduk Hims, bagaimana pendapat kalian mengenai kinerja gubernur kalian?”

Mereka menjawab, “wahai amirul mukminin, ada empat hal yang kami keluhkan tentang kinerja gubernur kami. Adapun yang pertama, setiap harinya, dia baru keluar dari rumahnya untuk melayani kami dikala matahari sudah tinggi”

“benar-benar keterlaluan”,kata Umar menanggapi keluhan mereka.

Keluhan pertama ini membuat tekanan darah Umar meningkat, pertanda rasa marah dan kecewa mulai menghampiri dirinya.

“lalu apa lagi?”,tanyanya.

“yang kedua, apabila malam tiba, dia tidak mau melayani siapapun”, jawab mereka.

“ini juga sudah kelewatan”,tanggapnya.

Keluhan kedua ini membuatnya semakin kecewa.

“lalu apa lagi?”,tanyanya lebih lanjut.

“yang ketiga, dalam satu bulan, ada satu hari dimana dia tidak melayani kami sama sekali”,jawab mereka.

“ini sudah melampaui batas wajar”,kata Umar yang makin bertambah kecewa.

“lalu apa lagi?” tanyanya kembali.

“yang keempat, dia sering sekali mendadak pingsan tak sadarkan diri” , jawab mereka.

Keempat keluhan ini benar-benar mengganggu perasaan Umar. Pasalnya, Sa’id bin ‘Amir adalah salah satu sahabat Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- yang terpercaya. Umar sangat mengetahui reputasinya selama ini. Rasanya tidak mungkin dia berbuat demikian kecuali ada alasan kuat yang mendorongnya. Akhirnya, dia memanggil Sa’id bin ‘Amir sang gubernur guna dimintai keterangan mengenai keluhan-keluhan penduduk Hims atas kinerjanya selama ini. Tidak tanggung-tanggung, dia memanggilnya dan mengadilinya langsung dihadapan penduduk kota.

Sebelum memulai sesi pengadilan, Umar sempat melantunkan doa,”Ya Allah, Janganlah kau jadikan penilaianku selama ini terhadap dirinya meleset”.

Walaupun kritikan-kritikan pedas yang tidak menyenangkan hati tadi datang bagaikan hujan anak panah, namun di sudut hatinya Umar masih menyimpan prasangka baik terhadap Sa’id. Tidak mungkin penilainnya terhadap sahabat yang satu ini meleset. Pasti ada alasan kuat yang membuatnya bertingkah demikian.

“rakyat Hims sekalian… coba sebutkan keluhan-keluahan kalian tadi”, kata Umar memulai persidangan.

“dia baru keluar dari rumahnya untuk melayani kami dikala matahari sudah tinggi”, jawab mereka.

“Sa’id, apa pembelaanmu?”,tanyanya.

“wahai amirul mukminin, Demi Allah, sebenarnya aku benci mengatakan hal ini, namun apa daya, aku akan mengatakannya demi membela diri” jawab Sa’id. “Aku tidak memiliki pembantu di rumah. Setiap pagi aku membuat sendiri adonan roti untuk keluargaku, kemudian aku juga yang memanggangnya hingga matang. Setelah semuanya selesai, aku lantas berwudhu kemudian keluar melayani mereka”,lanjutnya.

Mendengar jawaban Sa’id tersebut hati Umar mulai terobati. Ternyata benar, penilaiannya selama ini tidak meleset, dia berbuat demikian bukan karena dorongan rasa malas dan ingin bersantai-santai. Kejujuranlah yang mendorongnya. Karena sifat jujur dan amanahnya itulah dia tidak berani mengambil uang rakyat sepeser pun untuk kepentingan pribadi. Oleh sebab itulah dia tetap hidup miskin dan tidak memiliki pembantu. Kalau saja dia tidak jujur dan amanah, tentu sekarang dia sudah hidup nyaman dikelilingi para pelayan.

“lantas apa lagi?”,Tanya Umar kepada rakyat Hims.

“apabila malam tiba dia tidak mau melayani siapapun” jawab mereka.

“apa pembelaanmu, Sa’id?”

”lagi-lagi aku benci untuk menjawabnya, tapi apa boleh buat, aku terpaksa akan menjawabnya demi membela diri”, Jawab Sa’id. “aku telah mengorbankan waktu siangku demi melayani mereka, jadi sudah sewajarnya bila waktu malamku aku khususkan untuk bermunajat kepada Allah ta’ala”.

Untuk kedua kalinya, jawaban Sa’id bagaikan semilir angin yang mengusir hawa panas dari hati Umar. Memang beginilah seharusnya perilaku orang-orang solih alumni madrasah Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-. Mereka tidak memandang urusan dunia yang membuat mereka super sibuk sebagai uzur untuk melalaikan hak-hak Allah ta’ala.

Kesemrawutan problem sehari-hari, gejolak hidup yang tak lekas pergi, hiruk pikuk alam fana ini, serta beribu urusan yang lalu lalang di kepala mereka, semua itu akan mereda begitu malam tiba, berganti dengan nuansa khusyu’ berbalut alunan senandung al- qur’an. Rintihan lirih ketika bermunajat, isak tangis karena takut akhirat, berpadu dengan tasbih dan istighfar hingga penghujung malam, itu semua menjadi melodi tak terpisahkan dari kehidupan malam mereka. Andaisaja kita bisa menyaksikan langsung rupa mereka di pagi hari, niscaya kita akan melihat wajah-wajah berhiaskan garis-garis hitam membujur dari mata hingga pipi. Itulah bekas banjir air mata, saking banyaknya mereka menangis hingga aliran air mata meninggalkan bekas seperti parit di wajah.

“apalagi?”,Tanya Umar melanjutkan sidang.

“dalam satu bulan, ada satu hari dimana dia tidak melayani kami sama sekali”,jawab mereka.

“apa pembelaanmu, Sa’id?”

“wahai amirul mukminin, aku tidak memiliki pelayan yang mencucikan pakaianku, dan juga aku tidak memiliki pakaian lain selain yang menempel di badanku ini. Oleh karenanya, aku mencuci pakaianku ini satu kali dalam sebualan. Pada hari itu aku mencucinya, kemudian aku menungguinya hingga mengering pada sore hari”, jawab Sa’id.

“apalagi?”, lanjut Umar kepada penduduk Hims.

“dia sering sekali mendadak pingsan tak sadarkan diri”, jawab mereka.

“apa tanggapanmu, Sa’id?”

“wahai amirul mukminin, aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Khubaib Al-anshory menemui ajalnya”, jawab Sa’id.

“Ketika itu aku masih dalam keadaan musyrik. Aku menyaksikan orang-orang kafir Quraisy mencincang tubuhnya hidup-hidup seraya berkata,”wahai Khubaib! Apa kau rela andaisaja Muhammad menggantikan posisimu sekarang ini?”. Khubaib menjawab,”demi Allah, jangankan posisiku sekarang, sedikit pun aku tak rela Muhammad tertusuk duri sementara aku duduk di rumah bersama anak dan istriku”. Setiap kali aku mengingat peristiwa itu, aku selalu dirundung penyesalan. Menyesal karena aku tidak menolongnya. Menyesal karena aku ketika itu bukan termasuk golongan orang beriman. Aku khawatir, jangan-jangan Allah ta’ala tidak akan mengampuni dosaku itu. Itulah yang membuat sering pingsan”.

Mendengar jawaban-jawaban Sa’id diatas, hati Umar berbunga-bunga. ”segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan penilaianku terhadap dirinya meleset”, kalimat itulah itulah yang spontan terlontar dari lisannya. Betapa bahagia dia, ternyata tudingan-tudingan penduduk Hims tehadap orang kepercayaannya ini hanya salah paham belaka.

Seusai sidang, Umar memerintahkan salah seorang pegawainya mengirimkan sekantung uang sejumlah seribu dinar ke rumah Sa’id seraya berpesan, “wahai Sa’id, gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan hidupmu”.

Sesampai di rumah, istri Sa’id berkata, “Alhamdulillah, akhirnya kita bisa membeli budak pelayan, sehingga engkau tidak perlu lagi kerepotan”.

“Wahai istriku, aku punya usul lain”, tanggap Sa’id. “Kita investasikan uang ini di tangan orang-orang. Lalu, jika suatu saat nanti kita dalam kondisi terdesak membutuhkan uang, baru kita ambil laba dari investasi ini. Bagaimana menurutmu?”,usulnya.

“wah, setuju sekali”, jawab sang istri spontan.

Istrinya tidak menyadari maksud Sa’id yang sebenarnya. Gambaran yang ada di benaknya, Sa’id akan menanamkan modal pada beberapa pedagang. Dengan begitu, seribu dinar tadi akan berkembang dan semakin banyak, dan menjadi tabungan yang bisa diambil sewaktu-waktu saat kebutuhan mendesak. Padahal maksud Sa’id yang sesungguhnya, dia ingin menyedekahkan seribu dinar itu kepada fakir miskin. Yang nantinya pada hari kiamat, dimana manusia dalam kondisi sangat terdesak membutuhkan amal soleh, sedekah seribu dinar tadi akan sangat menolong mereka.

Tanpa pikir panjang, Sa’id langsung keluar dan memanggil salah seorang kepercayaanya. Lalu, seribu dinar tadi dibagi-bagi dalam beberapa kantung kecil.

“kantung yang ini, tolong berikan kepada janda-janda miskin di kabilah fulan, yang ini, berikan kepada fakir miskin di kabilah fulan, yang ini, berikan kepada keluarga fulan yang sedang terkena musibah”, perintah Sa’id. Begitulah seterusnya, hingga yang tersisa tinggal beberapa keping uang dinar.

Lantas ia pulang dan memberikan sisa uang tadi kepada istrinya.”gunakan sisa uang ini untuk memenuhi kebutuhan kita”, katanya.

“Lho, kau kemanakan uang uang seribu dinar tadi?”, tanya sang istri keheranan.

“kita akan mengambil uang itu suatu saat nanti, di saat kita dalam keadaan sangat terdesak”, jawabnya sambil berlalu menuju tempat kerjanya.

Semoga rahmat Allah ta’ala selau tercurah kepada pemimpin-pemimpin semacam ini.

[Disarikan dari buku: Shifatus Shofwah, karya Imam Ibnul Jauzi –rohimahullahu- halaman 254-247]

http://www.belajarislam.com

Sabtu, 11 Agustus 2012

10 Kisah Seputar al-Quran


Kisah pertama: Ingin memalsukan al-Quran, tetapi malah masuk Islam

Allah Subhanahu wa ta'ala berjanji didalam al-Quran, bahwa Dia akan menjaga al-Quran. firman-Nya:
إنّانحن نزّلنا الذّكر وإنّا له لحفظون
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar - benar memeliharanya." [al-Quran surat Al-Hijr ayat 9]

Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan kisah menarik yang berhubungan dengan pemeliharaan al-Quran didalam kitab Tafsir nya (10/5,6)

Berikut kisah nya :

Khalifah Al-Ma'mun (adalah) seorang kepala negara yang memiliki sebuah majelis diskusi. Kemudian sejumlah orang yang berpakaian bagus, berwajah tampan, dan bertubuh wangi masuk kedalam majelis tersebut, ia ikut berbicara. Pembicaraan nya sangat bagus dan gaya bicaranya indah.
Ketika majelis tersebut selesai, Khalifah Al-Ma'mun memanggilnya dan bertanya kepadanya : "Apakah kamu orang Israil?"
Ia menjawab : "Ya"
Al-Ma'mun kemudian berkata kepadanya : "Masuklah kedalam agama Islam, agar aku bisa berbuat sesuatu kepadamu.!"
Ia lalu memanjanjikan sesuatu kepadanya. Tetapi orang itu menjawab : "Agamaku adalah agama nenek moyangku." Ia kemudian pergi

Setelah setahun kemudian, ia datang lagi dalam keadaan telah memeluk agama Islam. Ia mahir dan sangat pintar dalam masalah fikih, terlihat dari tema pembicaraan nya.
Ketika majelis telah selesai, Ma'mun memanggilnya dan berkata : "Bukankah kamu dulu pernah datang?"
Ia menjawab : "Ya, benar"
Khalifah Al-Ma'mun bertanya lagi : "Apa yang menyebabkan mu memeluk agama Islam?" Ia pun bercerita :

Katanya : "Ketika aku pergi dari hadapan yang mulia, aku bermaksud menguji kebenaran agama - agama ini. Padahal baginda saat itu memandangku orang baik. Aku kemudian mencari Taurat dan menulis tiga naskah salinan nya. Aku menambahkan dan mengurangi isinya. Aku kemudian menawarkan nya ke biara (rumah ibadah yahudi) dan mereka membeli ketiga naskah tersebut dariku.

Setelah itu aku mengambil Injil dan menulis tiga naskah salinan nya. Aku menambah dan mengurangi isinya. Lalu aku masuk kedalam gereja (rumah ibadah nasrani) dan mereka pun membeli ketiga naskah itu dariku.

Aku kemudian mengambil al-Quran dan membuat tiga naskah salinan nya. Aku menambah dan mengurangi isinya. Kemudian aku masukkan ke tempat penjual kertas, mereka (penjual kertas yang muslim itu) membolak balik lembaran nya. Ketika mereka mendapatkan ada tambahan dan kekurangan padanya, mereka membuangnya dan tidak mau membelinya. Dari situ aku tahu bahwa al-Qur'an ini terjaga. Dan itulah yang menyebabkan aku masuk Islam."

[At-Tafsir An-Nabawi li Al-Quran, Salman Fahd Audah. Terjemahan nya Bagaimana Nabi dan Sahabat Menafsirkan al-Quran hal 19-20. cet Pustaka Azzam]

Demikianlah, salah satu kisah bagaimana Allah Subhanahu wa ta'ala menjaga al-Quran melalui para penghafal al-Quran. 

Kisah Kedua: Wafat Karena al-Quran

Muhammad bin Basyar Al-Makki rahimahullah bercerita :

"Pada suatu hari kami pernah bersama Ali bin Al-Fudhail, kami melewati sebuah halaqah al-Quran yang gurunya sedang membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :


ليجزى الّذين أسئوا بما عملوا ويجزى الّذين أحسنوا بالحسنى
"(Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang - orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang - orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." [al-Quran surat An-Najm ayat 31]

Maka Ali bin Al-Fudhail pada saat itu tersentak lalu pingsan. Kemudian datanglah Al-Fudhail -ayahnya- dan berkata : "Sungguh dia adalah orang yang meninggal karena al-Quran." Kemudian dia (al-Fudhail) membawanya.

Beberapa orang yang membawanya bercerita kepada ku (Muhammad bin Basyar) bahwasanya Al-Fudhail berkata tentang anaknya yakni Ali, bahwa pada hari itu tidak dapat melaksanakan shalat zhuhur, ashar, maghrib, dan shalat isya', karena ia belum sadar dari pingsan nya, dan ketika malam hari barulah beliau sadar lalu beliau mengerjakan shalat - shalat yang tertinggal oleh nya.

Al-Khatib berkata : "Beliau (Ali) meninggal sebelum ayahnya (Al-Fudhail) yaitu beberapa saat setelah mendengar ayat yang dibaca, maka dia pun pingsan lalu meninggal seketika itu juga. Ibrahim Basysyar berkata : "Ayat yang menyebabkan Ali bin Al-Fudhail meninggal dunia adalah ayat dalam surat al-An'aam :


ولو ترى إذ وقفوا على النّار . فقالو يليتنا نردّ
"Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata : "Seandainya kami dikembalikan (ke dunia...)" [al-Quran surat al-An'aam ayat 27]

Aku termasuk orang yang menshalatkan nya. Semoga Allah merahmatinya."

[100 Qishshah min Qashash Ash-Shalihin. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran, hal 154 - 155. karya Hamdan Hamud Al-Hajiri. cet Darus Sunnah]

ٍSubhanallah... Alangkah Dahsyat al-Quran.
Bagaimana dengan kita..! Sudah kita memahami al-Quran dengan baik..?
Semoga Allah memudahkan kita didalam memahami ayat-ayatNya dan mengambil pelajaran dari kitab-Nya.

Kisah Ketiga: Ibu Berusia 65 tahun, Buta huruf Mampu Menghapal al-Quran selama 16 tahun.

 
Seorang ibu bernama Ummu Muhammad (Wadhha Ath-Tahyyar) berusia 65 tahun.

Ia bercerita : "Proses penyimakan yang terus menerus dan alat perekam merupakan dua karunia Allah yang mempunyai andil besar dalam mewujudkan keinginan ku untuk menghafal al-Quran al-Karim.

Perjalanan hidup ku bersama hafalan al-Quran telah berjalan 16 tahun lamanya, tetapi sungguh aku sangat merasa kebahagiaan yang hakiki khususnya ketika aku baru mulai menghafal al-Quran.

Diantara unsur penting yang dapat membantu dalam menghafal  adalah adanya niat yang jujur, ikhlas karena Allah semata, dan bersabar terhadap segala kesulitan. Sesungguhnya aku adalah seorang buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis sehingga aku banyak mendapatkan kesulitan yang luar biasa diawalnya. Namun segala puji hanya milik Allah, aku menggunakan alat perekam dan meminta pertolongan seorang guru wanita untuk datang kerumahku membaca al-Quran kepada ku dan menyimak hafalanku setiap harinya. Tidak lupa pula bahwa motivasi anak-anak ku yang tiada hentinya merupakan dorongan bagi ku untuk meneruskan kegiatanku dalam menghafal.

Karena buta huruf, maka ketergantungan ku pada indra pendengaran merupakan hal yang paling utama bagi ku. Ini merupakan salah satu karunia Allah sebagai ganti dari sifat buta hurufku sehingga bisa mewujudkan impianku mengkhatamkan al-Quran selama 16 tahun di lingkungan ahli al-Quran. Aku memohon kepada Allah agar menjadikan ku termasuk hamba - hamba-Nya ahli Quran, karena al-Quran adalah cahaya bagi manusia sewaktu didalam kuburnya.

Akhir kata aku mengajak saudari - saudari ku untuk menghafal al-Quran karena sesungguhnya hal tersebut mudah dan ringan sekali bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala."

[Majalah Al-Usrah hal 15. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran hal 132-133. Hamdan Hamud al-Hajiri. cet Darus Sunnah]

Subhanallah, bagaimana dengan kita yang masih muda, apalagi -alhamdulillah- sebagian kita tidak buta huruf? Kemana waktu kita pergi dan habiskan?

Mulailah...bacalah, hafallah, dan ulangilah 


Kisah Keempat: Singa pun Mendengarkan al-Quran dengan Khusyu'

Ahmad bin Thulun adalah salah seorang pemimpin Mesir Zaman dahulu dan juga merupakan seorang Ulama yang memiliki kedudukan yang mulia. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan bin Ahmad bin Banan. Beliau rahimahullah pernah mendekam di penjara.

Penyabab dia dijebloskan ke penjara adalah karena dia dahulu pernah menemui salah seorang pejabat, lalu beliau mendakwahinya. Pejabat tersebut pun marah kepada beliau seperti orang yang pura - pura tidak mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam : "Ada dua orang yang apabila dua orang ini baik, maka menjadi baiklah umat dan apabila buruk, maka akan menjadi buruklah umat tersebut yakni para ulama dan umara."

Pejabat itu marah dan hilanglah kesabaran nya lalu dia memerintahkan kepada para tentaranya : "Seretlah orang ini dan sodorkanlah dia kepada singa yang lapar. Kemudian kuncilah dia bersama singa tersebut dan biarkanlah dia hingga tubuhnya habis dimakan singa."

Ulama tersebut yakni Ahmad Thulun dimasukkan ke dalam penjara dengan Singa yang sedang kelaparan. Keesokan harinya, para penjaga penjara menemukan ulama tersebut sedang duduk dengan tenang dan nyaman sambil berdzikir mengingat Allah Ta'ala dan membaca ayat - ayat Al-Quran yang penuh berkah.

Mereka mendapati singa yang kemarin kelaparan tersebut sedang menundukkan kepalanya dengan tenang dan penuh kekhusyukan, menyimak ayat - ayat al-Quran (yang dibacakan).

Bagaimana bisa demikian? Ketahuilah karena sesungguhnya al-Quran itu adalah firman Allah Subhanahu wa ta'ala : Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun." [al-Quran surat az-Zumar ayat 23]

Kemudian bagaimana tidak? Yang telah menurunkan al-Quran itu adalah Allah Ta'ala yang telah berfirman : "Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir." [al-Quran surat al-Hasyr ayat 21]

['Ajaib al-Qishash hal 82. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran hal 156-158. Hamdan Hamud Al-Hajiri]

Subhanallah... Jika Singa yang buas yang sedang kelaparan saja khusyu' mendengarkan al-Quran, lalu bagaimana dengan kita? Kita bisa membaca al-Quran, alhamdulillah. Tapi sudah kah kita khusyu' dan mengambil pelajaran dari al-Quran?

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [al-Qamar ayat 17, 22, 32, 40]


Kisah Kelima: Menghafal al-Quran ketika menunggu Sidang
 
Syaikh DR.Yahya bin Abdurrazzaq al-Ghautsani bercerita :

"Kisah unik lain yang saya dengar juga adalah para tahanan di salah satu penjara tidak ada yang memiliki mushaf al-Quran. Oleh karena itu, masing masing dari mereka (para narapidana) mendiktekan hafalan al-Quran yang dia miliki kepada narapidana lain nya, sehingga semua narapidana dapat menghafal seluruh al-Quran (tanpa mushaf). Kecuali halaman terakhir dari surat Al-Anfaal. Sebab tidak ada seorang pun dari mereka yang menghafalnya. Hal ini sangat merisaukan mereka. Hingga akhirnya, ketika tiba giliran persidangan salah seorang dari mereka, dan ia keluar menuju lorong pengadilan untuk menunggu giliran, maka hal yang pertama yang ia (salah seorang narapidana) lakukan adalah mencari orang yang menghafal penghujung surat al-Anfaal.

Secara kebetulan ia mendapatkan nya diantara orang - orang yang hadir disitu. Lalu orang itupun mendiktekan hafalan nya kepada nya (yakni nara pidana tadi) dengan cara berbisik. Kemudian ia pun kembali kepada teman - teman nya dengan membawa hadiah yang paling berharga.

Sekembalinya ke penjara, mereka (nara pidana) lain nya langsung berkerumun disekelilingnya, lalu ia mendiktekan (halaman terakhir dari surat al-Anfaal) kepada yang lain nya. Ternyata mereka langsung dapat menghafalnya sejak pertama kali mendengarnya, seperti layaknya surat al-Fatihah."

[Cara Mudah dan Cepat Menghafal al-Quran hal 202-203, DR.Yahya bin Abdurrazzaq al-Ghautsani. cet Pustaka Imam Syafi'i. judul asli nya Kaifa Tahfazhul Quran al-Karim]

Subhanallah, begitu semangatnya para narapidana ini dalam menghafal al-Quran.
Bagaimana dengan kita?

Kisah Keenam: Seorang Penyanyi Menjadi Seorang Qari' al-Quran

Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu'anhu : "Bahwa pada suatu hari, beliau melewati suatu tempat pada arah Kufah, tiba - tiba beliau mendapati sekumpulan orang - orang fasik yang sedang meminum khamr. Diantara mereka, ada seorang penyanyi yang bernama Radzan yang bernyanyi sambil memainkan alat musik, dan memiliki suara yang indah. Kemudian ketika Abdullah bin Mas'ud mendengar suaranya ia berkata : "Aduhai alangkah indahnya suara ini seandainya digunakan untuk membaca al-Quran." Kemudian Abdullah bin Mas'ud menutupi kepalanya dengan kain nya dan berlalu.

Ketika Radzan mendengar ucapan Ibnu Mas'ud (secara sayup-sayup), ia pun bertanya kepada teman - teman nya : "Siapakah orang ini?" Maka teman - teman nya menjawab : "Dia adalah Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu'anhu, dia adalah sahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam."

Kemudian ia (Radzan) bertanya lagi : "Apa yang ia katakan tadi?"

Lantas mereka menjawab : "Sesungguhnya ia tadi berkata : "Aduhai alangkah indahnya suara ini seandainya digunakan untuk membaca al-Quran."

Kemudian tersentuhlah hati Radzan dengan ucapan tersebut, lalu ia pun melempar Al-'Ud (semacam alat musik jenis kecapi) ketanah dan menghancurkan nya.

Kemudian ia bergegas mencari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu'anhu hingga ia menemuinya, lalu ia meletakkan sapu tangan dilehernya. Lantas ia menangis dihadapan Abduillah bin Mas'ud, maka Abdullah bin Mas'ud memeluknya dan menangislah mereka berdua.

Kemudian Abdullah berkata : "Bagaimana aku tidak mencintai orang yang Allah Ta'ala telah mencintainya (karena bertaubat)." Ia pun bertaubat dari dosanya dan senantiasa mengikuti pelajaran Abdullah bin Mas'ud. Sehingga ia pun mendapatkan banyak manfaat dari al-Quran serta ilmu darinya, yang pada akhirnya hal tersebut menjadikan nya seorang Imam dalam bidang ilmu." 


[Qaidul Awabid hal 20. Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran, hal 168-169. Hamdan Hamud Al-Hajiri. cet Darus Sunnah]

Subhanallah...

Sangat jarang sekali yang ada seperti ini pada zaman ini. Bahkan yang banyak terjadi adalah orang yang dianggap ustadz, menjadi seorang Penyanyi. La Haula wa La Quwata Ilaa Billah -semoga Allah memberi hidayah kepada mereka-.

Kisah Ketujuh: "Aku membenci al-Quran, dan Al-Quran pun meninggalkan diri ku."

Syaikh Muhammad Ya'qub berkata :

"Aku pernah duduk bersama seseorang yang termasuk dari kalangan konglomerat yang ternama. Kemudian ia bercerita kepada ku : "Wahai Syaikh, apakah engkau mengetahui bahwa dahulu aku pernah menghafal al-Quran Al-Karim seluruhnya. Hal itu karena dahulu orangtuaku selalu memaksaku untuk menghafalnya hingga akhirnya aku pun dapat menghafalkan nya. Namun, aku sebenarnya tidak mencintai al-Quran sedikitpun. La Haula wa La Quwata Ila Billah, justru yang aku rasakan al-Quran adalah kesedihan bagi hatiku.

Aku seringkali berangan - angan agar aku bisa mengendarai mobil, kemudian aku dapat tinggal di villa dan memiliki sebuah pabrik. Aku tidak menginginkan al-Quran, aku ingin menjadi kaya, aku ingin menjadi raja dan aku ingin.... aku ingin... aku ingin..."

Kemudian laki - laki itu melanjutkan ceritanya : "Pada suatu malam, aku bermimpi dan ku lihat dalam mimpiku sebuah hal yang aneh. Aku memegang mushaf dan mendekapnya ke dadaku dengan erat dan penuh rasa cinta, kemudian datanglah seorang laki laki dan beliau mengambil al-Quran dariku dengan kasar dan kuat.

Pada pagi harinya, aku tidak dapat mengingat al-Quran walaupun satu huruf sekalipun. Kemudian aku meneruskan pendidikan ku ke jenjang perguruan tinggi jurusan bisnis. Setelah itu semua, Allah membukakan bagiku dunia berupa harta dan benda yang berlimpah.

Demi Allah, Demi Allah, aku tidak perlu berdusta. Sungguh telah berlalu 10 tahun lamanya, sementara aku kini berusia 68 tahun, aku tidak dapat merasakan nikmatnya tidur, kecuali setelah badanku terasa lelah karena menangis dan meratap, menyesali diriku dengan apa yang telah aku lakukan terhadap al-Quran. Sekarang wahai Syaikh, aku tidak mampu menghafal al-Quran walaupun hanya satu ayat saja dan yang lebih parahnya lagi aku tidak mampu membaca walaupun hanya satu ayat. La Haula wa La Quwata Ilaa Billah." 


[Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran hal 166-167, Hamdan Hamud Al-Hajiri. cet Darus Sunnah]

Siapa yang membenci al-Quran, maka Allah Subhanahu wa ta'ala tidak membutuhkan nya?

“Ambilah ibarat (pelajaran dari kejadian itu) hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (Al-Hasyr : 2)

Kisah Kedelapan: "Ku Robek Al-Quran, Al-Quran pun Merobek Hidup ku."

Imam Al-Mawardi rahimahullah menceritakan didalam kitab nya Adab Ad-Din wa Ad-Dunya bahwasanya Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik pada suatu hari bermain - main dengan mushaf al-Quran sebelum ia keluar dari rumahnya, maka dia membuka mushaf, terbukalah firman Allah Subahanhu wa ta'ala  :

واستفتحوا وخاب كلّ جبّار عنيد
"Dan mereka memohon diberi kemenangan dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang - wenang lagi keras kepala." [al-Quran surat Ibrahim ayat 15]

Kemudian ia merobek - robek mushaf al-Quran tersebut dan berkata : "Apakah engkau mengancam setiap orang yang keras kepala lagi pembangkang?

Inilah aku orang yang keras kepala lagi pembangkang. Apabila engkau mendatangi Rabbmu pada hari kiamat nanti, Katakanlah : "Wahai Rabbku, sesungguhnya Walid telah merobek - robek ku."

Beberapa hari kemudian, Allah memberikan nya kematian dengan seburuk - buruk kematian. Kepalanya disalib di istana nya sendiri diatas pagar tertinggi di negerinya."


[Adab Ad-Din wa Ad-Dunya hal 307, Al-Marwadi. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran 172-173, Hamdan Hamud Al-Hajiri. cet Darus Sunnah] 

Kisah Kesembilan: Menangis karena Satu Ayat al-Quran

Pada suatu malam, Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah melaksanakan shalat malam, kemudian beliau terus menerus menangis hingga membuat keluarganya merasa khawatir terhadap nya.

Mereka pun bertanya kepadanya. "Apa yang menyebabkan mu menangis?" Namun beliau terdiam dan terus menerus menangis. Kemudian keluarganya mengirim utusan kepada Abu Hazim untuk memberi tahu keadaan nya. Oleh karena itu, datanglah Abu Hazim dan mendapati beliau sedang menangis, lantas dia (Abu Hazim) bertanya kepada nya (Muhammad bin Al-Munkadir) : "Wahai saudaraku, apa yang menyebabkan mu menagis? Sungguh engkau telah membuat keluarga mu khawatir?"

Maka dia (Muhamamd bin Al-Munkadir) menjawab : "Sesungguhnya aku telah melewati sebuah ayat dari al-Qur'an."

Lalu Abu Hazim rahimahullah meneruskan pertanyaan nya "Ayat apakah itu?" Muhammad bin Al-Munkadir menjawab : "Firman Allah Azza wa Jalla :

ولو أنّ للّذين ظلموا مافي الأرض جميعا ومثله معه , لافتدوابه من سوء العذاب يوم القيمة , وبدالم مّن الله مالم يكونوا يحتسبون
"Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan." [al-Quran surat az-Zumar ayat 47]

Maka Abu Hazim menangis juga dan tangisan mereka berdua semakin menjadi - jadi. Sebagian keluarga Ibnu Al-Munkadir berkata kepada Abu Hazim : "Kami membawa mu agar dapat menyelesaikan masalahnya, tetapi engkau justru malah menambahnya (menanggis)." Kemudian dia menceritakan kepada mereka apa yang sebenarnya menyebabkan mereka berdua menangis." 


[100 Qishshah Min Qashsh Ash-Shalihin. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran hal 155-156, Hamdan Hamud AL-Hajiri. cet Darus Sunnah]

Subhanallah...
Kapan air mata kita mengalir karena al-Quran? Karena makna didalamnya?


Kisah Kesepuluh: Pencinta Nyanyian dan Pencinta al-Quran Ketika Wafat

Simak kisah berikut, dan ambillah pelajaran dari nya.

Salah seorang pekerja pemantau lalu lintas bercerita :
"Tiba - tiba kami mendengar suara tabrakan yang kuat, ternyata sebuah mobil yang menabrak mobil yang lain nya. Ini merupakan sebuah kecelakaan yang sulit untuk digambarkan, karena ada dua orang dalam keadaan sangat parah. Kemudian kami mengeluarkan dan membaringkan mereka ditepi jalan. Lalu kami berusaha mengeluarkan pemilik mobil yang satunya, tetapi kami menemukan nya telah meninggal dunia.

Kemudian kami kembali kepada kedua orang tadi, dan ternyata kami menemukan mereka dalam keadaan sekarat, maka dengan segera teman ku men-talqin-kan kepadanya kalimat Syahadat. Tetapi lidah kedua orang tersebut justru malah melantunkan nyanyian. Keadaan ini semakin membuat ku merinding, tetapi temanku berlaku sebaliknya, ia terus men-talqin-kan kalimat syahadat kepada mereka berdua karena ia mengetahui bagaimana seharusnya bersikap terhadap keadaan yang demikian. Namun demikian, usaha teman ku itu sia-sia, mereka berdua terus melantunkan nyanyian-nyanyian, dan semakin lama suara lantunan mereka semakin melemah. Kemudian orang yang pertama diam lalu di ikuti dengan orang yang kedua hingga akhirnya mereka pun menghembuskan nafas nya yang terakhir.

Lantas ia (taman ku) berkata : "Aku belum pernah menyaksikan kejadian yang seperti ini dalam hidupku."

"Kemudian kami membawa mereka berdua dengan mobil. Teman ku berkata : "Sesungguhnya manusia itu mengakhiri hidupnya dengan kebaikan atau keburukan tergantung dengan keadaan lahir dan batin nya."

Maka aku pun takut dengan kematian, aku banyak mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan melakukan shalat pada hari itu dengan khusyu'.

Berselang beberapa waktu, terjadi lagi sebuah kecelakaan yang sangat mengherankan pula yang menimpa seseorang yang mengendarai mobil dengan kecepatan yang biasa.

Pada waktu itu, mobilnya sedang dalam keadaan rusak karena terperosok pada sebuah terowongan yang menuju kearah kota. Ia pun turun dari mobilnya untuk memperbaiki kerusakan pada salah satu ban, kemudian secara tiba-tiba datang sebuah mobil yang melaju dengan kencang, dan menabraknya dari belakang lalu ia terjatuh dengan luka yang cukup parah. Kemudian kami membawanya dengan mobil lalu menghubungi rumah sakit.

Ia adalah seorang pemuda yang masih berusia beliau. Seorang yang berpegang teguh dengan agamanya yang dapat terlihat jelas dari penampilan nya dan ketika kami membawanya kami mendengar bergumam, tetapi kami tidak bisa mengerti apa yang sedang ia katakan. Namun ketika kami meletakkan nya didalam mobil dan berjalan (menuju rumah sakit), maka barulah kami dapat mendengar nya dengan jelas. Ternyata ia sedang melantunkan Al-Qur'an dengan suara lemah. Subhanallah.

Dia terlihat melakukan hal tersebut ketika dalam keadaan kritis. Ia terus melantunkan al-Quran dengan suara yang indah dan tiba-tiba ia terdiam. Kemudian aku menoleh ke belakang dan ternyata dia sedang mengangkat jari telunjuknya sambil bersyahadat kemudian kepalanya tertunduk. Aku pun meloncat ke belakang, aku sentuh tangan nya, dadanya, nafasnya, tidak ada reaksi apa-apa, ternyata ia telah meninggal dunia.

Aku pun menatapnya dan meneteskan air mataku. Lalu aku memberitahukan teman ku bahwa ia telah meninggal dunia, maka teman ku pun menangis. Aku pun masih menangis terisak dan suasana didalam mobil menjadi sangat mengharukan sekali, hingga kami tiba dirumah sakit.

Kemudian kami memberitahukan kejadian nya kepada setiap orang yang kami temui. Banyak diantara mereka yang terharu dan ikut meneteskan air mata. Diantara mereka, ada yang setelah mendengar kisah pemuda tersebut, lalu pergi menghampirinya lalu mencium kening pemuda tersebut. Semua nya bersikeras untuk tetap duduk disana untuk menshalatkan nya. Salah seorang petugas menghubungi rumah pemuda ini dan pada saat itu, orang yang menerima telepon adalah saudara kandungnya.

Kemudian ia berkata tentang saudara nya itu : "Dia pergi setiap hari Senin untuk mengunjungi neneknya yang tinggal sendirian didesa dan dia selalu mencari para janda, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin (untuk bersedekah). Orang-orang didesa tersebut sangat mengenalnya dan ia juga selalu membaca buku-buku dan kaset-kaset, sedangkan mobilnya penuh dengan beras dan gula untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan hingga permen untuk anak-anak pun tidak dia lupakan.

Dia selalu menjawab jika ditanya tentang jauhnya jarak perjalanan yang dia tempuh "Sesungguhnya aku selalu mengambil manfaat dari jauhnya perjalanan dengan menghafal al-Quran dan mengulangnya, dan juga dengan kaset-kaset yang bermanfaat, sesungguhnya aku selalu memohon ganjaran pahala atas setiap langkah yang aku ayunkan."

Salah seorang yang hadir disana berkata : "Dulu aku sering merasa bahwa diriku selalu terombang ambing tanpa arah di dalam kehidupan ini. Aku selalu dihempaskan oleh kebingungan dari segala arah karena waktu ku banyak yang kosong dan pengetahuan ku yang sedikit dan aku pada waktu itu sangat jauh sekali dari Allah.

Ketika kami menshalatkan pemuda tersebut, lalu kami menghadiri penguburan nya dan setelah pemuda itu memulai menjalani hari pertamanya diakhirat, maka aku seolah-olah mulai menjalani hari pertamaku didunia ini. Aku benar-benar telah bertaubat kepada Allah Yang Maha Esa."

[Hikayat Min Suu' Al-Khatimah hal 37-38. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran hal 181-184. Hamdan Hamud Al-Hajiri. cet Darus Sunnah]

Alangkah indahnya akhir kehidupan para ahli Qur'an, para penghafal al-Quran.
Dan alangkah buruknya akhir kehidupan para ahli nyanyian.

Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan ahli al-Quran. Aamiin
____________

Sumber: Prima Ibnu Firdaus Al-Mirluny Diarsipkan: www.faisalchoir.blogspot.com

Sabtu, 04 Agustus 2012

30 Tahun Sholat di Trotoar

Mengakrabi jalanan telah dilakoni Rosmiza (57) selama 30 tahun. Selama itu pula, pinggiran Jalan Gatot Subroto, Medan, yang sumpek dan ramai oleh lalu lalang kendaraan menjadi tempatnya beribadah.

Ya, selama itu pula Rosmiza tak pernah meninggalkan sholat, kendati harus melakukannya di atas trotoar di pinggir jalan raya. Terik mentari dan guyuran hujan bukanlah alasan baginya untuk tidak menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Suara knalpot sepeda motor dan bunyi riuh klakson kendaraan tak sedikit pun mengurangi kekhusukannya. Jiwanya tetap tenang mengucap seribu doa dan syukur kepada Ilahi.

"Sholat dimana pun akan sama saja, karena bukan suasana yang pengaruhi doa saya," ucapnya sembari tersenyum simpul.

Air wudhu didapatnya dari toko kue atau dealer mobil yang tak jauh dari tempatnya berdagang. Jika hujan, dia solat di teras ruko yang terhindar dari hujan. "Tak ada alasan untuk tidak sholat," tegasnya.

Nenek empat cucu ini sempat meneteskan air mata ketika menceritakan kisah hidup yang belum bisa dikatakan sejahtera. Dia berusaha sambil berdoa, itu yang menurutnya sangat penting. Hingga dia tak pernah merasa pernah terhimpit masalah berat. Dia hadapi semua dengan senyum dan syukur.

Rosmiza sehari-hari berdagang lemang, kue timpan dan nagasari bersama suaminya. Lemang bukanlah buatannya, melainkan dia membelinya dari orang lain. Dia hanya membuat kue tambahan untuk memperbanyak dagangan.

Ketika pagi menjemput, dia berdagang di Pasar Kampung Lalang, tetapi sehabis solat Dzuhur dia berdagang di Jalan Gatot Subroto, tepat di seberang Hotel Alpha Inn, Medan.

Setiap harinya, dia menyelesaikan solat dua waktu (Ashar dan Maghrib) di pinggir Jalan Gatot Subroto, tepat di sebelah sepeda dagangannya.

Tak banyak yang dia dapat per hari, tetapi cukup memenuhi kebutuhan hidup hariannya. Bahkan, dia sudah menyekolahkan anaknya hingga sederajat sekolah menengah atas (SMA) dari hasil berdagang lemang. Dia sebenarnya mau menguliahkan anak-anaknya, tetapi sayangnya tak satu pun anaknya yang berniat mengecap bangku kuliah.

Wajah seorang perempuan yang masih berseri ini percaya kalau hidupnya akan berarti jika terus taat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

"Dunia ini berapalah lamanya, dan saya tidak akan dapat apa-apa dari sini. Kalau mati, akan sirna semua," ujarnya sembari menatap nanar ke arah lalu lalang kendaraan.
 

Jumat, 03 Agustus 2012

Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Rasulullah

Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah Subhanahu wa ta'ala, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lainnya.

Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tidak adanya para Rasul.  Vakum masa itu dari para pembawa risalah. Allah Subhanahu wa ta'ala murka kepada penduduk bumi baik orang Arab dan selainnya (‘ajam), kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang  sebagian besar dari mereka telah meninggal. Dalam sebuah riwayat, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah melihat kapada penduduk bumi. Lalu murka kepada mereka, Arabnya atau ajamnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab.” (Shahih, HR. Muslim)

Saat itu, baik bangsa Arab atau lainnya, hanya ada dua jenis manusia. Pertama, yang berpegang dengan kitab yang sudah dirubah atau dihapus. Kedua, yang berpegang dengan agama yang punah. Agama yang sebagiannya tidak diketahui dan sebagian yang lain sudah ditinggalkan. Akibatnya, seorang ummi (tidak bisa baca tulis) hanya bisa bersemangat ibadah namun hanya berdasar apa yang ia anggap baik atau disangka memberi manfaat. Sehingga terjadi penyembahan kepada bintang, berhala, kubur, benda keramat, dan yang lainnya.

Manusia saat itu benar-benar dalam  kebodohan yang parah. Bodoh akan ucapan-ucapan mereka yang disangka baik padahal bukan, serta bodoh akan amalan mereka yang disangka baik padahal rusak. Paling pintarnya mereka, adalah yang mendapat ilmu dari warisan para nabi terdahulu, namun telah rancu antara yang haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan, itupun kebanyakannya bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya. (Iqtidha’ Sirathil Mustaqim, 1/74-75)

Inilah gambaran ringkas keadaan manusia yang sangat parah pada saat itu, khususnya di kota Makkah dan sekitarnya. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay Al-Khuza’iy. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama. Sampai suatu saat, Amr pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam dikenal sebagai tempat turunnya kitab-kitab Samawi (kitab-kitab dari langit).

Ketika pulang, Amr membawa oleh-oleh berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia kemudian meletakkannya di dalam Ka’bah dan menyeru penduduk Makkah untuk menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah Subhanahu wa ta'ala dengan beribadah kepadanya. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar. (Mukhtashar Sirah Rasul hal. 23 & 73)

Sejak itulah, berhala tersebar di setiap kabilah. Di samping Hubal yang menjadi berhala terbesar di Ka’bah dan sekitarnya, sekaligus menjadi sanjungan orang-orang Makkah, terdapat pula berhala Manat di antara Makkah dan Madinah. Manat merupakan sesembahan orang-orang Aus dan Khazraj (dua qabilah dari Madinah). Juga ada Latta di Thaif dan ‘Uzza. Ketiga berhala ini merupakan yang terbesar dari yang ada. (lihat Mukhtashar Sirah Rasul 75-76, Rahiqul Makhtar, hal. 35)

Akibatnya, peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Apalagi, kesyirikan tersebut disangka masyarakat waktu itu sebagai bagian dari agama Ibrahim 'Alaihissalam. Padahal, tradisi menyembah berhala-berhala itu kebanyakannya adalah hasil rekayasa Amr bin Luhay yang kemudian dianggap bid’ah hasanah.

Dijelaskan oleh Nabi shallallahu'alaihi wa sallam tentang perbuatan Amr ini: “Aku melihat Amr bin Amir (bin Luhay) Al-Khuza’iy menyeret ususnya di neraka. Dia yang pertama kali melukai unta (sebagai persembahan kepada berhala dan yang pertama mengubah agama Ibrahim 'Alaihissalam)” (HR. Al-Bukhari)

Di antara tradisi syirik masyarakat waktu itu adalah menginap di sekitar berhala itu, memohonnya, mencari berkah darinya -karena diyakini dapat memberi manfaat-, thawaf, tunduk dan sujud kepadanya, menghidangkan sembelihan dan sesaji kepadanya, dan lain-lain. Mereka melakukan hal itu karena meyakini itu akan mendekatkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan memberi syafaat sebagaimana Allah Subhanahu wa ta'ala kisahkan dalam Al-Qur’an. Mereka mengatakan:

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat. Dan mereka berkata, ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)

Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan tiga anak panah. Caranya dengan menuliskan pada masing-masingnya dengan “ya”, “tidak” dan kosong. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi, jika “tidak”, tidak jadi pergi, dan jika yang keluar kosong maka diundi lagi.

Selain dengan anak panah, mereka juga menggantungkan nasib melalui burung-burung, yaitu mengusir burung ketika ingin bepergian. Jika terbang ke kanan berarti terus, dan jika ke kiri berarti harus diurungkan.

Mereka mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun. Mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu, misalnya bulan Shafar.  Mereka merubah aturan haji dengan tidak mengijinkan orang luar Makkah berhaji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka diharuskan melakukan thawaf dengan telanjang.

Di bidang sosial kemasyarakatan, hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapapun yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.

Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-lakinya. Jika wanita itu tidak mau, maka anak tersebut bisa melarang si wanita untuk menikah kecuali dengan laki-laki yang diizinkannya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.

Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.

Wallahu a’lam.

Minggu, 29 Juli 2012

Kumpulan Kisah Islam


Dari: http://kisahislam.net/daftar-isi/