Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2012

Dengan Niat, Amal Dunia Jadi Ladang Akhirat

Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A   

Pendahuluan

Segala puji hanya milik Allah 'Azza wa jalla, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Allah 'Azza wa jalla telah menggariskan bahwa kehidupan umat manusia bukan hanya sekali, namun dua kali. Kehidupan dunia yang fana sebagai awal dari kehidupan dan akan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sukses Anda di dunia belum tentu berkelanjutan hingga di akhirat. Namun sebaliknya, sukses di akhirat menjadikan anda lupa akan kegagalan selama hidup di dunia, bagaimanapun beratnya. Apalagi bila Anda ternyata hidup di dunia sukses dan di akhirat surga menjadi milik Anda.

Antara Sial Dunia dan Berkah Akhirat

Di dunia ini banyak ditemukan pasar, tempat orang mengais kesuksesan di dunia. Dan tentunya ada pula pasar-pasar akhirat, tempat menaburkan benih-benih pahala. Karenanya tidak layak bila kesibukan mewujudkan sukses di dunia, melalaikan Anda dari akhirat. Terlalai dari akhirat karena sibuk menumpuk dunia berarti sengsara selamanya. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ
“Semoga kesengsaraan menimpa para pemuja dinar, dirham, dan baju sutera (harta kekayaan), bila diberi ia merasa senang, dan bila tidak diberi, ia menjadi benci. Semoga ia menjadi sengsara dan terus menerus menderita. Dan bila ia tertusuk duri, semoga tiada yang sudi mencabut duri itu darinya. (HR. al-Bukhari)

Sebaliknya, lalai dari dunia karena sibuk membangun akhirat berarti sukses di dunia akhirat.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah (berkuasa untuk) melaksanakan urusan yang dikehendakai-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan." (QS. at-Thalaq/65:2-3)

Selanjutnya terserah kepada Anda, ingin sukses dunia akhirat atau sengsara selamanya, walau hidup di lumbung harta benda. Sahabat Ali radhiyallahu'anhu berkata :

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَ ارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بُنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلَ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ ولاَ عَمَلَ
“Kehidupan dunia bergegas menjauh, sedang akhirat kian mendekat, dan masing-masing memiliki pengikut, maka jadilah pengikut akhirat, serta janganlah engkau menjadi pengikut dunia. Karena sejatinya sekarang ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sedangkan esok (di akhirat) adalah waktu hisab dan bukan beramal.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 8/155)

Status Amalan Anda Selaras Dengan Niat Anda

Setelah mengetahui bahwa dengan niat, rutinitas Anda dapat bernilai ibadah, mungkin Anda berkata, "Apabila benar demikian, betapa mudahnya jalan menuju surga ?" Betul saudarku, namun walau demikian, ternyata selama ini Anda berjalan di tempat sehingga tetap saja jauh dari pintu surga. Untuk membuktikannya, perkenankan saya bertanya, "Berapa amalankah yang Anda kerjakan ketika Anda membaca tulisan saya ini ?"

Tahukah anda, bahwa sejatinya saat ini Anda sedang mengerjakan beratus-ratus amalan dan mungkin beribu-ribu amalan? Anda terkejut keheranan dan bahkan tidak percaya ?

Untuk membuktikanya, izinkan saya kembali bertanya, "Apakah saat ini Anda sedang berzina ? Apakah saat ini Anda sedang memakan daging babi? Apakah saat ini Anda sedang menyembah patung? Apakah saat ini Anda sedang mencari sanjungan (riya' dan sum'ah) ? Apakah saat ini Anda sedang memakan riba ? Apakah saat ini Anda sedang minum khamer? Dan masih banyak lagi pertanyan serupa yang sudah pasti jawabannya adalah, "Tidak". Walau demikian, selama ini Anda tidak menyadari bahwa Anda sedang mengerjakan semua amalan tersebut ketika Anda membaca tulisan ini atau beraktifitas lainnya. Bila demikian adanya, tentu Anda tidak mendapatkan pahala darinya, padahal Anda telah melakukannya.

Ibnu Hajar al-Asqalani As-Syafi’i rahimahullah berkata, "Yang benar, meninggalkan suatu amalan tanpa disertai niat tidak mendapatkan pahala. Anda hanya mendapat pahala bila Anda dengan sadar meninggalkan suatu hal. Sehingga barang siapa di hatinya tidak terbetik sama-sekali tentang suatu amal maksiat, tentu tidak sama dengan orang yang mengingatnya, lalu ia menahan diri darinya karena takut kepada Allah 'Azza wa jalla..." (Fathul Bari 1/15)

Penjelasan Ibnu Hajar ini menggambarkan betapa pentingnya menghadirkan niat baik dalam setiap aktifitas Anda. Tanpa perlu waktu, tenaga atau bekal apapun, lautan pahala menjadi milik Anda. Semua itu dengan mudah Anda gapai hanya berbekal niat baik dalam hati Anda.

Ibnul Qayyim rahimahullah lebih jauh menjelaskan, "Sungguh tujuan dan keyakinan hati diperhitungkan pada setiap perbuatan, dan ucapan, sebagaimana diperhitungkan pula pada amal kebaikan dan ibadah. Tujuan, niat dan keyakinan dapat menjadikan satu amalan halal atau haram, benar atau salah, ketaatan atau maksiat. Sebagaimana niat dalam amal ibadah menjadikannya dihukumi wajib atau Sunnah, haram atau halal, dan benar atau salah. Dalil-dalil yang mendasari kaedah ini terlalu banyak untuk disebutkan di sini." (I'lamul Muwaqi’in, 3/118)

Hadits berikut adalah salah satu dalil yang melandasi penjelasan ulama di atas :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amalan pastilah disertai dengan niat. Dan setiap pelaku amalan hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka orang yang berhijrah karena menaati perintah Allah dan rasul-Nya, maka ia mendapatkan pahala dari Allah karenanya, dan orang yang berhijrah karena urusan dunia, atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hanya itulah yang akan ia dapatkan (tidak mendapatkan pahala di akhirat).” (Muttafaqun alaih)

Mengenal Dua Macam Amalan

Untuk dapat menjadikan setiap aktifitas Anda bernilai ibadah, maka terlebih dahulu Anda harus mengenali berbagai aktifitas Anda dan niat-niat Anda pada setiap amalan. Para Ulama menjelaskan bahwa secara global amalan terbagi menjadi dua :

1. Amalan Yang Tidak Sah Bila Tanpa Niat.
Contoh amalan jenis ini ialah berbagai amal ibadah murni, seperti shalat, puasa, haji, wudhu dan lain sebagainya. Andai Anda melakukan amal ini tanpa disertai dengan niat, niscaya amalan Anda tertolak dan tidak mendapatkan pahala. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Tiada puasa bagi orang yang tidak membulatkan niatnya untuk berpuasa sebelum terbit fajar.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmizi dan lainnya)

2. Amalan Yang Sah Walau Tanpa Niat.
Berbagai amal ibadah yang mendatangkan manfaaat bagi pelakunya atau orang lain adalah contoh nyata dari amalan jenis ini. Misalnya menolong orang kesusahan, menyambung tali suaturahmi, sedekah, dan yang serupa. Dan diantara contoh amalan ini ialah amalan dalam bentuk meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam syariat. Misalnya, bersuci dari najis, mengembalikan barang rampasan, membayar hutang, dan yang semisal dengannya. Bila Anda mengamalkan amalan jenis ini tanpa niat, maka amalan Anda sah alias menggugurkan kewajiban, namun Anda tidak mendapatkan pahala darinya.

Beda Antara Sah dan Diterima

Mungkin Anda bertanya, sebenarnya apa sih perbedaan antara sah dengan diterima ? Ketahuilah saudaraku, bahwa setiap amalan yang diterima pastilah sah, namun belum tentu amalan yang sah diterima Allah 'Azza wa jalla. Karenanya, walaupun ibadah orang-orang munafiq sah di dunia, namun di akhirat tidak diterima. Sebagaimana shalat orang yang mendatangi dukun sah di dunia, namun di akhirat tidak mendapatkan pahala, alias tidak diterima. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَئً لَـمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَ ةُ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً
“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima satu shalatpun darinya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi As-Syafi’I rahimahullah menjelaskan, "Maksud hadits ini, shalatnya tidak mendapat pahala, walaupun sah dan bisa menggugurkan kewajiban si pelaku dan tidak perlu diulang." (Syarah Shahih Muslim oleh Imam an-Nawawi 14/227)

Dua Macam Niat

Para ulama' juga menjelaskan bahwa Anda dituntut untuk menghadirkan dua jenis niat, pada setiap kali beramal:

1. Niat menjalankan amalan alias mengamalkan amalan dengan sadar.
Niat macam ini merupakan syarat sah suatu amalan. Niat dengan kategori inilah yang biasanya dibahas dalam kitab-kitab fiqih. Bila Anda berenang di kolam renang, namun Anda lupa bila Anda sedang junub, maka walaupun sekujur tubuh Anda telah basah kuyup sebagaimana orang mandi junub, namun tetap saja janabah Anda belum sirna. Karena Anda melupakan niat yang merupakan syarat sah mandi junub.

2. Niat menjalankan amalan karena Allah 'Azza wa jalla (ikhlas).
Dengan niat macam ini Anda mendapatkan pahala dari amalan ibadah Anda.
Imam as Suyuthi As-Syafi’I rahimahullah berkata: "Sebagian ulama terkini menegaskan bahwa ikhlas adalah suatu yang lebih dari sebatas niat. Keikhlasan tidaklah mungkin terwujud tanpa niat, namun sebaliknya niat bisa saja terwujud walaupun tanpa ikhlas. Sedangkan para Ulama' ahli fikih biasanya hanya membicarakan sebatas niat, dan berbagai hukum yang mereka sebutkan hanya berkisar padanya. Adapun keikhlasan, maka itu hanya Allah yang mengetahuinya." (al-Asybah wan Nazhair, hlm. 20)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Sesungguhnya para Ulama telah sepakat bahwa suatu amalan yang tidak mungkin diamalkan melainkan sebagai ibadah, tidak sah kecuali dengan niat. Berbeda dengan amalan yang kadang dilakukan sebagai amal ibadah dan di lain kesempatan sebagai suatu rutinitas, semisal menunaikan amanat dan membayar piutang." (Majmu' Fatawa, 18/259)

Niat jenis ini merupakan syarat diterimanya setiap amalan. Sehingga amal apapun tidak mungkin diterima dan mendapatkan pahala bila dilakukan dengan tidak ikhlas karena Allah 'Azza wa jalla.

Amalan yang Dapat Bernilai Ibadah Dengan Niat

Amalan yang dapat memiliki nilai ibadah, karena Anda melakukannya dengan niat yang baik ialah amalan rutinitas yang baik. Bila Anda melakukan amal rutinitas dengan niat yang baik, maka amalan tersebut bernilai ibadah. Namun bila Anda melakukannya karena sebatas rutinitas semata, tanpa memaksudkannya untuk meraih pahala, maka Anda tidak mendapatkan pahala darinya.

Dan yang dimaksud bernilai ibadah ialah Anda mendapatkan pahala dari rutinitas tersebut, tanpa mengurangi fungsi dan manfaat dari rutinitas Anda itu. Sebagai contoh; berhubungan badan dengan istri, adalah cara Anda untuk memenuhi kebutuhan biologis Anda. Namun bila Anda membubuhkan niat demi menjaga diri Anda dan istri Anda dari maksiat, tentu amalan ini mendatangkan pahala bagi Anda, tanpa mengurangi kepuasan Anda dari hubungan badan tersebut. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :
وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا
"Dan dengan melampiaskan syahwat birahimu engkau bisa mendapatkan pahala". Spontan para Sahabat bertanya keheranan, "Wahai Rasulullah, mungkinkah dengan melampiaskan syahwat birahi, kita mendapatkan pahala karenanya?' Rasulullah balik bertanya, "Apa pendapat kalian bila ia melampiaskannya pada perbuatan haram, bukankah ia berdosa ? Demikian pula sebaliknya bila ia melampiaskannya di jalan yang halal, maka tentu ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Pada hadits ini terdapat dalil bahwa dengan niat baik, amalan mubah dapat bernilai ibadah. Hubungan badan -misalnya-bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat memenuhi hak istri, atau memperlakukannya dengan cara yang baik sebagaimana yang Allah perintahkan. Demikian juga dengan tujuan mendapatkan keturunan yang shaleh, atau menjaga dirinya atau istrinya dari perbuatan haram. Dan bisa juga dengan maksud melindungi keduanya dari memandang hal haram, membayangkan, atau menginginkannya atau niat-niat baik yang lain." (Syarah Shahih Muslim oleh An Nawawi 7/92)

Kalau ini baru Anda ketahui, berarti selama ini, Anda rugi besar, karena begitu banyak amal rutinitas Anda yang dapat mengalirkan pahala, namun selalu Anda sia-siakan. Setiap pagi Anda makan dan minum, namun hanya sekedar menuruti selera perut semata. Andai Anda membubuhkan niat agar dapat kembali kuat sehingga bisa menjalankan ibadah, tentu segunung pahala dapat menjadi milik Anda.

Dengan demikian, niat-niat yang selama ini mendorong Anda melakukan berbagai rutinitas Anda, seakan-akan sia-sia belaka. Kepuasan biologis, kesenangan, refresing dan lainnya pastilah tercapai dari rutinitas Anda, baik Anda meniatkannya atau tidak. Namun tidak demikian dengan pahala dan keridhaan Allah 'Azza wa jalla. Tanpa niat yang baik nan tulus, Anda tidak mungkin meraihnya.

Sekali lagi renungkan! Anda memberi uang belanja kepada istri, tentu membuat mereka senang dan akhirnya setia kepada anda. Namun bila Anda membubuhkan niat menjalankan kewajiban yang telah diamanatkan oleh Allah kepada Anda sebagai suami, tentu ini akan menjadi amal ketaatan yang bernilai tinggi. Disamping istri Anda tetap senang dan dengan izin Allah semakin setia kepada Anda.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya tidaklah engkau membelanjakan suatu harta demi mendapatkan keridhaan Allah, melainkan engkau mendapat pahala darinya. Sampai pun sesuap makanan yang engkau berikan kepada istrimu. (Muttafaqun 'alaih)

Bila demikian, manakah yang lebih menguntungkan, memberi nafkah hanya sebagai rutinitas belaka, atau membubuhkan niat mengharap keridhaan Allah 'Azza wa jalla padanya ? Jawabannya, tentu yang kedua.

Menggabungkan Niat Dunia dan Akhirat

Setelah membaca keterangan di atas, mungkin Anda menduga bahwa Anda tidak dibenarkan untuk menggabungkan niat menikmati rutinitas dengan mencari keridhaan Allah 'Azza wa jalla?

Tidak demikian saudaraku! Menggabungkan antara keduanya adalah sah-sah saja, namun tentu nilai ibadah Anda pun berbeda. Semakin Anda berhasil memurnikan niat pada rutinitas Anda hanya karena Allah, semakin besar pula pahala Anda. Namun sebaliknya semakin besar keinginan Anda untuk mewujudkan kepentingan pribadi Anda, maka semakin kecil pula nilai ibadah amalan Anda. Renungkan kisah berikut dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam:

أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ
“Ada seorang lelaki hendak menjenguk saudaranya yang berdomisili di kampung lain. Maka Allah memerintahkan seorang malaikat untuk mencegatnya di tengah jalan. Tatkala lelaki itu melintasi malaikat tersebut, malaikat bertanya, "Kemanakah engkau hendak pergi ?' Ia menjawab, "Aku hendak menjenguk saudaraku di kampung ini." Kembali malaikat bertanya, "Apakah engkau memiliki sesuatu kepentingan yang hendak engkau selesaikan darinya ?" Kembali ia menjawab, "Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah 'Azza wa jalla" Mendengar jawaban itu, malaikat itupun berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengkabarkan kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu karena-Nya." (HR. Muslim)

Berkunjung ke sahabat atau saudara, pasti mendatangkan banyak manfaat di dunia. Namun tatkala lelaki di atas tidak memiliki niat lain dari kunjungannya terhadap saudaranya itu selain karena upaya melanggengkan hubungannya yang tulus karena Allah 'Azza wa jalla, maka Allah-pun mencintainya. Suatu pahala yang sangat besar yang sangat didamba oleh setiap insan yang beriman kepada Allah 'Azza wa jalla, termasuk Anda.

Dan dari alur kisah hadits di atas, dapat dipahami bahwa andai lelaki itu memiliki kepentingan lain yang tidak bertentangan dengan ketulusan cintanya, tentu ia tidak mendapatkan keutamaan tersebut.

Penutup

Apa yang telah saya paparkan pada tulisan sederhana ini tentunya hanya sekelumit dari pembahasan tentang niat. Terlalu banyak pembahasan tentang niat yang seyogyanya kita ketahui, terlebih-lebih kiat-kiat mewujudkan niat yang tulus dan benar dalam hidup nyata. Hati Anda walau terletak dalam dada Anda, namun tidak mudah untuk menundukkannya. Imam Sufyan ats-Tsauri tahimahullah berkata :
مَا عَالَـجْتُ شَيْئًا أَسَدَّ عَلَيَّ مِنْ نَفْسِي مَرَّةً لِي وَ مَرَّةً عَلَيَّ
“Aku tidak pernah membenahi suatu hal yang lebih berat dibanding jiwaku sendiri. Kadang kala patuh dengan keinginanku dan sering pula tidak."

Ya Allah, Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah niat kami di atas ketaatan kepada-Mu. Amiin.

[Sumber: Majalah As-Sunnah No.11 Thn.XIV_1432/2011]


Ebook dari: http://ibnumajjah.wordpress.com/
Downlod ebooknya: Dengan Niat, Amal Dunia Jadi Ladang Akhirat atau Zip file
Download ebook: Fikih Niat atau Mirror

Kamis, 23 Agustus 2012

Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu Lebih Besar dari Dosa Berzina

Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak.

Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja.

Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan ini. 

Para Ulama Sepakat Bahwa Meninggalkan Shalat Termasuk Dosa Besar yang Lebih Besar dari Dosa Besar Lainnya

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata,  “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan  -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27) 

Apakah Orang yang Meninggalkan Shalat Bisa Kafir alias Bukan Muslim? 

Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah telah kafir?

Asy Syaukani -rahimahullah- mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369).

Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini.

Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/186-187)

Jadi, intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk pula  ulama madzhab. Bagaimana hukum meninggalkan shalat menurut Al Qur’an dan As Sunnah? Silakan simak pembahasan selanjutnya. 

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Al Qur’an 

Banyak ayat yang membicarakan hal ini dalam Al Qur’an, namun yang kami bawakan adalah dua ayat saja.

Allah Ta’ala berfirman,
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)

Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.

Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan,
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh”. Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mu’min, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ
Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah [9] : 11).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49] : 10) 

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Hadits 

Terdapat beberapa hadits yang membicarakan masalah ini.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257).

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ
“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566).

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi).

Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat. 

Para Sahabat Berijma’ (Bersepakat), Meninggalkan Shalat adalah Kafir 

Umar mengatakan,
لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
”Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”
 
Dari jalan yang lain, Umar berkata,
ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209).

Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash Sholah.

Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan,
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ
Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat para ulama yang ada.

Ibnul Qayyim mengatakan, ”Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik). (Ash Sholah, hal. 56) 

Berbagai Kasus Orang Yang Meninggalkan Shalat

[Kasus Pertama] Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, ‘Sholat oleh, ora sholat oleh.’ [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.

[Kasus Kedua] Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya.  Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in.

[Kasus Ketiga] Kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak sekaligus. … Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617)

[Kasus Keempat] Kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.

[Kasus Kelima] Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman,
وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190) 

Penutup 

Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.“ (Lihat Ash Sholah, hal. 12)

Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya dengan anggota badan).

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini  hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).“

Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.“ (Lihat Ash Sholah, 35-36)

Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya meninggalkan shalat lima waktu. 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam


***
Selesai disusun di Panggang, Gunung Kidul, 22 Jumadil Ula 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com

Rabu, 22 Agustus 2012

Keutamaan Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Takwa


Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.” (Qs. Almaa’idah: 2)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-‘Ashr: 1-3)
Dari Abu Abdirrahman Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu’anhu, ia berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempersiapkan diri untuk berperang dijalan Allah, maka ia akan berperang. Dan barangsiapa yang menggantikannya dalam keluarganya karena perang, maka ia telah perang.” (HR. Bukhari no.2843 dan Muslim no. 1895)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengutus pasukan tentara ke Bani Lihyan dari Kabilah Hudzail, beliau bersabda, “Hendaknya tiap dua orang dalam satu keluarga, yang satu keluar yang satu menjaga keluarganya, niscaya pahalanya dibagi antar keduanya.” (HR. Muslim no. 1896)

Penjelasan:

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam “Barangsiapa yang mempersiapkan diri untuk berperang dijalan Allah, maka ia akan berperang. Dan barangsiapa yang menggantikannya dalam keluarganya karena perang, maka ia telah perang.” Ini adalah bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Ketika seseorang mempersiapkan diri untuk berperang yaitu mempersiapkan kendaraannnya, peralatannya dan senjatanya, maka ia telah berperang, yakni dituliskan baginya pahala berperang, karena ia telah mempersiapkan kebaikan. Demikian juga orang yang menggantikan sesuatu yang baik bagi keluarganya, berarti ia sudah berperang, karena jika seseorang ingin berperang, tetapi dia mendapatkan masalah dalam hal pemenuhan kebutuhan bagi keluarganya, kemudian dia mengutus salah seorang Muslim dan berkata “Saya akan menggantikan anda dalam keluargamu dengan kebaikan.” Maka orang yang menanggung keluarganya ini pahalanya seperti orang yang berperang karena membantunya.

Karenanya, membantu orang yang berperang itu ada dua: Pertama: Membantunya mempersiapkan kendaraan, perlengkapan dan persenjataannya. Kedua: Membantunya untuk menanggung keluarga yang ditinggalkannya, karena ini termasuk pertolongan yang sangat besar. Banyak orang merasa berat apabila ada orang yang memenuhi hajat mereka, jika orang itu sudah bisa menanggung kebutuhan keluarganya, dan dia menjadi penggantinya bagi keluarganya dengan baik, maka berarti ia telah berjuang.

Diantaranya yaitu yang pernah terjadi pada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menggantikannya perang tabuk, Rasulullah memerintahkannya agar ia bersama keluarga, Ali berkata, “Wahai Rasulullah kenapa engkau tinggalkan aku bersama para wanita dan anak-anak?” Lalu Beliau berkata kepadanya, “Apakah kamu tidak ridha menjadi sebagian dari diriku, seperti kedudukan Harun dari Musa dimana tidak ada Nabi lagi setelahku?”[1] Yakni aku tinggalkan engkau bersama keluargaku, sebagaimana Musa meninggalkan Harun pada kaumnya ketika beliau pergi menuju Miqat (tempat perjumpaan) Tuhannya.

Dari Hadits diatas dapat dipahami bahwa setiap orang yang membantu oranglain untuk melakukan ketaatan kepada Allah, maka baginya pahala seperti pahala orang itu. Jika anda membantu seorang penuntut ilmu dengan membelikannya buku, mengontrakkannya rumah atau menafkahinya dan sebagainya, maka bagi anda pahalanya, yakni seperti pahala orang tersebut tanpa dikurangi sedikitpun. Begitu juga jika anda membantu orang yang hendak shalat dengan memudahkan urusannya dalam shalat, baik itu tempat, pakaian, dalam wudhunya, maka sesungguhnya dituliskan bagi anda pahala seperti orang yang shalat.

Kaidah umum, bahwa barangsiapa yang membantu oranglain dalam ketaatannya kepada Allah, maka baginya pahala seperti pahala orang yang dibantu tanpa dkurangi sedikitpun.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bertemu dengan satu kafilah di Ar-Rauha’ lalu Beliau bertanya, “Siapakah Anda? Beliau menjawab, “Rasulullah”. Kemudian seorang perempuan mengangkat bayi kepada Beliau dan berkata, “Apakah baginya haji?” Beliau menjawab, “Ya, dan bagimu pahala.” (HR. Muslim no. 1336)

Penjelasan:

Dari Hadits ini terdapat faedah, bahwa seseorang yang membantu oranglain untuk ketaatan maka baginya pahala, karena perempuan ini akan memelihara anaknya ketika ihram, thawaf, sa’i, wukuf dan lain-lain, Beliau bersabda, “Baginya haji dan bagimu pahalanya.”

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bendahara muslim yang amanat adalah yang melaksanakan apa yang diperintahkan, kemudian memberikan secara sempurna, lapang dan senang hati, baik kepada orang yang diperintahkan untuk diberi, maka dia termasuk salah seorang yang mendapat pahala sedekah tersebut.” (HR. Bukhari no.1438 dan Muslim no.1023) Diriwayat lain, “Yang memberikan apa yang diperintahkan kepadanya.”

Penjelasan:

Bendara sesuai hadits diatas mempunyai empat sifat: Muslim, amanat, melaksanakan apa yang diperintahkan dan senang hatinya.

Sifat yang pertama: Sifat Muslim
Bendahara jika kafir walaupun amanat melaksanakan apa yang diperintahkan, maka baginya tidak ada pahalanya, karena kekafiran tidak akan ada pahalanya bagi mereka diakherat dari amal kebaikan yang mereka lakukan, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Qs. Al-Furqan: 23)

“Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya didunia dan di akherat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” (Qs. Al-Baqarah: 217)

Adapun jika ia berbuat kebaikan kemudian masuk Islam, maka kebaikan yang telah lalu akan terselamatkan dan akan diberi pahalanya. [2]

Sifat Kedua: Amanat
Yakni terpercaya, melaksanakan amanat yang yang diberikan kepadanya, ia menjaga harta dan tidak merusaknya tidak pula mengambilnya dan menyia-nyiakannya.

Sifat Ketiga: Melaksanakan apa yang diperitahkan.
Yakni melakukannya, karena diantara mereka ada yang amanat akan tetapi pemalas. Orang yang memiliki sifat ini adalah terpercaya, melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, maka terkumpullah dua sifat; kuat dan terpercaya.

Sifat Keempat: Baik jiwa dan perilakunya.
Jika ia melaksanakan dan memberikan apa yang diperintahkan kepadanya maka ia melaksanakannya dengan lapang dada yakni tidak mengharapkan sesuatu dari orang yang diberi tersebut, atau ingin menampakan kemuliaannya, tetapi ia memberikannya dengan ikhlas hati, dialah yang termasuk salah seorang yang bersedekah walaupun ia tidak memberikan sepeser pun dari hartanya.

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang keutamaan amanat dan keutamaan melaksanakan apa yang diwakilkan kepadanya tanpa berlebih-lebihan, serta dalil yang menunjukkan bahwa tolong menolong dalam kebaikan dan takwa akan dituliskan pahala bagi yang melakukannya, seperti pahala orang yang melakukannya. Ini adalah keutamaan Allah yang diberikan pada orang yang di kehendaki-Nya.

[Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin. Bab: Tolong Menolong Dalam Kebaikan Dan Takwa. Jilid: II hal. 74-84. Penerbit Darus Sunnah,  dengan sedikit ringkasan]

Artikel: www.faisalchoir.blogspot.com
_____

[1] HR. Bukhari no. 3706, 4416 dan Muslim no. 2404, dari hadits Sa’aad bin Abi Waqqash

Senin, 20 Agustus 2012

Kesalahan-Kesalahan Setelah Shalat


Beberapa hal biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu (wajib) yang lima waktu, tapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan para Sahabat ridhwaanullaah 'alaihim ajma'iin.

Di antara kesalahan dan bid'ah tersebut ialah:

1.    Mengusap muka setelah salam.[1]

2.    Berdo'a dan berdzikir secara berjama'ah yang di pimpin oleh imam shalat. [2]

(*Artikel tentang Dzikir Berjama'ah bisa dibaca disini.)

3.    Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash / dalilnya, baik lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar hadits yang dha'if (lemah) atau maudhu' (palsu).

Contoh:

-  Sesudah salam membaca: "Alhamdulillaah."

-  Membaca surat al-Faatihah setelah salam.

(*Artikel tentang Membaca Al-Fatihah Setelah Shalat Fardhu dan Kirim Al-Fatihah, baca disini.)

-  Membaca beberapa ayat terakhir surat al-Hasyr dan lainnya.

(*Dzikir Setelah Salam (Shalat Fardhu) sesuai Sunnah Nabi bisa dibaca Disini.)

4.    Menghitung dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagiannya maudhu' (palsu).[3]  Syaikh al-lbani rahimahullah mengatakan: "Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid'ah." [4]

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan bahwa berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Budha, dan perbuatan ini adalah bid'ah dhalaalah. [5]

Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari-jari tangan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍ رَضِيَ اللهُ قَلَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيْحَ بِيَمِيْنِهِ
"Dari Abdullah bin Amr  رضي الله عنه , ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menghitung bacaan tasbih dengan jari-jari tangan kanannya."

Bahkan, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam memerintahkan para Sahabat wanita menghitung; Subhaanallaah, alhamdulillaah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari Kiamat). [6]

5.    Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (bersamaan/ berjama'ah).

Allah Subhanahu wa ta'ala memerintahkan kita berdzikir dengan suara yang tidak keras (QS. Al-A'raaf ayat 55 dan 205, lihat Tafsiir Ibni Katsir tentang ayat ini).

Nabi shallallahu'alaihi wa sallam melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim dan lain-lain.

Imam asy-Syafi'I rahimahullah menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan bacaan dzikir.[7] & [8]

6.    Membiasakan/merutinkan do'a setelah shalat fardhu (wajib) dan mengangkat tangan pada do'a tersebut, (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.[9]

(*Artikel tentang Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdo'a Dan Hukum Berdoa Sesudah Shalat, baca disini.)

7.    Saling berjabat tangan seusai shalat fardhu (bersalam-salaman). Tidak ada seorang pun dari Sahabat atau Salafush Shalih radhiyallahu'anhum yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih).[10]

Para ulama mengatakan: "Perbuatan tersebut adalah bid'ah." [11]

Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya di setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat Shubuh dan 'Ashar, maka perbuatan ini adalah bid'ah.  Wallaahu a'lam bish Shawaab.[12]

(*Artikel seputar berjabat Tangan Setelah Shalat baca disini.)

___________

[1].     Lihat, Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha'iifah wal Maudhuu'ah no. 660 oleh Imam al-Albani
[2].     Al-I'tishaam, Imam asy-Syathibi hal. 455-456 tahqiq Syaikh Salim al-Hilali, Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah VII/104-105, Fataawa Syaikh bin Baaz XI/188-189, as-Sunan wal Mub-tada'aat hal. 70. Perbuatan ini bid'ah, (al-Qaulul Mubiin fii Akhthaa-il Mushalliin hal. 304-305).
[3].     Lihat, Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha'iifah wal Maudhuu'ah no. 83 dan 1002
[4].     Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha'iifah I/185
[5].     As-Subbah Taariikhuha wa Hukmuha hal. 101 cet. I Daarul 'Ashimah 1419 H - Syaikh Bakr bin 'Abdillah Abu Zaid.
[6].     Hadits shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at-Tirmidzi no. 3486, Shahiih at-Tirmidzi III/146 no. 2714, Shahiih Abi Dawud I/280 no. 1330, al-Hakim I/547, al- Baihaqi II/253
[7].     Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501, dan at-Tirmidzi. Dihasankan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani
[8].     Lihat eBook Kami Pandangan Imam Syafi’I Tentang Dzikir Berjamaah Ibnu Majjah
[9].     Lihat Zaadul Ma'aad 1/357 tahqiq al-Arna'uth. Majmuu' Fataawa Syaikh bin Baaz XI/167-168
[10].   Tamaamul Kalaam fi bid'iyyatil Mushaafahah ba'das Salaam DR. Muhammad Musa Alu Nashr
[11].   Al-Qaulul Mubiin fii Akhtbaa-il Mushalliin hal. 293-294 Syaikh Masyhur Hasan Salman
[12].   Al-Qaulul Mubiin fii Akhthaa-il Mushalliin hal. 294-295 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah I/53.
[*] Tambahan dari Samudera Ilmu)

Sumber: http://ibnumajjah.wordpress.com/

Download Ebook: Dzikir Setelah Shalat Fardhu dan Dzikir Pagi dan Sore
Dzikir Pagi dan Petang atau ZIP file

Baca Juga :

    Sabtu, 18 Agustus 2012

    Amalan-amalan Dengan Keutamaan Dibangunkan Rumah di Surga

    Membangun Rumah Disurga
    Oleh: Ust. Ahmad Zainuddin, Lc. 

    Hidup di dunia, kebutuhan rumah atau tempat tinggal dilihat dari sisi ekonomi merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Rumah merupakan tempat berlindung dari panas dan hujan maupun terpaan dingin angin bahkan dari ancaman binatang buas. Rumah juga tempat membina keluarga, lebih dari itu rumah merupakan prestise perlambang kemakmuran penghuninya atau tingkat budaya manusia yang dulu sebagai penghuni gua sekarang sebagai penghuni rumah mewah dengan arsetektur modern.

    Mengingat begitu penting peranan rumah bagi manusia, maka muncul berbagai cabang aktifitas manusia berkaitan dengan rumah, hitung saja misalnya: toko bahan bangunan, kontraktor, developer, KPR, arsitektur, bahkan desain interior. Persawahan dan ladang subur, hutan dan pantai disulap menjadi perumahan. Inipun masih belum dapat secara keseluruhan memenuhi kebutuhan perumahan manusia, bahkan memenuhi kebutuhan perumahan dengan model kepemilikan rumah secara kredit atau membangun rumah di atas lahan yang bukan haknya.

    Inilah perlombaan manusia untuk memiliki rumah sendiri yang kadang mengabaikan sisi-sisi kemanusiannya sendiri, karena berprinsip hidup materialisme.

    Berapa banyak manusia berusaha dan bersusah payah serta sengsara untuk membangun rumah di dunia ini, lalu ia habiskan harta, kesungguhan, pikiran, dan waktunya yang sangat banyak sekali. Lalu rumah yang dibangun dengan megah tersebut beresiko hancur, kebakaran, roboh, dan rusak. Seandainya rumahnya kokoh dan tetap utuh, maka pemiliknya pasti akan mati. Kadang orang membuat rumah hingga suka duka, keringat, dan kegelisahan menerpanya. Bahkan kadang harus mengusap air wajahnya menahan malu untuk mencari hutangan dan minta penangguhan dan tambahan tempo pembayaran. Pada akhirnya ia tahu pasti rumah tersebut meninggalkannya atau ia meninggalkan rumah tersebut. 

    Realitas Manusia 

    Pada umumnya ada tiga macam syahwat dunia yang tertanam dalam diri kita yang harus selalu diwasapadai dan dikendalikan, yakni syahwat wanita, anak dan harta benda. Allah menjelaskan:

    Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

    Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa bila ketiga syahwat tersebut telah menjadi tujuan hidup kita sehingga melupakan pada balasan Allah di akhirat, maka ingatlah, saat itu berarti kita sudah dikuasasi dan dikendalikan olehnya. Awalnya memang bisa hanya sekedar kesenangan dan kecintaan biasa sebagai manusia. Namun, lalma-kelamaan bisa berubah menjadi orientasi hidup duniawi semata, dan kemudian dengan tidak disadari bisa meningkat dan berubah menjadi tuhan yang disembah dan ditaati.

    Saat ini, tidak sedikit kita lihat orang-orang yang menjadikan wanita, anak-anak, dan harta menjadi tuhan.

    Bagi orang-orang seperti ini, mereka tidak akan pernah mau peduli halal atau haram. Yang penting mereka meraih apa yang mereka inginkan dari wanita, anak, dan harta. Wanita, anak-anak, dan harta telah melalaikan mereka dari mengingat Allah. Wanita, anak-anak, dan harta telah memalingkan mereka dari jalan hidup yang Allah ciptakan untuk mereka. Dengan tanpa disadari, mereka membangkang kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada ajaran Islam yang Allah turunkan, dan Rasulullah ajarkan untuk menyelamatkan kehidupan mereka di dunia dan sekaligus di akhirat kelak.

    Agar hidup kita di dunia yang sementara ini tidak menjadi hamba syahwat dan kesenangan dunia, pada ayat berikutnya Allah menawarkan kepada kita sebuah kehidupan dan balasan akhirat yang jauh lebih baik dan lebih dahsyat dari apa saja yang mungkin kita peroleh di dunia ini, seperti firman-Nya:

    Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran: 15)

    Inilah tawaran Allah pada kita semua. Masihkah mata kita buta sehingga tidak dapat membedakan antara kenikmatan dunia yang sementara dan tidak seberapa dengan kenikmatan akhirat dan surga yang sangat luar biasa? Masihkah hati kita keras bagaikan batu sehingga tidak mampu meyakini kebenaran tawaran Allah itu? Masihkah telinga kita pekak dan tuli sehingga tidak mampu mendengar tawaran Allah itu dengan baik? Masihkan pikiran kita picik dan sempit sehingga tidak bisa mencerna dan memahami tawaran dan janji Allah yang maha dahsyat itu?

    Sebuah fakta yang tak terbantahkan yang selalu kita saksikan bahwa setiap manusia pasti mati. Saat kematian tiba, tak ada lagi manfaat harta, anak, istri, teman, handai tolan, pangkat, jabatan, karir dan apa saja yang kita miliki di dunia ini. Semuanya akan kita tinggalkan. Rumah mewah tidak lagi berguna.

    Kita akan diusung ke sebuah "rumah" dalam tanah yang luasnya hanya 3 x 1.5 m2 saja. Harta yang melimpah tidak lagi dapat kita nikmati. Saat kematian, kita hanya dibekali dengan beberepa lembar kain kafan yang menutupi tubuh kita. Pangkat dan kedudukan yang tinggi tidak lagi berguna, karena kita sudah kaku, tidak bisa lagi bergerak dan berbicara, serta kantor dan tempat bermain kita dibatasi sebuah tempat sempit yang bernama liang lahat di dalam bumi sana.

    Istri, anak, dan keluarga yang kita cintai tidak bisa berbuat apa-apa saat jasad kita ditimbun dengan tanah yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan mereka. Mereka terpaksa meninggalkan kita sendirian di dalam kubur setelah pemakaman selesai. Tidak ada seorang istri, atau anak, atau keluarga, teman, anak buah dan sebagainya yang mau mendampingi kita dengan setia setelah kita dikubur.

    Semua ini adalah fakta bahwa semua apa yang ada dan kita miliki di dunia ini hanya sebatas di dunia. Peristiwa kematian akan memutus semuanya dengan kita. Sebab itu, orang yang cerdas ialah orang yang dapat melihat kebenaran fakta tersebut dan dia mensiasatinya dengan siasat yang akan menguntungkannya setelah mati, bukan sebelum kematian. Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

    الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

    Orang yang pintar itu ialah orang yang mampu mengevaluasi diriniya dan beramal (mencurahkan semua potensinya) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Attirmizi no. 2383 dan dishahihkan al-Albani dalam silsilah ahadis Shahihah).

    Salah satu bukti kita tidak tertipu oleh kesenangan dan syahwat dunia ialah kita tidak terlena dalam kehidupan dunia ini. Pada waktu yang sama, kita dapat memfokuskan hidup kita di dunia ini untuk mencapai kehidupan akhirat. Kita optimalkan semua potensi yang ada pada kita, khususnya jiwa, raga, istri, anak, harta, dan waktu kita untuk membangun rumah abadi kita di surga; bukan rumah di dunia yang fana dan yang kita diami hanya sementara. Karena istana dan rumah surga sangat jauh perbedaannya dengan istana dan rumah di dunia.

    Inginkah “Rumah” di surga?

    Saudaraku! Maukah Anda memiliki tempat tinggal atau rumah di Surga? Apakah Anda berharap memiliki kamar atau tenda di surga?

    Apakah Anda sangat menginginkan rumah atau istana di surga?

    Bila Anda menginginkannya dengan jujur dari lubuk kalbu, maka amalkanlah amalan-amalan berikut dengan ikhlas mengharap keridhaan Allah untuk mewujudkan impian dan harapan tersebut.
    Percaya atau Tidak?!
    Kamu mungkin beramal satu amalan yang hanya menghabiskan 30 menit per hari lalu dapatkan rumah di surga –dengan izin Allah-.
    Mungkin Anda mendapatkan rumah di surga dengan izin Allah hanya dengan beramal menghabiskan 20 menit saja per hari!!
    Mungkin Anda mendapatkan rumah di surga dengan izin Allah hanya dengan beramal menghabiskan 15 menit saja!!
    Mungkin Anda mendapatkan rumah di surga dengan izin Allah hanya dengan beramal menghabiskan 3 menit saja!!
    Mungkin Anda mendapatkan rumah di surga dengan izin Allah hanya dengan beramal menghabiskan 15 detik saja!!
    Bahkan mungkin Anda mendapatkan rumah di surga dengan izin Allah hanya dengan beramal menghabiskan 3 detik saja!!
    Spektakuler!!!!!

    Apabila Anda sudah ingin sekali mengetahui amalan tersebut, maka lihatlah keterangan dibawah ini. 

    1. Iman kepada Allah

    Karena siapa yang hidup dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan iman kepada Allah maka mendapatkan kemah di Surga dengan izin Allah. Bagaimana tidak? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabd:

    ((إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِى الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلاَ يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا))

    Sesungguhnya seorang mukmin mendapatkan kemah di surga dari satu mutiara yang berongga, panjangnya 60 mil. Seorang mukmin juga memiliki para istri di surga yang seorang mukmin keliling menggilirnya. Sebagian mereka tidak melihat sebagian lainnya.” (HR Muslim).

    2. Iman kepada Allah dan amal shalih

    {وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ}

    Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di kamar-kamar (dalam surga).” (QS. Saba’: 37).

    Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya 3:714:

    ((أي في منازل الجنة العالية آمنون من كل بأسٍ وخوف وآذى ومن كل شر يُحذر منه((.

    Maksudnya adalah rumah-rumah surga yang tinggi dalam keadaan aman dari semua kekerasan, ketakutan, dan ganguan serta seluruh keburukan yang tidak disukai.

    3. Iman kepada Allah dan RasulNya serta berjihad di Jalan Allah. 

    Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}[الصف (10-12

    Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS ash-Shaf : 10-12).

    Ibnu katsir menjelaskan dalam tafsirnya 4:464 :

    أي إن فعلتم ما أمرتكم به ودللتكم عليه غفرت لكم الزلات، وأدخلتكم الجنات والمساكن الطيبات والدرجات العاليات.

    “Maksudnya apabila kalian lakukan yang telah Aku perintahkan kepada kalian dan telah Aku tunjukkan, maka Aku akan mengampuni semua kesalahan kalian dan Aku masukkan kedalam Surga dan berikan tempat tinggal yang baik dan derajat yang tinggi.

    4. Iman kepada Allah dan membenarkan para Rasul. 

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:

    إنَّ أهْلَ الجَنَّةِ لَيَتَرَاءوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِن فَوْقِهِمْ كَمَا تَرَاءوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُق مِنَ المَشْرِقِ أو المَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ )) قالُوا : يا رسول الله ؛ تِلْكَ مَنَازِلُ الأنبياء لاَ يَبْلُغُها غَيْرُهُمْ قال : (( بَلَى والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا المُرْسَلِينَ )) . متفق عليه .

    Sesungguhnya penduduk surga melihat-lihat pemilik kamar-kamar di atas mereka sebagaimana melihat bintang-bintang gemerlapan di langit dari timur atau barat karena perbedaan tingkat diantara mereka. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah ! itu rumah-rumah para Nabi yang tidak akan bisa mencapainya selain mereka? Nabi menjawab: Tidak, demi Allah yang jiwaku ditanganNya (dapat dicapai) oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul.” (Muttafaqun ‘alaihi).

    5. Takwa kepada Allah

    Seperti dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa ta'ala:

    {لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِّن فَوْقِهَا غُرَفٌ مَّبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ}

    Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang Tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” (QS az-Zumar : 20).

    Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya 4:64: 

    أي مساكن عالية طباق بعضها فوق بعض

    Maksudnya rumah yang tinggi bertingkat.

    6. Meminta terus menerus dengan ikhlas agar dikaruniai Allah mati syahid di jalan-Nya
     
    Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam sabdanya:

     ((مَنْ سَأَلَ الله تَعَالَى الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ))

    Siapa yang meminta kepada Allah mati syahid dengan jujur, niscaya Allah akan menyampaikannya ke tingkat (tempat tinggal) para syuhadak kendati ia mati di atas kasurnya.” (HR. Muslim)

    Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarah Riyadh ash-Shalihin, 1:285:

    ((فإذا سأل الإنسان ربه وقال : اللهم إني أسألك الشهادة في سبيلك – ولا تكون الشهادة إلا بالقتال لتكون كلمة الله هي العليا – فإن الله تعالى إذا علم منه صدق القول والنية أنزله منازل الشهداء وإن مات في فراشه((

    “Apabila seorang meminta kepada Allah dan berkata: Wahai Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada Engkau mati syahid dijalan-Mu, -mati syahid tidak ada kecuali dengan perang untuk meninggikan kalimat Allah- maka Allah apabila mengetahui darinya kejujuran ucapan dan niat maka Allah akan tempatkan di rumah-rumah Syuhada’ walaupun meninggal diatas tempat tidur.”

    Bagaimana kita tidak mau memanfaatkan pahala besar ini yang hanya butuh sekitar 5 detik saja!

    7.  Membangun masjid lillah walaupun hanya sebesar lubang tempat bertelurnya burung.

    Bagaimana tidak? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:

     ((مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ)) [صحيح الجامع : 6128]

    Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, al-bazzar dan ibnu Hibban dalam shahihnya dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 6128)

    Makna (مفحص قطاة) artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya. Dan (قطاة) adalah sejenis merpati liar.

    Al-Haafizh ibnu Hajar berkata dalam al-Fath, 1:679:

    ((من بني مسجداً)) التنكير فيه للشيوع. فيدخل فيه الكبير والصغير

    “(Siapa yang membangun masjid) bersifat nakirah untuk menyeluruh pada jenisnya, sehingga masuk yang besar dan yang kecil.

    Bahkan pahala tersebut berlaku pada orang yang bersedekah walaupun hanya satu bata saja atau senilainya untuk pembangunan masjid. (*Baca ulasan seputar masjid disini.)

    8. Ke masjid waktu subuh dan malam hari untuk shalat jamaah dan kegiatan ibadah lainnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ((مَنْ غَدَا إِلَى المَسْجِد أَوْ رَاحَ ، أَعَدَّ اللهُ لَهُ في الجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ)). متفق عليه

    Siapa yang ke masjid waktu subuh atau malam hari, maka Allah menyiapkan baginya tempat tinggal di surga setiap kali ia berangkat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Al-Haafizh ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 2:183, menyatakan: (نُزُلاً) dengan di-dhommah-kan huruf nun dan zainya berarti tempat yang disiapkan untuk istirahat  dan dengan disukunkan huruf zai-nya berarti semua yang disiapkan untuk yang baru datang berupa penyambutan tamu dan sejenisnya.

    Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin, 3:202 menyatakan:

    ((وظاهر الحديث أن من غدا إلى المسجد أو راح، سواءً غدا للصلاة أو لطلب علم أو لغير ذلك من مقاصد الخير أن الله يكتب له في الجنة نزلاً((

    Makna tekstual dari hadis ini menunjukkan bahwa orang yang pergi ke masjid pagi-pagi atau sore hari, baik berangkat pagi-pagi untuk shalat atau menuntut ilmu atau selainnya dari kebaikan, maka Allah akan menetapkan untuknya tempat tinggal di surga.

    9. Menyambung barisan dalam shalat dengan menutup sela-sela antara dia dengan sebelahnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

     مَنْ سَدَّ فُرْجَةًّ بَنَي اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً . الصحيحة : 1892

    Siapa yang menutup sela-sela barisan dalam shalat, maka Allah bangunkan rumah di surga dan angkat derajatnya.” (HR al-Muhaamili dalam amaalinya dan dishahihkan al-Albani dalm Silsilah ash-Shahihah no. 1892).

    Gimana tidak mau? Hanya cukup 3 detik saja!

    10. Shalat sunah rawatib sebanyak 12 rakaat setiap hari.

    Yakni, empat rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib, 2 rakaat setelah shalat isya dan dua rakaat sebelum shalat subuh. Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

    ((مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً من السُنة بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ)). [صحيح الجامع : 6183]

    Siapa yang selalu shalat 12 rakaat setiap hari dan malam, maka dibangunkan baginya rumah di surga. yakni empat rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib, 2 rakaat setelah shalat isya dan dua rakaat sebelum shalat subuh.” (HR an-nasaa’i dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 6183)

    Juga Imam Muslim meriwayatkan dari an-Nu’maan bin Salim dari Amru bin Aus beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku Ambasah bin Abi Sufyaan dalam masa sakit yang membawanya pada kematian satu hadis yang dibanggakannya. Ambasah  berkata: Aku mendengar Ummu Habibah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ((مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ)) )مسلم(

    Siapa yang shalat 12 rakaat setiap hari dan malam, maka dibangunkan baginya rumah di surga

    قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

    وَقَالَ عَنْبَسَةُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ.

    وَقَالَ عَمْرُو بْنُ أَوْسٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ.

    وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ سَالِمٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ

    Ummu Habibah berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Rasulullah.”
    Ambasah berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Ummu habibah.”
    Amru bin Aus berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Ambasah.”
    An-Nu’maan bin Saalim  berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Amru bin Aus.”

    Bagaimana mungkin seorang tidak menginginkan pahala ketaatan ini. Ketaatan yang hanya menghabiskan kurang lebih 30 menit.

    (*Tata Cara Shalat Sunnah Rawatib baca disini.)

    11. Shalat dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelum zuhur

    Seperti yang diriwayatkan Al-bani dan kumpulan hadist-hadis shahih, Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

    ((مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعاً وَقَبْلَ الأُوْلَى أَرْبَعاً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ)) [الصحيحة : 2349]

    Siapa yang shalat dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelum shalat pertama (shalat zuhur), maka dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Shahihah no. 2349).

    Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shalat pertama adalah shalat zuhur.
    Bagaimana mungkin seorang meninggalkannya padahal hanya butuh 20 menit saja.

    12. Meperbanyak membaca surat Al-Ikhlas, minimal 10 kali setiap hari. 

    Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَنْ أَسْتَكْثِرَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْثَرُ وَأَطْيَبُ [الصحيحة : 2/137]

    Siapa yang membaca  qulhuwa allahu ahad sampai selesai sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga.” Umar bertanya: “Kalau begitu  kita memperbanyak istana wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak dan lebih baik.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 589 juz 2:137).

    Bagaimana seorang meninggalkan pahala besar ini, padahal hanya butuh 3 menit saja!

    13. Bicara yang baik

    14. Memberi makan pada fakir miskin

    15. Rajin berpuasa

    16. Shalat malam (tahajjud).

    Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

    Sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang dapat dilihat luarnya dari dalamnya, dan dalamnya dari luarnya.” Maka seorang Badwi berkata: “Untuk siapa itu wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Untuk orang yang baik perkataannya, memberikan makan pada orang lain, terus menerus berpuasa (puasa Daud) dan shalat di malam hari sedangkan manusia sedang tidur nyenyak.” (HR. At-Tirmizi  dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1984) 

    17. Meninggalkan perdebatan kendati mengandung unsur kebenaran

    18. Menjauhi berbohong

    19. Selalu berakhlak baik.

    (( أنا زعيمٌ ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقاً وبيتٍ في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحاً وبيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه)). [صحيح أبي داود : 4015]

    Saya menjamin sebuah rumah di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan kendati dia benar, rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kebohongan kendati hanya bercanda, dan rumah di lantai atas surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya (sampai menjadi akhlak hasanah).” (HR. Abu Daud dishahihkan al-Albani dalam shahih sunan Abi dawud no. 4015)

    20. Sabar atas kematian anaknya.

    Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    ((إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ )) [الصحيحة : 1408]

    Apabila wafat anak seorang hamba (manusia), maka Allah berkata pada malaikat-Nya: Kalian telah mengambil nyawa anak hamba-Ku? Mereka menjawab : “Benar.” Allah berfirman lagi: “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Maka malaikatpun menjawab: “Benar.” Lalu Allah berkata: “Apa yang dikatakan hamba-Ku itu?” Mereka menjawab: “Dia memuji-Mu dan mengucapkan: Innalillahi wa inna ialihi raji’un. Maka Allah berfirman: “Bangunkan bagi hamba-Ku itu rumah di surga dan beri nama rumah itu dengan “Baitul Hamdi (Rumah Pujian).” (HR. At-Tirmizi dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1408) 

    21 dan 22. Mengunjungi orang sakit atau saudara seiman

    Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    ((مَنْ عَادَ مَرِيضاً أَوْ زَارَ أخاً لَهُ في الله ، نَادَاهُ مُنَادٍ : بِأنْ طِبْتَ ، وَطَابَ مَمْشَاكَ ، وَتَبَوَّأتَ مِنَ الجَنَّةِ مَنْزِلاً)). [صحيح الترمذي : 1633]

    “Siapa yang mengunjungi orang sakit atau saudaranya seiman (seagama Islam), maka ia diseru oleh orang (malaikat): ‘Engkau adalah orang baik dan baik pula perjalananmu dan Allah telah menyiapkan bagimu rumah di surga’.” (HR. At-Tirmizi dan dishahihkan al-Albani dalan Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1633)
    Sungguh agung pahala amalan yang hanya menghabiskan kurang lebih seperempat jam saja.

    (*Bonus: Sholawat dari 70 RIBU Malaikat bagi siapa yang mengunjungi orang sakit. Baca disini.)

    23. Membaca doa masuk pasar

    Seperti dijelaskan dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبُنِيَ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ

    Siapa yang masuk pasar berdoa dengan doa:

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir”
    Maka Allah akan tetapkan sejuta kebaikan dan menghapus darinya sejuta dosa dan mengangkat sejuta derajat serta dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR at-Tirmidzi dan ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 11176)

    Inipun tidak membutuhkan lebih dari 15 detik! 

    Sekarang percayakah Anda?

    Anda membangun rumah di surga hanya dalam waktu:
    1. 30 menit dengan melaksanakan 12 rakaat sunah rawatib perhari.
    2. 20 menit dengan melaksanakan 8 rakaat (4 rakaat dhuha dan 4 rakaat sebelum zuhur).
    3. 15 menit dengan menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudara karena Allah.
    4. 3 menit dengan membaca surat al-Ikhlash 10 kali.
    5. 15 detik dengan berdoa ketika masuk pasar.
    6. 5 detik dengan memohon kepada Allah mati syahid.
    7. 3 detik dengan merapatkan barisan shalat dan menutupi sela-sela antara kamu dengan sebelahmu.
    Subhanallah dengan amalan mudah seperti ini mendapatkan rumah di surga yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

    الجنة بناؤها لبنة من فضة و لبنة من ذهب و ملاطها المسك الأذفر و حصباؤها اللؤلؤ و الياقوت و تربتها الزعفران من يدخلها ينعم لا يبأس و يخلد لا يموت لا تبلى ثيابهم و لا يفنى شبابهم

    Bangunan di surga batu batanya dari perak dan dari emas. Tanah lapisannya dari minyak kesturi terbaik dan lantainya dari mutiara dan batu yaqut, tanahnya adalah za’faran. Siapa yang memasukinya akan mendapatkan kenikmatan yang tidak putus dan kekal yang tidak ada kematian, pakaian mereka tidak rusak dan usia mudanya tidak hilang.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairoh dan Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jaami’ no. 3116)
    Mari beramal untuk membangun RUMAH di surga!

    ****
    Artikel www.PengusahaMuslim.com Diarsipkan: www.faisalchoir.blogspot.com

    (*Tambahan dari Samudera Ilmu) Semoga kita dimudahkan dalam merutinkan mengamalkannya, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Kaya ..

    Sebarkan Artikel ini... 
    “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).