Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Main Menu (Do Not Edit Here!)

Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

9 Faedah Tentang Tafsir

Oleh : Ustadz Aris Munandar hafizhahullah

1. KONDISI KAUM MUSLIMIN

Tim tafsir DEPAG RI (Prof. TM Hasbi Ash Shidiqi rahimahullah dkk) mengatakan, “Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan ghaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja.” (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, jilid 3, hlm. 574 ketika menafsirkan QS. al-A’rof [71]:138, edisi cetak ulang oleh UII, 1995)

2. PENGERTIAN JILBAB MENURUT KEMENAG RI

“Jilbab ialah Sejenis Baju Kurung yang Lapang Yang Dapat Menutup Kepala, Muka, dan Dada.”
Definisi ini menunjukkan bahwa muslimah yang berjilbab menurut Kementerian Agama RI adalah dengan bercadar. Jika tidak bercadar maka belumlah dikatakan berjilbab karena belum memenuhi kriteria “menutupi muka”.

Definisi jilbab di atas bisa dijumpai di Al-Qur’an dan Tafsirnya jilid 8 hlm. 43 ketika menafsirkan QS. al-Ahzab (33): 59. Sebagaimana juga bisa dijumpai dalam catatan kaki no. 1233 dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI.

3. CONTOH IJMA’ DALAM TAFSIR

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاء وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (baca: menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan keji. Sedangkan Alloh menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Alloh maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 268)

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Perbuatan keji yang dimaksudkan oleh ayat di atas adalah bakhil alias kikir berdasarkan ijma.” (Thoriq al-Hijrotain wa Bab as-Sa’adatain hlm. 456, terbitan al-Maktabah al-’Ashriyyah, Beirut, cet. pertama, 1424 H)

4. KEINGINAN NABI YUSUF 'ALAIHISSALAM

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Robbnya.” (QS. Yusuf [12]: 24)

Syaikh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri rahimahullah mengatakan, “Makna ayat di atas adalah Yusuf 'Alahissalam tidaklah berkeinginan untuk berzina dengan wanita tersebut karena dia melihat tanda dari Robbnya. Adapun apa yang dimaksud dengan tanda yang dilihat oleh Yusuf maka tidak terdapat riwayat shohih yang menjelaskannya.” (Catatan kaki Tafsir al-Jalalain hlm. 238, terbitan Dar al-Salam, Riyadh, cet. kedua, 1422 H)

5. HILANG AKAL KARENA WANITA

وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. an-Nisa’ [4]: 28)

Waki’ mengatakan, “Akal sehat seorang laki-laki itu tiba-tiba hilang ketika dia tergoda wanita.” (Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hlm. 636 ketika menjelaskan ayat di atas, cet. kedua 1418H, terbitan Maktabah Dar al-Salam Riyadh)

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata, “Alloh menyebutkan adanya keringanan dalam masalah ini (yaitu pernikahan) lalu Alloh menceritakan kelemahan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia itu lemah untuk bisa bersabar menghadapi syahwat biologis.” (Zad al-Ma’ad juz 4 hlm. 250, terbitan Mu’assasah al-Risalah, Beirut, cet. keempat, 1425 H).

6. ISBAL DAN DELAPAN PENAFSIRAN

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan, “Larangan isbal bagi laki-laki adalah salah satu dari delapan pendapat mengenai makna firman Alloh Subhanahu wa ta'ala:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. al-Muddatsir [74]: 4)

Maksudnya ‘tinggikanlah ujung pakaianmu‘ (baca: Jangan isbal!). Hal ini dikarenakan tidak isbal itu menyebabkan kain lebih terjaga dari najis. Lain halnya jika kain yang diseret di permukaan tanah sangat besar kemungkinannya untuk terkena najis.” (Hadd al-Tsaub wa al-Uzroh hlm. 18, Maktabah al-Sunnah, Kairo, cet. pertama, 1421 H; Zadul Masir karya Ibnul Jauzi jilid 8 hlm. 400-401, terbitan al-Maktab al-Islami, cet. ketiga, 1404 H).

7. ALEXANDER THE GREAT

Sebagian orang beranggapan bahwa Dzulqornain yang Alloh sebutkan namanya dalam al-Qur’an adalah Alexander The Great. Ini adalah anggapan yang keliru. Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

“Demikian pula para ahli filsafat Yunani semisal Aristoteles dan kawan-kawannya. Mereka adalah orang-orang musyrik yang menyembah patung berhala dan benda-benda langit. Aristoteles itu hidup tiga ratus tahun sebelum Nabi Isa. Aristoteles adalah menterinya Iskandar Philips al-Maqduni (dari Macedonia, Red.). Iskandar Philips inilah yang kisah hidupnya terekam dalam sejarah Romawi dan Yunani serta dicatat oleh Yahudi dan Nasrani.

Iskandar Philips itu bukan Dzulqornain yang Alloh sebutkan dalam al-Qur’an sebagaimana anggapan sebagian orang bahwa Aristoteles adalah menteri dari Dzulqornain. Anggapan salah ini muncul karena mereka melihat Iskandar Philips itu bernama Iskandar dan Dzulqornain itu bisa juga disebut Iskandar. Akhirnya mereka beranggapan bahwa Dzulqornain adalah Iskandar Philips. Inilah anggapan keliru yang dimiliki oleh Ibnu Sina dan lainnya.

Padahal, yang benar tidaklah demikian. Iskandar Philips yang musyrik dan Aristoteles menjadi menterinya itu hidupnya lebih belakangan dibandingkan Dzulqornain. Iskandar Philips ini bukanlah yang membangun tembok penghalang Ya’juj dan Ma’juj bahkan perjalanannya tidaklah sampai ke negeri Ya’juj dan Ma’juj. Iskandar yang Aristoteles menjadi salah satu menterinya adalah Iskandar yang perjalanan hidupnya dicatat oleh sejarah Romawi yang terkenal.” (al-Furqon Baina Auliya’ ar-Rahman wa Auliya’ asy-Syaithon karya Ibnu Taimiyyah tahqiq Salim al Hilali him. 41-42, terbitan Maktabah al-Rusyd, Riyadh, cet. kedua 1424 H).

8. BISMILLAH TERMASUK AL-FATIHAH ?[1]

Ad-Daruquthni meriwayatkan dengan sanadnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قَرَأْتُـمْ الْـحَمْدُ لله فَاقْرَءُوْا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَسَّبْعُ الْـمَثَانِي وَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ إِحْدَاهَا

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu'anhu Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian membaca Surah Alhamdulillah (yaitu Surah al-Fatihah) maka bacalah Bismillahirrohman-irrohim. Sesungguhnya Surah Alhamdulillah adalah Ummul Qur’an (induknya al-Qur’an), Ummul Kitab, dan tujuh ayat yang berulang-ulang. Bismillahir-rohmanirrohim adalah salah satu ayatnya.” (Sunan ad-Daruquthni tahqiq Syu’aib al-Arnauth dkk. jilid 2 hlm. 86 hadits no. 1190, terbitan Mu’assasah al-Risalah, Beirut, cet. pertama, 1424 H)

Mengenai hadits di atas Syaikh al-Albani rahimahullaj berkata: “Ini adalah sanad yang shohih baik dengan status marfu’ (sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam) ataupun mauquf (ucapan Abu Huroiroh radhiyallahu'anhu) karena Nuh adalah perawi yang tsiqoh demikian pula para perawi setelahnya. Riwayat yang mauquf tidak bisa kita jadikan alasan untuk menilai cacat riwayat yang marfu’ karena memang perawi itu terkadang meriwayatkan sebuah hadits secara mauquf. Ketika dalam kesempatan yang lain perawi yang tsiqoh tersebut meriwayatkannya secara marfu maka ini adalah tambahan informasi yang wajib diterima.” (Silsilah Shohihah jilid 3 hlm. 179-180 hadits no. 1183, terbitan Maktabah al-Ma’arif, 1415 H).

9. PERBEDAAN “ITSM” DAN “UDWAN”

وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Ma’idah [5]: 2)

Al-itsm dalam ayat di atas diterjemahkan dengan “dosa” sedangkan ‘udwan diterjemahkan dengan “pelanggaran”. Apa beda dua istilah tersebut dalam ayat ini? Itsm adalah semua perbuatan yang haram baik sedikit maupun banyak. Sedangkan ‘udwan adalah perbuatan yang sebenarnya diperbolehkan jika tidak kelebihan dosis, namun berubah menjadi haram karena melewati batas dan kadar yang diperbolehkan. (Lihat Risalah Tabukiyyah atau Zadul Muhajir karya Ibnul Qoyyim tahqiq Salim bin ‘Id al-Hilali hlm. 53-56, Maktabah al-Khorroz, Jedah, KSA, 1429 H).

[Majalah Al-Furqon Gresik, No.112 Edisi 9 Tahun Ke-10_1432 H/ 2011 M, hal. 28-29, dan 32]

________________
Footnote:
[1]. Masalah ini adalah Perbedaan yang Maklum, lihat juga Tafsir Bismillah oleh Syaikh Ibnu Utsiamin rahimahullah –Ibnu Majjah

Sumber: www.ibnumajjah.wordpress.com
Download: 9 Faedah Tentang Tafsir atau ZIP file

Minggu, 05 Agustus 2012

Berlombalah dalam Meraih Pahala

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berlomba dalam menggapai dunia bukan hal yang asing lagi di tengah kita. Untuk masuk perguruan tinggi terkemuka, kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana setiap orang ingin dapat yang terdepan. Cita-citanya bagaimana bisa mendapat penghidupan yang bahagia kelak. Namun amat jarang kita perhatikan orang-orang berlomba dalam hal akhirat. Sedikit orang yang mendapat rahmat Allah yang mungkin sadar akan hal ini.

Cobalah saja perhatikan bagaimana orang-orang lebih senang menghafal berbagai tembangan ‘nyanyian’ daripada menghafalkan Al Qur’an Al Karim. Bahkan lebih senang menjadi nomor satu dalam hal tembangan, lagu apa saja yang dihafal, daripada menjadi nomor satu dalam menghafalkan Kalamullah. Di dalam shalat jama’ah pun, kita dapat saksikan sendiri bagaimana ada yang sampai menyerahkan shaf terdepan pada orang lain. “Monggo, Bapak saja yang di depan”, ujar seseorang. Akhirat diberikan pada orang lain(?). Padahal shaf terdepan adalah shaf utama dibanding yang di belakangnya bagi kaum pria. Demikianlah karena tidak paham dalam hal menjadi nomor satu dalam kebaikan akhirat sehingga rela jadi yang terbelakang.

Ayat yang patut direnungkan bersama pada kesempatan kali ini adalah firman Allah Ta’ala,

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21)

Ada beberapa faedah yang bisa kita petik dari ayat di atas.

Faedah pertama
Dalam ayat ini begitu jelas bahwa Allah memerintahkan berlomba-lomba untuk meraih ampunan dan surga-Nya.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Berlombalah menjadi yang terdepan dalam beramal sholih yang menyebabkan datangnya ampunan dari Rabb kalian, serta bertaubatlah atas maksiat yang kalian perbuat.”[1]

Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam meraih ampunan Allah, ridho-Nya, dan surga-Nya. Ini semua bisa diraih jika seseorang melakukan sebab untuk mendapatkan ampunan dengan melakukan taubat yang tulus, istighfar yang manfaat, menjauh dari dosa dan jalan-jalannya. Sedangkan berlomba untuk meraih ridho Allah dilakukan dengan melakukan amalan sholih dan semangat menggapai ridho Allah selamanya (bukan sesaat). Bentuk dari menggapai ridho Allah tadi adalah dengan berbuat ihsan (berbuat baik) dalam beribadah kepada Sang Khaliq dan berbuat ihsan dalam bermuamalah dengan sesama makhluk dari segala segi.”[2]

Faedah kedua
Dalam masalah akhirat seharusnya seseorang berlomba untuk menjadi yang terdepan. Inilah yang diisyaratkan dalam ayat lainnya,
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah: 148).

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26).
Artinya, untuk meraih berbagai nikmat di surga, seharusnya setiap berlomba-lomba.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menerangkan, “Para sahabat memahami bahwa mereka harus saling berlomba untuk meraih kemuliaan di surga. Mereka berusaha menjadi terdepan untuk menggapai derajat yang mulia tersebut. Oleh karena itu, jika di antara mereka melihat orang lain mendahului mereka dalam beramal, mereka pun bersedih karena telah kalah dalam hal itu. Inilah bukti bahwa mereka untuk menjadi yang terdepan.”[3]

Kita dapat melihat pula dalam kalam ulama salaf lainnya.

Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Jika engkau melihat orang lain mengunggulimu dalam hal dunia, maka kalahkanlah ia dalam hal akhirat.”

Wuhaib bin Al Ward rahimahullah mengatakan, “Jika engkau mampu tidak ada yang bisa mengalahkanmu dalam hal akhirat, maka lakukanlah.”

Sebagian salaf mengatakan, “Jika engkau mendengar ada yang lebih taat pada Allah darimu, seharusnya engkau bersedih karena telah kalah dalam hal ini.”[4]

Coba kita bayangkan keadaan kita saat ini. Tidak ada rasa sedih. Tidak ada rasa dikalahkan. Perasaan hanya biasa-biasa saja jika ada yang mengungguli kita dalam hal akhirat. Akhirnya, untuk menggapai surga pun menjadi lemah. Kemanakah hati yang lemah? Yang Allah tunjukilah kami ke jalan-Mu!

Faedah ketiga
Bagaimanakah luasnya surga? Lihatlah keterangan dalam ayat selanjutnya,

وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السماء والأرض
Dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi”.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Jika lebar surga saja selebar langit dan bumi. Lantas bagaimanakah lagi dengan panjangnya.”[5]

Demikianlah luasnya surga. Namun sedikit yang mengetahui hal ini, sehingga lihatlah sendiri bagaimana dunia begitu dikejar dibanding akhirat. Padahal jauh sekali antara kenikmatan surga dibanding dunia. Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَوْضِعُ سَوْطٍ فِى الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Satu bagian kecil nikmat di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.”[6] Seharusnya kenikmatan di surga lebih semangat kita raih.

Faedah keempat
Modal surga adalah dengan beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Iman yang dimaksud di sini mencakup iman yang pokok (ushulud diin) dan iman yang di luar pokok agama (furu’).[7] Dari sini, berarti bukan hanya ushulud diin saja yang wajib diimani. Namun pada perkara yang di luar pokok agama jika telah sampai ilmunya pada kita, wajib pula diimani. Contohnya, kita punya kewajiban pada hari akhir secara umum. Namun jika datang ilmu mengenai perinciannya seperti di antara tanda datangnya kiamat adalah munculnya Dajjal, maka ini juga patut diimani.

Faedah kelima
Seseorang tidaklah memasuki surga melainkan dengan rahmat Allah.[8] Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits,
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.”[9]

Sedangkan firman Allah Ta’ala,
وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
“Surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya”.

Mungkin ayat ini dapat dipahami bahwa seseorang memasuki surga karena amalannya yaitu beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana mengkompromikannya?

Ada beberapa penjelasan para ulama mengenai hal ini:
  1. Yang dimaksud seseorang tidak masuk surga dengan amalnya adalah peniadaan masuk surga karena amalan.
  2. Amalan itu sendiri tidak bisa memasukkan orang ke dalam surga. Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah, tentu tidak akan bisa memasukinya. Bahkan adanya amalan juga karena sebab rahmat Allah bagi hamba-Nya.
  3. Amalan hanyalah sebab tingginya derajat seseorang di surga, namun bukan sebab seseorang masuk ke dalam surga.
  4. Amalan yang dilakukan hamba sama sekali tidak bisa mengganti surga yang Allah beri. Itulah yang dimaksud, seseorang tidak memasuki surga dengan amalannya. Maksudnya ia tidak bisa ganti surga dengan amalannya. Sedangkan yang memasukkan seseorang ke dalam surga hanyalah rahmat dan karunia Allah.[10]

Faedah keenam
Beriman dan beramal sholih, itu adalah karunia dan anugerah dari Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini dapat kita lihat dalam hadits berikut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - وَهَذَا حَدِيثُ قُتَيْبَةَ أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ. فَقَالَ « وَمَا ذَاكَ ». قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلاَ نُعْتِقُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ مَرَّةً ». قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ »

Dari Abu Hurairah -dan ini adalah hadis Qutaibah- bahwa orang-orang fakir Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sambil berkata, "Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Maksud kalian?" Mereka menjawab, "Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan?" Mereka menjawab, "Baiklah wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali." Abu shalih berkata, "Tidak lama kemudian para fuqara' Muhajirin kembali ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya!"[11]

Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Seorang hamba dilebihkan dari yang lainnya sesuai dengan kehendak Allah. Tidak ada yang mungkin dapat menghalangi pemberian Allah dan tidak mungkin ada yang dapat memberi apa yang Allah halangi. Ketahuilah bahwa kebaikan seluruhnya berada di tangan-Nya. Allahlah yang benar-benar Maha Mulia, Maha Pemberi dan tidak kikir.”[12]

Begitu nikmat-Nya semakin merenungkan kalam ilahi. Ya Allah, berilah taufik pada kami untuk semakin dekat pada-Mu. 

Diselesaikan saat diturunkannya anugerah hujan di Panggang-GK, 24 Ramadhan 1431 H (3/9/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.rumaysho.com


[1] Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/156.
[2] Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, 1423 H, hal. 841.
[3] Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 428.
[4] Idem.
[5] Fathul Qodir, 7/156.
[6] HR. Bukhari no. 3250.
[7] Taisir Al Karimir Rahman, hal. 841.
[8] Ma’alimut Tanzil, Al Baghowi, Dar Thoyyibah, cetakan keempat, 1417 H, 8/40.
[9] HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816.
[10] Disarikan dari Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H, 3/18-19.
[11] HR. Muslim no. 595.
[12] Fathul Qodir, 7/157.

Sabtu, 28 Juli 2012

Kekayaaan Bukan Tanda Kemuliaan, Kemiskinan Bukan Petunjuk Kehinaan

Oleh Ustadz Abu Minhal, Lc

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Rabbku telah memuliakanku". Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: "Rabbku menghinakanku" .Sekali-kali tidak (demikian), …[al-Fajr/89:15-16]

PENJELASAN AYAT

Kenikmatan dunia menjadi bidikan utama orang-orang yang tidak beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan hari Kebangkitan (orang-orang kafir). Mereka berjuang siang dan malam demi kesuksesan duniawi semata!. Limpahan kekayaan dalam pandangan mereka merupakan pertanda kemuliaan hidup dan sumber martabat. Dan sebaliknya, kurangnya materi, kemiskinan dan kehidupan ekonomi yang sulit di mata mereka menjadi petunjuk kehinaan, sekali lagi, dalam pandangan orang-orang materialis itu yang lazim disebut dengan mâddiyyûn (jamak dari kata mâddi) dalam bahasa Arab.

SALAH SATU SIFAT BAWAAN MANUSIA DAN ORANG KAFIR

Atas dasar itu, sebagian Ulama mengatakan bahwa melalui ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan salah satu sifat orang kafir dan musyrik saat menerima limpahan harta dan tatkala kekurangan materi dan terhimpit kesulitan ekonomi.[1] Sebagian Ulama lain menyebutkan bahwa itu merupakan sifat bawaan setiap manusia yang bersumber dari sifat jahl (kebodohan, ketidaktahuan tentang hakekat masalah) dan zhulm (kezhaliman).[2]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Rabbku telah memuliakanku".

Pada ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengingkari manusia yang memiliki keyakinan jika diberi keluasan rezeki itu pertanda penganugerahan kemuliaan dari Allâh bagi dirinya. Faktanya, tidak demikian adanya. Akan tetapi, merupakan ujian dan cobaan bagi mereka dari Allâh Azza wa Jalla, [3] dan menguak apakah ia bersabar atau berkeluh-kesah, apakah ia bersyukur atau mengingkari nikmat. [4] Hal ini seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar [al-Mukminûn/23:55-56]

Sebaliknya pada ayat berikutnya:

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: "Rabbku menghinakanku"

Tatkala Allâh Azza wa Jalla menguji manusia dengan menyempitkan rezekinya, sebagian orang beranggapan hal tersebut merupakan bentuk kehinaan yang harus ia terima.

Imam al-Qurthubi rahimahullah menegaskan salah satu sifat orang kafir, “Kemuliaan dan kehinaan pada pandangan orang kafir berdasarkan banyak sedikitnya kekayaan yang dimiliki seseorang”.[5]

KEKAYAAN BUKAN PERTANDA KEMULIAAN, KEKURANGAN BUKAN PERTANDA KEHINAAN

Allâh Azza wa Jalla tidak pernah menjadikan kekayaan dan kekurangan yang meliputi kondisi seseorang sebagai bentuk penilaian kemuliaan atau kerendahan derajatnya di sisi Allâh Azza wa Jalla. Namun, itu semua merupakan ujian dan cobaan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada umat manusia yang tidak lepas dari takdir dan qodho-Nya.

Perhatikan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Saba/34:36]

Allâh Azza wa Jalla memberikan kekayaan kepada orang yang Dia Azza wa Jalla cintai dan orang yang tidak Dia Azza wa Jalla cintai, menyempitkan rezeki orang yang Dia Azza wa Jalla cintai dan orang yang tidak Dia Azza wa Jalla cintai. Pada ketentuan-ketentuan Allâh ini terdapat hikmah yang luhur lagi sempurna yang tidak diketahui selain-Nya. Akan tetapi, kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Sedangkan firman Allâh Azza wa Jalla : (كَلاَّ) adalah bentuk kata bantahan guna menjelaskan bahwa kenyataannya tidak seperti yang kalian katakan dan tidak seperti pandangan manusia umumnya. Bantahan kepada orang-orang yang mengukur segala sesuatu dengan materi. Dalam kata ini terdapat unsur meluruskan pandangan yang keliru di atas, dan bahwa pemberian dan menahan rezeki tidak terkait dengan pemuliaan bagi seseorang maupun penghinaan baginya. Akan tetapi, itu semua merupakan ujian dari Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-Nya. [6]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “Masalahnya tidak seperti yang ia perkirakan. Tidak seperti pandangan yang pertama, juga tidak seperti pandangan yang kedua. (Sebab) Allâh Azza wa Jalla memberikan kekayaan kepada orang yang Allâh Azza wa Jalla cintai dan yang tidak Allâh Azza wa Jalla cintai, menyempitkan rezeki pada orang yang Allâh Azza wa Jalla cintai dan yang tidak Dia Azza wa Jalla cintai. Landasan dalam masalah ini ialah ketaatan kepada Allâh dalam dua kondisi tersebut, jika berlimpah harta, hendaknya bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas nikmat itu, bila mengalami kekurangan, hendaknya bersabar”.[7]

Syaikh ‘Abdur Rahmân as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Kekayaan dan kemiskinan, keluasan dan sempitnya rezeki adalah cobaan dari Allâh Azza wa Jalla dan ujian untuk menguji para hamba-Nya, supaya dapat diketahui siapa saja yang bersyukur dan bersabar, kemudian Allâh Azza wa Jalla akan membalasnya dengan pahala yang besar. Barang siapa yang tidak demikian (tidak bersyukur atau bersabar), maka akan dibalas dengan siksa pedih”.[8]

Sementara itu, Syaikh ‘Athiyyah Sâlim rahimahullah juga berkata, “Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Dia Azza wa Jalla memberi dan menahan (pemberian) sebagai ujian bagi seorang hamba”.[9]

Perhatikanlah firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.[al-Anbiyâ/21:35]

Dan juga firman Allâh Azza wa Jalla :

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allâh-lah pahala yang besar [al-Anfâl/8:28]

Sebagaimana menguji manusia dengan musibah (hal-hal yang tidak mengenakkan), Allâh Azza wa Jalla juga menguji manusia dengan kenikmatan.

PENTINGNYA INTROSPEKSI DIRI

Seorang Mukmin ketika mendapatkan kenikmatan dari Allâh Azza wa Jalla berupa kekayaan, ia akan mensyukuri Rabbnya, dan ia memandang itu murni merupakan kemurahan dan curahan kebaikan Allâh terhadap dirinya, bukan merupakan bentuk kemuliaan yang Allâh berikan kepada orang yang berhak. Dan sebaliknya, jika mengalami cobaan kesulitan ekonomi, rejeki seret, seorang Mukmin akan bersabar dan mengharapkan pahala dari Allâh Azza wa Jalla seraya berintrospeksi diri, kejadian ini tiada lain karena dosa-dosaku. Allâh Azza wa Jalla tidak sedang menghinaku dan tidak sedang menganiaya diriku.

Dalam dua ayat ini termuat satu petunjuk pentingnya seseorang menyadari saat menerima limpahan rezeki atau terhimpit ekonominya. Misalnya, mengatakan, “Mengapa Allâh Azza wa Jalla memberiku rezeki melimpah? Apa yang dikehendaki dariku? Pastilah aku harus bersyukur kepada-Nya. Mengapa Allâh Azza wa Jalla mengujiku dengan kekurangan harta dan penyakit? Pastilah Allâh Azza wa Jalla menghendaki agar aku bersabar.

Jadi, hendaklah selalu melakukan introspeksi diri dalam dua kondisi tersebut. Sikap demikian akan menjauhkan manusia dari dua sifat buruknya, kebodohan dan aniaya. Sebab limpahan kekayaan dan sempitnya rezeki terjadi berdasarkan hikmah dan keadilan Allâh Azza wa Jalla [10]. Manusia pun harus tetap memuji Allâh Azza wa Jalla dalam kedua kondisi tersebut. [11]

PELAJARAN DARI AYAT:
  • Pandangan materialisme berasal dari kaum kafir
  • Pandangan materialisme bersumber dari hubbun dun-ya (cinta dunia)
  • Pandangan materialisme bukan pandangan baru, sebab pandangan ini sudah bercokol pada hati kaum musyrikin Quraisy sejak 14 abad lalu.
  • Allâh Azza wa Jalla membenci kekufuran dan kufur nikmat
  • Allâh Azza wa Jalla mencintai perbuatan syukur
  • Pentingnya introspeksi diri dalam semua keadaan.
  • Pentingnya mendalami Islam karena akan mengenalkan kebenaran dan hakekat seluruh perkara. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/Syaban 1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Jâmi’ul Bayân an Ay al-Qur`ân, Imam ath-Thabari 15/227, Al-Jâmi li Ahkâmil Qur`ân, Imam al-Qurthubi 20/47, Tatimmatu Adhwâul Bayân , Syaikh ‘Athiyyah Sâlim 9/217, Aisarut Tafâsir , Syaikh Abu Bakr al-Jazâiri, 2/1471
[2]. Taisîrul Karîmir Rahmân, Syaikh as-Sa’di, hlm. 1009, Tafsîr Juz ‘Amma , Syaikh al-‘Utsaimîn hlm. 200
[3]. Tafsîr al-Qur`ânil ‘Azhîm , Imam Ibnu Katsîr 8/398
[4]. Fathul Qadîr, asy-Syaukâni, 5/621
[5]. Al-Jâmi li Ahkâmil Qur`ân 20/47
[6]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 1009, Tatimmatu Adhwâul Bayân 9/217, Aisarut Tafâsir 2/1471
[7]. Tafsîr al-Qur`anil ‘Azhîm 8/398
[8]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 1009
[9]. Tatimmatu Adhwâul Bayân 9/217
[10]. Tafsîr Juz ‘Amma hlm. 201
[11]. Jâmi’ul Bayân an Ay al-Qur`ân 15/229

http://almanhaj.or.id/content/3309/slash/0

Selasa, 03 Juli 2012

Pohon Neraka Jahanam

Rasulullah Shallahu’alaihi wa Sallam bersabda, ”Seandainya setitik dari zaqqum diteteskan di dunia niscaya akan menghancurkan kehidupan semua penghuninya. Lalu bagaimana dengan keadaan orang yang menjadikan zaqqum sebagai makanannya?” 

Takhrij Hadist

Hadist tersebut dikeluarkan oleh Al Imam At-Tirmidzi di dalam kitab Sifati Jahannam, bab Jaa’a fii shifati Syaraabi Ahlin Nar No. 2585, dari hadist Ibnu Abbas radlhiyallahu’anhu dengan lafaz, ”Sesungguhnya Nabi Shallahu’alaihi wa Sallam membaca ayat ini,’Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali kali kamu mati melainkan dalam keadaan bersera diri kepada Allah”. (Ali Imran:102) Lalu beliau bersabda, ”Seandainya setitik dari zaqqum diteteskan di dunia niscaya akan menghancurkan kehidupan semua penghuninya. Lalu bagaimana dengan keadaan orang yang menjadikan zaqqum sebagai makanannya ?”

Dan dia (At-Tirmidzi-red) mengatakan di ujung hadist, “Bahwa ini adalah hadist hasan shahih”.

Hadis ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Majjah dalam sunannya, kitab Az-Zuhud, bab Shifat An Nar, 8/4325.

Imam Ahmad mengeluarkan hadist ini di dalam musnadnya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menshahihkan hadist ini di dalam kitabnya, Shahih Jami’ Shaghir, no 5250 dari hadist Ibnu Abbas radlhiyallahu’anhu.

Fiqh Hadist
  • Banyak sekali motivasi yang dapat membawa manusia untuk melakukan kebaikan dan keutamaan antara seorang manusia dengan manusia lain.
  • Sebagian manusia ada yang memberi motivasi karena mencintai kebaikan dan keutamaan. Sebagian yang lain ada yang memberi motivasi karena senang pahala dan keutamaan yang didapat. Sebagiannya ada yang memberi motivasi karena takut siksa dan sakit, begitu seterusnya.
  • Semakin kuat motivasi seseorang, makin giat dia dalam berbuat kebajikan dan menghiasi dirinya dengan keutamaan, pun dengan sebaliknya.
  • Hadist yang ada di hadapan kita ini, secara tidak langsung mengajak golongan manusia yang tidak melakukan kebajikan melainkan hanya karena takut akan siksa Allah Subhanahu wa ta’ala, mengajak mereka dengan menjalankan kebaikan dan mensucikan diri dari hal-hal yang dapat merusak sebelum zaqqum menjadi makanannya kelak di hari kiamat. Di mana, salah satu gambaran dari zaqqum ini adalah apabila diteteskan di dunia akan merusak kehidupan menusia dan hijaunya tanaman di muka bumi.

Karakteristik Zaqqum


Beberapa nash Al-qur’an menerangkan tentang sifat-sifat Zaqqum.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ”(Makanan surga) itulah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka jahim”.(As Shaffat:62 – 68 )

Dalam firman yang lain dikatakan, “Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidik di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas”.(Ad Dukhaan:43-46)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga melansirnya di dalam firman-Nya, “Kemudian sesungguhnya kamu hai orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan”.(Al-Waqiah:51-56)

Tafsir seputar Azzaqum


Berdasarkan ayat-ayat tersebut, para pakar tafsir menerangkan bahwa Az Zaqqum adalah sebuah pohon yang tumbuh di dasar neraka Saqar atau dasar neraka Jahannam. Dan neraka Jahannam telah dinyalakan hingga mendidih seperti kotoran minyak. Para penghuninya sangat rakus dalam memakannya sehingga memenuhi perutnya sebagaimana air panas yang mendidih, air yang memiliki temperatur paling tinggi.

Kemudian setelah mereka makan lalu minum air yang sangat panas seperti unta yang kehausan, minum tidak ada henti hingga mati.

Faidah Hadist
  • hadist tersebut menunjukkan beberapa sangat pentingnya berpegang dengan manhaj Allah Subhanahu wa ta’ala, supaya manusia menjalankan ketaatan-ketaatan dan melepaskan diri dari bentuk maksiat dan keburukan sebelum datangnya satu hari yang tiada lagi berguna jual beli dan sebelum pohon zaqqum menjadi santapan yang memasuki mulutnya serta air yang sangat panas menjadi pelepas dahaganya. Sangat buruk siksa di dalam neraka yang mana belum pernah sebelumnya dilihat oleh mata, didengar telinga, dan juga belum pernah terbetik dalam hati manusia.
  • Hiburan bagi para penegak kebenaran, meski mereka mendapatkan cobaan dari pendukung kebatilan, berupa cercaan, hinaan, dan pengucilan. Mereka tidak akan memperoleh siksa yang begitu pedih sepreti yang akan menimpa orang-orang yang banyak berbuat dosa di hari kiamat kelak.
  • Tidak meninggalkan hukuman dalam pendidikan. Sebab, biasanya manusia tidak akan menjalankan kebaikan dan meninggalkan diri dari berhias dengan keutamaan kecuali setelah ditakut-takuti.

Allahu A’lam bish shawab

Dikutip dari Majalah ElFata Vol 07:2 2007
Sumber: http://maramissetiawan.wordpress.com/2007/02/17/pohon-neraka-jahanam/

Senin, 11 Juni 2012

Harta Hanyalah Titipan Ilahi

Yang harus engkau ingat dalam benakmu ... Hartamu hanyalah titipan ilahi.

Allah Ta’ala berfirman,

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7)

Faedah dari ayat di atas:

Pertama: Perintah untuk beriman pada Allah dan Rasul-Nya.

Kedua: Dorongan untuk berinfak.

Ketiga: Pahala yang besar di balik, iman dan infak.

Keempat: Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta tersebut milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan hartanya pada jalan Allah sebagaimana halnya seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak. ”

Al Qurtubhi sekali lagi mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian bukanlah miliki kalian pada hakikatnya. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta tersebut yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian. ”

Lantas Al Qurtubhi menutup penjelasan ayat tersebut, “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholih di antara kalian, lalu mereka menginfakkan harta mereka di jalan Allah, bagi mereka balasan  yang besar yaitu SURGA.” (Tafsir Al Qurthubi, 17/238)

Intinya maksud Al Qurthubi, harta hanyalah titipan ilahi. Semua harta Allah izinkan untuk kita manfaatkan di jalan-Nya dalam hal kebaikan dan bukan dalam kejelekan. Jika harta ini pun Allah ambil, maka itu memang milik-Nya. Tidak boleh ada yang protes, tidak boleh ada yang mengeluh, tidak boleh ada yang merasa tidak suka karena manusia memang orang yang fakir yang tidak memiliki harta apa-apa pada hakikatnya.

Renungkanlah hal ini ... !

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.rumaysho.com
Panggang-GK, 25 Jumadil Awwal 1431 H

Senin, 28 Mei 2012

Salah Kaprah dalam Memaknai Islam Rahmatan Lil 'Alamin


Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin

Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah.

Pernyataan  bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.

Secara bahasa,
الرَّحْمة: الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ 
rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur).

Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. 

Penafsiran Para Ahli Tafsir 

1. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Tafsir Ibnul Qayyim:
“Pendapat yang lebih benar dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa rahmat disini bersifat umum. Dalam masalah ini, terdapat dua penafsiran: 

Pertama: Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus.
Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka. Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat. Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran.

Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain.

Dan pada umat manusia setelah beliau diutus, Allah Ta’ala tidak memberikan adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. 

Kedua: Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima.
Sebagaimana jika dikatakan ‘Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit’. Andaikan fulan tidak meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat” 

2. Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam Fathul Qadir:
“Makna ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian’. Dengan kata lain, ‘satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat’ ” 

3. Muhammad bin Jarir Ath Thabari dalam Tafsir Ath Thabari:
“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh manusia baik mu’min dan kafir? Ataukah hanya manusia mu’min saja? Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mu’min maupun kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat ini:
من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن بالله ورسوله عوفي مما أصاب الأمم من الخسف والقذف
Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar

dalam riwayat yang lain:
تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل
Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu

Pendapat ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang beriman saja. Mereka membawakan riwayat dari Ibnu Zaid dalam menafsirkan ayat ini:
فهو لهؤلاء فتنة ولهؤلاء رحمة , وقد جاء الأمر مجملا رحمة للعالمين . والعالمون هاهنا : من آمن به وصدقه وأطاعه
Dengan diutusnya Rasulullah, ada manusia yang mendapat bencana, ada yang mendapat rahmah, walaupun bentuk penyebutan dalam ayat ini sifatnya umum, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Seluruh manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah, membenarkannya dan menaatinya

Pendapat yang benar dari dua pendapat ini adalah pendapat yang pertama, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas. Yaitu Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, baik mu’min maupun kafir. Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah” (diterjemahkan secara ringkas) 

4. Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi dalam Tafsir Al Qurthubi
“Said bin Jubair berkata: dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
كان محمد صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس فمن آمن به وصدق به سعد , ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق
Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan membenarkan ajaran beliau, akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman kepada beliau, diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan ke dalam bumi atau ditenggelamkan dengan air

Ibnu Zaid berkata:
أراد بالعالمين المؤمنين خاص
Yang dimaksud ‘seluruh manusia’ dalam ayat ini adalah hanya orang-orang yang beriman” ” 

5. Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir
“Maksud ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk’. Sebagaimana dalam sebuah hadits:
إنما أنا رحمة مهداة
Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)” (HR. Al Bukhari dalam Al ‘Ilal Al Kabir 369, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/596. Hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 490, juga dalam Shahih Al Jami’, 2345)

Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala tidak mengatakan ‘rahmatan lilmu’minin‘, namun mengatakan ‘rahmatan lil ‘alamin‘ karena Allah Ta’ala ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air” 

Pemahaman Yang Salah Kaprah 

Permasalahan muncul ketika orang-orang menafsirkan ayat ini secara serampangan, bermodal pemahaman bahasa dan logika yang dangkal. Atau berusaha memaksakan makna ayat agar sesuai dengan hawa nafsunya. Diantaranya pemahaman tersebut adalah: 

1. Berkasih sayang dengan orang kafir 
Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya: 107)

Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini. Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, namun bentuk rahmat bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu. Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.

Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Namun perlu dicatat, harus membenci bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam tafsir beliau di atas, bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.

Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang. Karena ayat-ayat Al Qur’an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah Ta’ala sendiri yang berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ
Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19)

Juga firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)

Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:
الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا 
”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)

Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adlalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”. 

2. Berkasih sayang dalam kemungkaran
Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktek-praktek kemusyrikan dan enggan menasehati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian berkata : “Islam khan rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang”. Sungguh aneh.

Padahal bukanlah demikian tafsir surat Al Anbiya ayat 107 ini. Islam sebagai rahmat Allah bukanlah bermakna berbelas kasihan kepada pelaku kemungkaran dan membiarkan mereka dalam kemungkarannya. Sebagaiman dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya di atas, “Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.

Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan.

Dan sikap rahmat pun diperlukan dalam mengingkari maksiat. Sepatutnya pengingkaran terhadap maksiat mendahulukan sikap lembut dan penuh kasih sayang, bukan mendahulukan sikap kasar dan keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:
إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه . ولا ينزع من شيء إلا شانه
Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasnya. Tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya” (HR. Muslim no. 2594) 

3. Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama
Adalagi yang menggunakan ayat ini untuk melegalkan berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”. Sungguh aneh.

Menafsirkan rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107 dengan kasih sayang dan toleransi terhadap semua pemahaman yang ada pada kaum muslimin, adalah penafsiran yang sangat jauh. Tidak ada ahli tafsir yang menafsirkan demikian.

Perpecahan ditubuh ummat menjadi bermacam golongan adalah fakta, dan sudah diperingatkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan orang yang mengatakan semua golongan tersebut itu benar dan semuanya dapat ditoleransi tidak berbeda dengan orang yang mengatakan semua agama sama. Diantara bermacam golongan tersebut tentu ada yang benar dan ada yang salah. Dan kita wajib mengikuti yang benar, yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107: “Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus”.

Artinya, Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang yang mengikuti golongan yang benar yaitu yang mau mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Pernyataan ‘biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami’ hanya berlaku kepada orang kafir. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku‘”

Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)

Dan menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:
إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها
Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat langsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)” (HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang sufi yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu? Atau sebagian orang kejawen yang menganggap shalat itu yang penting ‘ingat Allah’ tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah? Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil shahih, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi. 

4. Menyepelekan permasalahan aqidah
Dengan menggunakan ayat ini, sebagian orang menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Renungkanlah perkataan Ash Shabuni dalam menafsirkan rahmatan lil ‘alamin: “Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat bagi seluruh manusia karena beliau membawa ajaran tauhid. Karena manusia pada masa sebelum beliau diutus berada dalam kesesatan berupa penyembahan kepada sesembahan selain Allah, walaupun mereka menyembah kepada Allah juga. Dan inilah inti ajaran para Rasul. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut’ ” (QS. An Nahl: 36)

Selain itu, bukankah masalah aqidah ini yang dapat menentukan nasib seseorang apakah ia akan kekal di neraka atau tidak? Allah Ta’ala berfirman:
نَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72) 

Oleh karena itu, adakah yang lebih urgen dari masalah ini?

Kesimpulannya, justru dakwah tauhid, seruan untuk beraqidah yang benar adalah bentuk rahmat dari Allah Ta’ala. Karena dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat Allah, maka bagaimana mungkin menjadi sebab perpecahan ummat? Justru kesyirikanlah yang sebenarnya menjadi sebab perpecahan ummat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Ruum: 31-32) 

Pemahaman Yang Benar

Berdasarkan penafsiran para ulama ahli tafsir yang terpercaya, beberapa faedah yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah:
  1. Di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai Rasul Allah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
  2. Seluruh manusia di muka bumi diwajibkan memeluk agama Islam.
  3. Hukum-hukum syariat dan aturan-aturan dalam Islam adalah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya.
  4. Seluruh manusia mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam 
  5. Rahmat yang sempurna hanya didapatkan oleh orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam 
  6. Orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, membenarkan beliau serta taat kepada beliau, akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  7. Orang kafir yang memerangi Islam juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, yaitu dengan diwajibkannya perang melawan mereka. Karena kehidupan mereka didunia lebih lama hanya akan menambah kepedihan siksa neraka di akhirat kelak.
  8. Orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Yaitu dengan dilarangnya membunuh dan merampas harta mereka.
  9. Secara umum, orang kafir mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam berupa dihindari dari adzab yang menimpa umat-umat terdahulu yang menentang Allah. Sehingga setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, tidak akan ada kaum kafir yang diazab dengan cara ditenggelamkan seluruhnya atau dibenamkan ke dalam bumi seluruhnya atau diubah menjadi binatang seluruhnya.
  10. Orang munafik yang mengaku beriman di lisan namun ingkar di dalam hati juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain. Namun di akhirat kelak Allah akan menempatkan mereka di dasar neraka Jahannam.
  11. Pengutusan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat karena beliau telah memberikan pencerahan kepada manusia yang awalnya dalam kejahilan dan memberikan hidayah kepada manusia yang awalnya berada dalam kesesatan berupa peribadatan kepada selain Allah.
  12. Sebagian ulama berpendapat, rahmat dalam ayat ini diberikan juga kepada orang kafir namun mereka menolaknya. Sehingga hanya orang mu’min saja yang mendapatkannya.
  13. Sebagain ulama berpendapat, rahmat dalam ayat ini hanya diberikan orang mu’min.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, yang dengan sebab rahmat-Nya tersebut kita dikumpulkan di dalam Jannah-Nya. 

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimmush shalihat..

Penulis: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id

Minggu, 22 April 2012

Untaian Faedah Surat al-Fatihah

Faidah Dari Ayat Pertama

al-Hamdu lillahi Rabbil 'alamin
Artinya: Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam

  1. Ayat ini menunjukkan bahwa yang berhak mendapatkan segala bentuk pujian hanyalah Allah ta'ala karena Dia lah yang memiliki segala kebaikan yang sempurna dan berbuat ihsan/kebaikan secara menyeluruh (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 26)
  2. Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma mengatakan, “al-Hamdu lillah adalah ucapan setiap orang yang bersyukur.” Abu Nashr al-Jauhari mengatakan, “al-Hamdu/pujian adalah lawan dari celaan.” (lihat Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/29])
  3. Ucapan al-Hamdu lillah adalah doa yang paling utama. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seutama-utama dzikir adalah laa ilaha illallah, sedangkan seutama-utama doa adalah al-Hamdu lillah.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab ad-Da'awat [3383], dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani, lihat juga al-Mustadrak [1886], al-Hakim berkata, “Hadits ini sanadnya sahih dan tidak dikeluarkan Bukhari dan Muslim.” Syaikh Muqbil mengatakan, “Tidak, Musa bin Ibrahim -salah satu periwayat- dikomentari adz-Dzahabi dalam al-Mizan bahwa dia 'shalih'. Padahal perawi yang dikatakan 'shalih' haditsnya tidak bisa terangkat ke derajat hasan.” lihat al-Mustadrak [1/682])
  4. Allah memuji diri-Nya sendiri, yang di dalamnya tersirat perintah kepada hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 9, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/29])
  5. Penetapan pujian kepada Allah dari segala sisi atas kesempurnaan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya (Taisir al-Karim ar-Rahman, lihat al-Majmu'ah al-Kamilah [1/34])
  6. Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan makhluk-makhluk adalah bukti keberadaan Allah Dzat yang telah menciptakannya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 27)
  7. Ayat ini juga mengandung bantahan bagi kaum Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 55)
  8. Ayat ini juga mengandung bantahan bagi kaum Jabriyah yang beranggapan bahwa Allah memaksa hamba-hamba-Nya dan tidak memberikan pilihan sama sekali bagi mereka di dalam hidupnya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 55)
  9. Penetapan bahwasanya hanya Allah ta'ala yang berhak mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan al dalam kata al-Hamdu menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9)
  10. Pengenalan tentang sosok yang patut untuk disembah; yaitu Allah subhanahu wa ta'ala melalui tiga nama Allah yang itu menjadi poros asma'ul husna, yaitu Allah, ar-Rabb, dan ar-Rahman (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 7)
  11. Dalam segala kondisi Allah tetap berhak mendapatkan pujian. Oleh sebab itu apabila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam merasakan sesuatu yang menyenangkan beliau maka beliau pun berdzikir, 'Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihaat' artinya: “Segala puji bagi Allah yang dengan curahan nikmat-Nyalah maka segala kebaikan menjadi sempurna”. Demikian juga apabila beliau menjumpai keadaan yang sebaliknya (tidak menyenangkan) maka beliau berdzikir, 'Alhamdulillahi 'ala kulli haal' artinya: “Segala puji bagi Allah dalam kondisi apapun” (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Dari 'Aisyah radhiyallahu'anha, beliau menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya apabila melihat sesuatu yang membuat beliau senang maka beliau berkata, “Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat.” Dan apabila melihat sesuatu yang kurang beliau senangi maka beliau berkata, “Alhamdulillahi 'ala kulli haal.” (HR. Thabrani dalam ad-Du'a [1769] sanadnya dinyatakan hasan, lihat ad-Du'a li ath-Thabrani [3/1595-1596]. al-Hakim dalam al-Mustadrak [1892], beliau berkata, “Hadits ini sanadnya sahih dan tidak dikeluarkan Bukhari dan Muslim.” Syaikh Muqbil berkata, “Zuhair bin Muhammad -salah satu periwayat- apabila haditsnya diriwayatkan oleh orang-orang Syam maka riwayatnya adalah lemah. Sedangkan al-Walid bin Muslim -orang yang meriwayatkan darinya- adalah penduduk Syam.” lihat al-Mustadrak [1/684])
  12. Yang dimaksud pujian -al-Hamdu- di sini adalah sanjungan yang diiringi dengan rasa cinta dan pengagungan (lihat Tafsir Juz 'Amma Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 8, Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 7, adh-Dhau' al-Munir 'ala at-Tafsir [1/32])
  13. Allah senantiasa dipuji dikarenakan kesempurnaan dzat-Nya, keindahan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta keagungan perbuatan-perbuatan-Nya. Selain itu Allah juga dipuji karena anugerah nikmat yang dicurahkan oleh-Nya kepada seluruh makhluk-Nya (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 12 dan Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 23).
  14. Allah juga terpuji karena ketetapan hukum-Nya, yaitu hukum kauni -hukum yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya di dalam dunia ini- demikian juga hukum syar'i -yang berupa ketetapan hukum ilmiah dan amaliah bagi mukallaf/orang yang dibebani syari'at- begitu pula dalam hal hukum ukhrawi yang ditetapkan oleh-Nya berupa balasan dan hukuman bagi hamba-Nya di alam akherat (lihat Jam'ul Mahshul fi Syarh Risalah Ibnu Sa'di fi al-Ushul, hal. 13-14)
  15. Pujian (al-Hamd) berbeda dengan syukur. Karena pujian itu diberikan sebagai tanggapan atas sifat-sifat muta'addiyah (yang memiliki pengaruh terhadap objek) maupun sifat-sifat lazimah (yang hanya melekat pada yang disifati, tidak mempengaruhi objek). Adapun syukur diberikan sebagai tanggapan atas sifat-sifat muta'addiyah semata. Selain itu pujian diwujudkan melalui ucapan saja, sedangkan syukur diwujudkan dalam bentuk keyakinan hati, ucapan, dan amal anggota badan (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 8, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/29])
  16. Iman terhadap nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya (Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/33])
  17. Penetapan tauhid asma' wa shifat (Taisir al-Karim ar-Rahman, lihat al-Majmu'ah al-Kamilah [1/37])
  18. Penetapan Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk diibadahi (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/33,37]). Allah mendahulukan sifat uluhiyah -yang terkandung dalam kata Allah- daripada sifat rububiyah -yang terkandung dalam kata Rabb-, hal ini dimungkinkan karena 2 alasan: Pertama, karena kata Allah itu adalah nama khusus bagi-Nya yang disifati oleh Asma'ul Husna yang lain sehingga dikedepankan. Atau yang kedua, karena orang-orang yang didakwahi oleh para rasul adalah golongan orang-orang yang menolak keesaan Allah dalam hal uluhiyah-Nya, artinya mereka membagi-bagi ibadah mereka tidak hanya untuk Allah tapi juga untuk selain-Nya (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Karena Allah satu-satunya pemelihara seluruh alam semesta ini maka hanya Allah pula yang berhak untuk diibadahi, tidak ada yang menerima ibadah selain Allah (lihat Risalah Tsalatsat al-Ushul dalam Majmu'ah at-Tauhid, hal. 20)
  19. Penetapan tauhid rububiyah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/37], Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 8). Rububiyah Allah mencakup semua makhluk (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Ayat ini -al-Hamdu lillahi Rabbil 'alamin- menunjukkan keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 8). Rububiyah Allah itu mencakup tiga hal pokok, yaitu: mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Tauhid rububiyah merupakan landasan dan dalil untuk menundukkan orang-orang yang menentang tauhid uluhiyah (lihat adh-Dhau' al-Munir [1/36])
  20. Rabb adalah Dzat yang mentarbiyah hamba-hamba-Nya. Dia lah yang menciptakan mereka dan kemudian menunjuki mereka kepada kemasalahatan dirinya. Selain itu, Rabb juga bermakna yang menguasai dan mengatur serta memperbaiki keadaan (lihat adh-Dhau' al-Munir [1/24], Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/31])
  21. Bantahan bagi kaum atheis yang mengingkari adanya pengatur alam semesta ini (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 9, Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 27)
  22. Allah telah menanamkan fitrah di dalam hati umat manusia untuk meyakini keberadaan Allah Yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 28)
  23. Bantahan bagi paham wahdatul wujud -kesatuan antara Allah dengan makhluk- (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 51)
  24. Penetapan tarbiyah Allah kepada makhluk-Nya, baik yang bersifat umum -mencakup seluruh makhluk- maupun yang bersifat khusus -yang diberikan hanya kepada wali-wali-Nya- (Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/34], lihat juga al-Qowa'id al-Hisan, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [8/92])
  25. Penetapan nubuwwah (kenabian) dan kebutuhan umat manusia terhadapnya. Karena tidak mungkin Allah sebagai Rabbul 'alamin meninggalkan umat manusia dalam keadaan sia-sia; tidak menunjukkan kepada mereka apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 7-8)
  26. Penetapan keesaan Allah dalam hal penciptaan alam semesta, pengaturan, dan pemberian nikmat, sekaligus menunjukkan betapa besarnya kebutuhan seluruh makhluk kepada-Nya (Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/34])
  27. Ayat ini mengandung pilar ibadah yang sangat agung yaitu al-Mahabbah/rasa cinta. Karena Allah adalah al-Muhsin -yang melimpahkan segala kebaikan- dan Dia juga al-Mun'im -yang mencurahkan semua nikmat- maka sebagai konsekuensinya adalah hanya Allah yang layak dicintai dengan puncak kecintaan yang tertinggi dan tidak boleh ditandingi dengan kecintaan kepada apapun juga (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 12)

Faidah Dari Ayat Kedua

ar-Rahmanir Rahim
Artinya: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

  1. Penyebutan ar-Rahmanir Rahim setelah al-Hamdu lillahi Rabbil 'alamin adalah dalam rangka mengiringi tarhib (peringatan yang tersirat dari nama Rabb) dengan targhib (motivasi yang terkandung dalam nama ar-Rahman dan ar-Rahim) (lihat Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/32], at-Tas-hil li Ta'wil at-Tanzil, [1/44-45]). Ayat ini -sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya- menunjukkan bahwa rububiyah (kekuasaan dan pengaturan) Allah dilandasi dengan sifat kasih sayang yang sangat luas, bukan rububiyah yang dibangun di atas sifat suka menyiksa dan menghukum (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 10)
  2. Penetapan sifat rahmat yang luas pada diri Allah, baik rahmat yang meliputi semua makhluk maupun rahmat yang hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/33])
  3. Nama Allah ar-Rahman juga mengandung makna suka memberikan kebaikan, bersifat dermawan, dan suka berbuat kebajikan (lihat al-Fawa'id, hal. 21)
  4. Selain mengandung penetapan kenabian dan kerasulan -sebagai konsekuensi rahmat Allah- maka nama ar-Rahman juga mengandung faidah penetapan mengenai diturunkannya kitab-kitab sebagai pembimbing perjalanan hidup umat manusia (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 8). Konsekuensi dari sifat rahmat ini adalah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk membimbing manusia demi kebahagiaan hidup mereka. Perhatian Allah untuk itu jelas lebih besar daripada sekedar perhatian Allah untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan biji-bijian di atas muka bumi ini. Siraman air hujan membuahkan kehidupan tubuh jasmani bagi manusia. Adapun wahyu yang dibawa oleh para rasul dan terkandung di dalam kitab-kitab merupakan sebab hidupnya hati mereka (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 8).
  5. Berangkat dari faidah di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang ingin mendapatkan rahmat Allah yang sempurna di dunia dan di akherat maka dia harus tunduk kepada syari'at Rasul yang diutus kepadanya. Sehingga pada jaman sekarang ini -setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam- siapa saja yang ingin masuk surga dia harus tunduk kepada ajaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
  6. Mengimani sifat rahmat yang terkandung pada nama ar-Rahman dan ar-Rahim serta tidak menyelewengkan maknanya menjadi irodatul in'am/kehendak untuk memberikan nikmat sebagaimana yang dilakukan oleh kaum ahli bid'ah (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 15, Syarh 'Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah, hal. 65)
  7. Nama ar-Rahman bermakna Allah pemilik rahmat yang maha luas mencakup seluruh makhluk di dunia dan bagi kaum beriman di akherat. Adapun nama ar-Rahim bermakna Allah pemilik rahmat bagi kaum beriman kelak pada hari kiamat (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 15)
  8. Di dalam ayat ar-Rahmanir Rahim terkandung salah satu pilar ubudiyah yaitu roja'/harapan. Dengan merenungkan ayat ini seorang hamba akan senantiasa mengharapkan rahmat Allah subhanahu wa ta'ala. Sebab apabila Allah itu adalah sosok yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tentu saja kasih sayang-Nya adalah sangatlah diharapkan (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 18)

Faidah Dari Ayat Ketiga

Maaliki Yaumid Diin
Artinya: Yang Menguasai Pada Hari Pembalasan

  1. Penyebutan Allah sebagai raja yang menguasai pada hari pembalasan tidaklah menafikan kekuasaan Allah di dunia, karena di awal surat al-Fatihah Allah telah menegaskan bahwa diri-Nya adalah Rabb seru sekalian alam; dan itu berlaku di dunia maupun di akherat. Penyebutan Allah sebagai raja dan penguasa pada hari kiamat adalah karena pada hari itu tidak ada lagi orang yang bisa mendakwakan kekuasaan, bahkan tak ada yang boleh berbicara kecuali dengan izin dari-Nya (lihat Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/33])
  2. Penetapan kekuasaan bagi Allah yang mengandung konsekuensi memerintah dan melarang, memberikan pahala dan menjatuhkan hukuman (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/35])
  3. Penetapan tauhid asma' wa shifat (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 8)
  4. Iman kepada hari akhir, kebangkitan setelah kematian, hisab, dan pembalasan amal (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah hal. 10, at-Tas-hil li Ta'wil at-Tanzil [1/45-46], Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 29)
  5. Penanaman rasa takut terhadap hari kiamat dan khawatir akan hukuman Allah (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah hal.18)
  6. Adanya pembalasan amalan dengan penuh keadilan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/37])
  7. Adanya penegakan hujjah kepada umat manusia dengan diturunkannya kitab-kitab dan diutusnya para rasul (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 8,60)
  8. Pada hari kiamat nanti akan tampak secara jelas bagi semua makhluk tentang kebesaran kekuasaan Allah, kebijaksanaan dan keadilan-Nya sehingga tidak ada lagi sisa kekuasaan manusia yang ketika di dunia pernah dimiliki oleh para raja dan penguasa. Pada saat itu semua orang tunduk kepada kekuasaan-Nya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)
  9. Pada ayat pertama sampai ayat ketiga dalam surat ini secara berurutan terkandung penetapan pokok-pokok ibadah yaitu cinta (mahabbah), harapan (roja'), dan takut (khauf) (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 29)
  10. Ayat-ayat tersebut mengandung bantahan bagi orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan modal rasa cinta semata (seperti halnya kaum Sufi), rasa harap semata (seperti halnya kaum Murji'ah), atau rasa takut semata (seperti halnya kaum Khawarij) (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 29) 

Faidah Dari Ayat Keempat

Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in
Artinya: Hanya Kepada-Mu Kami Beribadah dan Hanya Kepada-Mu Kami Meminta Pertolongan

  1. Penetapan tauhid uluhiyah; yaitu mengesakan Allah dalam beribadah serta mengikhlaskan agama (ketaatan) semata-mata untuk Allah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/37,38]). Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah ini merupakan pokok terbesar di dalam ajaran Islam (lihat al-Qowa'id al-Hisan, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [8/158])
  2. Maksud ayat ini adalah “Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali kepada-Mu.” Pada kedua hal inilah berporos seluruh ajaran agama. Dua kalimat inilah yang menjadi rahasia kemuliaan surat al-Fatihah dan intisari ajaran al-Qur'an (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 19, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/34]) 
  3. Ayat Iyyaka na'budu bermakna; “Kami beribadah kepada-Mu dengan penuh rasa cinta, takut, dan harap”, sebab ibadah tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan ketiganya (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 21)
  4. Ayat Iyyaka na'budu mengandung bantahan bagi orang-orang musyrik; yang beribadah kepada selain Allah sebagai sekutu bagi Allah (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 9)
  5. Ayat Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in mengandung pemurnian ibadah semata-mata kepada Allah. Dalam susunan ayat ini objeknya didahulukan (iyyaka). Padahal seharusnya ia terletak di belakang. Dalam bahasa arab susunan semacam ini menunjukkan pembatasan dan pengkhususan. Sehingga arti ayat ini adalah, “Kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu. Dan kami tidak memohon pertolongan kecuali kepada-Mu.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/35])
  6. Kalimat Iyyaka na'budu berkaitan erat dengan nama 'Allah' yang telah disebutkan di awal surat ini, sedangkan kalimat Iyyaka nasta'in berkaitan erat dengan nama 'ar-Rabb' yang juga telah disebutkan sebelumnya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 67). Hal itu disebabkan Iyyaka na'budu mengandung tauhid uluhiyah yang terkandung dalam nama Allah. Adapun Iyyaka nasta'in mengandung tauhid rububiyah yang terkandung dalam nama ar-Rabb.
  7. Ibadah memadukan dua perkara pokok; puncak rasa cinta dengan puncak perendahan diri dan ketundukan (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 65). Adapun isti'anah (memohon pertolongan kepada Allah) memadukan dua hal pokok yang lain, yaitu: tsiqah/kepercayaan kepada Allah dan bersandar kepada-Nya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 66)    
  8. Penetapan adanya kenabian dan pengutusan para rasul. Karena umat manusia tidak mungkin bisa mengenal tata-cara beribadah secara terperinci kecuali dengan perantara penjelasan para rasul (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 9)
  9. Penyebutan ibadah sebelum isti'anah (meminta pertolongan) adalah dalam rangka menyebutkan sesuatu yang memiliki cakupan lebih luas daripada yang lebih sempit. Karena isti'anah merupakan bagian dari ibadah. Selain itu, hal ini juga dalam rangka mendahulukan hak Allah ta'ala (ibadah) di atas hak hamba (isti'anah) (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/35], lihat juga at-Tas-hil li Ta'wil at-Tanzil [1/54]). Ibnul Qayyim rahimahullah memaknakan bahwa didahulukannya ibadah sebelum isti'anah adalah karena ibadah merupakan tujuan (ghoyah) sedangkan isti'anah adalah sarananya. Oleh sebab itu tujuan lebih didahulukan penyebutannya sebelum sarana (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 66, Tafsir al-Qur'an al-Azhim [1/34]) 
  10. Iyyaka na'budu merupakan bagian milik Allah, sedangkan Iyyaka nasta'in merupakan jatah untuk hamba (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 65). Karena hanya Allah yang berhak disembah maka ibadah itu semuanya menjadi hak-Nya semata. Dan karena hamba itu penuh dengan kelemahan dan kekurangan maka dia berhak -sekaligus wajib atasnya- untuk meminta pertolongan kepada Allah ta'ala Rabb seluruh alam semesta. Allahu a'lam.
  11. Penyebutan isti'anah secara terpisah dari ibadah padahal ia merupakan bagian dari ibadah adalah dikarenakan begitu besarnya kebutuhan seorang hamba terhadapnya. Sebab tanpa pertolongan Allah dia tidak akan mampu untuk beribadah; apakah itu dalam melaksanakan perintah ataupun meninggalkan larangan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/36])    
  12. Tidaklah seorang menjadi hamba yang sejati kecuali apabila dia mengikhlaskan ibadahnya semata-mata untuk Allah dan berlepas diri dari peribadatan kepada segala sesembahan selain-Nya, meyakini kebatilannya, membenci perbuatan tersebut beserta pelakunya, dan memusuhinya karena Allah ta'ala (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 18)
  13. Inilah hakikat ajaran Islam yang benar; yaitu kepasrahan diri kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada Allah dengan penuh kepatuhan, serta berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 19)
  14. Semestinya seorang hamba bertawakal kepada Allah semata dalam menghadapi segala urusan agama maupun urusan dunianya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 19)
  15. Sebuah realita yang sangat menyedihkan adalah banyak diantara kaum muslimin di masa kita sekarang ini yang telah mengucapkan Iyyaka na'budu wa Iyyaka nasta'in, akan tetapi di sisi lain mereka tidak memperhatikan kandungan maknanya sama sekali. Mereka tidak memurnikan ibadahnya kepada Allah semata. Mereka juga beribadah kepada selain-Nya. Seperti halnya orang-orang yang berdoa -padahal doa adalah intisari ibadah, pen- kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, berdoa kepada Husain, kepada Abdul Qadir Jailani, Badawi, dan lain sebagainya. Ini semua termasuk perbuatan syirik akbar dan dosa yang tidak akan diampuni pelakunya apabila dia mati dalam keadaan belum bertaubat darinya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 19-20) 
  16. Kalimat Iyyaka na'budu mengandung obat bagi penyakit riya' sedangkan kalimat Iyyaka nasta'in mengandung obat bagi penyakit sombong/kibr (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 48)
  17. Ayat ini juga mengandung bantahan yang jelas bagi paham wahdatul wujud -kesatuan antara Allah dengan makhluk- (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 51)
  18. Dalam kalimat Iyyaka nasta'in terkandung bantahan bagi kaum Qodariyah (penolak takdir). Mereka beranggapan bahwa segala perbuatan hamba terjadi dengan kehendak dirinya sendiri tanpa ada campur tangan kehendak Allah. Kalau memang demikian lantas apa gunanya memohon pertolongan kepada-Nya?! (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 54)
  19. Ayat ini juga mengandung bantahan bagi kaum Jabriyah yang beranggapan bahwa Allah memaksa hamba-hamba-Nya dan tidak memberikan pilihan sama sekali bagi mereka di dalam hidupnya. Sebab kalau seandainya hamba memang dipaksa dalam perbuatan-perbuatannya maka tidak dibenarkan baginya untuk mengucapkan “Kami beribadah” atau “Kami meminta pertolongan” (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 55)
  20. Mewujudkan kandungan Iyyaka na'budu wa Iyyaka nasta'in merupakan wasilah/sarana untuk bisa meraih kebahagiaan yang abadi dan jalan keselamatan dari berbagai keburukan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/36])
  21. Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah seorang hamba tidaklah dianggap benar tanpa pengingkaran terhadap thoghut/sesembahan selain Allah (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 30)
  22. Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang menunaikan sholat akan tetapi dia juga berdoa kepada selain Allah bukanlah seorang muslim, akan tetapi dia adalah musyrik (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 30)
  23. Ayat ini mengandung makna laa ilaha illallah yang mencakup penolakan segala sesembahan selain Allah (nafi dalam kata-kata laa ilaha) dan penetapan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar (itsbat dalam kata-kata illallah) (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 31)
  24. Ayat ini dan juga ayat sesudahnya menunjukkan bahwa ibadah tidak benar jika tidak memenuhi syarat ikhlas dan mutaba'ah/mengikuti tuntunan (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 31)
  25. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang bertawakal kepada makhluk telah berbuat syirik dalam beribadah kepada Allah (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 31)

Faidah Dari Ayat Kelima

Ihdinash Shirathal Mustaqim
Artinya: Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus

  1. Doa ini -yaitu doa meminta hidayah- merupakan doa yang paling mencakup berbagai kebaikan. Doa yang paling bermanfaat bagi seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap hamba wajib untuk berdoa dengannya dalam setiap raka'at sholat yang dilakukannya; karena sedemikian besar kebutuhan dirinya kepada hidayah -menuju dan di atas- jalan yang lurus (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/36])
  2. Penetapan kerasulan. Karena hidayah tidak akan mungkin tersampaikan kepada umat manusia kecuali melalui perantara dakwah para rasul (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 9, Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 9)
  3. Besarnya kebutuhan hamba terhadap hidayah. Dia senantiasa membutuhkannya baik untuk hal-hal yang terkait dengan masa lalu, sekarang, maupun akan datang. Untuk masa lalu maka dia membutuhkan hidayah untuk bisa bermuhasabah atas seluruh amalan yang pernah dilakukannya dan kemudian bertaubat darinya jika itu adalah kesalahan dan bersyukur kepada Allah apabila yang dia lakukan sudah benar. Adapun masa sekarang maka dia membutuhkan hidayah untuk mengetahui apakah perbuatan yang sedang dilakukannya benar ataukah tidak. Untuk masa depan maka dia membutuhkan hidayah agar bisa berjalan di atas jalan yang benar dan tegar di atasnya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 9, adh-Dhau' al-Munir [1/25-26], Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/37-38])
  4. Seorang hamba tidak akan bisa meraih kebahagiaan yang sejati kecuali dengan meniti jalan yang lurus, dan menunjukkan pula bahwa dia tidak akan bisa istiqomah di atasnya kecuali dengan hidayah dari Rabbnya. Sebagaimana pula dia tidak akan bisa beribadah kepada-Nya tanpa pertolongan dari-Nya (lihat adh-Dhau' al-Munir [1/27])
  5. Hidayah ada dua macam: Pertama; hidayah berupa penunjukan, arahan, dan keterangan. Lawan dari hidayah ini adalah kesesatan (dholal). Kedua; hidayah berupa taufik, ilham, dan keistiqomahan. Lawan dari hidayah ini adalah penyimpangan (ghoyyu) (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 20). Hidayah taufik adalah sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (yang artinya), “Sesungguhnya kamu tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang kamu cintai.” (QS. al-Qoshosh: 56). Adapun hidayah penunjukan adalah sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (yang artinya), “Sesungguhnya kamu benar-benar memberikan hidayah menuju jalan yang lurus.” (QS. asy-Syura: 52) (lihat at-Tas-hil li Ta'wil at-Tanzil [1/109])
  6. Hidayah juga bisa dibagi menjadi hidayah 'menuju jalan' dan hidayah 'di atas jalan'. Hidayah menuju jalan adalah hidayah untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan agama-agama yang lain. Adapun hidayah di atas jalan adalah hidayah untuk bisa melaksanakan rincian-rincian ajaran di dalam agama Islam (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/36])     
  7. Dalam memaknai jalan yang lurus ada beberapa penafsiran. Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma mengatakan bahwa yang dimaksud jalan lurus adalah Islam. Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu mengatakan bahwa maksudnya adalah al-Qur'an. Bakr bin Abdullah al-Muzani berkata bahwa maksudnya adalah jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua penafsiran ini tidak bertentangan dan saling menjelaskan. Barangsiapa yang istiqomah di atas jalan yang lurus yang bersifat maknawi ketika hidup di dunia maka kelak di akherat dia akan selamat ketika meniti shirath yang sebenarnya; yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 21, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/37])
  8. Ayat ini mengandung bantahan bagi seluruh kaum ahli bid'ah dan seluruh agama serta kelompok-kelompok yang menyimpang dari kebenaran (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 9,24, at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 49)
  9. Jalan yang lurus ini mencakup pengenalan terhadap kebenaran dan ketundukan kepadanya, setia mengikutinya, mendahulukannya di atas segala kepentingan, membela dan mendakwahkannya, serta melawan serangan musuh-musuhnya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 49)
  10. Dalam kalimat Ihdinash shirathal mustaqim juga terkandung bantahan bagi kaum Qodariyah (penolak takdir). Mereka beranggapan bahwa segala perbuatan hamba terjadi dengan kehendak dirinya sendiri tanpa ada campur tangan kehendak Allah. Sementara di dalam ayat ini kita diajari untuk memohon hidayah kepada-Nya. Hidayah yang kita minta tentu saja bukan hanya ilmu akan tetapi juga hidayah taufik sehingga bisa beramal. Kalaulah memang perbuatan hamba hanya tergantung kepada kehendak dirinya sendiri -tanpa ada pengaruh dari kehendak Allah- lalu apa perlunya meminta hidayah kepada-Nya?! (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 54) 
  11. Jalan yang lurus adalah jalan terdekat untuk menggapai cita-cita. Sebagaimana halnya garis lurus adalah jarak terdekat yang menghubungkan antara dua buah titik (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 60)

Faidah Dari Ayat Keenam dan Ketujuh

Shirathalladzina An'amta 'Alaihim,
Ghairil Maghdhubi 'Alaihim wa Ladhdhaalliin

Artinya: Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Engkau Beri Nikmat Kepada Mereka
Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Dimurkai dan Bukan Pula Orang-Orang Yang Sesat

  1. Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang bertauhid. Merekalah orang-orang yang telah merealisasikan kandungan ayat Iyyaka na'budu wa Iyyaka nasta'in di dalam hidupnya. Adapun orang-orang musyrik adalah kaum yang dimurkai dan tersesat dari jalan Allah (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 54)
  2. Yang dimaksud 'orang-orang yang diberikan nikmat' itu adalah para nabi, shiddiqin, syuhada', dan orang-orang salih (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/37]). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul, maka mereka itulah yang akan bersama dengan orang-orang yang diberikan kenikmatan oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada' dan orang-orang yang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. an-Nisaa': 69) (lihat Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/38], Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 22)
  3. Zaid bin Aslam rahimahullah -guru Imam Malik- menafsirkan, “Orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah itu adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan 'Umar.” (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 64). Dengan demikian, ayat ini mengandung penetapan keabsahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu'anhu dalam memangku jabatan khalifah, sekaligus bantahan bagi kaum Syi'ah yang mempertanyakan dan mencela kekhilafahan beliau (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 34). Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhu pernah berkata, “Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar.” (lihat as-Sunnah, sanadnya hasan, lihat as-Sunnah li Abdillah ibni Ahmad ibni Hanbal, Jilid 1 hal. 378)
  4. Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah menuju jalan yang lurus adalah nikmat dan anugerah dari Allah ta'ala kepada hamba. Oleh sebab itu tidak semestinya seorang hamba merasa ujub dengan amal dan ketaatan yang dimilikinya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 22)
  5. Yang dimaksud 'orang yang dimurkai' adalah Yahudi, sedangkan 'orang yang tersesat' adalah Nasrani berdasarkan hadits 'Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 23). Hal ini menunjukkan bahwa Yahudi dan Nasrani tidak berada di atas jalan yang lurus (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 34)
  6. Ayat ini mengandung penetapan salah satu sifat Allah yaitu al-Ghadhab (marah) sebagaimana kemarahan yang sesuai dengan kemuliaan-Nya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 23). Sehingga ia mengandung bantahan bagi orang yang menyimpangkan makna Ghadhab menjadi Irodatul Intiqom/kehendak untuk menghukum (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 35)
  7. Ayat ini juga mengandung bantahan bagi orang-orang yang menganut paham kebebasan beragama (Hurriyat al-Adyan) dan berupaya untuk mempersatukan agama-agama yang ada (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 34)
  8. Berdasarkan ayat ini manusia bisa dibagi ke dalam tiga kelompok; [1] orang-orang yang mendapatkan nikmat; yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan tunduk kepadanya, [2] orang-orang yang mengetahui kebenaran akan tetapi menolaknya; mereka itulah orang yang dimurkai, [3] orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran; mereka inilah orang-orang yang tersesat (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 60,63)
  9. Ayat ini mengandung bantahan bagi kaum Rafidhah/Syi'ah. Sebab para Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam -yang dimusuhi mati-matian oleh kaum Syi'ah- merupakan orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling tunduk kepadanya. Dan hal itu bisa kita buktikan dengan melihat pengaruh nyata dakwah mereka yang sangat mengagumkan dengan ditaklukkannya berbagai negeri dan ditundukkannya hati-hati manusia untuk memeluk agama Allah ta'ala melalui perantara dakwah mereka. Hal ini jelas bertolak belakang dengan Rafidhah; dimana pun mereka berada mereka senantiasa memusuhi Islam dan membantu musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kaum muslimin. Maka siapakah gerangan diantara kedua kelompok ini yang lebih pantas dan layak disebut berada di atas shirathal mustaqim?! Oleh sebab itulah para ulama salaf menafsirkan shirathal mustaqim dengan Abu Bakar, 'Umar dan para Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun Rafidhah; maka mereka adalah orang-orang yang paling sengit permusuhan dan kebenciannya kepada Abu Bakar dan 'Umar radhiyallahu'anhuma (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 63-64)
  10. Ayat ini mengandung peringatan kepada umat Islam agar tidak ber-tasyabbuh (meniru-niru) kepada Yahudi dan Nasrani (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 35)
  11. Ayat ini juga mengandung peringatan keras bagi para ulama kaum muslimin dan para ahli ibadah diantara mereka; supaya tidak terjerumus ke dalam kemurkaan Allah -akibat tidak beramal dengan ilmunya- dan selamat dari kesesatan -akibat beribadah tanpa landasan ilmu yang benar- (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 35)
_____________
Sumber:  Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi 
Website beliau:  www.abumushlih.com